Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.
Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.
Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.
Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Terus Berputar 19.
Jam istirahat sudah selesai, murid yang masih berada di kantin beranjak pergi ke dalam kelas nya masing-masing.
Cuma untuk kelas sembilan C sehabis istirahat ada pelajaran olahraga, dimana Livy kini bersama Fanya, Lasma dan Mayang yang masih berada di kantin, seolah bel pengingat itu hanyalah angin untuk mereka.
Ini bukan mereka mau bolos, hanya saja keempat gadis itu sudah berganti pakaian olahraga.
Tapi itu tidak berlaku untuk Galang yang belum berganti pakaian olahraga.
Dibalik meja belakang paling pojok, pemuda itu diam-diam memperhatikan Livy dari jauh, tidak peduli saat Anwar teman sebangkunya meminta Galang buat gercep ganti pakaian olahraga.
"Duluan saja bro" Kata Galang seraya menopang dagu menatap punggung mungil Livy yang masih asik bercandaan.
Anwar melihat apa yang ditatap oleh Galang, ia pun terkekeh samar. "Sumpah saya gak habis pikir, seolah dunia kamu sudah terbalik bro, dulu Livy yang perhatiin kamu dari jauh, nah sekarang situ yang balik perhatiin"
Ketika Livy dan ketiga geng nya sudah beranjak dari tempat duduk. Galang tiba-tiba bangkit disaat Anwar melangkah mengembalikan piring siomay ke ibu kantin. Hingga Anwar mendapati sebuah pernyataan, meleng dikit —ditinggal dah tuh anak, pada akhirnya Anwar misuh-misuh. "Dasar anak dajjal, ditungguin malah ninggalin!"
Anwar yang kesal langsung berlari menyusul Galang, hingga berhasil menemukannya di balik tembok dekat toilet wanita.
Anwar penasaran melihat apa yang dilihat oleh teman sebangkunya, dia tidak tahu sama sekali masalah ini. Telinganya cukup terdengar jelas Kiara si murid baru dari kelas sembilan F sedang menelpon seseorang,
"Papa tenang saja, malam ini Ara coba ngajak Galang ke kelab malam. Ara coba pakai cara liar kalau cara lembut tidak berefek"
Ara terdiam sejenak, mendengar suara papah nya yang lagi menjawab.
"Iya pah, Ara berusaha maksimal menaklukan Galang dengan cara seperti itu, karena pikir Kiara itu satu-satunya cara buat mengikat Galang lewat pernikahan paksa di—"
BRAK!!
Kalimat Kiara dibalik benda pipih yang ada di telinga itu mendadak terpotong saat Galang yang tiba-tiba masuk ke dalam dengan cara menendang pintu secara kasar. Bahkan hp yang tadi menempel di telinga Kiara, kini merosot jatuh ke lantai karena saking kagetnya mendengar suara pintu yang sengaja di hentak.
"Ga-Ga-Galang" Kiara terbata-bata panik luar biasa.
"Bagus" Galang tepuk tangan dengan tampang senyum miring tipis nya. "Dekatin saya rupanya cuma karena itu, baguuuus"
Kiara mengambil hp dilantai untuk mematikan sambungan telpon papahnya, gadis itu tertegun seolah bingung ingin mengelak seperti apa. "I-ini drama Lang, saya mana mungkin mau berbuat hina seperti itu.. Haha, iya ini drama aja kok" Kiara tersenyum palsu.
Sementara Galang mendengus sinis, sebelum ia menatap Kiara dengan tatapan tajam. "Dengar ya Kiara, detik ini pintu sudah terbuka lebar-lebar untuk kamu jauh-jauh dari pandangan saya... Silahkan kamu jauhi saya. Tapi, jika kamu nekat jebak saya ke kelab malam, saya akan bersumpah hidupmu akan berubah seperti di neraka" Kata Galang, hal itu membuat mental Kiara langsung menurun.
"I-iya kak, maaf— " Gumam Kiara.
"Bagus" Jawab Galang singkat, mempersilahkan Kiara untuk pergi dari hadapannya.
"Lang ini serius? Jangan galak-galak sama cewek bro, enggak ada yang mau nanti" Timpal Anwar memberi nasehat.
"Cewek sinting seperti dia perlu di gertak, tuman kalau dibiarin" Jawab Galang tenang, sebelum ia balik badan, bersiap berganti seragam olahraga.
**
Dua puluh menit kemudian..
Materi pelajaran olahraga minggu ini adalah praktik penilaian teknik passing bawah bola voli. Livy mengambil posisi, menekuk lututnya dengan saksama, lalu menyambut bola yang dilemparkan guru olahraga dengan sebuah dentuman bersih.
Buk!
Bola melambung sempurna ke dalam keranjang sasaran.
Galang tanpa sadar menahan napas. Tangannya yang memegang botol air mineral meremas plastik itu hingga memekik pelan.
Ada sesuatu yang hilang dari tatapan Livy saat mata mereka tidak sengaja berpapasan sedetik lalu. Tidak ada lagi binar memohon. Tidak ada lagi kepanikan cemas khas seorang "cegil" yang takut kehilangan dunianya.
Tatapan Livy kosong, datar, seolah Galang sudah menjadi sebuah tiang net di tengah lapangan.
"Woi, Lang! Bengong aja kamu," sebuah sikutan keras mendarat di lengan Galang.
Faisal, yang duduk di sebelahnya di tribun kayu, tersirat terkekeh geli sambil mengikuti arah pandang Galang.
Begitu menyadari siapa yang sedang diperhatikan teman sekelasnya, tawa Faisal langsung meledak, memancing perhatian anak-anak cowok lain dari kelas Sembilan C
"Anjir, dunia beneran terbalik!" seru Reza cukup keras, membuat beberapa orang menoleh. "Dulu kita musti pasang barikade biar si Livy enggak nempelin kamu kayak prangko. Sekarang? Malah kamu yang matanya kayak mau copot ngeliatin dia."
"Bukan cuma terbalik, Za. Ini namanya karma instan," Sahut Anwar dari baris belakang, ikut mengejek. "Dulu dikejar-kejar jor-joran sampai bikin bekel tiap pagi dibuang, sekarang ditinggal dikit langsung linglung ya, Lang?"
Wajah Galang memanas. Campuran antara malu, kesal, dan rasa sesak yang semakin liar mendadak menyumbat tenggorokannya.
Dulu, ejekan teman-temannya tentang "cegil Livy" selalu membuatnya bangga atau setidaknya merasa di atas angin.
Galang terbiasa menjadi pusat gravitasi Livy.
Galang terbiasa mengabaikan pesan singkat yang masuk beruntun setiap jam, mengabaikan kotak makan siang yang disodorkan dengan tangan gemetar, dan mengabaikan air mata Livy saat ia jalan dengan cewek lain. Siapapun itu sebelum Kiara datang ke sekolah ini.
Di lapangan, giliran Livy sudah selesai. Ia berjalan ke pinggir lapangan sambil mengelap keringat dengan handuk kecil.
Di sana, sudah ada Hanafi yang semakin gencar mendekati Livy di sekolah, pemuda itu terlihat menyodorkan sebotol minuman dingin yang masih berembun. Livy tersenyum. Senyum tulus, lepas, jenis senyuman yang dulu selalu Galang tukar dengan kerutan dahi penuh pasrah.
Dada Galang berdenyut nyeri. Sangat nyata, hingga ia harus mencengkeram dadanya sendiri secara samar. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya erat-erat. Ia ingin berdiri, berjalan ke sana, dan merebut botol itu. Ia ingin meneriaki Livy bahwa tempat cewek itu seharusnya berada di dekatnya, mengganggunya seperti biasa.
"Saya ke toilet dulu," kata Galang, mengabaikan tawa riuh teman-temannya yang masih terus menggoda.
Saat melangkah keluar dari lapangan, Galang sempat menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.
Livy sedang tertawa bersama Hanafi. Sinar matahari terus mengenai wajahnya, membuatnya tampak begitu bersinar sekaligus begitu mustahil untuk dijangkau kembali. Galang mengepalkan tangannya di dalam saku celana.
Dunia memang sudah terbalik, dan Galang tidak ingin munafik, ia telah mengakui itu.
......................
...****************...
To be continue,