Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Terlanjur Ketahuan
Dinding kamar yang dingin menempel ketat di punggung Cassandra. Pukul lima pagi lewat sedikit, tapi cahaya suram yang menerobos gorden tak sanggup mengusir keremangan di antara mereka. Di hadapannya, Narendra berdiri bagai dinding kokoh yang tak lagi memancarkan kehangatan.
Layar laptop militer di tangan cowok itu masih menyala pelan. Menampilkan deretan kode hijau dan matriks data enkripsi. Bukti otentik peretasan tingkat tinggi yang telah menghancurkan imperium bisnis Baskoro dalam hitungan jam.
Akan tetapi, sorot mata Narendra tidak menyiratkan kemenangan. Di dalam manik cokelat yang biasanya teduh itu, hanya ada luka yang teramat dalam. Dan, perasaan hampa yang begitu pekat.
"Jawab jujur pertanyaan gue sekarang, Cassandra! Apakah dari detik pertama lu masuk ke hidup gue... gue ini cuma target pembalasan dendam lu ke bokap gue?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, menekan dada Cassandra hingga terasa remuk.
Bibir Cassandra terkatup rapat. Seluruh trik skenario, kemampuan berakting, dan kebohongan berkelas yang diasahnya bertahun-tahun seolah menguap tanpa bekas. Di depan Narendra yang memegang seluruh kartu truf, topeng Cassandra hancur berkeping-keping.
"Ren..." suara Cassandra tercekat, hanya mampu meloloskan sebuah bisikan parau.
"Jawab, Cassandra!" bentak Narendra.
Suaranya bergetar hebat, memecah keheningan kamar yang sepi. "Jangan bohong lagi! Gue udah buka semua dokumen retasan lu dari empat bulan lalu. Lu cari tahu peta jalan rumah gue, jadwal mobilisasi bokap gue, sampai riwayat medis Kakek gue! Lu sengaja masuk ke SMA Garuda bukan karena ketidaksengajaan... lu nargetin gue!"
Cassandra memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata yang sejak semalam ditahannya akhirnya menetes deras, membasahi pipinya yang pucat. Rasa bersalah yang teramat sangat meledak di dalam dadanya.
"Iya," aku Cassandra pelan, sebuah pengakuan jujur yang terasa seperti belati yang menusuk tenggorokannya sendiri. "Awalnya... emang iya, Ren."
Narendra mundur satu langkah, seolah-olah pengakuan itu adalah pukulan fisik yang menghantam dadanya secara telak. Ia memegang pinggiran laptopnya erat-erat. Menahan agar jemarinya tidak gemetar.
"Keluarga lu hancurin keluarga gue, Ren," lanjut Cassandra dengan suara bergetar.
Ia menatap Narendra dengan tatapan penuh keputusasaan. "Bokap lu bikin bisnis bapak gue bangkrut, bikin nama keluarga gue tercemar, dan bikin orang tua gue harus kabur-kaburan ke luar kota demi lunasin utang. Gue benci sama keluarga lu! Gue pindah ke sekolah ini buat cari celah... buat manfaatin lu supaya gue bisa masuk ke dalam lingkaran bisnis bokap lu dan balaskan dendam keluarga gue!"
Narendra tertawa pelan. Sebuah tawa yang terdengar sangat pahit dan hampa. Ia menggelengkan kepalanya dengan raut kekecewaan yang tak terlukiskan.
"Jadi selama ini, susu cokelat di tempat parkir, perhatian lu waktu kakek gue sakit, air mata lu di atap sekolah..."
Narendra menunjuk dadanya sendiri dengan jemari yang gemetar. "Semua itu cuma strategi panggung lu? Lu jadiin perasaan gue sebagai mainan buat balas dendam?"
"Enggak, Ren! Enggak semuanya bohong!" jerit Cassandra, melangkah maju mencoba menggapai lengan Narendra, tetapi cowok itu dengan cepat menghindar. Menolak disentuh.
"Jangan sentuh gue," bisik Narendra dingin, tatapannya menyayat hati.
Jari-jari Cassandra menggantung kaku di udara. "Ren, dengerin gue dulu! Awalnya emang cuma dendam. Tapi seiring berjalannya waktu, waktu lu belain gue di bawah hujan, waktu lu pasang badan di depan Anggita, waktu lu peluk gue di atap... perasaan gue berubah, Ren! Gue beneran jatuh cinta sama lu! Gue bahkan rela ditinggalin dan dianggap cewek jahat semalam cuma supaya bokap lu enggak ngancam lu dan sebarin rahasia ini!"
"Cukup, Cas," potong Narendra dengan nada yang sangat datar, membuat semua pembelaan Cassandra mendadak mati angin. "Lu pinter banget merangkai kata-kata. Tapi masalahnya, gue enggak tahu lagi mana bagian dari lu yang asli dan mana yang cuma bagian dari skenario lu."
Narendra mematikan layar laptopnya lalu menutupnya dengan bunyi klik yang tajam.
"Semalam, waktu bokap gue datang bawa polisinya sendiri setelah sistemnya gue jebol, dia bilang satu hal sama gue," ujar Narendra seraya menatap koper-koper Cassandra di sudut ruangan.
"Dia bilang, 'Kamu dan Cassandra itu sama saja. Kalian sama-sama memanfaatkan orang lain untuk mencapai tujuan kalian.' Gue marah banget sama bokap gue waktu itu. Tapi sekarang, gue sadar dia ada benarnya."
"Ren, tolong..." air mata Cassandra mengalir makin lebat. Kehilangan Narendra dengan cara seperti ini adalah siksaan yang jauh lebih kejam daripada ancaman Baskoro.
"Bokap gue udah ditahan kejaksaan subuh ini atas dokumen yang gue serahkan," kata Narendra pelan. "Aset perusahaannya dibekukan, dan seluruh utang keluarga lu resmi dianulir karena terbukti berasal dari penipuan akuisisi ilegal yang dilakukan bokap gue beberapa tahun lalu. Keluarga lu udah bebas, Cas. Dendam lu udah tuntas."
Narendra memutar tubuhnya membelakangi Cassandra, melangkah menuju pintu kamar. "Gue udah selesaikan urusan keluarga kita," lanjut Narendra tanpa menoleh kembali. "Dan sekarang... urusan kita juga selesai."
"Narendra, jangan pergi!" tangis Cassandra pecah.
Ia berlari mengejar Narendra hingga ke ambang pintu. "Gue mohon... hukum gue atas apa yang udah gue rencanain, tapi jangan benci gue kayak gini."
Narendra menghentikan langkahnya sejenak di luar pintu kamar. Tanpa membalikkan badan, ia berbisik pelan, suara yang begitu hampa hingga membuat bulu kuduk berdiri.
"Gue enggak benci sama lu, Cas," ucap Narendra. "Gue cuma nyesel, pernah percaya kalau ada orang yang bener-bener tulus peduli sama gue."
Setelah mengucapkan kalimat mematikan itu, Narendra melangkah turun menuruni tangga rumah Cassandra. Dengan langkah mantap, ia menghilang di dalam keremangan pagi tanpa pernah menoleh lagi.
Cassandra terduduk lemas di ambang pintu kamarnya. Tangannya meremas gantungan kunci kayu yang masih tergenggam di telapak tangannya. Kemenangan atas dendam keluarganya terasa begitu hampa. Perusahaan Baskoro hancur, ayahnya terbebas dari utang, tetapi harga yang harus dibayarnya adalah kehilangan satu-satunya cahaya yang pernah membuat hatinya merasa hidup.
***
Tiga Bulan Kemudian.
Awal semester baru di SMA Garuda terasa berbeda. Kasus penangkapan Baskoro dan skandal manipulasi Anggita telah menjadi cerita masa lalu yang mengendap. Anggita telah resmi pindah sekolah ke luar kota, sementara struktur kepengurusan OSIS telah berganti total.
Cassandra tidak jadi pindah ke London. Setelah pembekuan aset Baskoro dan pembersihan nama baik ayahnya, orang tua Cassandra kembali ke rumah megah mereka. Cassandra memilih menyelesaikan tahun terakhirnya di SMA Garuda. Bukan lagi sebagai cewek manipulator yang haus dendam, melainkan sebagai sosok yang jauh lebih tenang, pendiam, dan tertutup.
Ia tak lagi menggunakan pakaian seragam yang sengaja dibuat berantakan untuk akting rapuh, tak lagi memainkan strategi catur sosial. Namun, satu hal yang tak pernah berubah: matanya selalu secara tak sadar mencari satu sosok di tengah keramaian koridor sekolah. Narendra.
Cowok itu kini jauh lebih dingin dari biasanya. Ia tetap menjadi murid berprestasi dan disenangi banyak orang, tetapi ada jarak tak kasatmata yang ia bangun di sekelilingnya. Ia tak pernah lagi menyapa Cassandra saat mereka berselisih jalan di koridor. Bagi Narendra, Cassandra telah berubah menjadi sosok asing yang tak pernah ada.
Setiap kali mata mereka tak sengaja berpapasan, Narendra akan mengalihkan pandangannya secara alami. Seolah-olah, Cassandra hanyalah bagian dari dinding semen sekolah. Rasa diabaikan itu menancapkan sembilu halus yang terus berdarah di dada Cassandra setiap hari.
Sore harinya, bel pulang sekolah berbunyi.
Hujan gerimis kembali mengguyur area sekolah, menciptakan suasana dingin yang mengingatkan Cassandra pada malam-malam penuh kelam tiga bulan lalu. Cassandra berdiri di teras depan gedung sekolah, memegang payung hitamnya yang terlipat. Ia menatap rintik air yang jatuh di pelataran.
Tiba-tiba, langkah kaki terburu-buru mendekat dari arah belakang.
Seorang adik kelas putri berlari menghampiri Cassandra dengan napas memburu. "Kak Cassandra! Kakak dipanggil sama Pak Hermawan ke laboratorium komputer lantai tiga sekarang juga!"
Cassandra mengernyitkan dahi. "Laboratorium komputer? Ada apa?"
"Gue kurang tahu, Kak. Tapi katanya ada masalah serius sama server data nilai ujian nasional angkatan Kakak yang mendadak kena cyber attack dari pihak luar. Cuma Kakak dan Kak Narendra yang dipanggil karena kalian berdua dianggap punya keahlian analisis sistem di angkatan ini!"
Jantung Cassandra berdesir mendengarkan nama Narendra disebut.
"Narendra udah ada di sana?"
"Iya, Kak Narendra udah naik duluan dari tadi!"
Tanpa berpikir panjang, Cassandra mengangguk dan segera melangkah cepat menuju tangga gedung utama menuju lantai tiga. Kesempatan untuk berada di satu ruangan yang sama dengan Narendra, meski dalam situasi formal, membuat dadanya berdebar tidak karuan.
Ketika Cassandra sampai di depan pintu laboratorium komputer lantai tiga, suasana koridor lantai atas sangat sepi. Sebagian besar murid sudah pulang karena hujan. Pintu laboratorium komputer yang terbuat dari kayu tebal sedikit terbuka.
Cassandra memegang gagang pintu, mendorongnya pelan.
"Pak Hermawan?" panggil Cassandra seraya melangkah masuk.
Namun, ruangan laboratorium berukuran luas itu gelap gulita. Seluruh lampu mati, dan deretan komputer di dalamnya berada dalam kondisi mati total. Tak ada tanda-tanda keberadaan Pak Hermawan maupun Narendra.
"Ren? Lu di dalam?" suara Cassandra bergema pelan di ruangan yang dingin oleh pendingin udara yang masih tersisa.
Tiba-tiba—
BRAK!
Pintu kayu tebal di belakang Cassandra didorong dan ditutup dengan sangat kasar dari luar. Suara kunci diputar dari luar terdengar amat nyaring.
KLIK! KLIK!
Cassandra terperanjat Kaget. Ia berbalik kencang dan meraba-raba pintu. Ia menggedor pintu tebal itu sekuat tenaga.
"Woi! Siapa di luar?! Buka pintunya!"
Tak ada jawaban dari luar.
Cassandra menarik napas memburu, merogoh saku rok seragamnya untuk mengambil ponsel guna menyalakan lampu senter. Namun, sebelum ia sempat menekan tombol layar, sebuah pergerakan halus terdengar dari sudut remang ruangan dekat rak server.
"Percaya sama pesan adik kelas tadi adalah kecerobohan paling amatir yang pernah lu lakukan, Cassandra." Suara itu berat, dingin, dan sangat familiar.
Cassandra membeku. Ia mengarahkan layar ponselnya yang menyala tipis ke arah sumber suara.
Di dalam keremangan sudut laboratorium, duduk seorang cowok di atas meja guru, bersedekap dada. Bukan Pak Hermawan. Tapi Narendra.
Namun, penampilan Narendra sore ini membuat darah Cassandra mendadak berdesir hebat. Narendra tidak mengenakan seragam sekolahnya yang biasa, melainkan jaket tebal berlogo khusus. Logo yang sangat dikenal Cassandra dalam dunia retasan rahasia.
Narendra melompat. Turun dari atas meja dengan santai. Melangkah perlahan mendekati Cassandra di tengah kegelapan ruangan.
"Lu pikir bokap gue ditangkap cuma karena dokumen yang lu punya?" tanya Narendra dengan senyuman miring yang begitu asing. Sebuah senyuman dingin nan manipulatif yang persis sama seperti gaya Cassandra di masa lalu.
"Lu pikir... lu satu-satunya orang yang mainin papan catur di sekolah ini, Cas?"
Cassandra melebarkan matanya, melangkah mundur hingga punggungnya menempel pada pintu yang terkunci. "Ren... maksud lu apa?"
Narendra berhenti hanya beberapa sentimeter di hadapan Cassandra. Ia memiringkan kepalanya, menatap Cassandra dengan binar mata yang penuh dengan perhitungan licik yang belum pernah Cassandra lihat dari sosok cowok itu sebelumnya.
"Bokap gue udah jatuh, keluarga lu udah bebas dari utang, dan Anggita udah tersingkir," bisik Narendra tepat di samping telinga Cassandra.
Suaranya mengirimkan gelombang getaran yang menakutkan. "Tapi permainan kita belum selesai, Cas. Sejak hari pertama lu ngelirik gue di minimarket empat bulan lalu, gue udah tahu siapa lu, dan gue yang dengan sengaja menarik lu masuk ke dalam perangkap gue sendiri."