“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”
Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.
Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pujiara hilang : 19
Galih terhenyak, badannya kaku dengan punggung tegak. “Jangan sembarangan ngomong kamu!”
“Faktanya memang seperti itu! Mana mungkin ada rumah dijual dengan harga gak masuk akal kalau tidak ada kisah kelamnya!” Mima meminta bantuan sang putra supaya bisa berdiri.
“Pulang, Mas! Lari kamu masuk ke rumah itu! Aku takut terjadi apa-apa dengan Pujiara,” ia mengiba, lebih mementingkan keselamatan putrinya daripada memperpanjang perdebatan.
“Jangan berlebihan! Pintu depan aku tutup rapat, gak mungkin Ara bisa keluar!” Galih pun berjalan santai pulang ke huniannya.
“Kalau sampai putriku kenapa-kenapa, kamu bakalan ku bantai, Mas!” Mima tidak lagi menjaga lisan — kesal, takut, panik sangat mempengaruhi suasana hatinya.
Galih naik ke atas bukit yang tanahnya dibuat seperti tangga sempit cukup untuk satu orang lewat saja. Bila tak berhati-hati bisa terpeleset seperti Hamima tadi, sebab licin.
“Pelan-pelan, Bu!” Dirangkulnya pinggang sang ibu, badannya sampai miring karena menahan bobot berat.
Hamima sampai di tepian sungai, lalu dia meminta Guntur melepaskan rangkulannya.
“Nak, tolong kamu lari sebisanya. Peluk dek Ara, gendong dia. Bukannya tadi Guntur bilang ke ibu kalau Pujiara tidak boleh ditinggal sendirian? Cepat, Nak!” Mima menekan pundak putranya.
“Terus Ibu gimana?” ia ragu meninggalkan wanita kesayangannya yang masih lemas.
“Ibu gapapa! Percaya sama Ibu. Buruan, Guntur!” kali ini dirinya mendorong punggung kurus agar mau berlari.
“Iya, Bu!” Ia pun berlari sekencang yang dirinya sanggup. Menaiki tangga, bahkan melewati dua sekaligus.
“Ya Tuhan, tolong jaga putri dan putraku, lindungi mereka!” kakinya dipaksakan melangkah meski tenaga belum sepenuhnya pulih.
Rasa sakit, perasaan cemas, medan jalan yang sulit, tak menjadi halangan teruntuk wanita bergelar ibu itu.
Kendatipun harus merangkak menaiki tangga, tetap dilewati oleh Hamima. Satu keinginannya, sesegera mungkin sampai ke rumah.
“Terserah tadi itu nyata atau bukan yang aku lihat, sekarang semuanya sama-sama menyeramkan!” wajahnya tertunduk setelah barusan memeriksa ventilasi udara, ternyata bersih, tak ada darah mengalir.
Disaat seorang ibu berjuang untuk segera tiba di rumah — dua orang pria beda usia kocar-kacir mencari keberadaan bayi yang tak ada di mana tadi ditinggalkan ayahnya.
Ruangan lain sudah diperiksa, Pujiara tidak ada di dalam rumah. Entah dimana.
“Ayah tinggalin dimana tadi, Ara?!” suara Guntur memecah kebisuan, dia berkata lantang, rasa hormat kepada ayahnya perlahan luntur.
“Di ruang tengah, disini!” Galih menunjuk lantai. “Jarik nya juga hilang, kemana dia?”
“Ya mana aku tahu. Harusnya Ayah gak tinggalkan Ara sendirian!” ia kesal sekali. Perasaannya kacau, rasa cemas lebih tinggi dari ketakutan.
“Jangan membentak, Guntur!”
“Kamu memang pantas dibentak!” remaja berpakaian basah itu berdiri tegak dengan berkacak pinggang. “Ayah yang aku kenal sebelum dia pindah kesini — sosok penyabar, tak ceroboh, bertutur ramah, dan sangat mencintai kami para anaknya, pun begitu menyayangi istrinya.”
“Bukan seperti kamu yang suka menyakiti lewat perkataan kejam, asal nuduh, gak sudi mempercayai putranya sendiri!” ia mengungkapkan rasa kecewanya.
Sejenak Galih terdiam, sorot matanya bergetar memandang remaja basah kuyup, berdiri pongah dengan mata memerah.
“Pujiara ada, ‘kan?” tanya Hamima, dia belum masuk kedalam rumah, akan tetapi suaranya sudah menggelegar.
Tak lagi memperdulikan lantai kotor karena kakinya berdebu dan tanah basah menciptakan jejak di keramik, Mima masuk.
“Kalian kenapa? Mana putriku?” tanyanya sambil melihat ke sana kemari. “Dimana Pujiara? Jawab!”
Galih bergeming, entah karena merasa bersalah, atau takut disalahkan, yang jelas mulutnya terkatup rapat.
“Ara gak ada di dalam rumah, Bu. Kain jariknya juga hilang,” bisik Guntur.
Sang ibu terhuyung, pandangannya berkunang-kunang dan kepala diserang rasa pusing. “Cari, cari dia! Cari!”
Mima menjerit keras, berpegangan pada sandaran kursi. Jantungnya seperti dicabut paksa, sakit sekali saat mendengar putrinya hilang.
“Biar aku cari diluar,” akhirnya Galih mampu bersuara, ia bergegas keluar rumah.
“Bu ….” Guntur mendekat, berniat mau menolong ibunya.
“Jangan pikirkan Ibu. Ibu mohon cari adikmu, Nak!” pintanya tak berdaya.
“Iya, Bu!” ia sebenarnya lapar, haus, ketakutan, tetapi semua hal itu dienyahkan, lebih memilih mencari adiknya yang hilang entah kemana.
Tinggallah Hamima seorang diri di ruangan luas nan sunyi. Pandangan matanya kosong, namun otak tengah kerja rodi, diperas untuk berpikir melampaui batas.
“Pasti ada petunjuk? Sesuatu yang sebenarnya ditinggalkan entah oleh siapa untuk ditemukan.” Ia berjalan bak tak menjejak lantai, gamang, sempoyongan.
Pertama yang diperiksa adalah kamarnya — pintu lemari pakaian dihempas, pakaian ditarik keluar, laci-laci dibuka. Tak ada yang ditemukan selain barang memang kepunyaannya.
Mima berbaring telungkup, memeriksa kolong ranjang, walaupun pagi dan sore hari di sapu, tetap dia geledah.
Hasilnya sama, tak ada yang mencurigakan. Rasa frustasi bertambah menjadi, ingin sekali dia berteriak kencang.
“Kamar Guntur.” Matanya menyipit, rambut basah diusap cepat. Dia beranjak dan langsung keluar.
“Pertama kali yang selalu mengalami keanehan adalah Guntur. Dia pernah bilang ada sosok menyeramkan di kamarnya, pasti sesuatu mengerikan bersembunyi di sana, atau ada sebuah petunjuk.” Mima mendorong pintu kayu jati.
Kamar Guntur terlihat bersih — bantal, guling, selimut tertata rapi. Tak ada pakaian tergantung di belakang pintu, maupun tangkai lemari.
Hamima mulai menggeledah — menjatuhkan bantal, selimut ke lantai, lalu menarik sprei, kemudian mengangkat tilam agar bisa memeriksa dipan.
Belum juga menyerah, lanjut mengobrak-abrik lemari pakaian, juga tak mendapatkan apapun.
“Disini tidak ada yang aneh, lalu dimana petunjuk itu?” rasanya dia kesal sekali, nyaris putus asa.
“Bukannya rumah ini punya empat kamar? Cuma dua yang digunakan,” ritme jantungnya berpacu, rasa hangat menjalar dari ujung kaki naik ke atas.
“Sudah sejauh ini, aku harus menuntaskan rasa penasaran, mungkin dengan begitu keluargaku tak lagi diganggu,” tekadnya membulat, ia melangkah keluar dari kamar putranya.
Dua kamar kosong itu berada di sebelah ruangan Guntur, satunya lagi dekat dengan dapur.
Kamar berukuran lebih kecil, ternyata dalamnya kosong tak ada satupun barang, hanya ruangan berdinding cat putih. Hamima tutup lagi pintunya.
Dia mendekati kamar terakhir yang belum pernah dimasuki. Handle pintu diturunkan, saat hendak mendorong ternyata tak bisa.
“Dikunci? Siapa yang menguncinya? Terus kenapa sampai harus dikunci?”
.
.
Bersambung.
👻👻👻👻👻
🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️
aku yakin Ara mau dijdikan tumbal tu
Krang ajar skli bapak nya
itu pasti tu kumpulan juragan sarkam yg mengamuk karna gagal
nth apa yg ada di otak Sigalih itu