Ia dijodohkan dengan anak orang kaya di kampungnya. Pria lumpuh dengan latar belakang yang tak enak di dengar. Anak tunggal dari orang terkaya di kampung itu. Cap play boy yang suka mempermainkan wanita melekat sangat kuat di nama si cowok.
Namun, Aulia tetap menerima pernikahan itu karena hutang ayahnya yang besar. Iya. Singkatnya, pernikahan itu karena hutang keluarga yang besar, yang tidak bisa ayahnya kembalikan.
Namun, siapa sangka kalau hidup akan berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode *14
Meskipun Aulia mungkin tidak akan bisa menerima dia dengan baik. Tapi setidaknya, dia sudah menunjukkan kalau dia bisa berubah meskipun sudah terlambat. Tapi, itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.
"Aku tahu kamu pasti tidak suka dengan aku sekarang, Lia. Atau, mungkin rasa tidak suka itu sekarang sudah berubah menjadi benci padaku, kan? Karena aku yang dulu, begitu buruk sampai tidak bisa tertolong lagi."
Sejauh ini, Aulia masih diam. Tidak ada yang ingin ia katakan pada Zihan. Karena itu, Zihan kembali melanjutkan ucapannya.
"Namun, sebelum kecelakaan itu terjadi, aku sadar akan segalanya. Aku sadar semua yang sudah aku lakukan adalah hal yang buruk. Lalu, aku ingin memperbaiki diriku sendiri agar tidak terus-terusan terjerumus dalam lembah hitam yang tidak punya arah tujuan. Saat itulah, aku bertemu Diana."
Nama Diana langsung menarik perhatian Aulia. Meskipun ia tidak ingin berkomentar, tapi rasa penasaran akan siapa Diana yang sebenarnya membuat Aulia harus mengeluarkan kata-kata. Entah karena apa? Tapi, yang jelas hatinya merasa tidak nyaman saat nama itu Zihan ucapkan.
"Diana?"
Respon kecil barusan membuat Zihan sedikit bersemangat untuk melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan. Karena itu, dia berusaha lebih keras untuk membuat Aulia yakin dan percaya jika ia bisa berubah menjadi yang terbaik meskipun dengan ketidaksempurnaan yang ia miliki saat ini.
"Iya, Diana. Kamu ingat dengan gadis yang pernah datang ke rumah kita beberapa waktu yang lalu, bukan?"
Pertanyaan itu langsung membuat air wajah tidak enak terlihat dengan jelas di wajah Aulia. Meskipun sudah berusaha Aulia sembunyikan dengan sangat baik agar Zihan tidak melihatnya.
"Tentu saja aku ingat. Perempuan yang datang, lalu marah-marah pada aku dan juga mbok Yah. Yang bilang kalo kamu gak akan nikah sama perempuan yang tidak mirip dengan wajah ... Diana." Aulia pun langsung menatap serius wajah Zihan.
"Diana itu .... "
Belum sempat Aulia menyelesaikan apa yang ingin ia katakan, Zihan langsung memotong ucapan Aulia dengan cepat. "Diana adalah kakak dari gadis itu. Nama gadis itu Diani, Lia."
"Ke-- kenapa kamu jelaskan padaku? Bukannya itu tidak penting buat aku?" Aulia berucap sambil membuang muka ke samping. Sepertinya, usaha untuk terlihat baik-baik saja sedikit berantakan alias gagal.
"Yah ... mungkin bagi kamu itu tidak penting, Lia. Tapi bagi aku, itu sangat penting. Karena aku ingin kamu tahu kisah masa laluku dengan jelas. Tanpa ada campur tangan dari orang lain yang mungkin akan menambah buruk cerita hidupku yang memang sudah buruk adanya."
"Ya tapi itukan tidak penting, Kak Zihan. Aku ini ...."
"Kamu istriku. Meskipun kamu tidak menganggap aku sebagai suami seutuhnya, tapi kita tetaplah pasangan suami istri yang sah di mata hukum, juga sah di mata agama. Karena itu, aku ingin kamu tahu dengan jelas semuanya. Agar tidak ada rasa tidak nyaman di antara kita."
Aulia terdiam. Tidak ada kata yang bisa ia ucapkan saat ini. Lidahnya terasa berat untuk ia gerakkan. Kata istri yang Zihan ucap, seolah mengeluarkan pancaran ketenangan yang menghangatkan hati. Entah kenapa, ia merasa sedikit nyaman dengan kata itu. Meski kata selanjutnya membuat ia merasa sedikit sedih dan ada rasa bersalah. Karena itu, ia tidak tahu harus berucap apa selain diam dengan tatapan serius melihat ke arah Zihan.
"Aulia. Sebelumnya, aku sempat ingin menikah dengan Diana. Tapi .... "
Zihan lalu menceritakan semua yang sudah ia lalui bersama Diana. Cerita yang sangat detail sampai Aulia sendiri tidak tahu mau menyela seperti apa. Yang bisa Aulia lakukan hanyalah diam dan menjadi pendengar yang baik.
"Begitulah ceritanya, Lia. Aku tanpa sengaja berkata kalau aku hanya ingin menikah dengan perempuan yang mirip dengan Diana saat pemakaman Diana usai. Tapi, beberapa waktu berlalu, aku jadi yakin kalau aku bukan hanya ingin menikah dengan wajah orangnya saja. Melainkan, aku ingin orang yang baik. Sebaik Diana."
"Tapi ... kemudian aku sadar lagi. Sebenarnya, aku tidak mencintai Diana. Ingin bersama dengan Diana hanyalah obsesi hatiku untuk berubah saja. Karena dia datang setelah aku berubah, karena itu aku ingin menikah dengannya sebagai bukti jika aku benar-benar berubah saja."
Aulia pun hanya bisa melongo tak karuan saja mendengarkan cerita Zihan yang langsung membuat ia menimbulkan banyak rasa. Entahlah, di satu sisi, ia kesal akan Zihan yang masih ia cap sebagai playboy tukang main perempuan. Tapi di sisi lain, ia bisa merasakan keseriusan dari cerita Zihan barusan.
Aulia mendadak bingung harus berucap apa. Karena hatinya masih tidak mengerti dengan jelas jalan cerita Zihan. Entah iya yang sengaja tidak ingin memahami cerita itu, atau mungkin juga karena memang ia belum menemukan titik terang yang bisa membuat ia kerasa paham. Tapi yang jelas, hatinya masih belum bisa mempercayai Zihan sepenuhnya.
"Lia."
"Hah! Iy-- iya." Aulia kaget dengan panggilan barusan. Sebelumnya, ia malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia mengabaikan Zihan yang jelas adalah lawan bicaranya sekarang.
Sementara Zihan, karena Aulia terus terdiam, dia pun langsung memanggil sambil menyentuh tangan Aulia yang kebetulan ada di atas meja. Karena panggilan disertai dengan sentuhan itu tentu saja membuat Aulia langsung terkejut dan langsung menimbulkan perasaan gugup seketika.
"Kamu mikir apa sih? Kok kaget gitu saat aku panggil?"
"Eh, ngg-- nggak kok, Kak Zihan. Aku gak mikir apa-apa. He ... sedang mendengarkan cerita kamu tuh aku barusan." Aulia bicara sambil nyengir tak enak.
"Mendengarkan cerita aku, atau memikirkan apa yang aku ceritakan?"
"E ... dua-duanya sama aja sih."
"Gak sama, Aulia Manohara. Mendengarkan, kamu akan langsung merespon saat aku selesai bercerita. Tapi, ketika kamu memikirkan, maka kamu akan sibuk dengan apa yang kamu pikirkan sendirian. Lengkap dengan pendapat dari kamu sendiri tentang apa yang aku ceritakan. Contohnya, seperti yang kamu lakukan barusan. Saat aku panggil, kamu baru merespon dengan tanggapan kaget seperti aku yang tiba-tiba datang dari arah belakang ketika kamu fokus dengan sesuatu yang membuat kamu lupa akan dunia sekeliling."
Penjelasan panjang lebar itu membuat Aulia langsung bungkam akibat tidak tahu apa yang harus ia katakan. Dan satu-satu hal yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah, nyengir kuda karena apa yang Zihan katakan membuat ia benar-benar tidak bisa berpikir dengan baik.
Tanggapan yang Aulia berikan malah membuat Zihan merasa gemes akan wajah sang istri. Ia pun hanya menggelengkan kepalanya saja dengan gelengan pelan. Lalu, tak lupa ia perlihatkan senyum kecil khas miliknya.
"Hm ... kamu ini, Lia. Terkadang, aku merasa kalau kamu adalah gadis kecil yang ayah pilih untuk aku. Tapi, ada kalanya kamu berubah. Berubah menjadi seseorang yang aku sendiri kerasa minder untuk menjangkau mu."