Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembaran baru yang Terusik
Cahaya jingga di ufuk barat Dukuh Parang perlahan memudar, berganti dengan selimut malam yang tenang dan bertabur bintang. Angin malam berembus lembut membelai dedaunan kelapa di pinggir jalan desa.
Suasana yang biasanya dicengkeram ketakutan akan teror preman Juragan Broto kini terasa begitu damai. Warga desa bernapas lega; sosok yang selama lima tahun menjadi hantu mengerikan di atas tanah mereka kini mendekam di balik jeruji besi, menanti hukuman mati atau penjara seumur hidup yang dirancang oleh hukum negara.
Namun, di dalam rumah kayu sederhana milik Pak Suryo, kehangatan baru saja dimulai.
Lampu pijar kekuningan menerangi ruang tamu yang kini tampak lebih lapang. Bu Sumi menyajikan teh hangat aromatik dan piring berisi pisang goreng yang masih mengepul.
Pak Suryo duduk santai di kursi kayu berukir, menatap Devan dengan pandangan yang sarat akan rasa bangga dan haru.
Raka, kakak laki-laki Devi, tak henti-hentinya memandangi adik iparnya itu dengan mata berbinar-binar. Bagi Raka, Devan bukan sekadar adik ipar, melainkan sosok pahlawan nyata yang keluar dari buku komik aksi.
"Nak Devan," panggil Pak Suryo pelan, memecah keheningan yang hangat. "Bapak masih merasa seperti bermimpi. Tanah sawah peninggalan leluhur yang sudah bertahun-tahun dirampas Broto ... hari ini kembali ke tangan Bapak. Warga desa juga tidak berhenti mengucap syukur di balai desa tadi."
Devan menyunggingkan senyum tipis, meletakkan cangkir tehnya ke atas meja. Ia menanggalkan kesan dingin yang biasa diperlihatkannya kepada para bawahannya di kepolisian atau militer. Di depan Pak Suryo, ia murni seorang menantu yang hormat.
"Itu memang sudah menjadi hak Bapak dan warga, Pak Suryo," jawab Devan tulus. "Saya hanya perantara yang kebetulan dibukakan jalannya oleh Tuhan. Lagipula, kejahatan seperti yang dilakukan Broto tidak akan pernah bisa bertahan lama di atas penderitaan orang banyak."
"Tapi cara Nak Devan menyelesaikan semuanya ..." Pak Suryo menggelengkan kepala terkagum-kagum. "Bapak benar-benar tidak menyangka kalau pemuda bertato yang dibawa warga malam itu adalah seorang Kolonel penanggung jawab Satgas."
Devi yang duduk di samping Devan menunduk malu seraya menyenggol lengan suaminya. "Tuh kan, Mas ... Bapak saja masih kaget. Kamu sih, pakai merahasiakan identitas segala waktu awal-awal."
Devan terkekeh pelan, suara tawa beratnya yang khas terdengar begitu memikat. Tangannya merengkuh bahu Devi dengan santai, membuat pipi istrinya seketika merona merah di depan sang ayah. "Kalau saya langsung mengaku Kolonel malam itu, nanti dikira saya menakut-nakuti warga yang mau menikahkan kita, Devi. Lagipula, saya menikmati momen jadi tersangka yang dipaksa menikahi gadis tercantik di Dukuh Parang."
"Mas Devan!" bisik Devi gemas, menepuk paha Devan pelan. Pak Suryo dan Bu Sumi tertawa melihat interaksi sejoli tersebut, sementara Raka bersorak menggoda adiknya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah luar rumah. Pintu depan diketuk beberapa kali dengan ketukan khas bernada militer.
Hendra muncul di ambang pintu, mengenakan pakaian dinas lengkap dengan wajah yang tampak serius. Ia memberi hormat singkat sebelum melangkah mendekat ke arah Devan.
"Komandan," panggil Hendra dengan nada suara yang sedikit ditahan. "Ada perkembangan baru dari markas Polres. Pengacara hukum Broto dari Jakarta baru saja tiba, dan mereka mencoba mengajukan penangguhan penahanan dengan membawa berkas pelimpahan aset ke pihak ketiga."
Mata hitam Devan seketika menyipit tajam. Kehangatan yang baru saja terpancar dari wajahnya menguap dalam hitungan detik, berganti dengan aura intimidasi yang membuat ruangan seketika terasa dingin.
Tatapan mata itu adalah milik Devan Pratama, sang Komandan Satgas Pembasmian Mafia Tanah yang tak berbelas kasih.
"Pengacara Jakarta?" Devan terkekeuh sinis. "Broto rupanya masih punya sisa-sisa napas untuk melawan. Siapa yang mengirim pengacara itu?"
"Hasil pelacakan tim siber kami menunjukkan bahwa pengacara tersebut dibayar oleh konsorsium PT Mineral Nusantara, perusahaan induk yang berencana membangun pabrik batu bara di atas tanah Dukuh Parang," terang Hendra cepat. "Mereka mencoba menyelamatkan dokumen-dokumen tanah yang belum sempat disita oleh tim kita."
Pak Suryo yang mendengar nama PT Mineral Nusantara tampak tegang kembali. "PT Mineral Nusantara. .. itu perusahaan raksasa, Nak Devan. Mereka punya jaringan pengacara hebat dan orang-orang berkuasa di pusat."
Devan berdiri dari kursinya. Ia merapikan kerah kemejanya, lalu menatap Pak Suryo dengan tatapan tenang yang menenangkan. "Bapak tidak perlu khawatir. Mau sekuat apa pun perusahaan itu, mereka berhadapan dengan hukum negara dan Satgas Pusat. Tidak ada yang bisa menyentuh sepetak pun tanah Dukuh Parang selama saya berdiri di sini."
Devan menoleh pada Devi yang menatapnya dengan rasa cemas yang samar. Pria itu menyentuh puncak kepala istrinya dengan lembut. "Saya harus ke markas Polres sebentar untuk membereskan ular-ular kecil ini. Kamu istirahatlah, jangan menunggu saya sampai larut malam."
"Kamu ... akan baik-baik saja kan, Mas Devan?" tanya Devi pelan, menyatukan kedua tangannya di dada.
Devan tersenyum menawan, sebuah senyuman confident yang membuat siapa pun percaya pada kekuatannya. "Di dunia ini, belum ada musuh yang mampu membuat suamimu ini goyah, Devi. Apalagi cuma sekelompok pengacara berdasi yang membela penjahat tanah."
Devi hanya mampu mengangguk ketika Devan melangkah menuju pintu. Namun, begitu punggung tegap suaminya menghilang di balik pintu rumah, senyum yang tadi menghiasi wajahnya perlahan lenyap.
Entah mengapa, ucapan Hendra tentang pengacara dari Jakarta membuat hatinya tidak tenang.
Devi berdiri di ambang pintu, memandangi Devan yang berjalan bersama Hendra menuju kendaraan dinas yang terparkir di halaman. Langkah pria itu tetap tegap dan penuh keyakinan, seolah tidak ada satu pun masalah di dunia yang mampu menggoyahkannya.
Namun Devi tahu, di balik ketenangan itu, Devan tetaplah manusia.
"Mas ..." gumamnya lirih.
Bu Sumi yang berdiri di sampingnya segera menyadari kegelisahan putrinya. Ia mengusap lembut bahu Devi.
"Kamu takut sesuatu terjadi pada suamimu?"
Devi menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk pelan.
"Aku tahu Mas Devan kuat, Bu. Aku juga tahu dia punya banyak orang yang mendukungnya. Tapi ..." Devi menarik napas panjang. "Lawan kali ini bukan Broto seorang. Mereka perusahaan besar. Kalau sampai ada orang berkuasa yang ikut campur, bagaimana kalau Mas Devan dijebak?"
Raka yang sejak tadi mendengar percakapan itu segera mendekat.
"Devi, jangan berpikir terlalu jauh. Devan bukan orang sembarangan."
"Aku tahu, Kak." Mata Devi mulai berkaca-kaca. "Justru karena aku tahu dia seperti apa, aku takut. Dia selalu maju paling depan ketika melindungi orang lain. Tapi siapa yang akan melindungi dia?"
Pertanyaan itu membuat Raka terdiam.
Devi kemudian menggenggam erat ujung bajunya sendiri. Hatinya terasa sesak membayangkan berbagai kemungkinan buruk.
Malam yang seharusnya menjadi malam penuh kebahagiaan setelah terbebas dari teror Broto, kini kembali diselimuti kecemasan.
Devi menatap langit yang semakin gelap.
"Tuhan ... tolong jaga suamiku. Aku baru saja mendapatkannya. Jangan biarkan aku kehilangannya."
Tanpa disadarinya, setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Sementara jauh di depan sana, kendaraan Devan melaju menuju markas Polres, membawa dirinya kembali ke medan perang yang kali ini jauh lebih berbahaya.
semoga aja Devi mencerna baik baik
ingat loh, anak gadis di arak telanjang
kek manaa coba
rasanya mau bunuh diri saja
devan sudah menyelamatkan anak gadismu
dari pada keliling desa
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja