Indonesia
NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga / Obsesi
Popularitas:27.7k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Ainun terpaksa menggantikan kakaknya, Liona, untuk menikah dengan Sagara Jeno Dirgantara. Namun, pernikahan itu justru membuatnya hidup dalam siksaan fisik dan batin.

Saat mengetahui dirinya hamil, Ainun memilih menyembunyikannya. Ia hanya punya satu tujuan: pergi dari Sagara dan membawa anaknya bersamanya.

Ketika Liona kembali, Ainun mengira inilah kesempatan untuk bebas. Namun, ia baru menyadari bahwa sejak awal, Sagara bukan sekadar menginginkannya. Pria itu terobsesi kepadanya.

Akankah Ainun berhasil lepas dari Sagara, atau justru kembali terperangkap dalam obsesinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sagara: Akan Kucari Kamu Sampai ke ujung Dunia Sekalipun.

 Matahari yang sejak siang menggantung tinggi perlahan bergeser ke ufuk barat. Cahayanya mulai meredup, meninggalkan semburat jingga di antara pepohonan dan bangunan yang mereka lewati.

Ainun sesekali mengangkat wajah. Angin sore menerpa pipinya, sementara tubuhnya mulai terasa lelah setelah berjam-jam berada di atas motor.

Tanpa terasa, langit semakin gelap.

Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu ketika Laras membelokkan motornya ke sebuah jalan yang lebih kecil. Beberapa menit kemudian, motor itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana.

Laras mematikan mesin.

Ainun turun perlahan, kemudian menatap rumah di hadapannya.

“Ini rumah siapa, Ras?” tanyanya sambil merapikan ujung bajunya.

“Rumahku.” Laras melepas helmnya. “Ayo, kita masuk. Aku mau beres-beres, terus salat dan istirahat.”

Ainun mengangguk.

Baru saja tangannya hendak meraih koper, Laras lebih dulu mengambilnya.

“Biar aku saja yang bawa. Kamu sedang hamil.”

“Aku masih kuat, kok,” sanggah Ainun.

“Sudah terlanjur aku bawa.” Laras mengangkat koper itu dengan satu tangan. “Ayo masuk.”

Ainun hanya bisa menggeleng kecil sebelum mengikuti sahabatnya.

Laras membuka pintu rumah. Suara kunci terdengar sebelum pintu itu terbuka lebar.

Ainun melangkah masuk setelah Laras.

Begitu berada di dalam, pandangannya langsung berkeliling. Rumah itu memang sederhana, tetapi terasa begitu rapi dan nyaman. Perabotannya tidak banyak. Tidak ada barang berserakan di lantai ataupun tumpukan pakaian yang mengganggu pandangan.

Ainun berdiri beberapa saat di dekat pintu.

“Kamu sering pulang ke sini, Ras?”

Laras meletakkan koper di dekat dinding, kemudian menoleh.

“Ya, enggaklah, Ai.”

Ainun mengerutkan kening. “Tapi... kenapa rumahmu bersih sekali? Bahkan nggak ada debu sedikit pun.”

Kekehan kecil terdengar dari Laras.

“Kenapa tertawa?”

“Ya menurutmu?” Laras mengangkat alis. “Memangnya nggak bisa minta jasa tukang bersih-bersih?”

Ainun terdiam.

Beberapa detik kemudian, telapak tangannya menepuk kening.

“Iya juga, ya.”

“Sudah, ayo. Kamarmu ada di ruang tengah. Kamarku di pojok sana. Setiap kamar sudah ada kamar mandinya.”

Ainun mengikuti arah telunjuk Laras yang menunjuk sebuah pintu di sisi ruang tengah.

Ainun mengangguk pelan.

“Terima kasih, Ras.”

“Lagi deh. Sudah malam. Istirahat saja. Besok kita pikirkan lagi mau ke mana.”

Ainun mengangguk. “Selamat malam, Ras.”

“Malam, Ai.”

Ainun meraih kembali koper yang tadi diletakkan Laras. Ia menyeretnya perlahan menuju kamar yang ditunjukkan sahabatnya.

Sesampainya di depan pintu, tangannya berhenti pada gagang pintu.

Ainun menelan ludah. Jemarinya perlahan menggenggam gagang pintu.

‘Semoga di sini aku bisa memulai hidup baru.’

Ia membuka pintu, kemudian masuk sambil menarik kopernya.

Malam pun semakin larut, membawa Ainun semakin jauh dari rumah yang selama ini membuatnya merasa seperti tahanan.

Begitu pintu kamar tertutup di belakangnya, Ainun berdiri beberapa saat tanpa bergerak. Pandangannya perlahan menyisir seluruh ruangan yang baru saja ditempatinya.

Sebuah kasur empuk berada di tengah kamar. Pendingin ruangan terpasang di dinding, sementara beberapa perabot sederhana tertata rapi di sudut-sudut ruangan.

Ainun mengembuskan napas lega.

Kamar ini jauh berbeda dari ruangan sempit yang selama beberapa hari terakhir menjadi tempatnya dikurung.

Ia melangkah perlahan menuju kasur.

Begitu tiba di sisinya, Ainun duduk dengan hati-hati. Telapak tangannya menyentuh permukaan kasur yang lembut, kemudian mengusapnya perlahan.

‘Ya Allah, terima kasih sudah mengirimkan sahabat seperti Laras.’

Tatapannya jatuh pada permukaan kasur di bawah tangannya.

‘Suatu saat nanti, aku akan membalas semua kebaikannya.’

Ainun terdiam sejenak. Kemudian, pandangannya beralih ke jam yang tergantung di dinding.

Jarumnya menunjukkan lebih dari pukul sembilan malam.

“Sudah lewat jam sembilan,” gumamnya.

Ia bangkit dari kasur, kemudian berjalan menuju koper yang diletakkan di dekat pintu.

Ainun berjongkok dan membuka resletingnya. Tangannya mengambil pakaian bersih serta mukena yang tersimpan di bagian atas.

Setelah semuanya berada dalam pelukan, ia berdiri dan mengalihkan pandangan ke sebuah pintu di sisi kamar.

‘Sepertinya itu kamar mandi.’

Ainun berjalan mendekat. Tangannya terulur dan memegang gagang pintu tersebut.

Klik.

Pintu terbuka. Ainun melangkah masuk sambil membawa pakaian gantinya.

.

.

Di sisi lain Sagara akhirnya kembali ke rumah setelah seharian berbicara dengan Liona.

Namun, baru beberapa langkah memasuki ruang utama, langkahnya sudah terhenti. Seorang wanita paruh baya berdiri di hadapannya dengan wajah tegang.

Ibu.

Tatapan wanita itu tajam menusuk ke arahnya.

Sagara hanya mengangkat alis. Ia melepas jas yang dikenakannya, lalu meletakkannya di sandaran sofa sebelum duduk dengan tenang.

“Duduklah, Bu.”

Sagara mengambil cerutu dari atas meja, kemudian menyalakan ujungnya. Asap tipis mengepul di antara jemarinya.

“Kamu tahu?” suara Bu Lina kembali terdengar. “Ainun lebih baik daripada Liona. Kenapa kamu masih mau menerima permintaan gila perempuan itu, hah?”

Sagara mengisap cerutunya dalam-dalam. Ia membiarkan asap memenuhi mulut sebelum menghembuskan perlahan.

“Aku sudah memutuskan.”

“Kamu selalu begitu.”

Sagara mengangkat pandangan. “Apa maksud Ibu?”

Bu Lina melangkah mendekat. “Ainun sedang hamil, Sagara! Dan kamu malah mengurungnya seperti seorang tahanan?”

Jemari Sagara yang memegang cerutu berhenti sesaat. Namun, ia tidak menjawab.

“Ibu tahu semuanya dari Bibi Ani. Dia sudah menceritakan bagaimana kamu memperlakukan Ainun!”

Sagara mengembuskan napas panjang.

“Wanita itu sudah membantah perintahku, Bu. Jadi, apa salahnya kalau aku memberinya hukuman?”

“Kamu menyebut mengurung istrimu sebagai hukuman?”

Sagara menatap lurus ke depan.

“Lagipula, aku nggak tahu kalau Ainun sedang hamil.”

Bu Lina terdiam beberapa saat. Rahangnya mengeras.

“Kamu...” Suaranya bergetar. “Kamu mirip sekali dengan ayahmu yang berengsek itu.”

Sagara mengangkat wajah.

“Kamu tahu bagaimana perlakuan ayahmu kepada Ibu dulu?”

Tatapan Sagara berubah datar.

“Ya, aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu masih melakukan hal yang sama?”

Sagara mengisap cerutunya lagi.

“Buat apa dibahas?” jawabnya tenang. “Itu sudah masa lalu.”

“Masa lalu?” Bu Lina tertawa hambar. “Luka yang ditinggalkan ayahmu sampai sekarang masih Ibu rasakan, Sagara.”

Sagara terdiam.

Untuk beberapa detik, hanya suara jam dinding yang terdengar memenuhi ruangan.

Bu Lina menggeleng pelan.

“Ibu hanya berharap Ainun bisa bahagia bersama anaknya, dan juga dengan pasangan barunya nanti. Yang lebih baik dari dirimu ”

Tatapan Sagara kembali terangkat.

“Dan Ibu berharap dia nggak perlu bertemu denganmu lagi, kecuali kamu benar-benar mau mengubah sikapmu.”

Sagara tidak memberikan jawaban.

Bu Lina berbalik, tetapi sebelum melangkah pergi, ia berhenti sejenak.

“Mulai hari ini, Bibi Ani akan bekerja di rumah kami.”

Sagara menoleh. “Apa?”

“Ibu nggak akan membiarkan perempuan itu kembali berada di bawah perintahmu.”

Setelah mengatakan itu, Bu Lina berjalan menuju pintu.

Sagara tetap duduk di tempatnya. Cerutu masih berada di antara jemarinya.

Pintu utama terbuka, kemudian tertutup keras.

Brak!

Sagara menatap pintu tersebut beberapa saat.

Rahangnya mengeras. ‘Ibu benar-benar ikut campur.’

Ia mengangkat cerutu ke bibir, tetapi belum sempat mengisapnya, pikirannya kembali tertuju pada satu nama.

Sagara menurunkan tangannya perlahan.

“Ainun...”

Tangannya bergerak meraih asbak kaca yang berada di atas meja. Dalam satu gerakan kasar, benda itu dibanting ke lantai.

Prang!

Pecahan kaca berhamburan.

“DASAR WANITA JALANG!” teriaknya.

Napas Sagara memburu. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh.

“Akan kucari kamu sampai ke ujung dunia sekalipun.” Tatapannya menajam. “Kalau sudah kutemukan, anakku akan kuambil darimu. Dan akan ku persulit kamu untuk bertemu dengannya.”

Pikirannya dipenuhi bayangan Ainun yang pergi membawa anaknya.

Sagara mengusap wajah kasar sebelum suara notifikasi terdengar dari atas meja.

Kling!

Tatapannya segera beralih. Ponselnya menyala. Nama Liam muncul di layar.

Sagara meraih benda itu, kemudian membuka pesan yang baru saja masuk.

Sepuluh gambar terkirim sekaligus. Matanya bergerak dari satu gambar ke gambar berikutnya.

Rancangan ruangan pernikahan.

Cincin dengan batu kristal biru.

Mahkota Cambridge Lover's Knot.

Undangan pernikahan.

Bahkan beberapa rancangan bridesmaid dan susunan acara yang mencantumkan penyanyi yang diinginkan Liona.

Sagara hanya menatapnya sekilas. Tidak ada satu pun balasan yang ia kirimkan kepada Liam.

Ia mematikan layar ponsel, kemudian bangkit dari sofa.

Langkahnya membawa tubuhnya menuju tangga.

Satu per satu anak tangga ia pijaki dengan langkah berat.

Sagara mengatupkan rahang. Ia mempercepat langkah hingga akhirnya tiba di lantai atas.

...

Begitu memasuki kamar, Sagara menutup pintu di belakangnya. Ruangan itu masih sama seperti sebelumnya.

Namun, keheningan yang menyelimuti kamar membuat suasananya terasa berbeda.

Sagara berjalan menuju meja.

Langkahnya terhenti ketika pandangannya jatuh pada sebuah tas yang terletak rapi di atas meja.

Tas Ainun.

Ia meraihnya tanpa ragu. Resleting tas dibuka. Sagara mulai mengeluarkan satu per satu isinya.

Sebuah ponsel, kotak kecil, lip tint dan kacamata, dan beberapa barang pribadi.

Hingga tangannya menemukan selembar kertas yang terlipat. Sagara mengernyit. Ia membuka lipatan kertas tersebut.

Matanya langsung bergerak membaca setiap tulisan yang tertera di sana.

Semakin lama, gerakan matanya semakin lambat. Jemarinya bergetar.

Sagara membaca tulisan itu sekali lagi.

“Hampir tiga bulan...” gumamnya.

Sebuah kekehan pendek keluar dari bibirnya.

Namun, suara itu perlahan menghilang. Tatapannya berubah tajam.

Kertas itu masih berada di antara jemarinya.

“Ternyata sudah hampir tiga bulan, ya?”

Sagara menatap tulisan tersebut tanpa berkedip.

Rahangnya mengeras.

“Kamu terlalu pandai menyembunyikan kehamilanmu, Ainun.”

Jemarinya meremas ujung kertas itu.

1
Rahmawati Amma
wah klu benar jadi nikah sama si faizan kayanya aku mundur bacanya maksud hati ingin kasih koin tapi klu gini ceritanya aku mundur aja deh bacanya caow aku masih berharap chong ma balikan( SAGAR) 😭😤
Silvi Febiola: maaf ya kak, sudah ngecewain.
total 1 replies
Rahmawati Amma
weh thor chong ma mana harusnya kan udah bebas balikan sama chong ma aja kayanya ngak suka aku dengan faiz 😡😤 tapi chong ma nya udah berubah lebih baik benar2 baik dari sebelumnya hidup chong ma (sagara)si liam ibaratnya lee jaha kan kaki tangan chong ma ngak kala sadis wa ha..ha...ha. 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
fiks sagara kaya leluhurnya chong ma sadis tapi melindungi org terkasih sama chong ma sama2 sadis tdk pandang jenis kelamin mau perempuan mau laki klu ada yg gangu atau deketin babat abis tapi saya suka thor itu si sagaranya jangan terlalu sadis thor kaya chong ma aja ama mohyong sadis banget 😭😭😭😭
Linda: kalau saran saya jgn buat pisah sagara dgn ainun buat lah sagara sadar
total 1 replies
Linda
kalau saran saya ainun dn sagara jgn buat pisah bagi sagara sadar dan biar nanti dia hidup bahagia dgn keluarganya, dan laras dgn pak faisan
falea sezi
😒 bapak sama anak sama bejatnya g rela q si bangke ini ama ainun
falea sezi
😒laki bangke
Rahmawati Amma
kaya leluhurnya cheon ma sadis babget😭
falea sezi
moga bisa pergi. laki menjijikkan
Rahmawati Amma
aku meng hargai karyamu thor tapi terlalu kelam kapan bahagianya klu begini ceritanya 😭😭😭
Rahmawati Amma
kenapa terlalu drak thor😭😭😭
Rahmawati Amma
oh... ternyata mas saganya🤭🤭🤭
falea sezi
bkin ainun cerai Thor 🤣🤣 laki menjijikkan hukum itu ya di hukum cambuk bukan hukum ngeweee😒
falea sezi
🤣🤣 kn emank bejat g akan bisa berubah
Datu Zahra
apaansih Sagara, jijik banget.
Datu Zahra
kebanyakan pelakor, Liona belom beres, nongol Alif. terlalu ruet
Ais
sebenarnya saraga sm bapaknya ini sm"hyper kayaknya jijik tp kok ditiduri jg perempuan yg udah nyakitin istrinya aku pikir alif pelacur ini bakalan disiksa dlm artian disiksa bnr bkn disiksa dlm tanda kutip trus laras lihat kejadiannya apakah laras jg bakalan jd mangsa sagara berikutnya kasihan ainun kata aku seh smoga ainun cepat tau jd bs kabur sm anaknya jng smp rantai setan ini jg mengikat prilaku aksara anak ainun mau sebaik apa ibunya klo bapaknya hyper dan iblis anak jg pst akan kebawa namanya buah ngak akan jatuh jauh dr pohonnya
merry
jgn bgtt ainum sm bu Lina sm dm disiksa,, trss di selingkuh in lgg,, cb mrk bersatu hancurin ank Bpk iblis itu,, bastian tdrin mantan mantu ya eee anky selingkuh dgn alif ud gk bs dijadiin suami itu,, curi kek yang bu Lina trs pergi keluar negeri gt
dika edsel: klo bisa ainun dibuat mati aja...sad ending lbh baik..,ini novel bner2 di luar logika org waras
total 2 replies
Ila Latifah
jangan sampai ainin menderita lagi hara2 si alif bkin ulah. kasian bu lina. mamamnya sagara
Ila Latifah
masih 1 tipe. banyak tokoh jahatnya
Ila Latifah
menjijikan. dimakan bapaknya untuk dimikahi anaknya. anak tiri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!