Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.
Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.
Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meditasi di Altar Es dan Terobosan Tingkat Tiga
Suasana di dalam aula utama Sekretariat Lembah Salju terasa begitu khidmat dan sunyi. Hanya terdengar suara tetesan air es yang perlahan mencair dari ujung kristal stalaktit di langit-langit gua batu, jatuh berirama ke atas lantai pualam putih. Konsentrasi energi spiritual atau Qi alam di dalam ruangan itu begitu pekat hingga hampir kasat mata, berputar lembut bagaikan kabut tipis berwarna keperakan yang menyelimuti seluruh sudut altar meditasi.
Gu Yan-Zhi duduk bersila di tengah altar batu kosmik. Punggungnya tegak lurus, kedua tangannya diletakkan di atas lutut dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas, menyimbolkan penerimaan penuh atas energi alam yang melimpah. Di sampingnya, Hu Yijie berbaring melingkar dengan tenang, sesekali mengibaskan ekornya sementara gelombang aura keemasan tipis terpancar dari tubuh kecil makhluk mitos itu, menyatu selaras dengan denyut nadi Gu Yan-Zhi berkat Kontrak Darah Kesetaraan Mutlak.
Di sisi lain aula, Gu Chen dan Gu Ruoxi juga mengambil posisi duduk bersila di atas tikar batu yang agak jauh dari altar utama, memanfaatkan sisa-sisa radiasi energi spiritual untuk mulai membersihkan jalur meridian tubuh mereka masing-masing di bawah bimbingan petunjuk awal yang diberikan oleh Gu Yan-Zhi sebelumnya.
Gu Yan-Zhi memejamkan mata, memusatkan seluruh kesadaran mentalnya ke dalam ruang Dantian di dalam tubuhnya. Di sana, pusaran energi keemasan yang tadinya stabil di tahap akhir Pemusatan Qi Tingkat Dua mulai bergolak aktif, mendesak dinding-dinding pembatas internal untuk menembus ambang batas menuju tingkat berikutnya.
Kitab Pembalik Langit... Bab Pertama hingga Bab Kedua, selaraskan aliran elemen es dan api di dalam jalur meridian! batin Gu Yan-Zhi memberikan komando mental yang tegas pada dirinya sendiri.
Seketika itu juga, suhu di sekitar tubuh Gu Yan-Zhi berfluktuasi secara ekstrem. Meskipun ia berada di dalam aula es yang membeku, keringat dingin bercucuran membasahi keningnya, sementara jubah hitamnya berkibar pelan akibat tekanan angin spiritual yang berputar kencang di sekelilingnya. Pendar cahaya keemasan terang benderang memancar keluar dari pori-pori kulitnya, menerangi relief naga es di pilar-pilar batu pualam di sekitarnya.
Proses penembusan tingkat kultivasi (breakthrough) adalah momen paling krusial dan berbahaya bagi seorang kultivator. Jika sirkulasi Qi mengalami sedikit saja kesalahan arah akibat ketidakstabilan emosi atau kelelahan mental, dampaknya bisa berakibat fatal pada kerusakan jalur meridian permanen. Namun, mental baja yang ditempa dari dua kehidupan—sebagai aktor stuntman penuh disiplin di bumi dan sebagai Gu Yan-Zhi yang merangkak dari jurang pengkhianatan di Benua Dewa—membuatnya tetap tenang dan fokus tanpa keraguan sedikit pun.
Bum!
Sebuah suara gemuruh tumpul bergemuruh hebat di dalam rongga dada Gu Yan-Zhi, mirip suara guntur kecil yang memecah keheningan malam. Semburan gelombang energi keemasan meledak keluar dari tubuhnya, menyapu debu-debu lantai pualam di sekeliling altar dan menciptakan pusaran angin kecil yang membuat jubahnya berkibar kencang.
Di sudut ruangan, Gu Chen dan Gu Ruoxi terperanjat kaget, membuka mata mereka sesaat dan merasakan tekanan angin spiritual yang begitu masif menekan dada mereka. Mereka melihat sosok Gu Yan-Zhi diselimuti oleh kepompong cahaya keemasan yang menyilaukan mata.
"Tuan muda... beliau sedang menembus batas ke Pemusatan Qi Tingkat Tiga!" gumam Gu Chen takjub, matanya terbelalak lebar melihat kecepatan peningkatan kultivasi tuannya yang luar biasa di luar nalar akal sehat kultivator biasa.
Di dalam tubuh Gu Yan-Zhi, hambatan terakhir di jalur meridian utamanya runtuh seketika. Aliran energi Qi kini mengalir jauh lebih deras, jernih, dan bertenaga, mengisi setiap inci otot, tulang, dan pembuluh darahnya dengan kekuatan fisik yang berlipat ganda.
Gu Yan-Zhi menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan melalui mulutnya. Kepompong cahaya keemasan di sekeliling tubuhnya perlahan-lahan meredup dan terserap kembali ke dalam kulitnya. Ia membuka kedua matanya secara perlahan. Sorot mata keemasan yang tajam, jernih, dan memancarkan wibawa tingkat tinggi terpancar jelas dari maniknya, sebelum akhirnya kembali tenang seperti air danau yang damai.
Ia mengepalkan tangan kanannya, merasakan ledakan tenaga fisik yang luar biasa ringan namun mematikan. Lonjakan ke Pemusatan Qi Tingkat Tiga bukan hanya memperkuat kapasitas cadangan Qi-nya, tetapi juga menyempurnakan penguasaan teknik Kitab Pembalik Langit: Pengendalian Ruang Mikro ke tingkat yang lebih stabil.
"Selamat atas terobosan Anda, Tuan!" suara telepati Hu Yijie bergema riang di dalam kepala Gu Yan-Zhi, disertai kibasan ekor kecil anak singa itu yang melompat ringan mendekati altar batu.
Gu Yan-Zhi tersenyum tipis, mengusap kepala Hu Yijie pelan. "Terima kasih, Yijie. Tanpa sinkronisasi kontrak darah kita, aku tidak akan mampu menembus hambatan ini sebersih dan secepat ini."
Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Gu Chen dan Gu Ruoxi yang masih menatapnya dengan penuh rasa kagum bercampur hormat yang mendalam. Gu Yan-Zhi bangkit berdiri dari altar, melangkah turun menghampiri kedua saudaranya.
"Bagaimana dengan kondisi kalian berdua?" tanya Gu Yan-Zhi ramah.
Gu Chen tersenyum lebar sambil bangkit berdiri, merentangkan tangannya sedikit. "Luar biasa, Tuan muda! Jalur meridianku rasanya jauh lebih longgar, dan aku bisa merasakan aliran Qi dasar di tahap awal mulai terkumpul dengan stabil di perut bawahku."
Gu Ruoxi mengangguk antusias, wajahnya tampak lebih bercahaya. "Aku juga merasa jauh lebih kuat dari sebelumnya, Kakak. Lelah dan dingin di pegunungan ini seolah lenyap terserap oleh energi ruangan."
"Bagus," ujar Gu Yan-Zhi dengan nada penuh persetujuan. "Tempat ini adalah tempat perlindungan yang sempurna bagi kita untuk menempa diri sementara waktu. Tapi ingat, peningkatan kultivasi hanyalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana kita mengendalikan kekuatan tersebut dengan strategi dan kepala dingin."
Hari-hari berikutnya di dalam Sekretariat Lembah Salju berlalu dalam ketenangan yang produktif. Di bawah bimbingan Gu Yan-Zhi, ketiganya membagi waktu antara meditasi mendalam, latihan fisik, dan mempelajari dasar-dasar taktik bertahan hidup di alam liar Benua Dewa. Gu Yan-Zhi sendiri memanfaatkan waktu luangnya untuk menguji batas maksimal dari distorsi ruang mikro, menciptakan sayatan-sayatan energi tak kasat mata yang mampu memotong batu es tebal dari jarak beberapa meter tanpa menyentuhnya secara fisik.
Namun, di luar dinding es perlindungan lembah tersembunyi itu, roda takdir Benua Dewa terus berputar tanpa henti. Berita tentang kekalahan murid inti Sekte Pedang Salju di lereng utara serta hilangnya jejak pelarian kelompok Gu Yan-Zhi dari Kota Angin Lembayung mulai memicu pergerakan senyap dari faksi-faksi besar yang merasa penasaran dengan identitas sang pemuda berjubah hitam misterius.
Di dalam keheningan gua pertapaan kuno itu, Gu Yan-Zhi berdiri di dekat jendela es utama, menatap ke arah hamparan langit putih di kejauhan. Ia tahu betul bahwa kedamaian ini sifatnya sementara. Badai yang lebih besar sedang merangkak naik dari lembah-lembah di bawah sana, siap menguji seberapa kokoh fondasi Jenderal Langit yang baru saja bangkit dari abu kehancurannya. Dan ketika badai itu tiba, ia akan menyambutnya bukan lagi sebagai buronan yang melarikan diri, melainkan sebagai penantang yang memegang kendali penuh atas papan catur pertarungan di Benua Dewa.