Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Kamu Masih Mikirin Aku, Kan?
Karina memblokir nomor itu sebelum Josie sempat merebut ponselnya.
"Mantanmu?" tanya Josie.
"Bukan. Nomor iseng."
"Nomor iseng nggak bikin telingamu merah."
Karina memasukkan ponsel ke tas. "Aku mau pulang."
Selama tiga hari berikutnya, dia memaksa hidupnya kembali teratur. Pagi ke kantor, siang menjawab pesan pengacara, malam memilah barang rumah tangga. Undangan sidang pertama datang melalui kuasa hukum. Andri menyatakan bersedia hadir dalam mediasi, seolah kata damai masih punya tempat setelah kamar 1001.
Karina tidak memberi ruang pada ingatan tentang Nathan.
Setidaknya, dia berusaha.
Kamis sore, resepsionis kantor menelepon meja kerjanya. "Bu Karina, ada yang menunggu di lobi. Katanya teman."
"Siapa namanya?"
"Nathan."
Pulpen terlepas dari jari Karina.
Dia turun dengan langkah cepat dan menemukan Nathan duduk di sofa lobi, mengenakan jaket hitam dan celana jins. Rambut abu-abunya membuat dua staf magang di meja resepsionis berbisik sambil menahan senyum.
Nathan berdiri ketika melihatnya. "Akhirnya."
"Kamu tahu kantorku dari mana?"
"Kartu nama."
"Aku nggak pernah memberikannya."
"Jatuh dari tasmu. Aku kembalikan ke tempatnya."
"Tapi kamu menghafal alamat dan nomorku?"
"Aku murid yang rajin."
Karina menariknya keluar sebelum seluruh lobi mendengar. "Jangan datang lagi."
Nathan mengikuti sampai trotoar. "Pesanku diblokir."
"Itu jawaban yang jelas."
"Aku lebih suka dengar langsung."
"Baik. Lupakan malam itu. Hapus fotonya. Jangan hubungi aku."
Nathan memasukkan tangan ke saku jaket, santai sekali. "Kamu masih memikirkan aku, kan?"
"Nggak."
"Cepat jawabnya."
"Karena jawabannya mudah."
"Kalau begitu lihat mataku dan bilang lagi."
Karina menatap mata gelap itu. Detik pertama mudah. Detik kedua membuat tengkuknya panas. Pada detik ketiga, tubuhnya mengingat ciuman di dekat jendela hotel.
Dia berpaling. "Aku sepuluh tahun lebih tua."
"Aku bisa hitung."
"Kamu mahasiswa."
"Mahasiswa tetap manusia dewasa."
"Aku sedang mengurus perceraian."
"Itu masalahmu dengan dia, bukan alasan untuk menghilang dariku."
Karina terkesiap. "Darimu? Kita nggak punya hubungan apa-apa."
"Makanya aku datang untuk membicarakannya."
Sebelum dia sempat menjawab, ponselnya berdering. Pengacara mengingatkan jadwal sidang mediasi keesokan pagi. Nathan mendengar potongan percakapan dan ekspresinya berubah lebih serius.
"Dia mempersulitmu?"
"Bukan urusanmu."
"Kalimat favoritmu, ya?"
"Karena kamu terus mencampuri urusan orang."
Nathan tidak membantah. Dia hanya berjalan di samping Karina menuju kedai kopi yang biasa didatanginya. Karina baru menyadari dia mengikuti setelah pintu dibukakan untuknya.
"Aku tidak mengajakmu."
"Aku haus."
Nathan memesan es americano, lalu duduk di hadapannya. Karina membuka laptop dan mencoba bekerja. Lima menit pertama, Nathan diam. Lima menit berikutnya, dia mengambil sedotan Karina yang belum dipakai dan memainkannya.
"Kamu nggak punya kelas?"
"Sudah selesai."
"Teman?"
"Banyak."
"Kekasih?"
Senyum Nathan muncul. "Kenapa?"
"Aku hanya memastikan nggak ada perempuan lain yang akan datang menamparku."
"Nggak ada." Dia mencondongkan tubuh. "Aku juga belum pernah membawa perempuan ke kamar hotel sebelum kamu."
Karina hampir tersedak kopi. "Aku nggak bertanya."
"Tapi kamu ingin tahu."
"Sombong."
"Kamu sudah pernah bilang."
Pelayan meletakkan sepotong tiramisu di meja. Karina mengernyit. "Aku nggak pesan."
"Aku yang pesan."
"Aku nggak suka makanan manis."
Nathan mengambil garpu, memotong ujung kue, lalu menyodorkannya. "Coba dulu sebelum memutuskan."
Karina tidak membuka mulut. Nathan akhirnya memakan potongan itu sendiri tanpa tersinggung.
"Kamu selalu begini?" tanya Karina.
"Begini bagaimana?"
"Memaksa masuk ke hidup orang."
"Nggak. Biasanya orang yang memaksa masuk ke hidupku."
"Lalu kenapa aku?"
Nathan meletakkan garpu. Tatapannya kehilangan nada bercanda. "Karena pagi itu kamu pergi seperti aku cuma kesalahan. Aku nggak suka dijadikan kesalahan orang lain."
Karina terdiam. Untuk pertama kalinya dia memikirkan malam itu dari sisi Nathan. Dia memang memakai seorang asing untuk membalas luka, lalu meninggalkannya tanpa sepatah kata.
"Maaf," katanya akhirnya. "Aku sedang nggak waras."
"Aku tahu."
"Tapi itu tetap bukan alasan untuk mengejarku."
"Bagiku cukup."
Nathan mendorong piring tiramisu ke arahnya lagi. Kali ini Karina mengambil garpu sendiri dan mencicipi sedikit. Rasanya tidak terlalu manis.
Senyum puas Nathan membuatnya menyesal telah menurut.
Percakapan itu seharusnya membuatnya kesal. Anehya, untuk setengah jam, Karina lupa pada Andri, pengadilan, dan pertanyaan mengapa dirinya tidak cukup. Nathan tidak memperlakukannya seperti perempuan rusak. Dia menggodanya seolah Karina adalah satu-satunya hal menarik di ruangan.
Itulah yang paling berbahaya.
Keesokan paginya, Andri datang ke sidang mediasi dengan wajah menyesal. Dia menawarkan konseling pernikahan, berjanji memutus hubungan dengan Tania, lalu meminta Karina memikirkan nama baik keluarga.
Mediator memberi kesempatan kepada mereka untuk bicara tanpa saling memotong. Andri mengulang kisah tentang tekanan keluarga dan keinginannya memiliki anak. Karina menaruh cetakan foto check-in serta transkrip rekaman di atas meja.
"Saya tidak menggugat karena kami belum punya anak," katanya. "Saya menggugat karena dia berbohong, berselingkuh, dan membawa pihak ketiga masuk ke pernikahan kami."
Andri meremas kedua tangan. "Aku sudah bilang akan memperbaiki semuanya."
"Apakah Tania masih hamil?"
Andri tidak menjawab.
"Apakah kamu masih membayar apartemennya?"
Diam lagi.
Karina menoleh kepada mediator. "Saya tetap pada gugatan."
Di lorong, Andri mengejarnya dan bertanya apakah ada lelaki lain. Karina berhenti begitu mendengar tuduhan itu.
"Menarik. Kamu melakukan pengkhianatan, tapi yang ingin kamu selidiki justru hidupku."
"Aku cuma merasa kamu berubah terlalu cepat."
"Aku berubah saat melihatmu memegang KTP di Hotel Astoria."
Andri hendak berkata sesuatu ketika ponselnya berbunyi. Nama Tania terlihat di layar. Karina mengangkat dagu ke arah ponsel itu.
"Angkat. Pilihanmu sedang menelepon."
Di luar ruang mediasi, Mama Kusnadi menelepon dan menuduh Karina tidak tahu berterima kasih.
"Perempuan yang nggak bisa kasih anak malah mau merusak hidup suami," katanya.
Karina menutup sambungan tanpa menjawab.
Ketika keluar dari gedung pengadilan, sebuah motor besar terparkir di seberang jalan. Nathan bersandar di sana dengan dua helm di tangan.
"Kamu ngapain di sini?"
"Menjemput."
"Aku nggak bilang alamat pengadilan."
"Jadwal sidang ada di pesan pengacaramu kemarin. Aku lihat nama gedungnya."
Karina seharusnya marah. Namun setelah dua jam mendengar Andri memutar kenyataan, melihat Nathan terasa seperti jendela yang dibuka di ruangan pengap.
Dia tetap tidak mengambil helm itu.
"Aku bisa pulang sendiri."
"Aku tahu." Nathan menggantung helm kedua di stang. "Aku cuma ingin kamu tahu ada orang yang menunggu di luar."
Karina berjalan melewatinya. Nathan tidak mengejar, tetapi suaranya menyentuh punggungnya.
"Lari terus, Kak. Toh dunia sesempit itu."
Karina tidak menoleh.
Dia belum tahu kalimat itu akan menjadi kenyataan jauh lebih cepat daripada yang diinginkannya.
Dan jauh lebih dekat daripada yang berani dia bayangkan sendiri saat itu.