Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Anya menatap foto kecil di tangannya dengan pandangan kosong.
Tangannya masih bergetar pelan menahan gejolak emosi di dadanya.
"Bagaimana mungkin ayahku bekerja di tempat seperti itu?" tanya Anya dengan suara parau.
Kenji duduk di sebelah Anya dan merangkul bahu gadis itu dengan hangat.
"Kita tidak bisa menyimpulkan apa pun hanya dari selembar foto usang ini, Anya."
Kenji mengambil foto itu dari tangan Anya untuk melihatnya lebih dekat.
"Tapi yang jelas, kepergian ayahmu bukan sekadar pelarian seorang pecundang biasa."
Anya menarik napas panjang dan berusaha menenangkan pikirannya yang kalut.
Gadis itu mengambil kembali foto tersebut dan menatapnya dengan sangat fokus.
Srek.
Anya memicingkan matanya dan secara otomatis mengaktifkan keterampilan pasif miliknya.
[Keterampilan Pasif Aktif: Mata Elang.]
[Mendeteksi detail mikro pada objek dalam radius pandang.]
Pandangan Anya seketika menembus resolusi foto yang agak buram itu menjadi sangat jernih.
Dia memfokuskan penglihatannya pada kartu identitas yang menggantung di dada ayahnya dalam foto tersebut.
"Kenji, lihat tanggal yang tertera di kartu identitas ayahku ini," ucap Anya cepat.
Kenji mencondongkan tubuhnya ke depan namun dia hanya melihat garis-garis buram di kartu itu.
"Aku tidak bisa membacanya, tulisannya terlalu kecil dan buram," jawab Kenji jujur.
"Tanggal cetaknya adalah bulan lalu, tepat tiga hari sebelum ayahku dikabarkan kabur membawa uang kasino."
Anya menatap lurus ke dalam mata hitam Kenji dengan penuh keyakinan.
"Dan ada tulisan Level Empat Akses Chimera di bawah namanya."
Rahang Kenji langsung mengeras mendengar informasi detail tersebut.
"Itu artinya ayahmu tidak pernah kabur membawa uang kasino seperti yang dirumorkan."
Kenji berdiri dari kursi taman dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Utang lima ratus juta itu hanyalah kedok untuk menutupi penculikan ayahmu yang sebenarnya."
Anya ikut berdiri dan mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat.
Rasa sedih di hatinya perlahan berganti menjadi amarah yang menyala-nyala.
"Rudi, si pemilik kasino itu, dia pasti tahu ke mana ayahku dibawa," desis Anya penuh amarah.
"Rudi sudah kuusir dari kota ini bulan lalu setelah dia berani menyentuhmu di pelelangan."
Kenji menatap Anya dengan senyum tipis yang mematikan.
"Tapi kasino miliknya sekarang dipegang oleh mantan tangan kanannya yang bernama Toni."
Anya membalas senyuman Kenji dengan tatapan mata yang tidak kalah dingin.
"Ayo kita ke sana sekarang juga."
"Aku ingin mendengar langsung dari mulut Toni ke mana mereka menjual ayahku."
Kenji mengangguk setuju dan langsung memberikan perintah kepada asistennya melalui alat komunikasi.
"Bima, siapkan mobil, kita pergi ke kasino pusat kota sekarang."
Satu jam kemudian, mobil limosin hitam milik klan Bratadikara berhenti tepat di depan pintu masuk kasino mewah tersebut.
Ciiiit.
Dua orang penjaga bertubuh besar yang berjaga di pintu depan langsung bersiaga melihat kedatangan mobil itu.
Klak.
Pintu limosin terbuka dan Anya melangkah turun lebih dulu.
Gadis itu mengenakan gaun merah gelap selutut dengan sepatu hak tinggi berwarna hitam legam.
Penampilannya sangat kontras dengan gadis ketakutan yang dulu diseret masuk ke tempat kumuh penagih utang.
Kenji menyusul turun dan berdiri tepat di belakang kanan Anya seolah menjadi perisai hidupnya.
"Maaf, kasino kami sedang ditutup untuk perbaikan, Anda tidak bisa masuk," cegah salah satu penjaga.
Penjaga itu merentangkan tangannya menghalangi jalan Anya.
Anya sama sekali tidak menghentikan langkahnya atau menoleh ke arah penjaga tersebut.
Gadis itu hanya menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang luar biasa dingin dan tajam.
[Keterampilan Pasif Terpicu: Aura Dominasi.]
[Target berlevel rendah mendeteksi ancaman fatal dari keberadaan Anda.]
Seketika itu juga, penjaga berbadan besar itu merasakan hawa dingin merayap di tengkuknya.
Jantung penjaga itu berdebar kencang tanpa alasan yang jelas dan kakinya mendadak terasa lemas.
Napas penjaga itu tercekat seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya saat Anya menatapnya sekilas.
"M-maafkan kelancangan saya, silakan masuk," ucap penjaga itu terbata-bata sambil buru-buru menyingkir dari jalan.
Bruk.
Penjaga yang satunya bahkan sampai terduduk di lantai karena tidak kuat menahan tekanan mental dari aura Anya.
Kenji yang berjalan di belakang Anya hanya bisa menaikkan satu alisnya karena takjub.
"Sejak kapan gadisku ini bisa membuat preman kelas teri kencing di celana hanya dengan tatapan mata?" batin Kenji bangga.
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong kasino yang sepi dan langsung menuju ruang VIP di lantai dua.
Brak.
Kenji menendang pintu kayu ganda ruang VIP itu hingga terbuka lebar.
Di dalam ruangan, seorang pria berkumis tipis sedang duduk menghitung tumpukan uang di atas meja.
Pria itu terlonjak kaget dan langsung menjatuhkan uangnya ke lantai.
Bruk.
"Kenji Bratadikara!" seru pria bernama Toni itu dengan wajah pucat pasi.
Toni buru-buru berdiri dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"T-Tuan Muda Kenji, angin apa yang membawa Anda kemari?" tanya Toni dengan suara bergetar.
Kenji tidak menjawab sama sekali.
Pria itu berjalan santai menuju sofa kulit tunggal dan duduk di sana dengan menyilangkan kakinya.
Kenji memberi isyarat dengan dagunya ke arah Anya, menyerahkan panggung sepenuhnya kepada sang Ratu.
Anya melangkah maju mendekati meja kerja Toni dengan langkah yang sangat anggun namun mengancam.
Tap. Tap. Tap.
Toni baru menyadari keberadaan wanita berbaju merah itu dan matanya langsung membelalak kaget.
"K-kau anak perempuannya Herman si penjudi itu kan?" tunjuk Toni tidak percaya.
Plak.
Anya menampar pipi kiri Toni dengan sangat keras menggunakan punggung tangannya.
Suara tamparan itu menggema sangat nyaring di dalam ruang VIP tersebut.
Toni terhuyung ke belakang sambil memegangi pipinya yang langsung memerah dan terasa panas.
"Jaga mulutmu saat berbicara denganku, Toni."
Anya mengucapkan kalimat itu dengan nada suara yang sangat tenang namun penuh bisa mematikan.
"Aku bukan lagi gadis miskin yang mengemis waktu pelunasan pada kalian."
Toni menelan ludah dengan susah payah merasakan aura intimidasi yang sangat pekat dari gadis di depannya ini.
Hawa kehadiran gadis ini bahkan terasa sama mengerikannya dengan Tuan Muda Kenji yang duduk di belakang sana.
[Efek Aura Dominasi berlanjut. Target kehilangan niat untuk melawan.]
"M-maafkan saya, Nyonya Anya, saya benar-benar minta maaf," rintih Toni sambil menunduk ketakutan.
Anya melemparkan foto usang ayahnya ke atas meja kerja Toni.
Srek.
"Katakan padaku ke mana bosmu yang lama menjual ayahku sebulan yang lalu," perintah Anya mutlak.
Toni melirik foto itu sekilas dan keringat dingin langsung mengucur deras dari dahinya.
"S-saya tidak tahu apa-apa soal itu, Nyonya," bohong Toni dengan suara bergetar.
"Ayah Anda murni kabur karena utang judinya terlalu besar."
Kenji yang sedari tadi diam tiba-tiba mencabut pistol peraknya dan menodongkannya ke arah kaki Toni.