Indonesia
NovelToon NovelToon
Petualangan Mayanza

Petualangan Mayanza

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Swanzi... apa kabar?

Pagi sekali aku pulang kerumah dari kediaman kakek.

Mengganti pakaian berangkat berkerja, kuletakan jas putihku di ruang tamu.

“Apakah kita kedatangan tamu?” tanyaku pada Pelayan.

Security datang, “Semalam saya menghubungi nona Mayanza” katanya

“Kenapa?” Kucek HPku tidak ada panggilan masuk.

“Seorang pria ada di kamar Nyonya Mayanza” aku terkejut, berlari ke kamar.

Tidak ada seorangpun.

“Bagaimana ciri-ciri orang itu” kataku

“Pria tinggi putih,aku tidak jelas melihat wajahnya, karena melihat dari lantai bawah, jendela terbuka”

“Pukul berapa?”

“Kira-kira pukul 8 malam” kata security.

“Tadi malam aku menginap di rumah kakek” kataku

Kami semua terdiam.

“Apa ada informasi lain?”tanyaku serius.

“Tidak ada”

Pelayan dan Security meninggalkanku sendirian di kamar, aku perlahan memeriksa barang-barang yang ada di kamar, tidak ada yang hilang.

Sekarang….

Sepertinya...

Aku lebih banyak kedatangan tamu.

Aku tersenyum.

**

Aku meminta Pelayan membersihkan kamar,

Ayah dan Ibu datang hari ini.

Aku pergi ke halaman.

Angin bertiup lumayan kencang, menggoyangkan puncak cemara, kupandangi langit mendung dari arah utara.

Sebuah mobil Alphard hitam masuk halaman.

“Ibu…” kupeluk ibu dan Ayah.

Kami bersamaan masuk ke rumah.

“Bagaimana, sudah membaik?” tanyaku.

“Jauh lebih baik” jawab Ayah.

“Ibu masih merasa takut naik pesawat” kata Ibu.

Tangan ibu dingin, pasca trauma kecelakaan pesawat.

“Bagaimana, rasanya masih tidak sehat?” menuntun ibu ke sofa.

“Sedikit” kata Ibu.

Pelayan datang membawakan camilan pie buah dan the hangat.

“Minum tehnya dulu bu” kataku

“Hm…wangi..” kata Ibu

“Teh chamomile” kataku.

Ibu meminum teh hangatnya, cangkir putih keramik diletakan di tatakan lagi.

“Ayah akan istirahat di kamar” kata Ayah.

“Aku antar” kataku.

“Tidak perlu” kata Ayah di ikuti pelayan mengantar koper.

“Temani Ibumu saja” katanya.

Ibu menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa tubuhnya setengah tiduran.

“Ibu, apa aku pijit?” kataku

Ibu mengangguk pelan.

“Nanti kita periksa lagi, kerumah sakit ya?” kataku

“Ibu takut Mayanza” kata Ibu.

“Takut kenapa bu…?”

Ibu melihat sekeliling,

“Ibu sering mimpi buruk selama di rumah sakit” kata Ibu

“Itu biasa terjadi pasca trauma bu..”

“Bukan…bukan itu..” kata Ibu.

Ibu duduk lebih tegak, aku berhenti memijat kaki ibu.

“Kamu hari ini berkerja” kata ibu lagi, pintu luar terbuka lebar.

“Tidak, besok akan berkerja” kataku.

“Jangan kemana-mana dulu” kata ibu.

Menyentuh dadanya, “Perasaan ibu tidak enak”

Aku mengangguk, “Tenang saja, aku ada dirumah”.

Pelayan sigap menutup pintu karena sudah turun hujan.

“Teh, untuk ayah diantarkan saja ke kamar” kataku pada pelayan.

Pelayan mengangguk membawa segelas teh chamomile untuk ayah.

“Ibu mau masuk ke kamar menemani ayahmu” kata Ibu.

Kutuntun ibu ke kamar, di ikuti Pelayan membawa the.

Ayah terbaring di tempat tidur, tidur kelelahan.

Tirai kamar kututup, jendela aku cek lagi terkunci rapat, kupastikan pendingin.

Aku duduk di samping Ibu.

Ayah terbangun.

“Mayanza, kamu tidak berkerja” kata Ayah.

“Hari ini tidak, besok jadwal piketku seharian” kataku.

“Hari ini aku menemani..dirumah..”

Ibu mengenggam tanganku.

Ayah dan Ibu tertidur pulas, aku keluar dari kamar perlahan.

Menuju Dapur, mengecek makanan untuk makan malam.

“Sup jagungnya sudah matang Nona” kata Pelayan.

Kucicipi sedikit sesendok teh, rasanya hangat dan segar, sangat cocok untuk pemulihan Ayah dan Ibu.

Diluar masih hujan lebat.

Aku duduk di ruang tengah, sambil membaca rekam medik Ayah dan Ibu.

**

Makanan di meja makan sudah di persiapkan, aku membangunkan Ayah dan Ibu.

Terlihat segar kulitnya mulai terlihat sehat…

Kami makan malam bersama di meja makan.

Ibu tampak lebih pucat, tapi lebih baik dari kedatangannya tadi pagi.

“Nanti istirahat saja di kamarmu, besok pagi kamu berkerja seharian” kata Ayah.

Aku mengangguk.

“kami sudah lebih baik” kata ayah memegang tangan Ibu.

“Tidak masalah,nanti setelah makan akan aku ukur tekanan Ayah dan Ibu. Besok akan kujemput pemeriksaan kesehatan ke Rumah Sakit ya..” pintaku.

“Iya…” kata ibu.

“ Makan yang banyak,” aku menambahkan dengan menyendok sup jagung ke mangkok ibu.

Ibu menghabiskannya.

Kutemani mereka berdua ke kamar,mengukur tekanan.

Dan pamit ke kamarku di atas, “Kalau ada apa-apa panggil saja” kataku menutup pintu kamar.

“Tolong panggil saya kalau Ayah dan Ibu kenapa-kenapa” kataku dnegan pelayan.

Pelayan menganggukan kepala.

**

Aku dikamar dengan piyama sutra celana panjang merah muda lembut.

Duduk membuka laptopku diatas kasur, memasukan jurnal perkerjaan besok.

Pinggangku terasa sakit, aku menggerakan badan menutup gorden.

Diluar hujan masih lebat, pohon pinus bergerak-gerak mengikuti arah angin.

**

Aku mengambil telepon setelah operasi pagi ini,

“Bu, bagaimana kabarmu? Kalian berdua ayah bisa datang kan?” tanyaku

“Ini diperjalanan” kata Ibu.

“Baiklah, aku tunggu di tempat parkir.”

Aku meletakan cup kepala berwarna hijauku di loker.

“dokter Mayanza” dokter Yuki menyapaku di lorong.

“dok, nanti aku akan menemuimu” kataku.

Dokter Yuki tersenyum, rekan yang lain juga senyum-senyum.

Mereka pikir kenapa, aku memang jarang ngobrol dengan rekan kerja.

Aku menjemput Ibu dan Ayah, mereka sudah di depan lift parkiran.

“Maaf terlambat..” kataku.

Ibu mengelus-elus tanganku, aku menuntun ibu dan meminta mereka berdua menunggu di kursi tunggu dengan pasien lainnya, nama mereka sudah aku daftarkan.

Tidak lama menunggu mereka langsung masuk pemeriksaan.

Kuantarkan ke spesialis neurologi.

“Ini rekam medisnya, mereka berdua orang tuaku” kataku pada dokter Yuki.

Dokter Yuki mengangguk paham,

Ayah dan Ibu melakukan pemeriksaan menyeluruh, dan MRI.

“Hasil pemeriksaan mungkin sore nanti keluar, akan kami serahkan ke dokter Mayanza” kata dokter Yuki.

“Bapak, Ibu banyak-banyak istirahat” kata dokter Yuki

“Terima Kasih” Kata Ayah mereka berjabat tangan.

Aku mengangguk.

Dokter Yuki memberi kode agar nanti aku menemuinya dengan menunjuk lantai ruangannya, aku mengangguk setuju.

Setelah mengantarkan ayah dan ibu ke parkiran,

“Mayanza, bukankah dokter itu temanmu yang dulu pernah ke rumah?” ternyata ibu mengingatnya.

“Namanya Yuko atau Yuki?” kata Ibu.

“Yuki..namanya Yuki” kata Ayah.

aku segera balik ke ruangan setelah mengantar kedua orang tuaku.

“Jadwal operasi jam satu dimajukan dok” kata Perawat padaku

“Ada pasien darurat yang harus di dahulukan”, katanya

“Oke” kataku, meminum air mineral yang ada di meja.

Dibantu mengenakan pakaian operasi.

Kurang lebih satu jam di ruangan operasi, pengangkatan tumor.

Aku membersihkan diri, pergi ke kantin.

Duduk memainkan HP block game menunggu makananku disiapkan.

Kulihat sekeliling, banyak pengunjung,

“Ini makanannya” kata Pramusaji.

Ada steak ayam, kentang, wortel, jamur.

Minuman Es Jeruk segar.

Aku menikmatinya sambil melamun.

Seandainya aku menggunakan kekuatanku tentu operasi itu tidak sampai satu jam, tapi energiku cepat habis, aku malah tersenyum sendiri memikirkannya.

“dok..” dokter Yuki menggeser kursi di depanku.

“Oh, aku tadinya keruanganmu setelah ini” kataku menunjuk makanan.

“tidak apa, aku juga memesan makanan” katanya.

“Bagaimana hasilnya?”

“Nanti kita baca bersama saja” kata dokter Yuki.

“Operasimu padat hari ini?” katanya lagi.

“Ya, padat” aku tersenyum.

Dokter Yuki mengangguk pelan memandangku yang lincah memotong steakku menjadi kecil-kecil, mencocol daging ke saos dengan sumpit.

“Aku tau apa yang ada di pikiranmu” kataku.

“Hahaha…kau melakukannya dengan baik setelah operasi” katanya dia tertawa, sangat tampan, dan pria ini bersih.

Pantas cepat populer di Rumah Sakit ini.

Aku ikut tertawa, meminum es jeruk dinginku.

Makanannya datang, semangkuk sup asparagus dan nasi.

Kami makan bersama,

selesai menuju ruangannya melihat rekam medis kedua orang tuaku.

**

“Terima kasih, syukurlah hasilnya baik” kataku pada dokter Yuki.

“Perhatikan mereka makan obatnya dengan teratur” kata dokter Yuki lagi.

Aku mengangguk, membawa amplop coklat rekam medik dan resep obat yang akan diambil di apotik nanti.

“Aku harus kembali, ada jadwal operasi jam tujuh malam ini” kataku.

“Terima kasih” aku melambaikan tangan sebelum menutup pintu.

“dok…” kata dokter Yuki.

Aku menoleh, “Ya?”

“Gelangmu bagus” katanya.

Aku memandang wajahnya dan tersenyum kugoyangkan gelang giok berlapis lilitan emas seperti akar berujung bunga melati.

“Kau mau? Boleh..” kataku bercanda.

Dokter Yuki tersenyum, menggeleng.

Kutinggalkan ruangannya menuju ruanganku melanjutkan perkerjaan.

**

Sudah pukul dua belas malam, parkiran Rumah Sakit masih ramai, aku menuju lorong tempatku memarkirkan mobil.

Aku menghidupkan mesin mobil, menunduk saatku melihat kedepan pusaran portal hitam terbuka pada sisi dinding.

Kumatikan mobil, aku ambil tas tanganku, waspada.

Keluar dari mobil, berlari kearah portal.

Besembunyi di balik tiang…

Melihat siapa yang melewati portal itu,

Aku tidak dapat bergerak, aku ketahuan.

Jari lentik dengan cat kuku berwarna hitam menyentuh bahuku,

“Swanzi…apa kabar?” kataku berbalik.

Dia menyerangku, menusuk bahuku dengan jarinya, bahuku terluka. Swanzi tersenyum senang, lama tidak melihat senyumannya.

Aku berusaha mendorongnya, dia membawaku menghilang dalam kabut hitam.

Aku membalas menepuk dadanya nya dengan telapak tanganku, cahaya kuning keluar dari sentuhanku, Swanzi muntah darah, saat dia mau menyerangku dengan kekuatannya, aku menyiapkan tameng yang kurapalkan,kami sama-sama terlempar.

Dia masuk lagi ke portalnya, dan aku terjatuh di lantai parkir, security berlari ke arahku memapah aku berdiri, keheranan melihat aku jatuh tak jauh dari mobil.

Bahuku berdarah, jas putihku berlumuran darah, tangan Swanzi sekarang lebih kuat

, dan tidak bereaksi melepuh menyentuh darahku. Apa yang terjadi?

**

𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜...

1
Tory Ambay Satu
Mantap👍👍
Tory Ambay Satu
👍👍
Tory Ambay Satu
Semakin seru ceritanya👍
Novita Tory: terima kasih, dukung dan baca juga ceritaku yang lainnya ya🤭
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Seru banget ya, Raja Yuko😍
Novita Tory: /Chuckle/🙏
total 1 replies
Novita Tory
🤭Aku memikirkan nasib ayam berwarna putih😅🥲
Tory Ambay Satu
Bagus banget alur ceritanya 👍
Novita Tory: Makasih...
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Mantapp banget ceritanya👍
Novita Tory: makasih😊selamat membaca..
baca juga karyaku yang lain ya...
total 1 replies
Novita Tory
Lanjut untuk episode selanjutnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!