Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 — Labirin Empat Elemen
Ujian Labirin Elemen berlokasi di sisi timur lembah, sebuah kompleks formasi raksasa yang terbentang luas di bawah tanah, dibangun bersama oleh gabungan tetua ketiga sekte khusus untuk acara ini. Dari luar, hanya tampak sebuah gerbang batu sederhana yang menganga menuju kegelapan, namun begitu memasukinya, seluruh peserta akan menghadapi labirin raksasa yang berubah bentuk setiap beberapa jam, dipenuhi jebakan elemen api, air, angin, dan bumi yang saling bergantian menguji kekuatan sekaligus kekompakan tim.
Sepuluh tim dari tiga sekte—masing-masing terdiri dari sepuluh anggota—berkumpul di depan gerbang labirin pagi itu, disaksikan seluruh delegasi dan pengamanan tambahan yang telah diperketat sesuai instruksi para tetua sejak insiden gua tersembunyi beberapa hari sebelumnya.
"Aturannya sederhana," ketua penyelenggara mengumumkan dari atas panggung sementara di depan gerbang. "Setiap tim harus mencapai inti labirin dan mengambil Kristal Elemen Pusat sebelum waktu enam jam berakhir. Tim yang gagal keluar sebelum waktu habis akan otomatis dievakuasi lewat formasi darurat. Ingat, labirin ini dirancang untuk menguji kerja sama, bukan sekadar kekuatan individu—jangan berpisah dari tim kalian."
Lin Mu berdiri di antara sembilan rekan setimnya, menyapu pandangannya ke gerbang gelap yang menganga di hadapan mereka. Ia bisa merasakan aliran qi yang jauh lebih kompleks dan tersembunyi dari balik dinding batu labirin itu—formasi berlapis yang jelas dirancang oleh kultivator-kultivator berpengalaman.
Begitu aba-aba dimulai, seluruh tim menyerbu masuk ke dalam gerbang masing-masing secara bersamaan, memasuki lorong-lorong batu yang segera berubah menjadi labirin membingungkan begitu mereka melangkah cukup jauh ke dalam.
Dalam waktu singkat, tim Awan Putih menghadapi rintangan pertama—sebuah ruangan luas yang lantainya sepenuhnya tertutup lelehan lava panas, hanya menyisakan beberapa pijakan batu kecil yang muncul dan menghilang secara acak mengikuti ritme tertentu.
"Deng Rui," Lin Mu memanggil rekan setimnya yang menguasai elemen api, "bisa kau rasakan pola ritme pijakan batu itu dari aliran panasnya?"
Deng Rui, murid ahli elemen api dari angkatan senior, mengamati sejenak sebelum mengangguk. "Setiap pijakan muncul mengikuti siklus delapan detik, bergeser satu posisi searah jarum jam setiap putaran."
Dengan informasi itu, Bai Yu, ahli formasi pertahanan tim, segera merancang formasi pelindung sementara yang memungkinkan seluruh tim melompat bersamaan mengikuti ritme yang telah dipetakan Deng Rui, melewati ruangan lava itu tanpa satu pun anggota tim yang terjatuh.
"Kerja sama tim yang solid," Han Zhengyu berkomentar puas begitu mereka semua berhasil mencapai sisi seberang dengan selamat. "Dua bulan latihan itu benar-benar terbayar."
Mereka melanjutkan perjalanan melalui berbagai rintangan elemen lainnya—lorong berisi angin puting beliung yang harus mereka navigasi dengan formasi berlapis dari Bai Yu, ruang bawah tanah yang tiba-tiba dipenuhi air yang naik cepat, memaksa Su Wan menggunakan ilusi cahayanya untuk menemukan jalur keluar tersembunyi yang tak terlihat mata biasa.
Setiap rintangan diselesaikan dengan kerja sama yang semakin matang, membuktikan hasil dua bulan latihan intensif mereka di bawah bimbingan Xuan Bo.
Memasuki jam ketiga, tim mereka mendekati apa yang tampak sebagai bagian tengah labirin—sebuah ruangan besar dengan empat pilar elemen berbeda berdiri di setiap penjuru, memancarkan cahaya redup yang menandakan kedekatan mereka dengan inti labirin tempat Kristal Elemen Pusat berada.
Namun sesuatu terasa tidak beres.
Lin Mu berhenti melangkah, mengangkat tangannya memberi sinyal pada seluruh tim untuk waspada. "Ada sesuatu yang aneh di sini," ia berkata pelan, matanya menyapu ruangan dengan seksama. "Aliran qi di ruangan ini tidak sesuai dengan pola formasi labirin yang seharusnya."
"Maksudmu?" Han Zhengyu bertanya, tangannya sudah bersiap mencabut pedang.
"Formasi asli labirin ini seharusnya netral," Lin Mu menjelaskan, mengingat kembali pemahamannya yang dalam tentang qi dan formasi kuno dari kehidupan lalunya. "Tapi aku merasakan lapisan qi tambahan di sini, sesuatu yang tidak seharusnya ada—seperti formasi yang disisipkan secara diam-diam ke dalam struktur asli."
Su Wan, yang juga cukup sensitif terhadap manipulasi visual dan energi, mengangguk setuju setelah mengamati lebih dekat. "Aku juga merasakannya. Seperti ada dua lapisan realitas yang tumpang tindih di ruangan ini."
Sebelum mereka bisa menyelidiki lebih jauh, sebuah suara gemuruh tiba-tiba menggema dari kedalaman salah satu lorong yang belum mereka lewati—jelas bukan bagian dari rintangan resmi labirin, melainkan sesuatu yang lebih mengancam.
Diikuti oleh teriakan minta tolong yang samar, namun cukup jelas untuk dikenali sebagai suara seorang murid dari sekte lain, ketakutan dan kesakitan.
Lin Mu dan Han Zhengyu saling bertukar pandang sejenak, keduanya menyadari hal yang sama tanpa perlu diucapkan.
"Kecurigaan Xuan Bo benar," Lin Mu berkata, rahangnya mengeras. "Aula Bayangan sudah menyusup ke dalam labirin ini."
semngat thor/Determined/