### KARIR MINGGUAN
Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.
**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**
Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.
Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.
Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.
Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.
Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.
**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**
Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persaingan Bengkel
Hari keenam dimulai dengan suasana yang tidak biasa. Belum lagi bengkel Pak Slamet buka penuh, sebuah mobil sedan dengan logo bengkel resmi tertentu berhenti mendadak di depan, membuat Reyhan, Yanto, dan Pak Slamet saling pandang dengan bingung.
Seorang pria berseragam rapi turun dari mobil itu, wajahnya terlihat tidak senang. "Pak Slamet? Saya dari manajemen bengkel resmi di seberang kota, boleh ngobrol sebentar?"
"Oh, silakan, Pak," jawab Pak Slamet, sedikit gugup meski berusaha tetap ramah.
"Begini, Pak. Saya dengar dari beberapa pelanggan kami, katanya bengkel Bapak ini suka bilang-bilang kalau komponen dari bengkel kami cepat rusak, sengaja dipasang komponen jelek biar pelanggan balik lagi. Itu bener?"
Reyhan, yang berdiri di dekat situ, merasakan jantungnya berdegup kencang mendengar tuduhan itu diarahkan langsung ke tempat kerjanya.
"Waduh, Pak, kami nggak pernah ngomong kayak gitu ke pelanggan," jawab Pak Slamet, mencoba tenang meski nada suaranya sedikit gemetar. "Kami cuma jelasin kondisi kendaraan yang kami temuin waktu servis."
"Tapi katanya ada yang bilang soal 'pola kerusakan yang sengaja', itu dari mana asalnya kalo bukan dari sini?"
Reyhan maju selangkah, memutuskan untuk ikut bicara. "Itu dari saya, Pak. Tapi saya nggak pernah bilang itu sengaja atau nggak, saya cuma nyampein observasi aja ke pelanggan, kalo emang kebetulan ada pola kerusakan yang mirip."
Pria itu menatap Reyhan tajam. "Observasi yang bikin bisnis kami rugi, Mas. Beberapa pelanggan langganan kami udah pindah ke sini gara-gara omongan itu."
"Saya minta maaf kalo itu bikin masalah, Pak. Tapi saya juga cuma jujur soal apa yang saya liat di lapangan," jawab Reyhan, mencoba tetap sopan meski dalam hati mulai sedikit kesal dengan nada menuduh itu.
Yanto, yang sedari tadi diam mengamati, akhirnya ikut bicara. "Pak, kalo boleh saya tambahin, kami emang beberapa kali nemuin mobil yang abis servis dari bengkel Bapak, terus rusak lagi nggak lama setelahnya. Itu fakta, bukan fitnah."
"Itu bisa aja kebetulan, Mas. Nggak semua kerusakan itu kesalahan kami."
"Ya bisa juga, Pak. Makanya kami nggak pernah bilang itu pasti kesengajaan. Tapi kalo Bapak nanya dari mana asal omongan itu, ya emang dari observasi kami sendiri, bukan ngarang-ngarang."
Pak Slamet, yang mulai melihat suasana memanas, buru-buru menengahi. "Begini, Pak. Kita sama-sama cari makan di bidang yang sama. Kami nggak ada niat buat jelek-jelekin bengkel Bapak secara langsung ke pelanggan. Yang kami lakuin cuma kerja sebaik mungkin, kalo pelanggan puas dan cerita ke orang lain, itu di luar kendali kami."
Pria itu terdiam sejenak, terlihat sedikit melunak mendengar penjelasan itu. "Ya udah, saya cuma mau klarifikasi aja sih, Pak. Habis banyak yang complain ke manajemen soal rumor ini."
Setelah pria itu pergi dengan raut wajah masih agak kesal namun tidak lagi seagresif awal, suasana bengkel terasa tegang selama beberapa saat. Reyhan menghela napas panjang, merasa sedikit bersalah karena obrolan santainya kemarin ternyata berbuntut panjang.
"Pak, maaf ya, kayaknya ini gara-gara saya kebanyakan ngomong ke pelanggan soal pola kerusakan itu," kata Reyhan, terlihat menyesal.
Pak Slamet menepuk pundaknya. "Nggak apa-apa, Mas. Justru ini bukti kalo kita mulai diliatin sama kompetitor. Artinya usaha kita emang mulai berkembang."
"Tapi kalo mereka nganggep kita nyerang bisnis mereka, gimana, Pak? Takutnya malah jadi masalah lebih besar."
Yanto, yang biasanya sinis, kali ini justru memberi pandangan yang lebih tenang. "Menurut saya sih, Mas, selama kita nggak nyebar fitnah dan cuma kerja jujur, kita nggak perlu takut. Yang penting kita jaga omongan ke pelanggan biar nggak kelewatan kayak nuduh langsung."
"Bener juga, Yan," jawab Reyhan, mulai merasa sedikit lega mendengar dukungan tak terduga itu.
Siang harinya, sambil menunggu pelanggan berikutnya datang, Reyhan menerima telepon dari Bu Ratna, salah satu pelanggan kaya yang kemarin servis di bengkel mereka.
"Mas Reyhan, saya denger dari temen saya, katanya bengkel resmi itu ngedatengin bengkel Bapak Slamet tadi pagi, ada masalah apa?"
Reyhan sedikit kaget kabar itu bisa menyebar secepat itu. "Iya, Bu, tadi pagi mereka dateng, katanya nggak terima soal omongan saya kemarin."
"Wah, mereka emang gitu, Mas, sensitif banget kalo reputasinya kesenggol. Tapi tenang aja, saya udah cerita ke beberapa temen bisnis saya soal pengalaman bagus di bengkel Bapak Slamet, jadi kalo mereka mau nyerang balik, saya juga siap bela kalian."
"Wah, makasih banyak, Bu Ratna. Nggak nyangka bakal dapet dukungan segini, padahal Ibu kan baru sehari jadi pelanggan kami."
"Sama-sama, Mas. Kerja jujur itu emang kadang bikin yang nggak jujur jadi kebakaran jenggot. Tapi jangan takut, yang penting kalian tetep pertahanin kualitas kerja."
Sore harinya, seorang pelanggan baru datang, ternyata seorang sopir pribadi yang bekerja untuk salah satu direktur di bengkel resmi tersebut, datang secara diam-diam untuk servis mobil pribadinya sendiri.
"Mas, ini rahasia ya, jangan sampe bos saya tau saya servis di sini," bisiknya, terlihat sedikit was-was.
"Loh, kenapa, Pak?" tanya Reyhan penasaran, sedikit heran dengan permintaan rahasia yang tidak biasa itu.
"Soalnya kabarnya udah nyebar di kalangan internal, katanya bengkel Bapak lebih jujur dan teliti dibanding tempat kami kerja. Beberapa temen saya sesama sopir juga diem-diem udah pada nyoba ke sini."
Reyhan dan Yanto saling pandang, menahan senyum mendengar pengakuan tak terduga itu.
"Wah, makasih banyak kepercayaannya, Pak. Kami usahain sebaik mungkin, nggak akan main-main sama kendaraan pelanggan," jawab Reyhan.
"Iya, Mas. Kalian jangan berhenti kerja jujur ya, biar makin banyak yang percaya, soalnya kami juga capek kerja di tempat yang nggak jujur kayak gitu."
Menjelang malam, setelah bengkel tutup, Pak Slamet mengumpulkan Reyhan dan Yanto sebentar untuk membahas kejadian seharian yang penuh drama itu.
"Jadi gimana, kalian berdua? Masih mau lanjut strategi jujur ini meski ada tekanan dari kompetitor?" tanya Pak Slamet.
"Menurut saya sih iya, Pak. Toh kita nggak ngomong bohong, cuma jujur soal apa yang kita temuin," jawab Reyhan mantap.
Yanto mengangguk setuju. "Bener, Pak. Lagian tadi banyak juga yang malah makin percaya sama kita gara-gara kejadian ini."
Pak Slamet tersenyum puas mendengar kekompakan kedua anak buahnya itu. "Ya udah, kita lanjutin aja. Yang penting jaga kualitas kerja, biar apa pun omongan orang, hasil kerja kita yang jadi bukti paling kuat."
Reyhan membuka layar holografik sistem sebentar sebelum pulang, memastikan Yanto dan Pak Slamet sudah cukup jauh dari jangkauan pandangannya.
> [Progres Misi: 8/10 perbaikan dengan kepuasan tinggi.]
> [Sisa waktu: 1 hari, 20 jam.]
Ia menutup layar itu dengan perasaan campur aduk lega karena progresnya semakin dekat ke target, tapi juga sedikit was-was memikirkan bagaimana kelanjutan persaingan kecil ini setelah dia sendiri sudah tidak lagi bekerja di bengkel ini mulai minggu depan.
Sebelum benar-benar pulang, Fajar datang mampir sebentar, membawa kabar yang membuat suasana malam itu jadi lebih ringan setelah hari yang penuh ketegangan.
"Bang! Denger-denger tadi ada drama gede di bengkel? Kak Sinta cerita katanya sampe ada yang dateng marah-marah, serem banget kedengerannya."
"Iya, Jar, lumayan bikin deg-degan tadi pagi. Untung akhirnya reda, tapi kok bisa Sinta tau ya?"
Reyhan tak tahu bahwa sebenarnya Sinta diam-diam memperhatikan Reyhan melalui orang yang dia suruh.
"Wah, kalo itu saya gatau bang. Tapi saya rasa kayak sinetron aja, Bang. 'Persaingan Bengkel: Perang Bintang Lima'."
"Judulnya kepanjangan, Jar, lagian ini bukan sinetron."
"Ya iya sih, tapi seru aja kalo diceritain gitu. Eh, tapi serius, Bang, nggak masalah kan kalo bengkel resmi itu jadi musuhan sama Pak Slamet?"
Reyhan menggeleng. "Nggak musuhan juga sih, Jar. Cuma mereka nggak terima reputasinya kesenggol dikit. Tapi kayaknya udah agak mendingan sih tadi, malah ada sopir mereka sendiri yang diem-diem servis ke bengkel kita."
"Serius? Sampe segitunya?"
"Iya, katanya banyak yang mulai percaya kita lebih jujur."
Fajar bersiul kagum. "Wih, Abang ini kemana-mana selalu bawa efek domino ya. Jualan nasi goreng viral, sekarang bengkel jadi rebutan pelanggan, apa selanjutnya coba?"
"Bukan aku doang, Jar, ini kerja bareng Pak Slamet sama Yanto juga."
"Iya, iya, tapi tetep aja, kemana Abang pergi, sesuatu yang besar selalu kejadian. Bulan depan jangan-jangan Abang jadi presiden RT dadakan juga."
"Amit-amit, Jar, ngurus RT ribet banget itu."
Reyhan tertawa mendengar komentar Fajar itu, meski dalam hati dia tahu ada kebenaran yang lebih dalam di balik kalimat itu sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan secara terbuka, bahkan ke sahabat yang paling dekat dengannya sekalipun, sebuah rahasia yang harus terus dia pikul sendirian setiap minggunya.
Mereka berdua berjalan pulang bersama, melewati jalanan yang mulai sepi karena malam sudah cukup larut. Fajar, yang sepanjang jalan masih penasaran dengan detail kejadian hari itu, terus bertanya berbagai hal, sementara Reyhan menjawab seadanya sambil sesekali tersenyum mengingat dukungan tak terduga dari Bu Ratna dan sopir pribadi yang diam-diam jadi pelanggan setia mereka.
"Btw, Bang, besok udah hari terakhir kan jadi montir?" tanya Fajar, nadanya sedikit sendu, seperti sudah mulai kangen duluan sebelum hari itu benar-benar tiba.
"Iya, Jar. Besok penutup minggu ini."
"Terus abis ini Abang jadi apa lagi minggu depan?"
"Belum tau juga, Jar. Biasanya juga baru ketauan pas hari Seninnya langsung."
"Aneh juga ya, hidup Abang ini. Tapi seru sih, tiap minggu selalu ada cerita baru, kayak nonton series yang episodenya nggak abis-abis."
"Iya, Jar, kadang saya sendiri juga masih suka kaget sama apa yang kejadian."
Mereka berdua melanjutkan langkah dalam diam sejenak, menikmati suasana malam yang tenang setelah hari yang penuh drama tak terduga di bengkel sebuah penutup yang pas untuk hari keenam yang jauh lebih dramatis dari yang pernah Reyhan bayangkan sebelumnya, sekaligus pengingat bahwa esok hari akan jadi penutup dari babak mekanik ini, dengan segala kejutan yang mungkin masih tersisa untuk hari terakhirnya.