Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Suami Cadangan

Terpikat Pesona Suami Cadangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Perjodohan / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Papa Hermawan menghela napas panjang, tarikan napas berat yang terdengar seperti keputusasaan yang dipendam bertahun-tahun.

Ia menatap kedua tangannya sendiri yang mulai berkerut sebelum kembali mendongak menatap David.

"Bukan untuk membebaskannya, David." ucap Papa Hermawan.

Suara lelaki paruh baya itu bergetar tipis, sarat akan beban penyesalan yang terlambat.

"Papa menjual saham Andrew karena papa ingin memulai semuanya dari nol. Papa meminta maaf kalau selama ini Papa selalu membela Andrew daripada kamu."

David menghela napas panjang. Wajahnya yang tadinya dingin perlahan mengendur, meski sorot mata tajamnya masih menyisakan sisa-sisa amarah masa lalu.

Suasana di dalam ruangan mendadak hening, hanya menyisakan suara mesin monitor jantung yang berdetak teratur di sisi ranjang Mili.

Tanpa berkata sepatah kata pun, David mengambil buku cek eksklusif dari dalam jasnya yang tersampir di kursi.

Ia membuka lembaran kertas berharga itu, mengambil balpoin perak dengan gerakan tenang, lalu menuliskan sebuah nominal fantastis di atasnya.

Ia menulis angka yang cukup untuk membeli kembali seluruh aset perusahaan lama ayahnya dan menjamin kehidupan pria tua itu tanpa kekurangan sepeser pun.

"Aku tidak butuh permintaan maafmu, Pa," ucap David dingin namun tanpa nada kebencian.

Ia merobek lembar cek tersebut dan meletakkannya di atas meja nakas tepat di hadapan Papa Hermawan.

"Simpan uang ini untuk hidup tenang di masa tua. Jangan pernah temui aku atau keluargaku lagi, dan pastikan Andrew tidak pernah berani mendekati istriku."

Papa Hermawan menatap lembar cek di hadapannya dengan mata berkaca-kaca.

Air mata penyesalan menetes di pipi pria tua itu, menyadari bahwa sebesar apa pun usahanya meminta maaf, ia tidak akan pernah bisa memutar waktu atau membeli kembali kasih sayang anak kandungnya yang telah ia sakiti separuh hidupnya.

Kemudian Papa berpamitan dan meninggalkan rumah David.

David meneteskan air matanya dan berharap papanya akan mendapatkan hidup yang lebih baik.

Setelah itu David kembali naik ke atas dan masuk ke dalam kamar.

Ia melihat istrinya yang sudah tertidur pulas sambil memeluk guling.

"Sayang, aku buang guling kamu." ucap David yang membuang guling itu.

David merebahkan tubuhnya persis di samping istrinya.

"Terima kasih sudah hadir di hidupku, Sayang." gumam David sambil mengelus perut istrinya yang masih rata.

David yang kelelahan akhirnya ikut memejamkan matanya.

Sementara itu di tempat lain dimana kedua orang tua Gea yang memutuskan untuk kembali ke Jakarta.

Mama Gea menjual semua perhiasannya agar bisa kembali pulang.

Mereka meninggalkan Gea yang sekarang mendekam di penjara Bali.

"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Pa? Semuanya habis begitu saja."

"Semuanya habis juga karena ulah kamu, Ma. Coba saja kamu tidak melakukan konferensi pers. Pasti David tidak akan semarah itu. Sekarang kita hanya bisa menikmati apa yang kita tanam." jawab Papa dengan wajah kecewa.

Papa masuk kedalam gudang dimana Mili tinggal di gudang itu.

"Maafkan papa, Mili. Papa sudah jahat sama kamu, Nak."

Papa memeluk guling Mili sambil menangis sesenggukan.

Ia tahu tidak bisa memutar waktu dimana ia dan istrinya selalu menyiksa Mili.

Keesokan paginya dimana matahari sudah bersinar terang.

Mili membuka matanya dan melihat suaminya yang sedang memeluknya.

"Selamat pagi, David. Ayo bangun. Bukankah hari ini kamu mulai bekerja lagi," ucap Mili sambil mencium pipi suaminya.

"Hm, sebentar lagi sayang. Lima menit lagi." ujar David yang masih ingin memeluk tubuh istrinya.

Mili meminggirkan tangan suaminya dan bangkit dari tempat tidurnya.

"Ayo, Tuan CEO. Nanti si anak kita akan meniru papanya."

Mendengar nama ' si kecil " David langsung membuka matanya.

"Iya sayang, ini aku sudah bangun."

David ikut bangkit dari tempat tidurnya dan langsung membopong tubuh Mili.

"Ayo, kita mandi bersama. Setelah itu kita sarapan."

"Hahaha, dasar tukang modus." ucap Mili.

David menyunggingkan senyum miring yang tampak begitu tampan sekaligus jahil—pemandangan langka yang hanya bisa disaksikan oleh Mili seorang.

Ia membawa istrinya melangkah menuju kamar mandi mewah di dalam suite rumah sakit tersebut dengan langkah hati-hati, memastikan sang ratu dan calon buah hati mereka tetap nyaman di dalam dekapannya.

"Bukan modus, Sayang. Ini bentuk pengabdian seorang suami siaga," sahut David dengan nada rendah yang menggoda.

"Dan, mulai detik ini, kamu tidak boleh melakukan hal-hal berat. Semuanya harus dilayani oleh David Kartajaya,"

David mengguyurkan air hangat ke tubuh istrinya yang duduk di dalam bathtub.

"Enak sekali, David." ucap Mili menikmati air hangat itu.

David yang tidak tahan melihat kecantikan istrinya langsung mencium punggungnya.

"Sebentar saja, ya." ucap David.

Mili menganggukkan kepalanya dan mengijinkan suaminya untuk melakukannya.

David tidak mau menyakiti istri dan anaknya, sehingga ia melakukannya dengan sangat hati-hati.

Suara desahan kecil terdengar jelas di dalam kamar mandi.

Sampai akhirnya lima belas menit kemudian David telah selesai melakukannya.

Ia membawa istrinya yang tubuhnya tertutup handuk tebal keluar dari kamar mandi dengan sangat hati-hati, membaringkannya kembali di atas ranjang rumah sakit yang bersih.

David kemudian dengan cekatan mengambil pakaian santai yang nyaman dan merangkapkan gaun tidur lembut ke tubuh Mili, memastikan istrinya tidak merasa kedinginan barang sedetik pun.

Setelah itu segera ia memakai pakaian kerjanya yang berwarna biru.

Kemudian David mengajak istrinya untuk sarapan di rumah makan.

Bibi sudah menyiapkan bubur sehat untuk Mili yang sedang mengandung.

Ia juga menyiapkan roti, alpukat dan susu untuk David.

"Ayo, sayang. Makan yang banyak." ucap David.

Mili mengambil sendok dan mulai menikmati bubur sehat.

Sesekali ia mengelus perutnya dengan sangat lembut.

Sendok demi sendok bubur sehat itu dinikmati Mili dengan lahap, sementara David di seberangnya tidak henti-hentinya menatap sang istri dengan binar mata penuh puja.

Pria itu bahkan telaten mengoleskan selai di atas roti panggang, memastikan porsi nutrisi istri dan calon buah hatinya tercukupi dengan sempurna tanpa kurang satu pun.

"Jangan hanya menatapku, David. Kamu juga harus makan," tegur Mili lembut sambil menyunggingkan senyum manis, menyodorkan potongan buah alpukat ke arah suaminya.

David menerima suapan itu dengan patuh, senyum miringnya kembali terpatri di bibir.

"Bagaimana aku bisa fokus makan kalau pemandangan di depanku jauh lebih menggiurkan dari apa pun di dunia ini?" gombalnya ringan, membuat pipi Mili merona merah muda.

Setelah sarapan usai dan Bibi membereskan meja makan kecil di suite tersebut, ponsel David di atas meja berdengung pelan.

Jonas mengirimkan laporan singkat bahwa seluruh persiapan di kantor pusat dan pengamanan di sekitar rumah sakit sudah terkendali dengan sempurna.

David melirik jam tangannya, lalu beralih menatap Mili yang sedang merapikan rambut panjangnya.

"Sayang, aku harus pergi ke kantor sebentar untuk membereskan beberapa dokumen penting yang tertunda," ujar David dengan nada sedikit keberatan, tangannya terulur menggenggam jemari Mili erat.

"Aku tidak akan lama. Hanya dua jam, setelah itu aku langsung kembali ke sini menemanimu."

Mili menganggukkan kepalanya sambil mengusap punggung tangan suaminya.

"Pergilah. Jangan khawatirkan aku. Ada Bibi dan pengawal di sini. Lagi pula aku ingin istirahat sebentar."

David mengecup kening istrinya lama, lalu mendaratkan satu kecupan lembut di atas perut Mili yang masih rata.

"Anak Papa, jangan nakal ya. Jaga mamamu baik-baik di sini," bisiknya penuh kasih, sebelum akhirnya beranjak mengambil jas kerjanya dan melangkah keluar kamar dengan kawalan ketat dari Jonas.

1
Yensi Juniarti
lanjuuut ya say 😘😘
Yensi Juniarti
ayo mili tunjukan ke gea kalau km lebih dari segala galanya .... 🥰🥰🥰
Yensi Juniarti
bahagia menyertai mu Mili...🥰🥰
Yensi Juniarti
🥰🥰🥰🥰 semuanya milik Mili
Yensi Juniarti
lanjutkan 🙏🙏
Rian Moontero
lanjooott👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!