Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.

Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.

Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiba-tiba Pindah Tubuh

Suara decakan benci dari Julia menggema memenuhi ruang keluarga yang mewah itu. Wanita paruh baya dengan riasan tebal dan perhiasan berlian melingkar di jemarinya tersebut sedang berkacak pinggang, menatap tajam ke arah seorang gadis yang duduk di sofa tunggal dengan kepala tertunduk.

​"Dasar anak tidak tahu diuntung! Berani-beraninya kamu mencoba bunuh diri dengan membenturkan kepala ke dinding, hah?!" bentak Julia, suaranya melengking tinggi, nyaris memecahkan gendang telinga.

"Mau jadi apa keluarga ini kalau rencana pernikahan ini sampai berantakan karena kebodohanmu?!"

​Serena Amaryllis atau lebih tepatnya jiwa Serena yang berasal dari dunia lain hanya bisa menghembuskan napas pelan dalam hati. Ia baru saja sadar beberapa menit lalu setelah tubuh yang kini dihuninya sempat sekarat akibat ulah pemilik aslinya yang nekat membenturkan kepala ke dinding. Ingatan si pemilik tubuh asli langsung membanjiri kepalanya, hidup sebagai anak haram yang disembunyikan, selalu diinjak-injak, dijadikan pesuruh, hingga puncaknya dijadikan tumbal pelunasan utang triliunan rupiah kepada seorang mafia kejam bernama Sergio.

"​Duh, mati tersambar petir karena main hujan-hujanan gara-gara bosan, eh, giliran hidup lagi malah nyasar ke tubuh gadis malang yang mau dijadikan tumbal mafia psikopat. Hidup macam apa ini?" batin Serena dingin. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut di wajahnya. Ekspresinya datar, dingin, dan terkesan mati rasa.

​Sebastian, pria paruh baya yang merupakan ayah kandung Serena, mendengus kasar dari tempatnya berdiri di dekat jendela besar. Wajahnya mengeras, menatap Serena dengan sorot mata penuh jijik, seolah-olah yang ada di depannya adalah seekor serangga menjijikkan, bukan darah dagingnya sendiri.

​"Diam saja kamu dari tadi! Wajah menantang begitu mau apa?" cibir Sebastian dengan suara berat dan penuh intimidasi.

"Ingat posisimu, Serena! Kamu itu cuma anak haram yang tidak sengaja lahir ke dunia ini. Keberadaan mu selama ini sudah kami sembunyikan rapat-rapat demi menjaga kehormatan keluarga. Sekarang, saatnya kamu berguna sedikit untuk membayar semua biaya hidup yang sudah kami keluarkan untukmu!"

​"Betul kata Papamu, Serena!" timpal Julia dengan nada sinis, mendekati sofa tempat Serena duduk lalu melipat tangan di dada.

"Jangan berani memasang wajah datar sok tersiksa begitu. Seharusnya kamu bersyukur! Ivanna, putri kesayangan kami, memiliki masa depan yang cemerlang. Dia tidak mungkin kami serahkan kepada monster kejam seperti Sergio! Konon kabarnya, Sergio itu suka menyiksa siapa saja tanpa pandang bulu, bahkan membunuh bayi-bayi tak berdosa. Kalau Ivanna yang ke sana, hancur sudah masa depannya! Nah, berhubung kamu tidak punya masa depan dan hanya beban keluarga, jadilah tumbal yang berguna!"

​Di sudut ruangan, duduk dengan elegan seorang gadis seusia Serena berambut ikal pirang tersenyum miring. Ivanna, sang kakak tiri, memandangi Serena dengan tatapan penuh kemenangan dan sirat kecemburuan yang selama ini terpendam. Meskipun Serena adalah anak haram, harus diakui wajah Serena memiliki kecantikan alami yang bahkan mampu menyaingi dirinya. Selama ini Ivanna sangat membenci fakta tersebut.

​"Makanya, jangan sok suci dan sok berani mati, Serena," ucap Ivanna dengan nada mengejek, menyilangkan kakinya dengan anggun.

"Lagian, mati bunuh diri gara-gara takut sama Sergio itu tolol banget. Terima saja nasibmu. Toh, kalau kamu mati kemarin, utang Papa ke Sergio tidak akan lunas, dan keluarga kita bisa hancur lebur. Anggap saja pernikahan ini sebagai bentuk baktimu yang terakhir... ah, ralat, bentuk pengabdian pertamamu karena selama ini kamu cuma numpang hidup di rumah ini."

​Serena mengangkat wajahnya perlahan. Sepasang matanya yang tajam menatap satu per satu orang-orang di hadapannya. Tatapan itu begitu dingin, tanpa secercah pun rasa takut atau gentar yang biasanya ditunjukkan oleh pemilik tubuh asli.

​Sebastian yang melihat tatapan itu langsung merasa tersinggung. "Hei! Berani-beraninya kamu menatap orang tuamu seperti itu! Mau melawan, hah?!"

​"Kalian sudah selesai ceramahnya?" tanya Serena akhirnya. Suaranya terdengar tenang, datar, dan begitu dingin, kontras dengan suasana ruangan yang panas dan penuh amarah.

​Julia tertegun sejenak, merasa aneh dengan perubahan nada bicara Serena yang biasanya gemetar ketakutan saat dibentak.

"Apa kamu bilang? Masih berani menjawab, hah?!"

​"Kalian sibuk sekali berteriak, marah-marah, dan saling membenarkan kelakuan egois kalian," balas Serena dengan nada malas, menyandarkan punggungnya dengan santai di sofa.

"Kalian takut Ivanna menderita di tangan mafia kejam, tapi dengan sukarela melemparkan anak kandung sendiri ke mulut singa. Lucu sekali konsep keluarga harmonis versi kalian."

​"SERENA!" bentak Sebastian murka, urat-urat lehernya mencuat keluar. Pria itu melangkah cepat mendekati Serena, berniat melayangkan tamparan keras ke pipi gadis itu.

"Ancaman apa yang membuatmu jadi lancang begini, hah?! Kurang ajar!"

​Serena tidak bergeming sedikit pun. Ia hanya melirik sekilas tangan Sebastian yang terangkat di udara, lalu berucap dengan suara rendah namun tajam menohok.

"Silakan pukul. Tapi perlu diingat, kalau wajah saya babak belur sebelum dijemput oleh anak buah Sergio, apa alasan yang akan kalian berikan pada sang mafia kejam itu? Mau bilang kalau calon istrinya habis disiksa oleh ayah kandungnya sendiri karena tidak ikhlas?"

​Gerakan tangan Sebastian langsung terhenti di udara. Wajah pria itu memerah padam antara marah dan panik. Ia sadar betul, jika Sergio melihat cacat atau bekas siksaan di tubuh pengantinnya sebelum diserahkan, urusannya bisa panjang dan berujung pada kematian seluruh anggota keluarganya. Sebastian mendengus kesal, lalu menurunkan tangannya dengan kasar sambil menunjuk-nunjuk wajah Serena.

​"Anak sialan... benar-benar anak sialan!" geram Sebastian dengan napas memburu.

"Sifat membangkang mu ini benar-benar warisan dari wanita murahan itu!"

​Julia mendengus jijik sambil merapikan kain bajunya. "Sudahlah, Papa. Tidak ada gunanya berdebat dengan anak tidak tahu diuntung seperti dia. Biarkan saja dia besar kepala sekarang. Nanti juga kalau sudah sampai di kediaman Sergio, mentalnya akan hancur sendiri dan dia bakal nangis-nangis memohon ampun. Tapi sayangnya, pintu maaf dari Sergio tidak akan pernah ada."

​Ivanna tertawa kecil, suara tawanya terdengar begitu merdu namun menyebalkan di telinga. "Iya, Ma. Aku jadi penasaran, berapa lama Serena bisa bertahan hidup di sana? Sehari? Dua hari? Atau mungkin langsung dibunuh di malam pertama karena bikin sang mafia muntah?"

​"Bagus kalau begitu," timpal Julia dengan senyum sinis.

"Dengan begitu, utang triliunan Papa lunas, dan kita tidak perlu lagi melihat wajah pembawa sial ini berkeliaran di rumah kita."

​Serena mendengarkan semua hinaan itu dalam diam. Dalam hatinya, ia merasa sangat jengah. Kalau saja bukan karena ia baru saja menempati tubuh ini dan butuh waktu untuk beradaptasi, ia ingin sekali merobek mulut Julia dan Ivanna yang sejak tadi tidak berhenti memuntahkan kata-kata beracun. Pemilik tubuh ini terlalu lemah, penakut, dan selalu membiarkan dirinya diinjak-injak.

​"Cepat, berdiri!" perintah Julia dengan nada ketus saat melihat Serena hanya diam termenung.

"Jangan duduk santai di situ seolah-olah kamu ini seorang putri raja! Sebentar lagi anak buah Sergio akan datang menjemputmu. Cepat pergi ke kamarmu, ambil baju apa saja yang pantas meskipun aku tahu pakaianmu jelek semua dan bersiaplah di depan pintu gerbang! Jangan membuat orang-orang berbahaya itu menunggu, atau nyawa kita semua taruhannya!"

​Sebastian menambahkan dengan nada mengancam, "Dengar baik-baik, Serena. Jangan pernah coba-coba kabur atau membuat trik murahan di jalan. Kalau sampai kamu mencoreng nama baik keluarga kita atau membuat Sergio marah besar di pertemuan pertama, aku sendiri yang akan memastikan hidupmu menderita bahkan sebelum kamu menginjakkan kaki di mansionnya."

​Serena perlahan bangkit dari duduknya. Ia merapikan sedikit lipatan di rok bajunya yang sederhana, lalu menatap lurus ke arah Sebastian, Julia, dan Ivanna secara bergantian. Tidak ada secercah air mata pun di matanya. Yang ada hanyalah sorot mata dingin yang membuat bulu kuduk ketiga orang di hadapannya mendadak meremang sesaat.

​"Kalian tidak perlu repot-repot mengancam," ucap Serena dengan suara tenang yang terkesan dingin.

"Kalian harusnya berdoa agar saya bisa bertahan hidup di sana. Karena kalau saya sampai kembali... kalian orang pertama yang akan saya ingat."

​"Heh! Masih berani mengancam rupanya!" maki Julia, namun ada sedikit keraguan yang terselip di balik bentakannya karena sorot mata Serena terasa begitu menusuk.

​Sebelum Julia sempat melanjutkan kata-kata marahnya, Serena sudah berbalik memunggungi mereka. Ia melangkah pelan menaiki tangga menuju kamarnya yang sempit di lantai atas. Di belakangnya, suara tawa puas Ivanna masih terdengar samar-samar, merayakan keberhasilan mereka menumbalkan Serena ke tangan seorang monster berdarah dingin.

​Sesampainya di kamar kecilnya yang pengap dan hanya berisi satu tempat tidur serta lemari tua, Serena menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Ia menghembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu tersebut.

"​Menikah dengan mafia kejam yang suka menyiksa dan membunuh bayi? bener-bener skenario klise yang sangat merepotkan," batin Serena sambil melirik pantulan dirinya di cermin kecil di sudut kamar. Wajah gadis itu memang pucat, tapi struktur wajahnya sangat menawan pantas saja Ivanna begitu cemburu setengah mati.

​Serena mendengus pelan, lalu berjalan menuju tempat tidur sederhana itu dan duduk di tepinya. Ia sama sekali tidak merasa takut menghadapi takdir barunya. Hidup atau mati, bagi Serena yang pernah tersambar petir di tengah malam, dunia ini sudah menjadi bonus baginya. Jika memang ia harus menghadapi seorang mafia kejam, biarlah waktu yang menjawab siapa yang sebenarnya akan memangsa siapa.

​Di luar rumah, suara deru mobil mewah mulai terdengar memasuki halaman. Pertanda bahwa para penjemput dari sang mafia telah tiba. Serena hanya menatap lurus ke arah jendela kamarnya dengan ekspresi datar tanpa ekspresi, siap menyambut lembaran baru dalam hidupnya yang penuh dengan bahaya.

Bersambung...

1
Ita Putri
kasihan nasib Callum setelah ini....jangan terlalu kejam hukum Callum nya sergio
It's me Ri🥕: Kayaknya bakalan di bunbun dehh🙏😭
total 1 replies
Mia Camelia
seru banget ngliat tingkah polos serena🤭
Mia Camelia
sergio bisa lembut juga 🤭
Dessy Rinda
klo serenanya jago nela diri sm nembak keren kak thor🤭😁🙏
Dessy Rinda: siiippp
total 2 replies
Mia Camelia
mampir thor🤭
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔
Dessy Rinda: semangat nulisnya kk thor,semoga di berikan ide2 cemerlang sehat2 ya kak💪👍
total 2 replies
Sumawita
saya suka dengan cerita nya bagus bangett 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!