Indonesia
NovelToon NovelToon
KISAH CINTA YANG BERACUN

KISAH CINTA YANG BERACUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

`KISAH CINTA YANG BERACUN`

Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.

Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.

Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.

Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.

Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`

Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.

Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.

Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.

Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

---KISAH CINTA YANG BERACUN *BAB 3: Langkah Pertama di Istana Iblis*

---KISAH CINTA YANG BERACUN

*BAB 3: Langkah Pertama di Istana Iblis*

Pagi itu, gerbang besi tempa yang menjulang tinggi milik SMA Ozawa School berdiri angkuh di balik hamparan kabut tipis. Arsitektur gedung bergaya gothic modern di baliknya memancarkan aura kemewahan yang dingin, seolah menegaskan garis pemisah yang tegas antara para penguasa kota dan rakyat jelata.

Mobil-mobil mewah keluaran terbaru—mulai dari Porsche, Bentley, hingga Mercedes-Benz—berderet rapi menurunkan para murid berseragam klimis. Di antara riuh rendah suara mesin mobil, gelak tawa bernada merendahkan, dan lalu lalang anak-anak konglomerat yang sibuk memamerkan barang brand, sebuah langkah kaki berhenti tepat di depan garis gerbang utama.

Lea Anggita berdiri di sana.

Rambut warna karamelnya yang biasa terurai bebas dalam gaya effortless ala gadis Australia, kini terikat rapi dalam kuncir kuda sederhana—persis seperti gaya rambut yang selalu disukai Alia. Wajah cantiknya polos tanpa polesan makeup mencolok, membingkai garis wajah yang seratus persen identik dengan saudara kembarnya.

Namun, di balik seragam blazer biru tua bernoda emas yang terpasang rapi di tubuhnya, tidak ada sedikit pun aura ketakutan. Ada keberanian liar yang tersembunyi rapat, sebuah naluri pemangsa yang tidak pernah dimiliki oleh Alia yang lembut.

Lea menghembuskan napas pelan, membiarkan udara dingin Jakarta menyapu wajahnya. Ia merapikan kerah bajunya, menyesuaikan ransel hitam yang terasa ringan di bahunya, lalu memejamkan mata sejenak. Bayangan tubuh Alia yang terbaring koma di bangsal rumah sakit, dikelilingi kabel-kabel mesin penunjang hidup, berputar cepat di memorinya.

_Ini demi kamu, Alia. Aku akan meruntuhkan dunia mereka untukmu._

Saat Lea membuka mata, tatapannya telah berubah menjadi selapis es yang tidak dapat ditembus. Ia menginjakkan kaki melewati garis gerbang.

Dampak keberadaannya terasa seketika. Seperti efek domino, riak-riak bisik-bisik kasak-kusuk langsung tercipta bagaikan gelombang liar di sepanjang pelataran sekolah. Langkah demi langkah yang diambil Lea menarik pasang mata di sekelilingnya.

"Tunggu... itu bukannya Alia?"

"Demi apa?! Dia masih punya muka buat datang ke sekolah setelah video taruhan itu terbongkar?!"

"Mukanya tebal banget, anjir. Kalau aku jadi dia, aku udah gantung diri atau minimal pindah negara karena malu."

"Lihat deh... kok cara jalannya agak beda, ya? Biasanya kan nunduk-nunduk kayak cacing tanah."

"Paling cuma pura-pura tegar. Anak beasiswa kayak dia bisa apa selain pasrah?"

Lea mendengar setiap kata makian, cemoohan, dan tawa berbisik yang diarahkan padanya. Jari-jarinya di dalam saku blazer terkepal erat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan, meninggalkan bekas kemerahan.

Namun, raut wajahnya tetap datar, tanpa cela, tanpa kepanikan. Ia tidak menunduk ketakutan, tidak mempercepat langkah untuk bersembunyi di toilet, dan tidak meneteskan air mata seperti yang sangat dinantikan oleh orang-orang di sekolah ini. Sebaliknya, Lea berjalan dengan punggung tegak lurus, dagu terangkat penuh harga diri, dan tatapan mata yang menyapu sekeliling dengan dingin.

Ia melangkah masuk menaiki tangga marmer menuju koridor utama gedung sekolah. Bau parfum mahal dan aroma lilin aromaterapi yang menyeruak di koridor tidak sanggup menutupi kebusukan moral tempat ini. Lea menyusuri lantai marmer yang mengkilap, merasakan atmosfer intimidasi yang sengaja dibentuk untuk menindas murid-murid dari strata bawah seperti kembarnya.

Tiba-tiba, riuh suara murid-murid di koridor mendadak redup. Kerumunan anak-anak kelas 10 dan 11 yang tadinya berdiri mengobrol di depan loker langsung bergeser ke tepi dinding, terbelah menjadi dua jalur secara otomatis. Mereka memberikan jalan dengan penuh rasa segan sekaligus takut bagi sang penguasa tertinggi di hirarki sekolah ini.

Di ujung koridor, berjalan santai dengan kedua tangan tersimpan acuh tak acuh di dalam saku celananya, adalah Teo Ozawa.

Sebagai murid kelas 12 sekaligus putra tunggal dari pemilik yayasan sekolah, Teo memiliki aura dominasi alami yang menakutkan. Seragam blazernya terpasang sempurna pada tubuh tingginya yang tegap dan proporsional. Wajahnya tampan luar biasa—perpaduan garis wajah Asia yang tegas, rahang keras, serta mata tajam sewarna obsidian yang selalu menatap dunia dengan kepicikan dan rasa bosan. Di samping kiri dan kanannya, beberapa teman seangkatan dan anggota gengnya tertawa lebar, mengagumi kepemimpinan tak tertulis milik Teo.

Bagi Teo, hari-harinya di SMA Ozawa sangatlah membosankan. Tiga minggu lalu, ia menuntaskan sebuah 'permainan' kecil dengan menjadikan gadis beasiswa lugu bernama Alia sebagai bahan taruhan. Bagi Teo, permainan itu sudah lama selesai begitu rahasianya terbongkar di hadapan publik. Ia mengira adik kelasnya yang malang itu cuma sedang mengurung diri di rumah, menangis bombay karena patah hati dan malu. Gadis itu hanyalah salah satu dari sekian banyak mangsa yang pernah ia patahkan, sebuah bab lama yang sama sekali tidak bernilai.

Namun, kalkulasi Teo patah saat matanya menangkap sosok siswi kelas 11 yang berdiri menyendiri di tengah-tengah koridor utama. Tepat di jalur jalannya.

Langkah Teo terhenti seketika.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, senyum malas dan arogan di wajah Teo memudar. Matanya memicing tajam. Ada keterkejutan kilat yang melintas di manik matanya—ia sama sekali tidak menyangka junior yang telah ia hancurkan sampai ke dasar itu bakal berani menginjakkan kaki lagi di istananya. Lebih dari itu, ada sesuatu yang salah. Gadis di hadapannya saat ini tidak memperlihatkan jejak-jejak kehancuran, tidak ada mata sembap ketakutan, atau tubuh yang gemetar menanti belas kasihan.

Lea tidak memutus kontak mata sedikit pun. Ia berdiri mengunci tatapan Teo, membiarkan jarak di antara mereka menyempit saat Teo akhirnya kembali melangkah mendekat. Koridor sekolah seketika berubah menjadi arena perang yang senyap. Suasana begitu hening hingga suara ketukan sepatu mereka bergaung di dinding marmer.

Ketika Teo berhenti tepat di hadapan Lea—hanya menyisakan jarak satu meter—hawa dingin yang tebal dan intimidatif langsung melingkupi udara di antara mereka. Teo menunduk sedikit, menatap Lea dari ketinggian tubuhnya dengan pandangan merendahkan.

"Alia?" suara Teo terdengar berat, bass, dan dipenuhi nada cemoohan yang kental.

"Aku kira kamu udah cukup tahu diri buat gak pernah muncul lagi di depan muka aku."

Seluruh murid yang berbaris di sepanjang koridor menahan napas serentak. Beberapa dari mereka sudah mengeluarkan ponsel secara sembunyi-sembunyi, siap merekam momen ketika 'Alia' bertekuk lutut, menangis, atau memohon ampun pada sang senior seperti biasanya.

Namun, skenario yang mereka tunggu tidak pernah terjadi.

Lea justru maju satu langkah, mengikis jarak hingga aroma parfum kayu cendana milik Teo menyeruak tegas di indra penciumannya. Ia mendongak santai, menatap lurus ke dalam manik mata Teo yang gelap dan berbahaya. Bukannya gemetar, sudut bibir Lea justru terangkat perlahan, mengukir sebuah senyuman tipis yang sangat manis... namun menyimpan racun yang mematikan.

"Kenapa, Teo?" bisik Lea. Suaranya lembut berangin, namun memiliki intonasi yang cukup tegas hingga gaungnya memantul di antara riak hening koridor.

"Kamu takut melihat korbanmu ternyata masih bernapas?"

Mendengar nama kecilnya dipanggil secara langsung tanpa sebutan 'Kak'—tanpa rasa hormat, tanpa ketakutan, dan tanpa kepasrahan—pandangan Teo membeku. Dahi Teo berkerut halus. Keberanian liar dari siswi kelas 11 di hadapannya ini adalah variabel yang tidak pernah ada dalam perhitungannya.

Namun, Teo Ozawa bukanlah orang yang mudah digoyahkan. Bukannya meledak murka atau kehilangan kendali, sudut bibir Teo justru terangkat naik. Ia mengukir senyuman sinis yang teramat meremehkan, menganggap keberanian mendadak ini hanyalah sebuah pertunjukan teater yang menyedihkan.

Dengan gerakan cepat yang santai namun penuh tekanan, tangan kanan Teo melayang dan langsung mencengkeram pergelangan tangan Lea dengan kuat. Ia menarik tubuh gadis itu mendekat secara kasar, hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Napas hangat Teo menerpa kulit wajah Lea.

"Menarik," bisik Teo dingin. Matanya menatap Lea dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang begitu tajam, seolah sedang menguliti jiwa gadis itu.

"Apa kamu lagi mencoba teknik baru agar aku tertarik? Mengubah gaya bicara? Menghilangkan kesopananmu?"

Teo terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang terdengar sangat kejam di telinga siapa pun yang mendengarnya.

"Sayang sekali, Alia," lanjut Teo, memiringkan kepalanya sedikit sembari mempererat cengkeramannya di pergelangan tangan Lea hingga memerah.

"Aku tidak akan pernah tertarik dengan gadis membosankan dan murahan sepertimu. Mau berapa kali pun kamu mencoba bertingkah beda, kamu tetaplah sampah yang sama."

Rasa panas membakar kulit pergelangan tangannya yang dicengkeram, namun Lea bahkan tidak berkedip. Mata karamelnya yang jernih tetap mengunci tatapan mata Teo tanpa ada gurat rasa sakit sedikit pun. Raut wajah datar Lea membuat senyum sinis di wajah Teo perlahan-lahan mengendur.

Lea mendekatkan wajahnya tepat ke samping telinga Teo. Dengan napas yang berhembus pelan di kulit leher sang tiran, Lea membisikkan sebuah kalimat dingin yang berhasil membuat bulu kuduk Teo berdiri seketika:

"Permainan taruhanmu kemarin membosankan, Teo. Sekarang... giliranku yang memegang kendali."

Sebelum Teo sempat memproses arti dari kata-kata itu, Lea menghentakkan tangannya dengan sentakan sudut yang presisi, melepaskan cengkeraman Teo secara paksa. Tanpa menunggu respon lebih lanjut dari sang penguasa sekolah yang terpaku, Lea melangkah melewatinya begitu saja, membiarkan bahu mereka bersenggolan pelan.

Lea berjalan lurus menuju kelasnya di ujung koridor, meninggalkan Teo yang berdiri mematung di tengah kerumunan murid yang ternganga.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah SMA Ozawa, seseorang baru saja menantang Teo Ozawa tepat di wajahnya—dan permainan berdarah itu resmi dimulai.

---

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
suka cwek badasss gini
Park ha: ini versi kebalikannya kinara wkwkkw... kinara sana rian dah mau tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!