Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34.
Boncengan Pertama di Bawah Langit Mendung
Aisyah menunduk sebentar, memutar-mutar sendok di mangkuk bakso yang masih mengepul hangat. Pertanyaan itu begitu tiba-tiba, tapi anehnya ia tidak merasa terganggu sama sekali. Justru ia merasa lega karena Dimas bertanya hal yang jujur dan terbuka begitu.
"Jujur ya..." mulainya pelan, lalu mengangkat wajah menatap mata Dimas dengan tenang. "Rara itu baik banget, setia kawan, dan selalu jujur. Dia tipe teman yang bakal membela kita sampai kapan pun. Cuma kadang emang dia terlalu cepat menilai orang, soalnya dia sayang banget sama temannya, takut temannya disakiti. Sedangkan Laras... dia ceria, berani, dan sebenarnya hatinya baik juga. Cuma selama ini dia belum nemu cara yang tepat buat nunjukin kebaikannya. Tapi aku lihat dia lagi berubah kok, pelan-pelan."
Dimas menyimak setiap kata sambil menyesap kuah bakso, matanya berbinar kagum. "Jadi... kamu nggak merasa terganggu sama mereka berdua?"
"Kenapa harus terganggu?" Aisyah tersenyum tulus. "Manusia itu nggak ada yang sempurna kan? Rara itu pelindungku, Laras itu temanku yang lagi belajar jadi lebih baik. Aku justru bersyukur punya mereka berdua di kelas. Nggak akan seru kalau semua orang sifatnya sama persis."
Dimas tertawa pelan, tawa yang terdengar begitu tulus dan ringan. "Kamu ini... memang beda ya, Syah. Orang lain biasanya bakal milih salah satu atau malah ngomongin kekurangan mereka. Tapi kamu malah cari kelebihannya masing-masing."
"Kan setiap orang pasti ada sisi baiknya, tinggal gimana kita lihatnya aja," jawab Aisyah santai, lalu menyuap bakso ke mulutnya.
"Kalau gitu..." Dimas menatapnya lekat-lekat, sejenak terdiam sebelum melanjutkan dengan nada lebih lembut. "Kalau dibandingkan sama mereka berdua, kamu tahu sendiri kan kenapa banyak orang bilang aku lebih sering nyaman ngobrol sama kamu?"
Aisyah tertegun, pipinya perlahan merona merah. Ia menunduk cepat, memainkan ujung sendoknya. "Aku... aku nggak tahu sih. Mungkin karena aku nggak heboh?"
"Bukan cuma itu," potong Dimas pelan tapi tegas.
"Apaan sih, kenapa tiba-tiba aja jawabannya kayak begitu? Pertanyaannya itu bukan aku kenapa harus aku sih?"
Aisyah pun menarik nafas dengan cepat ia berpura-pura untuk tetap tenang karena benar-benar ngerasa deg-degan banget tapi nggak boleh juga kelihatan orang yang norak jadi harus tetap stay cool. "Heh Kamu kenapa natapnya kayak gitu aku sama sekali nggak suka ya kalau misalkan kamu natapnya kayak begitu, aku cuma sekedar nanya doang kok bukannya yang gimana-gimana banget!"
Aisyah mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Lalu tak berapa lama Dimas pun menyambung ucapan dari Aisyah.
"Kamu itu bikin orang lain merasa tenang, Syah. Kamu nggak paksa orang lain buat suka sama kamu, kamu nggak cari perhatian, dan kamu selalu berpikir positif dulu sebelum menghakimi. Itu yang bikin orang nyaman. Termasuk aku."
Suasana di antara mereka berdua tiba-tiba menjadi hening, namun bukan hening yang canggung. Hujan di luar masih turun rintik-rintik, suara kendaraan yang lewat sesekali terdengar, dan bau tanah basah menyelinap masuk. Aisyah merasakan jantungnya kembali berdebar kencang, bahkan lebih kencang dari saat dibonceng tadi. Ia tidak berani menatap Dimas terlalu lama, takut hatinya akan semakin luluh.
"Kamu... kamu bicara kayak gitu sama semua cewek ya?" tanyanya pelan, berusaha bercanda untuk mencairkan suasana.
Dimas tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Nggak kok. Percaya deh. Kalau sama yang lain obrolannya biasa aja. Tapi sama kamu... rasanya beda. Entah kenapa."
Aisyah menelan ludah, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia menarik napas pelan, lalu berkata dengan lembut namun tegas. "Dim... makasih ya udah bilang begitu. Aku hargai banget. Tapi kita kan masih sekolah... aku mau kita fokus belajar dulu aja ya. Siapa tahu nanti kalau kita udah dewasa, kita bisa kenal lebih jauh. Gimana?"
Dimas mengangguk paham, tidak sedikit pun terlihat kecewa. Justru ia makin kagum. "Kamu benar banget. Aku suka cara pikir kamu itu. Nggak gegabah, nggak terburu-buru. Oke, aku janji. Kita jadi teman baik dulu, ya? Dan kalau nanti memang jodoh, nggak akan ke mana kan?"
Aisyah tersenyum lega, merasa beban di hatinya hilang. "Iya, itu lebih baik. Yuk kita selesaikan baksonya, nanti hujannya makin deras lho!"
Mereka berdua pun tertawa pelan, melanjutkan makan dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan bahagia. Obrolan mereka berlanjut ke hal-hal yang lebih santai — tentang pelajaran, tentang mimpi, tentang tempat yang ingin dikunjungi nanti. Aisyah merasa begitu nyaman, seolah ia sudah mengenal Dimas sejak lama sekali.
Setelah selesai makan, Dimas kembali mengantar Aisyah pulang. Perjalanan pulang terasa lebih hangat, lebih tenang, dan penuh harapan. Saat sampai di depan pagar rumah Aisyah, Dimas mematikan mesin motornya sejenak.
"Syah..." panggilnya pelan. "Makasih ya buat obrolan tadi. Aku jadi makin yakin, keputusanku buat nunggu itu bener. Hati-hati di dalam ya."
"Makasih juga udah antar dan traktir, Dim. Hati-hati di jalan ya," jawab Aisyah sambil turun dari motor, tangannya sempat menyentuh tangan Dimas sejenak — sentuhan singkat yang membuat keduanya saling menatap sejenak sebelum tersenyum.
Aisyah masuk ke dalam rumah dengan hati yang berbunga-bunga, sementara Dimas melaju perlahan meninggalkan rumah itu, tersenyum sendiri sepanjang jalan.
Hari itu bukan hanya tentang boncengan pertama atau makan bakso berdua. Hari itu adalah awal dari sesuatu yang lebih indah — persahabatan yang tulus, rasa hormat yang tumbuh, dan janji diam-diam untuk tumbuh bersama menuju masa depan.
Dan di kamar Aisyah yang mulai malam itu, ia berdoa dengan tulus Ya Allah, jaga perasaan ini. Biarkan kami berdua tumbuh menjadi orang yang lebih baik dulu, sebelum nanti memikirkan hal lain. Semoga Dimas juga tetap semangat belajarnya, dan semoga aku bisa jadi teman yang baik untuknya.
Dimas merasa ada sesuatu hal yang beda dan dia pun kayak kok tertarik ya sama Aisyah makin ke sini makin kayak ada penasaran gitu, tapi Aisyah tuh kayak malu-malu gitu kalau misalkan jadi orang. "Huh kenapa perasaan gue jadi kayak begini ya? Duh mudah-mudahan aja nggak kayak sesuatu hal yang berlebihan deh!" batinnya dalam hati yang ngerasa bingung juga kenapa tiba-tiba aja kayak begini?
Dimas kayak membayangkan gitu tadi kayak kelihatan banget malu-malunya sih Aisyah lucu banget perempuan polos itu. "Tapi lucu juga ya Aisyah kalau dilihat-lihat, kenapa gue perasaannya kayak begini banget ya apakah ada sesuatu di antara gue sama dia dan kayaknya dia kayak nggak suka gitu deh sama gue?"