Indonesia
NovelToon NovelToon
Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Cinta Terlarang / Obsesi / Beda Usia / Tamat
Popularitas:23.2k
Nilai: 5
Nama Author: Celina González ♥️

Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.

Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.

Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Empat hari telah berlalu sejak malam ketika Leonardo memilikinya seakan mampu meremukkan jiwanya hanya dengan sebuah ciuman. Empat hari di mana Zaira menjalani hidup seolah segala di sekelilingnya telah berubah bentuk, meski dunia tetap sama seperti sedia kala.

Sore turun perlahan menaungi lingkungannya, mewarnai jalanan sempit dengan rona kuning kecokelatan dan kemerahan. Matahari menyusup di sela ranting-ranting gundul pepohonan tua, memproyeksikan bayangan tak beraturan pada aspal yang retak. Trotoarnya lusuh, dengan akar-akar yang mengangkatnya seolah ingin membebaskan diri dari beton.

Zaira melangkah pelan, lengan bersilang di dada. Angin mengacak rambut panjangnya yang gelap bagai malam, dan setiap helai meluncur di wajahnya bagai belaian rasa rindu. Aroma roti panggang dari sebuah toko roti terdekat memenuhi paru-parunya, membangkitkan kenangan masa kecil: tangan-tangan kecil menguleni adonan bersama ibunya, gelak tawa, tepung di ujung hidung.

Tapi ia tak boleh membiarkan dirinya bermewah-mewah dengan kelembutan.

Dadanya terasa berat. Kekhawatirannya terlalu banyak: sewa rumah sudah mepet, uang kuliah belum terbayar, dan obat-obatan ibunya mulai menipis di lemari. Hidup lolos dari genggamannya bagai pasir kering.

Namun, ada sesuatu yang lain yang menghantam-hantam dadanya, sesuatu yang tak bisa ia kendalikan: Leonardo.

Sejak malam itu, ia tak sanggup berhenti memikirkan pria itu. Aromanya, tangannya yang menjelajahi kulitnya bagai api. Suaranya, yang begitu berat dan berkuasa hingga bergetar di relung paling dalam dirinya. Ia sedikit membencinya karena itu... tapi ia juga mendambakannya. Menantikannya. Bagai sebuah kecanduan.

Setiap kali ponselnya bergetar, jantungnya melonjak. Setiap bayangan yang jatuh di dekatnya, setiap langkah di belakangnya, membuat bahunya menegang oleh campuran berbahaya antara takut... dan harap.

Ia hanya tinggal beberapa meter dari rumahnya ketika ia merasakannya.

Tatapan itu.

Bagai belaian tak kasatmata di punggungnya, bagai getar pengenalan yang menjalari tulang belakang dan membuat kulitnya meremang. Ia berhenti, jantungnya menggebuk-gebuk tulang rusuknya.

Ia berputar perlahan pada tumitnya.

Sebuah mobil hitam, elegan, berlekuk garang dan berkaca gelap, terparkir di sudut jalan, nyaris melebur dengan bayang-bayang senja. Catnya berkilau memantulkan kilau logam, seolah kegelapan itu sendiri yang menyelimutinya.

Zaira menelan ludah. Denyut nadinya berdetak di tenggorokan. Ia mundur selangkah, dan kendaraan itu maju, meluncur di sampingnya bagai pemangsa yang telah menemukan mangsanya.

Kaca jendela belakang turun perlahan, bagai adegan yang diperhitungkan dengan sempurna.

Dan di sanalah ia.

Leonardo.

Berpakaian serba hitam, dengan kerah kemeja terbuka dan jaket ketat yang membentuk bahunya yang bidang. Kedua mata kelabunya, tajam bagai badai, menatap Zaira seolah gadis itu sudah menjadi miliknya.

"Naik." Suaranya perintah yang rendah dan serak, sarat kewibawaan, bagai guruh yang ditahan.

Zaira ragu. Nalurinya menjerit menyuruhnya lari.

Tapi hasrat itu...

Hasrat bodoh dan berang yang membara di perutnya bagai lilin menyala itu membuatnya melangkah. Ia membuka pintu mobil dan menyelinap masuk, merasa sedang melintasi garis tak kasatmata yang entah kapan bisa ia surut kembali.

Bagian dalam mobil beraroma kulit, kayu poles, parfum jantan... dan Leonardo. Aroma yang menyelimuti, memikat. Keheningan di antara mereka pekat, bergetar. Nyaris sensual.

"Kamu mengikutiku?" tanyanya, mencoba terdengar tegas, tapi suaranya keluar lebih gemetar dari yang ia inginkan. Ia menyilangkan lengan, menyembunyikan gugupnya di balik topeng yang rapuh.

Leonardo tak menjawab. Ia hanya menatapnya.

Tatapannya api. Tatapannya es. Tatapannya segalanya sekaligus. Menelanjangi Zaira tanpa malu, menyerapnya, mengklaimnya sebagai miliknya tanpa perlu kata-kata.

Lalu ia membungkuk ke arah gadis itu.

Dan tanpa meminta izin, tanpa memberinya waktu berpikir, ia menciumnya.

Sebuah ciuman yang sama sekali bukan lembut. Dalam, posesif, penuh gairah tertahan yang meledak bagai dinamit. Dunia menghilang. Zaira mencoba melawan, tapi hanya bertahan sedetik. Setelah itu ia menyerah, terperangkap dalam rasa pria itu, dalam listrik yang menyala di antara bibir mereka. Ia mencengkeram jaket Leonardo, hilang arah, gemetar.

Ketika mereka melepaskan diri, keduanya bernapas tersengal. Leonardo menyandarkan keningnya ke kening Zaira, napas hangatnya menyentuh bibir gadis itu.

"Sudah kaupikirkan tawaranku?" gumamnya, dengan suara yang membuat namanya terdengar bagai dosa.

Zaira melepaskan tawa kecil yang gugup, bercampur kerinduan dan takut.

"Belum akhir pekan," ucapnya, seolah itu cukup untuk mengusir apa yang tak terelakkan.

Leonardo tersenyum tipis. Senyum miring, berbahaya, yang justru membuatnya makin memikat.

Ia mengambil sesuatu dari kursi depan. Sebuah ponsel. Elegan. Hitam matte dengan tepian keemasan. Dan ia menyodorkannya tanpa berkata-kata.

Zaira menatapnya seakan itu sebuah bom.

"Ini pasti mahal sekali... aku tidak bisa menerima ini," gumamnya, merasakan tenggorokannya tercekat.

Leonardo, tanpa terusik, menggenggam tangan gadis itu dengan mantap dan meletakkan ponsel itu di telapaknya.

"Ini hanya untuk bicara denganku. Untuk saat-saat kamu membutuhkanku. Dan aku, Zaira..." pupilnya menggelap, "...akan selalu menjawab teleponmu."

Zaira merasa dunia berputar lebih lambat. Bahwa benda itu jauh lebih dari sekadar ponsel: ia sebuah kunci. Sebuah janji. Sebuah vonis.

"Beri aku ciuman," bisik pria itu, suaranya serak.

Zaira mendekat, malu-malu, dan mengecup pipinya. Lalu pipi yang satunya.

Leonardo menggeram lembut, bunyi yang begitu jantan dan purba hingga membuat kulit gadis itu meremang.

"Jangan mempermainkanku, gadis kecilku," ia memperingatkan, mencengkeram pinggang Zaira dengan mantap. "Aku ingin ciuman yang sungguhan. Dengan lidah. Di sini. Sekarang."

Sebelum Zaira sempat bereaksi, ia mengangkatnya dengan kemudahan yang mencengangkan dan mendudukkannya mengangkangi pangkuannya.

Kursi berderit di bawah tubuh mereka. Panas yang naik dari pahanya terasa mendera. Ia merasakan kerasnya pria itu jelas menekan perutnya dan melepaskan napas tersengal yang tertahan.

Leonardo mencengkeram pinggul Zaira, jarinya menekan seakan bisa meninggalkan bekas di kulitnya.

"Lihat apa yang kaulakukan padaku..." bisiknya di telinga gadis itu, napasnya membara.

Zaira mencengkeram bahunya. Ia hampir hilang arah. Nyaris.

Tapi kemudian Leonardo menurunkannya. Dengan lembut, dengan kelembutan yang tak terduga. Ia merapikan gaun Zaira dengan jari yang berhati-hati dan membukakan pintu untuknya.

"Pulanglah, gadis kecilku," katanya, dengan suara rendah dan berbahaya itu. "Pikirkan baik-baik apa yang akan kamu lakukan."

Zaira turun dari mobil, gemetar. Dengan ponsel di tangan, ia menyeberang jalan. Setiap langkah adalah campuran kepastian dan pusaran ragu.

Ia masuk ke rumahnya dengan pipi membara, bibir yang masih terasa geli.

Di kamarnya, ia membuka kotak yang menyertai ponsel itu. Di dalamnya, terlipat rapi, ada lembaran-lembaran uang. Banyak sekali. Lebih banyak dari yang pernah ia lihat bertahun-tahun.

Napasnya memburu.

Ia menyalakan ponsel itu, bersiap menulis pesan untuk Leonardo. Mengembalikan semuanya. Meneriaki pria itu bahwa ia bukan perempuan yang menjual diri.

Tapi sebelum sempat mengetik, pesan itu masuk.

"Terima uang itu. Bayar kuliahmu. Beli obat untuk ibumu. Beli sesuatu yang seksi untuk akhir pekan, karena aku tahu betul, jawabanmu adalah ya."

Zaira terpaku.

Udara membakar paru-parunya.

"Berengsek... Bagaimana kamu bisa tahu begitu banyak tentangku? Apa kamu menyelidikiku?" bisiknya dengan amarah, suaranya pecah.

Tapi jauh di lubuk hatinya, melampaui kemarahan itu... ada kelegaan. Dan ketakutan.

Karena pria itu kini bukan lagi sekadar kenangan. Ia sebuah keputusan.

Dan akhir pekan kian mendekat.

1
Enik Ulandari
aku suka ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!