Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodoh Dadakanku

Jodoh Dadakanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wulan Antya

Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.

Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.

Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34

Langit yang hitam pekat tiada bintang dan bulan, sesekali terlihat petir menyambar tanah di kejauhan menambah mencekam.

Hawa semakin mengeratkan pegangannya pada pinggang Hasby. Hasby langsung melajukan motornya lebih cepat karena takut kehujanan, apalagi waktu sudah sangat larut.

Jalanan juga mulai lengang, apalagi mau turun hujan. Tetapi ada sebuah mobil di belakangnya, terlihat seperti mengikutinya. Dia mencoba menarik gas dan mobil mulai mengikutinya lebih kencang. Hasby mengurangi kecepatan mobil itu mengikutinya, Hasby mencoba menepikan motornya lalu mobilnya juga mengikuti.

Hasby menarik gas lagi, berusaha meloloskan dari siapa aja yang di dalam mobil itu. Dia tidak tahu siapa yang mengikutinya itu.

Hasby menangkap adanya sinyal bahaya, ia harus sampai di rumah dengan aman. Apalagi ia memboncengkan istrinya.

"Hawa, terus pegangan yang erat!" ucapnya menoleh pada istrinya "Jangan di lepaskan sebelum kita sampai rumah," lanjutnya agak kencang menarik gas lebih kencang lagi.

Dia melesat cepat, Hawa yang terkejut langsung mengeratkan pegangannya, matanya terpejam. Baru kali ini ia naik motor dengan kecepatan yang sangat kencang.

"Kak, pelan-pelan," ucap Hawa kencang, matanya masih memejam rapat.

Hasby tidak menghiraukan Hawa, yang di pikirannya itu hanya sampai rumah dan Hawa selamat.

Hasby melihat di kaca spionnya, mobil itu terus mengikutinya, bahkan lebih dekat. Seolah ingin menempel motor yang ditunggangi Hasby dan Hawa.

Aksi kejar-kejaran itu sangat menegangkan, di barengi hujan mulai turun semakin lama semakin deras.

Hasby mengurangi sedikit kecepatannya, dia tidak ingin mengambil resiko berbahaya. Jalanan licin dan pandangan menjadi buram. Air sudah membasahi baju mereka, air hujan terasa lebih dingin menusuk kulit mereka.

Tak lama terlihat gapura perumahan dan beberapa anggota keamanan di luar pos, duduk di emperan bangunan.

Ketika melihat motor Hasby mereka langsung membuka gerbang. Hasby masuk dengan cepat dan berhenti tidak jauh dari gapura. Dia melihat mobil itu apa masih mengikutinya atau tidak. Ternyata mobil itu berhenti sejenak lalu melaju pergi dengan kencang.

Hasby tidak dapat melihat siapa yang duduk di balik kemudi mobil itu. Kenapa mobil itu membuntutinya terus.

Merasa situasi aman, segera Hasby mengendarai motornya pulang ke rumah. Dia memegang tangan Hawa yang sedingin es tengah memeluknya erat.

Gerbang dirumah terbuka, Hasby mengernyitkan dahinya. Dia membunyikan klakson dan Kang Udin menganggukkan kepalanya lantas menutup gerbang.

Motor sudah terparkir di garasi dengan benar, Hasby dan Hawa turun dari motor. Mata Hasby melebar sempurna, terlihat jelas lekuk tubuh Hawa karena bajunya basah dan menempel pada tubuhnya. Hasby melepas jaket dan memakaikannya. Jaket itu sangat kebesaran ketika Hawa yang mengenakan. Terlihat menggemaskan di mata Hasby. Hawa terdiam, pipinya memerah tapi badannya menggigil pelan.

"Makasih kak," ucap Hawa pelan, tangannya merapatkan jaket suaminya itu, walau basah tapi lumayan untuk menutupi lekuk tubuhnya.

"Ayo masuk, segera ganti baju," Hasby menggandeng tangan istrinya masuk melalui pintu samping, karena lebih dekat dengan tangga.

Hawa terdiam hanya mengikuti langkah Hasby. Terlihat di ruang tamu ada Papa dan dua orang laki-laki yang belum pernah dirinya temui. Tanpa menghiraukan lagi dirinya mengajak Hawa pergi ke kamar.

Ternyata Papa menyadari kedatangan Hasby dan Hawa dari sudut matanya. Menatap sedih anak dan menantunya itu. Rahangnya mengeras sebentar.

"Tolong awasi terus, jangan sampai dia mendekati anak-anakku!" kata Papa dengan tegas dan rendah penuh penekanan.

"Baik tuan, kami akan berusaha," ucap keduanya serempak. Papa mengangguk singkat

"Baik kalau begitu kami pamit tuan, takut tuan muda curiga," ucap pelan pria berperawakan tinggi, kulitnya sawo matang, berotot besar,mengenakan jaket kulit hitam, wajahnya ada luka di sudut bibirnya. Seperti luka terkena benda tajam. Ajik namanya.

"Iya tuan, kami akan selalu memberi info terus," sambung pria berperawakan tinggi dan berwajah sangar tapi tidak ada luka di wajahnya, kulitnya sawo matang, sama seperti Ajik yang memakai jaket kulit hitam.

"Ok, ya sudah hati-hati," ucap Papa tegas.

Kedua pria itu langsung berdiri dan melangkah keluar rumah mewah tersebut. Mereka mengendarai motor trail masing-masing.

Selepas orang suruhannya pergi, Pak Darman memejamkan mata dan menarik napas dalam. Menghembuskannya keras-keras. Guna menetralkan emosinya tentang lawan bisnisnya yang mulai melirik anak dan menantunya.

Sebenarnya dari lama dia tahu, tapi mencoba menjauh dan tidak berurusan lebih dalam dengan mereka. Tapi mereka malah mendekatinya. Membuatnya mau tidak mau harus selalu berkomunikasi dengan mereka.

●●●

Di kamarnya yang hangat dan lampu menyala terang, Hawa segera ke kamar mandi dan segera mandi air hangat. Setelah berganti baju tidur panjangnya ia masih merasa dingin. Ia putuskan turun untuk membuat minuman hangat.

Bersamaan dengan pintu kamarnya terbuka ternyata Hasby juga mau turun ke dapur. Mereka bertatapan singkat, Hawa tersenyum malu. Mereka menuruni dalam diam, seperti rumah malam ini terasa sunyi sepi. Karena ketika sampai di bawah lampu yang menyala hanya lampu tangga yang redup dan beberapa sudut ruangan.

Hawa mengedarkan pandangannya sekilas, ia merasa bergidik ngeri. Rumah sebesar ini kalau malam terlihat menakutkan karena terlihat gelap.

Melihat Hawa berhenti di dekat tangga langsung tersentak karena jemari Hasby mengait di jemarinya. Menarik pelan untuk ke dapur. Hawa mengikutinya dengan senyum terukir di bibirnya.

"Kak, mau minum apa." gumam Hawa pelan. Takut membangunkan seisi rumah.

"Tolong buatin susu hangat cokelat y Wa!" ucap Hasby pelan. Dirinya bergeser ke lemari penyimpan makanan instan yang tertata rapi. Mengambil dua mi goreng lantas mengambil panci dan mengisinya air. Mulai memasak air hingga mendidih.

"Kakak Lapar?" Hawa yang melihat kegiatan suaminya itu, sedangkan dirinya menunggu air mendidih untuk membuat minuman hangat.

"Sedikit," ucapnya datar sambil meneruskan memasak mi goreng instan. Tidak lupa di beri telur ayam dua beserta sosis dan baksonya. Tidak ketinggalan sawi hijaunya.

"Kak, susunya sudah jadi, aku letakkan di meja ya," Hawa duduk di meja makan sambil memegang gelas susu panas itu. Mencoba menghangatkan jemarinya yang membeku.

"Ok, aku kesana," Hasby melangkah lebar sembari membawa mi goreng yang sudah matang. Aromanya memenuhi dapur dan ruang makan.

"Kakak habis segitu?" tanyanya heran melihat porsi yang besar di sampingnya.

"Makan bareng!" Hasby mengulurkan garpu ke tangan Hawa. Hawa memandangnya sekilas, ia meraihnya.

"Makasih kak," gumamnya pelan.

Mereka menikmati mi goreng hangat dan susu hangat di meja makan yang sunyi. Sesekali Hawa melirik suaminya itu. Hasby yang peka mengambil tisu di dekatnya dan mengusap saus di sudut bibir istrinya lembut.

Hasby merasa bersalah karena tadi membuat kesalahan pada istrinya.

Hawa memandang Hasby gugup. Tangannya meraih tisu itu dan mengelapnya sendiri.

Hasby melanjutkan makannya tanpa merasa gugup, padahal Hawa menahan napas sebentar karena tindakan Hasby itu. Kedua pipinya merona merah, ia menundukkan pandangannya.

"Cepat habiskan dan pergi tidur!" ucap Hasby tenang, dia menyeruput susu hangatnya.

"Iya kak, kakak yang harus segera tidur, besok mau lanjut ujian kan," Hawa bergumam lirih, lantas menaruh garpunya, ia sudah kenyang.

"Udah?" tanya Hasby menatap Hawa lekat.

"mm iya kak,, abisin kak," Hawa menganggukan kepalanya.

Hasby lalu menghabiskan mi gorengnya, setelah selesai dia membawa piringnya ke dapur.

"eeh kak, biar aku aja," Hawa mengikuti suaminya ke dapur. Ia mengambil alih cucian piring.

Hasby tidak memaksanya lagi, dirinya mengelap meja makan lalu mengambil air putih untuk di bawa ke kamar.

Hasby duduk menghadap dapur untuk melihat istrinya mencuci piring. Setelah selesai mereka naik ke kamar untuk segera tidur.

Sesampainya di depan pintu kamar Hasby berhenti dan memandang Hawa lurus. Hawa lantas menghentikan langkahnya, dahinya mengernyit.

"Maaf Wa," tiba-tiba Hasby berkata tenang dan berwajah sendu.

"Aku yang harusnya minta maaf kak," ucap Hawa lirih.

"Aku yang salah Wa, maaf aku kelewatan tadi," ucapnya lembut sembari meraih tangan Hawa.

Terlihat memerah bekas genggamannya yang terlewat kencang tadi sore. Hasby menarik Hawa ke kamarnya dan mendudukkannya di tepi ranjangnya. Mencari sesuatu di laci sebelah ranjangnya. Hawa mengerjapkan matanya pelan, menatap bingung suaminya itu.

Hasby kembali dan mengoleskan gel berwarna bening ke tangan istrinya dengan lembut. Setelah selesai dirinya bangkit dari duduknya dan menatap istrinya lekat.

Seakan ruangan yang luas ini semakin menyempit, suasana yang hening membuat Hawa menahan napas sejenak, menghembuskan perlahan.

"Kak, aku ke kamar dulu, makasih obatnya kak," Hawa berucap pelan dan langsung berdiri hendak melangkah untuk kembali ke kamarnya.

Tapi lengannya di tahan oleh Hasby, ia tidak berani menoleh, hanya berdiri membelakangi Hasby.

Tiba-tiba Hasby memeluk Hawa dari belakang, Hawa tersentak kaget. Badannya mematung sesaat, Hasby tetap memeluknya erat, kepalanya mendusel di belakang leher Hawa. Hawa mengigit bibirnya pelan, wajahnya memerah panas.

Hasby pun telinganya merah merona, tapi dia tidak peduli. Dirinya ingin memeluk istrinya setelah dirinya berbuat salah. Sebenarnya dia cemburu tapi gengsi untuk mengakuinya, jadinya hanya memeluk istrinya saja.

Setelah merasa lelah berdiri, Hawa mencoba melepas pelukan suaminya, ia berlari kencang ke kamarnya, meninggalkan Hasby melongo melihat istrinya kabur begitu saja.

1
devita yudhayanti
bagus...lanjut
Wulan Antya: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!