Indonesia
NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Panggung Sang Tiran dan Sangkar Emas yang Terkunci

​Pagi merangkak lambat di kamar kos sempit berukuran dua kali dua meter di pinggiran rel kereta api. Suara deru gerbong kereta yang melintas membuat dinding tripleks tipis itu bergetar hebat, membangunkan Senja Kirana dari tidur singkatnya yang dipenuhi mimpi buruk.

​Gadis itu duduk, memeluk lututnya yang masih dibalut perban murah. Lukanya berdenyut perih, namun rasa lapar di perutnya jauh lebih menyiksa. Setelah insiden di pesta kebun kemarin, mandor Rudi benar-benar menahan seluruh gajinya. Kini, dompet Senja benar-benar kosong melompong. Tidak ada sisa uang sepeser pun bahkan untuk membeli sebungkus mi instan.

​Aku harus mencari kerja hari ini juga, atau aku akan mati kelaparan di kamar ini, batin Senja putus asa.

​Baru saja Senja hendak beranjak mandi, ponsel jadulnya—yang layarnya sudah retak seribu—berdering nyaring. Sebuah pesan masuk dari nomor agen penyalur freelance langganannya.

​[URGENT! Dibutuhkan tenaga waitress malam ini juga untuk VVIP Gala Dinner di Diamond Hall. Bayaran Rp 2.000.000 tunai setelah acara selesai. Pakaian hitam putih rapi. Konfirmasi secepatnya jika bersedia!]

​Mata Senja terbelalak melihat nominal tersebut. Dua juta rupiah untuk satu malam?! Itu adalah angka yang sangat fantastis, cukup untuk membayar sewa kos dan makan sebulan penuh. Tanpa berpikir dua kali atau menaruh curiga pada bayaran yang tidak masuk akal itu, jari Senja dengan cepat mengetik balasan: [Saya bersedia, Pak!]

​Senja tidak menyadari bahwa pesan itu bukanlah kebetulan. Pesan itu adalah jaring sutra tak kasat mata yang baru saja ditebarkan oleh Raka Narendra untuk menjerat bidadari yang sedang melarikan diri, menariknya tepat ke dalam genggaman sang Iblis Korporat.

​Pukul tujuh malam. Diamond Hall, gedung pertemuan paling eksklusif dan privat di ibu kota yang hanya bisa disewa oleh mereka yang memiliki koneksi tingkat dewa.

​Berbeda dengan hotel tempat Senja bekerja seminggu lalu, pengamanan di tempat ini seratus kali lipat lebih ketat. Puluhan pria berjas hitam dengan earpiece berdiri di setiap sudut gedung. Tidak ada media atau wartawan yang diizinkan masuk. Ini adalah pesta tertutup bagi para petinggi dunia bawah, konglomerat, dan penguasa kota.

​Senja, yang mengenakan kemeja putih pinjaman dan celana bahan hitam, berdiri di sudut ruangan sambil memegang nampan berisi gelas-gelas wine. Jantungnya berdebar kencang. Atmosfer di ruangan ini terasa sangat berat dan menindas. Para tamu yang hadir memancarkan aura arogansi yang sangat pekat.

​Namun, ada sesuatu yang aneh.

​Mata Senja menangkap dua sosok yang sangat familiar di tengah kerumunan. Itu adalah Nyonya Vina dan suaminya!

​Wanita sombong yang kemarin memaksanya berlutut mengelap sepatu itu, kini terlihat berdiri dengan wajah pucat pasi dan gelisah. Suaminya terus-menerus menyeka keringat di dahi, meski pendingin ruangan di ballroom itu sangat dingin. Mereka tampak seperti dua ekor domba yang terjebak di kandang singa, berusaha tersenyum pada konglomerat lain namun diabaikan.

​"Kenapa wanita itu ada di sini?" gumam Senja pelan, merapat ke dinding agar tidak terlihat oleh Nyonya Vina. Ingatan tentang tamparan dan penghinaan kemarin masih membekas jelas, membuat Senja sedikit gemetar.

​Tiba-tiba, suara alunan musik klasik berhenti seketika. Seluruh lampu di ballroom dimatikan, menyisakan satu lampu sorot utama yang jatuh tepat ke tengah panggung pualam hitam di ujung ruangan.

​“Hadirin sekalian, mari kita sambut Tuan Rumah kita malam ini. Sang Penguasa Danendra Group, Bapak Arga Danendra.”

​Suara MC yang menggelegar itu membuat napas Senja tercekat di tenggorokan.

​Arga?! Tuan rumah acara ini adalah... Kak Arga?!

​Senja membelalakkan matanya lebar-lebar. Jantungnya berdentum brutal menghantam tulang rusuknya. Seminggu yang lalu ia memang telah mengetahui bahwa Arga adalah seorang CEO, namun ia pikir pelariannya telah memutus segala ikatan dengan pria itu. Kenapa takdir kembali menyeretnya ke dalam acara yang diselenggarakan oleh pria ini?!

​Dari balik tirai beludru merah yang tebal, melangkahlah sesosok pria.

​Kehadirannya memancarkan aura dominasi yang begitu absolut hingga membuat ratusan tamu undangan di ruangan itu menahan napas mereka secara serentak.

​Arga Danendra berdiri di atas panggung pualam. Malam ini, ia tidak mengenakan jas formal. Pria itu hanya mengenakan kemeja sutra hitam legam yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, lengan kemejanya digulung sebatas siku, memamerkan otot lengannya yang dipenuhi urat maskulin. Rambutnya tidak disisir rapi, melainkan dibiarkan sedikit berantakan, memberikan kesan liar, buas, dan sangat mematikan.

​Di atas panggung itu, Arga bukanlah seorang CEO terhormat. Ia adalah sang Tiran, iblis berdarah dingin yang siap menghukum siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.

​Di sudut ruangan, Senja berdiri mematung. Nampan di tangannya bergetar hebat.

​Meski ia sudah tahu identitas Arga minggu lalu, melihat pria itu sekarang, berdiri dengan aura yang begitu mengerikan dan gelap... membuat Senja syok luar biasa.

​Apakah ini benar-benar Kak Arga? batin Senja menjerit ngeri.

​Di kepalanya, tumpang tindih dua bayangan yang saling bertolak belakang. Pria di atas panggung itu adalah pria yang sama yang pernah duduk bersila di lantai semennya, tersenyum hangat saat meniup lilin dari kue bolu bantat seharga belasan ribu rupiah. Pria yang memeluknya dengan lembut saat ia difitnah di kedai roti. Pria yang menatapnya dengan penuh cinta.

​Tapi pria yang berdiri di atas panggung saat ini... matanya kosong tanpa belas kasihan. Wajahnya sekeras batu karang. Tidak ada setitik pun kehangatan yang tersisa di sana. Ini adalah wajah seorang monster penguasa kota, dan Senja menyadari betapa bodohnya ia dulu karena mengira bisa melindungi pria sekuat ini.

​Arga tidak menggunakan mikrofon. Namun saat ia berbicara, suaranya yang berat dan mengancam bergema ke seluruh sudut ballroom.

​"Terima kasih telah hadir memenuhi undanganku malam ini," ucap Arga pelan, matanya yang setajam elang menyapu lautan manusia di bawahnya.

​"Aku tidak suka berbasa-basi. Malam ini, aku mengundang kalian semua bukan untuk merayakan sesuatu. Melainkan, untuk menyaksikan sebuah eksekusi."

​Kata 'eksekusi' membuat suhu di ruangan itu serasa turun menembus titik beku. Para konglomerat saling berpandangan dengan wajah tegang.

​"Kemarin siang," Arga mulai melangkah mondar-mandir di atas panggung, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dengan gaya arogan yang merendahkan siapa pun. "Ada seekor serangga bodoh yang berani menyentuh milikku. Serangga itu memaksanya berlutut di bawah terik matahari, mempermalukannya, dan menginjak-injak harga dirinya."

​Di tengah kerumunan tamu, wajah Nyonya Vina dan suaminya seketika berubah menjadi seputih kertas. Kaki wanita sombong itu bergetar hebat hingga ia nyaris ambruk jika suaminya tidak menahannya.

​Senja yang mendengarkan pidato itu dari sudut gelap ikut menahan napasnya. Miliknya? Apakah... apakah Kak Arga sedang membicarakan... aku?

​"Bawa mereka naik," perintah Arga mutlak, memberikan isyarat pada Raka yang berdiri di pinggir panggung.

​Dua orang pengawal berbadan tegap langsung menyeret Nyonya Vina dan suaminya dari tengah kerumunan. Pasangan kaya raya itu diseret tanpa ampun, didorong hingga jatuh tersungkur dan berlutut tepat di bawah kaki Arga di atas panggung.

​"T-Tuan Danendra... a-ampun, Tuan... Kami tidak tahu apa kesalahan kami..." isak suami Vina, mencium lantai panggung dengan putus asa.

​Arga menunduk menatap wanita yang sedang gemetar ketakutan itu. "Kau mengenakan gaun seharga seratus lima puluh juta kemarin, Nyonya Vina? Dan kau menampar pelayan yang menumpahkan minumanmu?"

​Mendengar itu, Vina langsung menangis histeris. Ia akhirnya menyadari dosa terbesarnya. Gadis pelayan kemarin... gadis gembel itu... memiliki hubungan dengan Arga Danendra?!

​"A-Ampun, Tuan! Saya buta! Saya tidak tahu gadis itu milik Anda! Ampun! Saya bersedia mengganti rugi triliunan rupiah! Saya akan bersujud mencium kaki gadis itu! Tolong jangan hancurkan perusahaan suami saya!" jerit Vina kalap, maskaranya luntur menodai wajahnya.

​"Mengganti rugi?" Arga tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat iblis. "Kau pikir harga diri wanita-ku bisa dibeli dengan uang kotor suamimu?"

​Arga melirik Raka. Raka mengangguk, lalu berbicara ke seluruh ruangan.

​"Mulai detik ini, perusahaan milik keluarga Vina resmi dicabut dari semua rantai pasokan nasional. Semua bank telah membekukan aset mereka. Semua properti mereka akan disita besok pagi. Dan bagi siapa pun di ruangan ini yang berani memberikan bantuan, sekecil apa pun, pada keluarga ini... Danendra Group akan meratakan perusahaan kalian dalam satu malam."

​Hukuman itu mutlak. Kejam. Tanpa ruang untuk negosiasi. Dalam hitungan detik, keluarga yang kemarin siang berkuasa dan menyombongkan diri, kini resmi menjadi gelandangan yang lebih miskin dari Senja.

​"Tidaaaak!!! Suamiku!! Tolong kami!!" jerit Vina histeris hingga akhirnya pingsan di atas panggung. Para pengawal menyeret tubuh mereka berdua keluar layaknya menyeret tumpukan sampah.

​Namun eksekusi belum selesai.

​Pintu belakang panggung terbuka. Kali ini, Pak Rudi—mandor katering yang menampar Senja—dilempar ke atas panggung dalam keadaan babak belur. Hidungnya berdarah, wajahnya memar. Ia pasti sudah diinterogasi dengan sangat keras oleh anak buah Arga.

​"D-Dan kau," Arga berjongkok di depan Pak Rudi yang merintih kesakitan. Tangan besar Arga mencengkeram kerah kemeja pria itu, mengangkatnya dengan mudah seolah ia seringan kapas.

​"Kau menggunakan tangan kotormu ini untuk menampar pipinya?" bisik Arga, matanya memerah oleh amarah yang tak terkendali. "Kau menahan gajinya yang ia kumpulkan dengan darah dan keringat?"

​"A-Ampuni saya, Bos... s-saya khilaf..." rintih Pak Rudi.

​Arga tidak menjawab. Dengan kecepatan kilat, ia memutar lengan kanan Pak Rudi dan melipatnya ke belakang dengan sudut yang sangat tidak wajar.

​KRAK!!

​"AAAAAAARRRGGGHHH!!!" jeritan kesakitan Pak Rudi menggelegar, tulangnya patah seketika.

​Ratusan tamu undangan menutup mulut mereka dengan ngeri. Beberapa wanita bahkan memalingkan wajah. Mereka tahu Arga Danendra adalah pria yang kejam dalam bisnis, tapi tidak ada yang pernah melihatnya menggunakan kekerasan fisik secara langsung dan sebrutal ini di depan publik. Pria ini benar-benar telah kehilangan kewarasannya demi seorang wanita.

​"Seret bajingan ini ke penjara dengan tuduhan penggelapan pajak. Pastikan dia tidak pernah keluar dari sana seumur hidupnya," titah Arga, melepaskan cengkeramannya dan membiarkan tubuh mandor itu jatuh berdebum.

​Di sudut ruangan yang gelap, Senja berdiri gemetar. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya. Nampan di tangannya sudah lama ia letakkan di meja terdekat agar tidak terjatuh lagi.

​Gadis itu menutupi mulutnya dengan kedua tangan, air mata ngeri mengalir deras dari matanya.

​Ini gila. Ini terlalu menakutkan. Pria yang mematahkan tulang orang tanpa berkedip itu... pria yang menghancurkan hidup sebuah keluarga dalam satu kalimat itu... apakah benar ia adalah pria yang sama yang pernah memeluknya dengan sangat lembut dan menangis di bahunya?

​Senja merasa perutnya mual. Ketakutan yang ia rasakan malam ini jauh lebih besar daripada ketakutannya saat diancam rentenir. Ia menyadari sebuah realita yang mengerikan: dunia Arga Danendra adalah dunia monster. Sebuah dunia di mana nyawa dan masa depan manusia bisa dihancurkan semudah membalikkan telapak tangan.

​Dan Senja tidak ingin menjadi bagian dari dunia monster ini. Ia tidak ingin melihat orang-orang dihancurkan dan dipatahkan tulangnya atas namanya. Ia hanya ingin hidup tenang.

​Dengan sisa tenaga dan kewarasan yang ia miliki, Senja memutar tubuhnya perlahan. Ia harus melarikan diri. Ia harus pergi dari gedung ini sebelum Arga menyadari keberadaannya.

​Senja melangkah mundur, berusaha menyelinap di balik bayang-bayang pilar menuju pintu keluar staf di ujung koridor.

​Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.

​Tap. Tap. Tap.

​Suara langkah kaki yang sangat berat, ritmis, dan penuh penekanan tiba-tiba terdengar dari arah panggung.

​"Kau pikir kau bisa lari lagi dariku, Bidadari?"

​Suara bariton yang dalam dan serak itu membelah keheningan ballroom.

​Langkah kaki Senja terhenti sejenak. Jantungnya serasa copot. Perlahan, dengan seluruh keberanian yang tersisa, ia menoleh ke arah panggung.

​Arga Danendra telah turun dari panggung pualam tersebut. Para tamu undangan, konglomerat, dan sosialita yang tadi berdiri berdesakan, seketika membelah diri menjadi dua, memberikan jalan yang sangat lebar bagi sang penguasa untuk melangkah.

​Di ujung jalur yang terbuka itu, Arga berjalan lurus. Mata elangnya yang segelap malam telah mengunci siluet Senja di sudut pilar sejak awal acara. Ia tahu gadis itu ada di sana. Seluruh acara eksekusi ini sengaja ia pertontonkan agar Senja menyadari satu hal: tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menyentuhnya jika ia berada di bawah perlindungan Arga Danendra.

​Arga terus melangkah maju. Ratusan pasang mata tamu VIP kini beralih menatap Senja dengan pandangan takjub, iri, sekaligus ngeri. Gadis pelayan berseragam kusam itulah yang ternyata menjadi ratu di hati sang Iblis!

​Senja panik. Ia berbalik dan berlari menuju pintu keluar staf.

​Namun sebelum ia sempat mencapai gagang pintu, lengan kekar Arga telah melingkar sempurna di pinggangnya dari arah belakang. Tarikan itu begitu kuat namun terukur, menarik punggung Senja membentur dada bidang yang keras dan panas.

​"Lepaskan!!" jerit Senja histeris, memberontak sekuat tenaga, memukul-mukul lengan besar yang mengunci tubuhnya itu. "Lepaskan aku! Kau monster! Aku takut padamu! Lepaskan!"

​Kata 'monster' yang diucapkan Senja membuat rahang Arga mengeras, namun ia tidak melonggarkan pelukannya sedikit pun. Sebaliknya, ia menundukkan wajahnya, membenamkan hidungnya di perpotongan leher Senja, menghirup dalam-dalam aroma vanila yang sangat ia rindukan selama seminggu ini.

​"Ya, aku adalah monster," bisik Arga serak tepat di telinga Senja, suaranya sarat akan keputusasaan dan obsesi yang menggelap. "Dan monster ini akan membakar seluruh dunia jika ada yang berani menyakitimu lagi, Senja."

​"Aku tidak butuh perlindunganmu! Aku tidak butuh duniamu yang kejam ini!" isak Senja, air matanya membasahi lengan Arga. "Biarkan aku hidup tenang, Tuan Arga. Kau menipuku, kau membohongiku... biarkan aku pergi..."

​"Satu minggu. Aku membiarkanmu pergi selama satu minggu," suara Arga berubah parau, penuh rasa sakit yang tertahan. Ia memutar tubuh Senja secara paksa agar menghadapnya, menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya yang besar, mengunci pergerakan Senja sepenuhnya.

​"Aku mencoba memberimu waktu. Aku mencoba bersabar. Tapi balasan apa yang kudapat? Kau membiarkan dirimu diinjak-injak, dipaksa berlutut, dan ditampar oleh bajingan-bajingan itu! Kau pikir aku bisa diam saja melihat wanitaku dihancurkan?!" raung Arga, matanya memerah.

​"Aku bukan wanitamu!" balas Senja tegas, menatap mata elang itu dengan keberanian yang bercampur keputusasaan. "Kau bukan Kak Arga yang kukenal! Kak Arga yang kukenal adalah pria baik hati, bukan pria kejam yang mematahkan tulang orang lain dan menghancurkan hidup keluarga mereka!"

​Arga tertawa sumbang, sebuah tawa yang sarat akan luka batin.

​"Kak Arga yang kau kenal itu tidak akan pernah bisa melindungimu dari dunia yang busuk ini, Senja. Jika aku tetap menjadi 'pria miskin' itu, hari ini kau akan dipenjara oleh wanita sombong tadi. Kau butuh aku. Kau butuh iblis ini untuk menjagamu."

​"Tidak! Aku lebih memilih mati di pinggir jalan daripada hidup di dalam sangkar emasmu yang penuh darah!" jerit Senja, kembali meronta dengan sisa tenaga terakhirnya.

​Melihat penolakan Senja yang begitu keras kepala, kesabaran Arga akhirnya habis tak bersisa. Ia menyadari bahwa memohon atau menjelaskan dengan kata-kata tidak akan pernah bisa menembus dinding ketakutan dan harga diri gadis ini.

​Jika Senja tidak mau berjalan bersamanya ke dalam sangkar, maka Arga sendiri yang akan mengikat dan mengurungnya di sana.

​Tanpa aba-aba, Arga membungkuk sedikit, menyelipkan satu lengannya di bawah lipatan lutut Senja, dan lengan lainnya di punggung gadis itu. Dalam satu gerakan mulus yang mengabaikan semua rontaan Senja, Arga mengangkat tubuh gadis itu ala bridal style ke dalam gendongannya.

​"Turunkan aku!! Arga Danendra, brengsek!! Turunkan!!" Senja menjerit histeris, memukul dada dan bahu Arga berulang kali.

​Namun bagi Arga, pukulan tangan kecil itu tidak lebih dari sekadar gigitan semut. Ia mengabaikan semua jeritan Senja. Dengan langkah panjang dan penuh arogansi, sang CEO berjalan membelah Grand Ballroom sambil menggendong paksa gadis yang terus menangis meronta itu di dadanya.

​Ratusan tamu undangan mematung, menundukkan kepala mereka rapat-rapat, tidak ada satu pun yang berani bernapas keras, apalagi ikut campur.

​Raka segera berlari mendahului, membukakan pintu ganda utama untuk bosnya.

​"Kau menolak sangkar emasku, Bidadari?" bisik Arga saat ia membawa Senja keluar dari gedung menuju Maybach hitam yang sudah menunggu. Mata elangnya menatap lurus ke depan, rahangnya terkatup rapat dengan ketegasan yang tak bisa dibantah.

​"Maka bersiaplah. Karena mulai malam ini, aku akan mengunci pintunya dengan tanganku sendiri, dan aku akan membuang kuncinya ke dasar lautan. Kau tidak akan pernah bisa lari lagi dariku, Senja Kirana. Tidak di kehidupan ini."

​Arga memaksa masuk ke dalam kursi belakang mobil mewah itu, memangku Senja di atas pahanya dengan pelukan yang mengunci erat layaknya borgol besi. Pintu mobil ditutup rapat, memutus jeritan Senja dari dunia luar.

​[Pesan Author:]

(Pertanyaan di bab-bab sebelumnya adalah: Apakah Senja yang akan menemukan Arga, ataukah sebaliknya? Dan apakah nasib Senja di kota akan berubah?

​Jawabannya telah tersaji dengan sangat brutal malam ini.

Senja tidak pernah menemukan Arga, karena Arga-lah yang memaksa semesta untuk bertekuk lutut dan menyeret gadis itu kembali ke dalam pelukannya. Bagi seorang penguasa seperti Arga, kehilangan bukanlah sebuah takdir yang bisa diterima, melainkan sebuah kesalahan alam yang harus ia perbaiki dengan tangannya sendiri, meskipun ia harus menggunakan cara yang kejam.

​Dan tentang nasib Senja... ya, nasibnya telah berubah sepenuhnya. Ia tidak lagi menjadi gadis miskin yang mengkhawatirkan uang sewa kos atau sesuap nasi. Malam ini, ia telah diangkat menjadi ratu dari kerajaan Danendra Group. Semua orang akan bersujud di bawah kakinya.

​Namun, perpindahan dari gubuk reyot menuju istana pualam bukanlah sebuah akhir yang bahagia ala negeri dongeng. Kemewahan yang dipaksakan adalah sangkar emas yang paling menyiksa bagi jiwa yang menjunjung tinggi kebebasan dan harga diri. Di sinilah kisah sesungguhnya dimulai. Bukan lagi tentang bertahan hidup dari kemiskinan, melainkan tentang bagaimana Senja akan bertahan hidup berdampingan dengan monster yang sangat mencintainya, namun tak segan menghancurkan dunia demi mengurungnya.)

​Mobil Maybach hitam pekat itu melesat membelah jalanan ibu kota, dikawal oleh iring-iringan SUV hitam di depan dan belakangnya. Di kursi belakang, Senja akhirnya berhenti meronta akibat kelelahan yang luar biasa. Ia menangis terisak, menenggelamkan wajahnya di dada Arga, meratapi kebebasannya yang kini telah benar-benar direnggut oleh pria pembohong ini.

​Sedangkan Arga memeluk gadis itu dalam diam. Matanya terpejam, menghirup aroma rambut Senja dengan kelegaan yang egois. Sang Ratu telah kembali padanya. Dan kali ini, tak ada yang bisa merebutnya.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!