Indonesia
NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelulusan

Seminggu berlalu setelah kejadian Zevanna menyerempet mobil Alphard milik Ravenzo.

Ujian akhir semester akhirnya resmi dimulai. Zevanna duduk tegak di kursinya, berusaha fokus mengerjakan lembaran soal ujian di depannya.

Suasana kelas cukup hening. Semua murid sibuk mengerjakan soal masing-masing.

"Duh... ini jawabannya apa ya?" gumam Zevanna pelan sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal.

Zevanna melirik pelan ke arah Tisha yang duduk di sebelah mejanya.

"Psstt... Tisha!" bisik Zevanna sangat pelan.

Tisha menoleh sedikit dan mengerutkan keningnya. "Apa?"

"Jawaban nomor sebelas apa, Tis?" bisik Zevanna lagi sambil mengawasi pengawas di depan.

Tisha melirik kertas ujiannya sekilas. "B!"

Zevanna tersenyum puas lalu dengan cepat menyalin jawaban itu di kertas lembar jawabannya.

Di tengah-tengah mengerjakan soal, bayangan kejadian di jalan minggu lalu mendadak melintas di otak Zevanna. Ia langsung kesal lagi kalau mengingat cowok yang meminta ganti rugi lima miliar itu.

"Ck! Ngapain juga gue malah mikirin cowok nyebelin itu sih?!" batin Zevanna menggerutu, mengibaskan tangannya di udara.

"Waktu ujian tinggal lima menit lagi! Harap periksa kembali jawaban kalian!" seru guru pengawas dari depan kelas.

Zevanna panik dan langsung mengisi beberapa nomor terakhir dengan buru-buru.

Kriiing!

Bel tanda ujian berakhir berbunyi nyaring. Zevanna segera maju ke depan, menyerahkan kertas ujiannya di meja guru, lalu melangkah keluar kelas. Ia meregangkan otot-otot jari tangannya yang terasa kaku.

Tisha menyusul keluar dari kelas dan mendekati Zevanna.

"Gimana, Zev, ujian hari pertama ini?" tanya Tisha penasaran.

Zevanna menoleh lemas. "Susah banget, gila! Mumet otak gue liat angka sama rumus-rumus tadi!"

Tisha terkekeh kecil. "Ya kan waktu itu kita udah sempet belajar bareng, masa lo masih bingung sih?"

"Gue cuma tahu beberapa doang, nggak semuanya! Dikira otak gue ini robot apa bisa hafal semua materi?!" sungut Zevanna membela diri.

"Zevanna! Tisha!"

Zevanna melirik Fiona dan Kanita yang berjalan cepat menghampiri mereka dari koridor sebelah.

"Aduh sumpah ya! Tadi gue hampir ketahuan nyontek sama Pak Toyo!" cerocos Fiona mengelus dadanya panik.

"Iya tuh! Pak Toyo muter-muter terus di sekitar meja gue, gue sampai nahan napas, jir!" tambah Kanita ikut heboh.

Tisha tertawa tipis. "Pak Toyo kan emang kayak gitu orangnya kalau lagi ngawas ujian."

Fiona melirik Tisha iri. "Ya lo mah enak, Tis, pengawasnya Bu Maya yang santai!"

Zevanna tidak terlalu memedulikan keributan teman-temannya. Matanya perlahan melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya—jam tangan pemberian dari Kak Zoyya.

Ia jadi teringat lagi dengan alasan kenapa dirinya ingin bekerja di Verion Group.

Ia bukan cuma ingin bekerja. Ia masih ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Kak Zoyya di Verion Group.

"Woi! Lo kenapa diem aja dari tadi? Kesambet lo?!" seru Kanita mengibaskan tangan di depan wajah Zevanna.

Zevanna tersentak kaget. "Dih, siapa yang kesambet coba?! Enggak ya!"

"Terus kalau nggak kesambet, lo mikirin apa sih dari tadi? Melamun mulu!" cecar Kanita.

Zevanna menghela napas pelan. "Gue kepikiran Kak Zoyya... Gue rasa Kak Zoyya tuh dibunuh, bukan murni kecelakaan."

Tisha menatap Zevanna cemas. "Zev... lo jangan buru-buru menyimpulkan kalau Kak Zoyya itu dibunuh. Nanti lo malah kepikiran terus."

"Tapi gue masih ngerasa semuanya ganjil banget, Tis," sahut Zevanna bersikeras.

Fiona menepuk pelan pundak Zevanna. "Udah, udah. Jangan dipikirin dulu buat sekarang. Yang perlu kita pikirin tuh ujian kita minggu ini biar bisa lulus semua!"

"Betul banget kata Fio! Udah ya Zev, fokus ujian dulu," tambah Kanita menenangkan.

Zevanna akhirnya mengangguk dan tersenyum tipis. "Thanks ya, guys!"

***

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hari pengumuman kelulusan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga.

Seluruh murid kelas 12 berdiri berbaris rapi di lapangan sekolah dengan perasaan deg-degan.

Pak Zaki selaku kepala sekolah berdiri di atas mimbar memegang mic. "Selamat pagi semuanya!"

"PAGI, PAK!" sahut ratusan siswa bergemuruh.

"Hari ini adalah hari terakhir kalian berada di sekolah ini sebagai siswa. Terima kasih sudah menjadi bagian dari sekolah ini. Bapak sangat bangga pada kalian semua. Oke, tanpa berlama-lama lagi, Bapak akan mengumumkan hasil kelulusan kalian!" seru Pak Zaki.

Lapangan langsung hening. Semua murid menunggu pengumuman dari kepala sekolah.

Pak Zaki tersenyum lebar. "Hari ini... kalian semua dinyatakan LULUS seratus persen!"

Suasana lapangan seketika pecah oleh sorak-sorai dan tepuk tangan meriah.

"HOREEE! KITA LULUS, GUYS!" heboh Zevanna, Tisha, Fiona, dan Kanita berteriak senang.

Mereka berempat langsung berpelukan erat sambil tertawa gembira.

"Nggak nyangka banget kita akhirnya bisa lulus juga!" seru Fiona berbinar-binar.

"Iya sama! Gue kira nilai gue bakal nyungsep, eh ternyata lulus dong!" sahut Kanita bahagia.

"Zevanna!"

Zevanna menoleh ke belakang. Jayden berjalan menghampirinya bersama Reon, Alan, dan Kevan.

"Congrats ya, Zev!" ucap Jayden tersenyum manis.

"Thanks. Congrats too buat lo pada!" jawab Zevanna santai.

"Lo nanti rencana lanjut ke mana, Zev? Kuliah di mana?" tanya Jayden penasaran.

Zevanna menggeleng cepat. "Nggak, gue mau langsung kerja."

Jayden mengernyit heran. "Kerja? Di perusahaan bokap lo?"

"Bukan!" jawab Zevanna singkat.

"Terus di mana emangnya?" cecar Jayden lagi.

"Verion Group!" sahut Zevanna jujur.

Jayden seketika tersentak kaget mendengarnya. "Apa?! Verion Group?! Lo seriusan mau kerja di sana?!"

"Iya, gue serius. Emang kenapa sih?" tantang Zevanna.

"Ya nggak kenapa-napa... Cuma kenapa harus di Verion Group? Kenapa nggak kerja di perusahaan bokap lo aja yang udah jelas?" ujar Jayden heran.

"Ya terserah gue lah mau kerja di mana! Bukan urusan lo juga kan?!" kata Zevanna tegas.

Jayden menghela napas pasrah. "Gue kira lo bakal kuliah, Zev..."

Zevanna mendengus. "Enggak. Emang lo sendiri mau kuliah?"

Jayden mengangguk mantap. "Iya, gue mau kuliah di kampus dekat-dekat sini aja, biar tetep bisa sering ketemu sama lo."

Zevanna memutar bola matanya malas mendengar gombalan Jayden.

"Zevanna! Ayo kita pergi sekarang!" panggil Fiona dari kejauhan.

"Mau pergi ke mana?" tanya Zevanna menoleh.

"Ya nongkrong di tempat biasa lah! Merayakan kelulusan! Ayok cepet!" Fiona langsung menarik tangan Zevanna.

Jayden terkekeh kecil melihat Zevanna yang ditarik paksa oleh teman-temannya.

"Eh Jay, tadi Zevanna beneran bilang mau kerja di Verion Group?" tanya Alan memastikan.

"Iya," jawab Jayden menatap punggung Zevanna.

"Kok dia ngebet banget mau kerja di sana ya?" gumam Kevan heran.

Jayden mengangkat bahunya tipis. "Nggak tahu... Mungkin dia emang punya alasan sendiri."

***

Sore harinya usai puas nongkrong bersama teman-temannya, Zevanna pulang ke rumah. Ia melangkah masuk menuju ruang tamu.

"Ma, Pa," sapa Zevanna.

Liona dan Yovandra yang sedang duduk santai langsung menoleh.

"Aku udah lulus sekolah, Ma, Pa!" seru Zevanna tersenyum lebar.

Wajah Liona dan Yovandra seketika berbinar bahagia.

"Kamu beneran lulus, Nak?!" tanya Liona bangga.

Zevanna mengangguk mantap. "Iya Ma, aku lulus!"

Liona langsung bangkit dan merengkuh tubuh Zevanna hangat. "Selamat ya, Sayang! Mama proud of you!"

"Makasih banyak, Ma," bisik Zevanna tersenyum.

Yovandra menatap putrinya lembut. "Jadi... setelah ini kamu mau lanjut kuliah ke mana, Zev?"

Zevanna melirik Papanya lalu perlahan mengurai pelukan Mamanya. "Aku mau langsung kerja, Pa."

"Kerja di mana? Perusahaan Papa?" tanya Yovandra menawarkan.

Zevanna menggeleng cepat. "Aku mau coba melamar di Verion Group, Pa."

Liona dan Yovandra seketika tersentak kaget mendengar nama perusahaan itu.

"Verion Group?" ulang Yovandra memastikan.

"Iya, Pa."

"Kenapa kamu mau kerja di sana? Padahal kamu bisa langsung kerja di perusahaan Papa," tanya Yovandra bingung.

Zevanna sempat diam. Ia nggak mungkin mengatakan alasan sebenarnya kalau dirinya masuk ke Verion Group karena ingin mencari tahu kematian Zoyya.

"Aku mau cari pengalaman sendiri dari bawah, Pa. Aku nggak mau terus-terusan bergantung sama nama besar perusahaan keluarga."

Yovandra mengamati keseriusan di wajah putrinya, lalu menghela napas pelan.

“Kalau itu memang kemauan kamu, Papa izinin. Tapi kamu harus tetap hati-hati di sana.”

Zevanna tersenyum lega. "Siap, Pa! Aku pasti bakal jaga diri baik-baik. Makasih ya, Pa udah izinin!"

Yovandra mengangguk tersenyum.

"Ya udah Pa, Ma, aku mau naik ke kamar dulu ya," pamit Zevanna.

Liona tersenyum hangat. "Iya Nak. Apa pun pilihan kamu, Mama selalu dukung!"

"Makasih banyak, Mama!" Zevanna berbalik lalu melangkah cepat menaiki tangga menuju kamarnya.

Sampai di kamar, Zevanna langsung melakukan video call dengan Tisha.

"Tis! Gue udah ngomong sama ortu gue tadi, dan gue diizinin kerja di Verion Group!" seru Zevanna bersemangat.

"Beneran, Zev?! Wah bagus deh!" sahut Tisha lega di layar ponsel.

Zevanna dan Tisha kembali membuka situs resmi Verion Group untuk memeriksa persyaratan yang harus mereka siapkan.

Mereka berdua menyiapkan semua dokumen persyaratan yang dibutuhkan:

Curriculum Vitae (CV) terbaru

Surat Keterangan Lulus / Ijazah

Kartu Identitas (KTP)

Berkas pendukung lainnya.

Zevanna sebenarnya mulai gugup. Ini pertama kalinya ia melamar kerja, apalagi ke perusahaan sebesar Verion Group.

"Duh... gue mendadak gugup banget. Kalau berkas kita ditolak gimana ya, Tis?" gumam Zevanna gelisah.

***

Sementara itu di lantai atas gedung Verion Group, suasana kantor terbilang cukup tegang.

Ravenzo sedang duduk di meja kerjanya, fokus menatap layar laptop.

Arvin melangkah masuk ke dalam ruangan membawa sebuah map laporan penerimaan karyawan baru.

"Pelamar yang masuk udah banyak banget, Rav. Besok tim HRD bakal mulai seleksi administrasi berkas," terang Arvin menyerahkan laporannya.

"Pastikan kandidat yang lolos memang sesuai kualifikasi dan punya kemampuan," pangkas Ravenzo singkat tanpa mengalihkan pandangannya.

Arvin mengangguk paham. "Oke, tenang aja. Gue yang pantau semuanya."

Ravenzo hanya berdehem pelan.

"Rav, lo nggak mau ngopi dulu gitu?" tanya Arvin menawarkan.

Ravenzo menoleh sekilas lalu menggeleng datar. "Nggak."

"Nggak mulu perasaan dari kemarin! Sekali-kali ngopi gitu bro, biar otak lo nggak tegang mulu!" omel Arvin.

Ravenzo menghela napas pendek. "Ya udah, pesenin kopi satu."

Arvin tersenyum puas. "Nah gitu dong! Ya udah gue keluar dulu ya."

Arvin berbalik dan keluar dari ruangan. Ravenzo kembali fokus pada pekerjaannya.

Di meja kerjanya masih ada beberapa laporan yang harus diperiksa sebelum rapat berikutnya.

***

Malam harinya, Zevanna dan Tisha akhirnya resmi mengunggah dan mengirimkan seluruh berkas lamaran mereka ke sistem Verion Group.

Setelah menekan tombol Submit, Zevanna menatap layar laptopnya selama beberapa detik.

Zevanna menatap layar beberapa detik. Ia lega karena berkasnya sudah terkirim, tapi tetap penasaran apakah dirinya bakal diterima.

"Duh... kira-kira diterima nggak ya?" gumamnya cemas.

Zevanna menggenggam jam tangan pemberian Kak Zoyya, menatapnya penuh tekad.

"Kak... kalau gue diterima di sana, gue janji bakal cari tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Kakak!" batinnya mantap.

***

Keesokan harinya, sinar matahari pagi mulai menerobos jendela kamar. Zevanna perlahan membuka matanya.

Ia mengucek matanya yang masih sembap lalu menguap lebar. "Udah pagi aja."

Ting!

Tiba-tiba notifikasi email masuk di ponsel Zevanna.

Zevanna berdecak malas. "Duh, siapa sih pagi-pagi gini udah ngirim pesan aja?!"

Dengan malas Zevanna meraih ponselnya. Namun matanya seketika membelalak sempurna saat melihat nama pengirim email tersebut:

VERION GROUP — HUMAN RESOURCES DEPARTMENT

Zevanna langsung duduk dan membuka email tersebut. Matanya membaca kalimat demi kalimat yang tertera:

Selamat! Anda dinyatakan LOLOS tahap seleksi administrasi. Selanjutnya, Anda diundang untuk mengikuti proses wawancara (interview) pada…

Zevanna tertegun menatap layar ponselnya, tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya.

"Berarti... gue beneran bakal wawancara di Verion Group?!"

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!