Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sesampainya di rumah Puja menatap wajah suaminya yang masih khawatir.
Sesampainya di rumah, suasana hening langsung menyambut mereka begitu pintu tertutup rapat.
Puja tidak langsung beranjak ke kamar atau dapur seperti biasanya. Ia berdiri di hadapan Jeffry, menatap lekat-lekat wajah suaminya yang masih menyuratkan garis-garis kekhawatiran dan ketegangan yang mendalam.
Puja menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk menyuarakan apa yang berkecamuk di dalam dadanya.
Ia tahu, bersembunyi atau sekadar menghindari teror dari jauh tidak akan pernah menyelesaikan akar masalahnya.
"Mas," panggil Puja dengan suara lembut namun tegas.
Ia mengangkat tangannya, menyentuh rahang suaminya yang masih mengeras.
"Kita tidak boleh terus-menerus hidup dalam bayang-bayang ketakutan seperti ini. Kalau kita menghindar dan terus berlari, Ningrum dan ibunya akan semakin merasa di atas angin. Mereka akan terus mengejar, meneror, dan mencoba menghancurkan kita."
Jeffry menatap manik mata istrinya, tertegun mendengar ketegaran yang terpancar dari suara Puja.
Gadis yang selama ini ia anggap rapuh dan harus selalu dilindungi itu kini menunjukkan sisi ketegasan yang luar biasa.
"Maksud kamu, Dek?" tanya Jeffry pelan, jemarinya merengkuh tangan Puja yang ada di pipinya.
"Ayo kita ke pondok," ajak Puja mantap.
"Kita temui Abah, kita hadapi Ningsih dan Ningrum secara langsung di hadapan beliau. Menyelesaikan semuanya sampai tuntas di akar masalahnya. Biar semuanya menjadi jelas, dan tidak ada lagi ruang bagi mereka untuk mengganggu rumah tangga kita."
Jeffry terdiam sejenak, mencerna setiap kata yang diucapkan istrinya.
Apa yang dikatakan Puja ada benarnya. Selama ini mereka bersikap pasif demi menjaga perasaan Kyai Ali, namun pihak sebelah justru semakin bertindak di luar batas.
Menghadapinya secara langsung bersama sang ayah adalah cara terbaik untuk memutus mata rantai teror tersebut.
Sorot mata Jeffry perlahan melunak, tergantikan oleh rasa bangga yang amat besar pada wanita pilihannya.
Ia mengecup punggung tangan Puja dengan penuh takzim.
"Kamu benar, Dek," ujar Jeffry akhirnya dengan suara yang lebih mantap.
"Kita hadapi bersama. Tidak ada yang perlu ditakuti selama kita berada di jalan yang benar dan saling menguatkan."
Jeffry merangkul pundak Puja, membawa istrinya ke dalam dekapan hangat untuk menyalurkan kekuatan, sebelum mereka bersiap untuk melangkah pergi menuju pondok pesantren tempat Kyai Ali berada.
Mobil yang dikemudikan Jeffry akhirnya memasuki gerbang utama kompleks pondok pesantren milik Kyai Ali.
Setelah memarkirkan kendaraan di halaman ndalem, Jeffry dan Puja melangkah keluar dengan mantap.
Namun, alangkah terkejutnya mereka saat mendapati Ningsih dan Ningrum tengah berada di teras utama, sepertinya baru saja selesai melancarkan protes atau perdebatan lain dengan Kyai Ali.
Begitu melihat sosok Jeffry dan Puja yang datang berdampingan, langkah Ningsih dan Ningrum seketika terhenti.
Wajah mereka langsung memucat, berganti dengan rona kemerahan karena rasa amarah dan jengkel yang membuncah.
Ningrum mencengkeram ujung jilbabnya erat-erat, matanya mendelik tajam menatap Puja dengan kebencian yang teramat sangat.
Sementara Ningsih sudah membuka mulutnya, hendak melontarkan kalimat pedas.
Namun, Puja tidak lagi ingin merasa ciut. Dengan gerakan lembut namun penuh percaya diri, Puja meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat-erat.
Ia mengangkat tangan mereka berdua yang bertaut tepat di hadapan Ningsih dan Ningrum, seolah menegaskan tanpa sepatah kata pun bahwa Jeffry adalah miliknya seutuhnya—pria yang sah menjadi pelindung dan suaminya, yang tidak akan pernah bisa direbut oleh siapa pun.
Melihat pemandangan itu, dada Ningrum serasa mau meledak karena cemburu dan rasa terhina.
Di ambang pintu paviliun, Kyai Ali yang sedari tadi menyaksikan ketegangan tersebut langsung tersenyum lebar.
Wajah lelah sang kyai seketika berubah cerah melihat keteguhan hati putra dan menantunya. Beliau melangkah maju menyambut kedatangan mereka berdua dengan tangan terbuka.
"Alhamdulillah. Selamat datang, anak-anakku," sambut Kyai Ali hangat, mempersilakan Jeffry dan Puja naik ke teras, sama sekali mengabaikan keberadaan Ningsih dan Ningrum yang terpaku di tempat.
Langkah Jeffry dan Puja terhenti di ruang tamu dalem, berdiri berdampingan di hadapan Kyai Ali yang duduk di kursi utamanya.
Tanpa membuang waktu, Puja menatap sang mertua dengan sorot mata yang menyiratkan ketegasan, menegaskan bahwa kedatangan mereka bukan untuk bersembunyi.
"Abah," ucap Puja dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan.
"Kedatangan kami ke sini untuk menyelesaikan semuanya sekarang juga. Kami tidak ingin hidup dalam bayang-bayang ancaman terus-menerus."
Kyai Ali mengangguk paham. Beliau mengerti betul maksud dari kedatangan anak dan menantunya.
Tanpa menunggu lama, Kyai Ali menoleh ke arah pintu depan tempat Ningsih dan Ningrum masih berdiri dengan wajah masam.
"Ningsih! Ningrum! Kemari kalian. Duduk di sini sekarang!" perintah Kyai Ali dengan suara berat yang penuh wibawa, tidak memberi ruang untuk membantah.
Dengan langkah enggan dan wajah angkuh yang dipaksakan, Ningsih dan Ningrum menyeret kaki mereka mendekat ke ruang tamu, lalu duduk dengan posisi berseberangan.
Jeffry tidak tinggal diam. Ia langsung mengeluarkan ponselnya dari saku jas, membuka layar yang menampilkan pesan teror dari nomor misterius yang diterimanya pagi tadi, lalu meletakkan benda pipih itu tepat di atas meja di hadapan ayahnya.
"Lihat ini, Bah," ujar Jeffry dengan nada dingin dan penuh penekanan.
"Ini bukti teror yang dikirimkan kepada saya. Mereka tidak hanya berani datang menuntut, tapi juga sudah mulai berani mengancam keselamatan Puja."
Kyai Ali membaca pesan di layar ponsel tersebut, dan seketika rahangnya mengeras menahan murka.
Ia mendongak, menatap tajam ke arah adiknya dan keponakannya.
"Apa ini ulah kalian, Ningsih? Beraninya kalian membuat ancaman murahan seperti ini!"
Ningsih terlonjak kaget, langsung menggeleng panik membela diri.
"Bukan saya, Mas! Sumpah, bukan saya yang kirim pesan itu!"
Namun, di sebelah ibunya, Ningrum justru tersenyum miring.
Alih-alih merasa takut atau bersalah, gadis itu malah tertawa kecil—sebuah tawa sinis yang terdengar begitu meremehkan situasi.
Ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menatap lurus ke arah Jeffry dengan sorot mata penuh obsesi yang gila.
"Buat apa menyangkal, Bu? Toh, apa yang tertulis di pesan itu benar adanya," ucap Ningrum tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Kemudian ia mengalihkan pandangannya penuh kebencian kepada Puja, sebelum kembali menatap Jeffry dengan mata berkaca-kaca penuh tuntutan.
"Seharusnya aku yang menjadi milikmu, Mas! Bukan wanita desa ini!" seru Ningrum histeris, menunjuk tepat ke arah Puja.
"Aku yang lebih pantas mendampingi kamu, bukan perempuan tidak tahu malu yang hanya bisa merebut apa yang seharusnya menjadi hakku!"
Suasana ruang tamu mendadak membeku mendengar pengakuan terang-terangan dari Ningrum.
Kyai Ali mengepalkan tangannya di atas meja, napasnya memburu menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun akibat perangai keponakannya yang sama sekali tidak memiliki rasa penyesalan.
Sebelum Kyai Ali sempat membentak, Jeffry melangkah maju selangkah, menempatkan dirinya lebih dekat untuk melindungi Puja. Pria itu menatap Ningrum dengan sorot mata dingin, tanpa secercah pun rasa iba.
"Sadarlah, Ningrum," suara Jeffry bergemerincing tajam, memecah kesunyian ruangan.
"Dari dulu sampai kapan pun, kamu hanyalah sepupu tiriku—keponakan Abah. Tidak pernah ada sedikit pun rasa di hati saya untuk kamu, selain sebagai seorang saudara. Jangan pernah merasa berhak atas hidup saya, apalagi mencoba merendahkan istri saya."
Wajah Ningrum memerah padam mendengar penolakan telak yang diucapkan di depan keluarganya sendiri.
Air mata kekecewaan dan amarah bercampur aduk, membuat dadanya naik turun dengan cepat.
"Kamu jahat, Jeffry! Kamu dibutakan oleh perempuan murahan itu!" teriak Ningrum histeris, nyaris melompat dari kursinya jika saja Ningsih tidak sigap mencengkeram lengan putrinya sambil menatap Jeffry dengan sorot penuh dendam.
"Cukup, Ningrum! Cukup!" Ningsih ikut membentak, mencoba melindungi anaknya meski ia sendiri tahu mereka sudah kalah telak. Ningsih menoleh tajam ke arah Kyai Ali.
"Mas tega mempermalukan keponakan mas demi membela anak orang lain? Lihat anak saya hancur karena pilihannya Mas!"
Kyai Ali akhirnya tidak bisa menahan murkanya lagi.
Ia berdiri dari kursinya, membuat Ningsih dan Ningrum sontak terdiam menciut.
"Aku mempermalukannya? ?!" suara Kyai Ali menggelegar memenuhi ruangan, membuat seisi ruangan terkesiap.
"Jangan uji kesabaran saya lagi! Status Ningrum di keluarga ini sudah saya jaga mati-matian agar kalian tidak diinjak-injak orang lain. Tapi kalau kelakuan kalian sudah berani mengancam nyawa menantu saya, jangan salahkan saya jika hari ini juga saya membongkar seluruh kedok dan rahasia kalian di hadapan keluarga besar!"
Ningsih seketika pucat pasi. Bibirnya bergetar hebat, kehilangan seluruh keberaniannya seketika mendengar ancaman sang kakak.
Ia tahu betul, jika Kyai Ali sudah berbicara dengan nada seperti itu, maka tidak ada lagi tempat berlindung bagi mereka.
Puja yang berdiri di samping Jeffry mengelus lengan suaminya pelan, merasakan ketegangan yang mulai mereda seiring dengan runtuhnya pertahanan mental Ningsih dan Ningrum di bawah wibawa sang kyai.
Ancaman telak dari Kyai Ali benar-benar menjadi pukulan telak yang meruntuhkan seluruh sisa kesombongan Ningsih dan Ningrum.
Ruangan itu kembali diliputi keheningan yang tegang, di mana suara napas memburu dari Ningsih terdengar jelas memecah kesunyian.
Wanita paruh baya itu terduduk lemas, menyadari bahwa tameng yang selama ini melindungi mereka dari pandangan miring masyarakat kini berada di ujung tanduk.
Ningsih menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca, memohon tanpa suara.
Ia tahu, jika Kyai Ali benar-benar membuka rahasia masa lalunya dan status asli Ningrum kepada keluarga besar, maka hancurlah sudah seluruh harga diri yang selama ini mereka bangun di atas kebohongan.
Melihat ibunya melemah, Ningrum tidak terima. Air matanya tumpah bukan karena penyesalan, melainkan karena rasa frustrasi yang teramat sangat.
Ia bangkit dari kursinya dengan kasar, menatap Kyai Ali, Jeffry, dan Puja secara bergantian dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam.
"Kalian semua jahat!" ucap Ningrum bergetar, suaranya nyaris seperti jeritan tertahan.
"Kalian membela perempuan jalang itu dan menginjak-injak harga diriku! Lihat saja nanti, permainan ini belum selesai!"
Tanpa menunggu balasan atau aba-aba lagi, Ningrum menyambar tasnya dan berlari keluar rumah dengan tangisan yang pecah, meninggalkan Ningsih yang terduduk kaku di kursi.
Dengan panik dan rasa malu yang luar biasa, Ningsih buru-buru bangkit untuk menyusul putrinya, meninggalkan paviliun utama tanpa berani memandang wajah Kyai Ali lagi.
Pintu utama tertutup rapat diiringi langkah tergesa-gesa yang kian menjauh.
Kyai Ali menghembuskan napas panjang, merosot kembali duduk di kursinya dengan bahu yang tampak sedikit mengendur.
Gurat lelah terpampang jelas di wajah tua pria bijaksana itu.
Perangai keluarga sendiri ternyata jauh lebih melelahkan daripada menghadapi urusan di luar sana.
Jeffry segera melangkah maju, menghampiri sang ayah dan menuangkan segelas air hangat dari teko di atas meja, lalu menyerahkannya dengan takzim.
"Minum dulu, Bah," ucap Jeffry lembut, menyalurkan rasa hormat dan terima kasih atas pembelaan sang ayah.
Kyai Ali menerima gelas tersebut, meneguknya sedikit, lalu menatap putra dan menantunya dengan senyuman tipis yang menyiratkan kelegaan.
Ia menepuk pelan punggung tangan Jeffry, lalu beralih menatap Puja yang berdiri tenang di samping suaminya.
"Maafkan Abah ya, Nak Puja," ujar Kyai Ali tulus. "Abah minta maaf karena kelakuan keluarga Abah sendiri justru membuat kalian tidak tenang dan terseret dalam masalah ini."
Puja menggelengkan kepalanya perlahan, lalu tersenyum manis sembari menyalami tangan sang mertua dengan takzim.
"Tidak apa-apa, Abah. Justru Puja yang berterima kasih karena Abah dan Mas Jeffry sudah selalu melindungi Puja dan membela kebenaran."
Suasana di ruangan itu perlahan mencair. Ketegangan yang sempat mencekik kini berganti dengan kehangatan rasa kekeluargaan yang tulus.
Jeffry merangkul pinggang Puja erat, merasa bahwa badai besar yang sempat mengancam rumah tangga mereka akhirnya berhasil dilewati bersama-sama.
"Sekarang, mari kita makan bersama di sini," ajak Kyai Ali dengan nada hangat, mencairkan sisa-sisa ketegangan.
"Abah sudah minta disiapkan masakan kesukaan kalian."
Jeffry dan Puja menganggukkan kepalanya ke arah Kyai Ali.