Indonesia
NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8. CURIGA

Bab 8. Curiga

Hagia menyadari hal itu. Bagaimana sikap Kalandra tiba-tiba berubah. Sorot mata yang lebih tajam dari biasanya.

​Jantung Hagia berdesir tajam. Dia berusaha mempertahankan raut wajahnya yang sedatar papan tulis. Dia memeluk tablet-nya di depan dada sebagai pelindung naluriah.

"Apa yang ada dalam pikiran Anda Tuan Kalandra?"

​Kalandra berdiri pelan lalu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka dengan perlahan namun pasti. Ia bertumpu dengan kedua tangannya di atas meja sehingga wajahnya berada tepat di atas kepala Hagia yang masih tetap dalam posisi duduknya.

Hagia terpaksa mendongak untuk menatap wajah pria yang memiliki tinggi hampir seratus delapan puluh lima sentimeter itu. Kalandra belum juga beranjak hingga Aroma wood and amber dari tubuhnya, mengepung indra penciuman wanita di depannya.

​"Seorang asisten pribadi mampu membedah perhitungan struktur kantilever Xavier hanya dengan melihat gambarnya," ujar Kalandra, matanya menyipit, menelusuri setiap inci ekspresi wajah Hagia.

"Kemampuanmu membuat konsep baru renovasi Arshaka mall juga hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari dua jam saja."

Keheningan mendadak menyelimuti ruangan itu.

"Anda sedang meragukan kemampuan saya, Tuan?"

Kalandra tidak mengetakan apa pun lagi. Ia perlahan berdiri. Namun, tidak beranjak sedikit pun dari tempat itu, membiarkan kesunyian bekerja menggantikan interogasi. Pengalamannya memimpin perusahaan mengajarkannya bahwa diam sering kali lebih ampuh daripada rentetan pertanyaan. Banyak orang justru membuka kelemahannya sendiri ketika dihadapkan pada tatapan yang tak kunjung berpaling.

Hagia menyadari permainan itu. Ia pun berdiri. Jemarinya tanpa sadar mengerat pada sisi tablet yang dipeluknya, tetapi wajahnya tetap tenang. Ia mengatur napas perlahan, memaksa detak jantungnya kembali stabil. Tidak. Ia tidak boleh menunjukkan kepanikan. Satu perubahan ekspresi sekecil apa pun dapat menjadi celah bagi pria di hadapannya.

Tatapan mereka bertemu tanpa ada yang lebih dulu mengalah. Mata Kalandra menyimpan kecurigaan yang semakin jelas, seolah setiap jawaban Hagia hanya akan melahirkan pertanyaan baru. Di sisi lain, Hagia memilih membalas dengan ketenangan yang sama. Ia telah menghadapi dewan investor, klien internasional, bahkan negosiasi bernilai miliaran rupiah. Menghadapi seorang CEO yang gemar mengintimidasi bukanlah alasan baginya untuk kehilangan kendali.

Beberapa detik berlalu, tetapi terasa jauh lebih panjang daripada waktu yang sebenarnya. Udara di antara mereka seakan berubah berat, dipenuhi adu keteguhan yang tak terlihat. Tak ada suara selain embusan napas yang sama-sama dijaga. Untuk sesaat, keduanya seperti sedang mengukur siapa yang akan lebih dulu goyah.

Hagia merasakan tenggorokannya mengering. Namun, ia tetap mempertahankan senyum tipis yang terkesan meremehkan.

"Tuan Kalandra... "

"Jika Anda meluangkan sedikit waktu untuk membaca CV saya daripada sibuk mengusir saya di lobi beberapa hari lalu, Anda tentu sudah mengetahui bahwa saya bukan orang yang datang tanpa kemampuan."

Tatapannya tetap lurus menatap Kalandra. "Saya menyelesaikan pendidikan arsitektur di University of Cambridge dan berhasil lulus dengan predikat kehormatan tertinggi."

"Jika Anda benar-benar ingin tahu, saya langsung mendapat beberapa tawaran untuk bergabung dengan firma arsitektur di Inggris setelah lulus," lanjut Hagia dengan nada yang tetap tenang. "Karier saya mungkin akan jauh lebih mudah jika memilih bertahan di sana. Namun, saya harus memutuskan kembali ke Indonesia karena ibu saya. Saya tidak mungkin membiarkan beliau membangun dan menjalankan studionya seorang diri."

Sorot matanya tidak sedikit pun berubah. "Saya memilih mempertahankannya bukan karena tidak memiliki pilihan lain, tetapi karena saya percaya sebuah nama baik tidak lebih berharga daripada meninggalkan orang yang telah berjuang membesarkan saya."

"Kalau pun studio ibu saya hampir bangkrut, sama sekali bukan karena saya tidak kompeten, melainkan karena pengkhianatan yang dilakukan oleh orang kepercayaan ibu saya. Jadi, jangan jadikan keadaan finansial keluarga saya acuan untuk mengukur kemampuan yang saya miliki."

​Satu serangan balik yang telak. Hagia sengaja mengungkit kejadian beberapa hari lalu untuk mengingatkan Kalandra akan keangkuhannya sendiri.

Dengan suasana hening yang sama, Kalandra tidak segera menanggapi. Ia hanya memandangi Hagia, membiarkan setiap kalimat wanita itu bergaung di kepalanya. Sudah lama tidak ada yang berani membalas ucapannya setegas itu, apalagi dengan alasan yang masuk akal. Di perusahaan ini, kebanyakan orang memilih mengangguk daripada mengambil risiko berseberangan dengan seorang CEO.

Namun, Hagia berbeda. Wanita itu tidak meninggikan suara, tidak pula berusaha mencari simpati. Ia hanya menyampaikan fakta dengan tenang, lalu membiarkan Kalandra menilai sendiri apakah ia akan menerimanya atau tidak. Secara sadar, sikap Kalandra yang sengaja mengintimidasi membuatn ia tahu sisi lain wanita yang telah dinikahinya.

Mungkin benar, ia terlalu cepat menghakimi Hagia hanya dari kondisi studio kecil yang hampir bangkrut, tanpa pernah benar-benar membaca siapa wanita yang datang empat hari yang lalu.

Ada sesuatu dalam diri Hagia yang sulit dijelaskan. Kepercayaan dirinya tidak lahir dari kesombongan, melainkan dari kemampuan yang benar-benar ia miliki. Dan untuk pertama kalinya, Kalandra merasa bahwa wanita di depannya bukan sekadar bagian dari amanah yang dipaksakan sang kakek. Hagia adalah seseorang yang pantas diperhitungkan.

​Mendengar jawaban ketus dari Hagia, sudut bibir Kalandra justru berkedut, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat jarang dia perlihatkan di kantor. Bukannya marah karena didebat oleh bawahannya, Kalandra justru merasa tertantang. Wanita di depannya ini memiliki cakar yang tajam, dan itu jauh lebih menarik daripada wanita-wanita manja yang selama ini mencoba mendekatinya demi harta.

​"Baiklah, saya paham sekarang." Kalandra memajukan tubuhnya sedikit lagi, membuat jarak di antara mereka kini tersisa kurang dari tiga puluh sentimeter. Hagia bisa melihat dengan jelas bulu mata hitam pria itu dan gurat tegas di rahangnya.

"Kalau begitu, saya rasa keputusan Kakek untuk membawa kamu ke perusahaan ini, tidak sepenuhnya salah. Kamu bisa menjadi asisten yang cukup bisa diandalkan."

​"Ingat, Tuan. Saya di sini hanya untuk melunasi utang lima miliar melalui kontrak kerja kita. Setelah satu tahun, saya akan pergi," tegas Hagia, mencoba mengingatkan pembatas di antara mereka yang tertulis di atas kertas segel kemarin siang.

"Tidak masalah. Lupakan semuanya. Kita harus kembali bekerja."

Sikap Kalandra kembali seperti semula. Seakan ketegangan itu tak pernah ada. Dia kembali menyandarkan punggung di sandaran kursi. Namun, tidak sama dengan Hagia. Ia masih tetap berdiri mengatur detak jantungnya. Identitas Xavier bisa saja terbongkar jika saja tak menemukan alasan yang tepat untuk menjawab.

"Ada beberapa bagian yang perlu diperkuat saat presentasi nanti."

Hagia segera mengambil buku catatannya dengan tangan bergetar samar. "B-bagianmana, Tuan?"

"Jangan sampai hanya menjelaskan desain." Kalandra menatapnya lurus. "Yakinkan direksi bahwa rancangan ini akan meningkatkan nilai investasi Arshaka Mall."

Hagia mencatat setiap poin yang disampaikan.

"Mereka yang bukan arsitek, akan lebih tertarik pada angka daripada bentuk bangunan."

"Baik. Saya mengerti."

Kalandra menutup map itu perlahan.

"Besok kita latihan presentasi."

Hagia mengangguk. Percakapan kembali berhenti. Masing-masing sibuk bekerja. Hagia sesekali mencuri pandang ke arah pria di depannya. Sejak hari pertama bekerja dengannya, ia mulai menyadari satu hal. Insting Kalandra tajam bukan main. Namun, selama bekerja di perusahaan ini, Hagia mungkin tak bisa menyembunyikan kemampuannya sebagai arsitek. Namun, dia harus memiliki alasan yang masuk akal untuk menyembunyikan identitas Xavier.

Next--->

1
alfian Agel
bagus
🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ ⏤͟͟͞R
baru sempet mampir Mbu🙏
semoga bukunya sukses
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ternyata pernah ngalamin kekurung diruangan juga Kalandra, tapi dia terkurung apa di kurung mamanya ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
apakah yang terjadi dengan Hagia disengaja 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
syukurlah Hagia gak kenapa napa
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semoga saja Hagia selamat 🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
cepat tolongin Hagia Kalandra 😔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Hagia terkurung dia ruang arsip 🤔
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
makan pun yang dibahas soal kerjaan dan harga diri, apa orang kaya kalau makan selalu begitu ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
kan kan benar Kalandra dah curiga 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
sepertinya Kalandra mulai curiga 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ini apa maksudnya ya , apa sebenarnya dia sudah tau siapa Hagia 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semangat Hagia, semoga berhasil mengerjakan tantangan itu💪
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gimana ya rasanya jadi Hagia,
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
wah gimana reaksi mereka kalau tau orang yang mereka cari berada dalam ruangan yang sama mereka 🤔🤭
sunshine wings
bagus ceritanya.. 👍👍👍👍👍
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Angga Gati
ah dgantung....lanjut kal👍
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gak papa terlambat Hagia🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
studio itu ternyata peninggalan mendiang ibunya Hagia, kirain ibunya masih ada 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Kalandra sama Hagia sama² terdesak 🤭🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!