"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi
Aku terbangun dalam keadaan masih mengenakan jilbab dan gamis. Beberapa saat aku hanya terdiam, mencoba mengumpulkan kesadaran. Kemudian tanganku meraba-raba mencari ponsel di samping bantal.
Pukul dua dini hari.
Aku menghela napas panjang. Rupanya aku hanya tertidur sebentar.
Segera aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus berganti pakaian. Setelah itu, aku menunaikan salat malam. Entah mengapa, malam itu rasanya aku begitu membutuhkan tempat untuk mengadu. Ada sesuatu yang sesak di dada, sesuatu yang bahkan sulit kujelaskan dengan kata-kata.
Namun, baru beberapa saat berdiri, kepalaku kembali terasa berdenyut-denyut. Sudah kupijat-pijat pelan, tetapi rasa pusing itu tak kunjung hilang. Bahkan ketika rukuk, kepalaku terasa begitu berat, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam.
Kali ini aku hanya mampu salat tiga rakaat.
Rasanya tubuhku sudah benar-benar tidak kuat.
Setelah salam, aku duduk sejenak. Menatap kosong ke hadapan, mencoba menenangkan diri. Aku ingin menangis, tetapi bahkan untuk menangis pun rasanya aku sudah terlalu lelah.
Sebelum kembali merebahkan tubuh, kuoleskan FreshCare ke kepala. Barangkali rasa dinginnya bisa sedikit meredakan pusing yang sejak tadi mengganggu.
Aku kembali berbaring. Kupejamkan mata rapat-rapat.
Tetapi malam itu, tubuhku memang lelah, sedangkan pikiranku tidak.
Semakin kuusahakan untuk tidur, semakin banyak hal yang bermunculan di kepala. Percakapan-percakapan yang tadi terjadi kembali terngiang. Wajah-wajah yang kulihat seolah bergantian hadir di pelupuk mata. Ada begitu banyak hal yang ingin kulupakan, tetapi justru semakin kuat ketika aku mencoba melupakannya.
Aku mengubah posisi. Miring ke kanan. Beberapa saat kemudian kembali telentang. Lalu miring ke kiri.
Tetap saja tidak bisa tidur.
Aku menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan.
“Ya Allah…”
Hanya itu yang keluar dari bibirku.
Malam semakin sunyi, tetapi di dalam kepalaku justru semakin ramai.
Mungkin benar, ada lelah yang bisa disembuhkan hanya dengan tidur. Tetapi ada pula lelah yang tidak akan hilang hanya dengan merebahkan tubuh. Lelah yang bersumber dari hati. Lelah karena terlalu banyak berpikir, terlalu banyak menahan, dan terlalu banyak hal yang belum menemukan jawabannya.
Dan malam itu, aku merasakan semuanya.
***
Entah kenapa, tiba-tiba aku sudah berada di sebuah masjid besar dan megah.
Aku mengenakan gamis berwarna biru muda. Gamis yang sebenarnya hendak kupakai ketika mengunjungi Ummu Aisyah. Namun, waktu itu batal kupakai karena ternyata belum sempat kusetrika. Walhasil, aku mengenakan gamis cokelat yang baru saja kupakai untuk mengajar tadi pagi.
Aku menatap sekeliling.
Masjid ini begitu ramai. Sepertinya sebentar lagi akan dilaksanakan salat Jumat.
Salat Jumat?
Aku mengernyitkan dahi.
Apakah hari ini hari Jumat?
Aku bahkan lupa kalau hari ini adalah hari Jumat.
Para jamaah yang memenuhi masjid tampaknya adalah para santri pondok. Mereka duduk berkelompok, sebagian berbincang pelan, sebagian lainnya menundukkan kepala menunggu khatib naik ke mimbar.
Namun, entah mengapa aku merasa ada yang aneh.
Aku tidak benar-benar memahami situasi apa yang sedang terjadi.
Lalu, dari antara kerumunan itu, kulihat seseorang berjalan menghampiriku.
Nada.
“Iya, Nada.”
Aku hampir tidak percaya melihatnya berada di sini.
Nada tersenyum kepadaku, lalu mengajakku untuk segera masuk dan mencari tempat.
Aku semakin heran.
Bukankah semua jamaah di sini santri pondokku?
Lalu kenapa ada Nada?
Aku ingin bertanya, tetapi entah kenapa aku tidak ingin mengambil pusing. Mungkin dalam mimpi memang tidak semuanya harus masuk akal.
Aku pun mengikutinya.
Tak lama kemudian, suara azan berkumandang.
Suasana masjid yang sebelumnya dipenuhi suara bisikan mendadak menjadi hening. Aku menundukkan kepala, menyimak azan hingga selesai.
Kemudian khatib naik ke mimbar.
Aku masih menunduk.
Hingga suara itu terdengar.
Suara yang begitu kukenal.
Entah kenapa, dadaku tiba-tiba berdebar.
Aku perlahan mengangkat kepala.
Dan benar saja.
Dari kejauhan, terlihat seorang laki-laki berdiri di atas mimbar.
Seorang laki-laki yang sangat kukenal.
Ustadz Alam.
Dia sedang berkhotbah.
Aku terdiam.
Seolah seluruh suara di dalam masjid menghilang, menyisakan suaranya saja yang terdengar begitu jelas di telingaku.
Beliau sedang berbicara tentang mahabbatullah.
Tentang mencintai Allah melebihi segalanya.
Aku menelan ludah.
Kenapa topik ini terasa seperti sedang menyindirku?
Kenapa dari sekian banyak hal yang bisa beliau sampaikan, justru ini yang dibicarakannya?
Apa Ustadz Alam sengaja memilih topik ini?
Aku terus menatapnya dari kejauhan.
Kemudian kudengar beliau mengutip sebuah kalimat dari sebuah kitab.
«“Wa ma'lumun annal-mahabbat la tunaalu ghaliban illa bihtimalil makruhat, sawa'un kanat mahabbah shalihah aw fasidah.”»
Beliau menjelaskan bahwa perkara yang dicintai biasanya tidak akan diraih kecuali dengan melewati sesuatu yang tidak disukai oleh hawa nafsu. Hal itu berlaku baik pada kecintaan yang baik maupun kecintaan yang buruk.
Aku terdiam.
Nasehat itu terasa begitu dalam.
Terlalu dalam.
Seolah bukan hanya telingaku yang mendengarnya, tetapi hatiku.
Pengorbanan.
Meninggalkan sesuatu yang disukai demi sesuatu yang lebih dicintai.
Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba pikiranku terasa penuh.
Bukankah selama ini aku juga sedang berada di persimpangan?
Antara apa yang kuinginkan dan apa yang mungkin Allah kehendaki untukku.
Antara perasaan yang ingin kuikuti dan ketaatan yang seharusnya kuutamakan.
Aku menundukkan kepala.
Entah kenapa, air mataku terasa hampir jatuh.
Khutbah pertama selesai. Kemudian dilanjutkan dengan khutbah kedua yang diiringi doa. Setelah itu, salat Jumat pun dilaksanakan.
Aku masih belum benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.
Namun, setelah salat selesai, suasana masjid kembali ramai.
Orang-orang mulai berbisik-bisik.
Aku mencoba mencuri-curi pendengaran.
Sepertinya mereka sedang membicarakan Ustadz Alam.
Apa yang mereka bicarakan?
Kenapa mereka membicarakannya?
Aku berusaha mendekatkan pendengaran, tetapi tiba-tiba pandanganku mulai berkunang-kunang.
Suara-suara di sekelilingku perlahan terdengar semakin jauh.
“Nada…”
Aku mencoba memanggilnya.
Namun, suara lain justru terdengar lebih jelas.
“Aisyah…”
Nada memanggil namaku.
Sekali.
Kemudian lagi.
“Aisyah…”
Suaranya semakin dekat.
Semakin jelas.
Aku mencoba membuka mata, tetapi terasa begitu berat.
“Aisyah! Bangun…”
Aku tersentak.
Mataku terbuka.
Kulihat wajah Nada tepat di hadapanku.
Wajahnya terlihat cemas.
Aku mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba memahami keadaan.
Kulihat sekeliling.
Bukan masjid.
Bukan para santri.
Bukan Ustadz Alam yang berdiri di atas mimbar.
Aku berada di kamar.
Aku terdiam beberapa saat.
Baru kemudian kusadari semuanya.
Tadi aku hanya bermimpi.
Namun, anehnya, kalimat Ustadz Alam dalam mimpiku masih terngiang begitu jelas di kepala.
Tidaklah perkara yang dicintai itu diperoleh kecuali dengan pengorbanan terhadap sesuatu yang tidak disukai.
Aku memejamkan mata kembali.
Entah mengapa, kali ini yang membuat dadaku sesak bukan lagi mimpi itu.
Melainkan pesan yang mungkin sedang coba kusampaikan kepada diriku sendiri.
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏