Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Transmigrasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyvara

Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

​Jumat siang, usai kemenangan mutlak di ruang Kepala Sekolah. ​Kekalahan telak Geng Serigala dalam taktik kampanye hitam mereka tidak membuat Bella berpuas diri. Dalam manajemen risiko, menangkis serangan saja tidak cukup. Seorang pemimpin harus melakukan tindakan preventif agar serangan serupa tidak terulang di masa depan (Risk Mitigation).

​Bella mengumpulkan keempat jajaran eksekutifnya di perpustakaan pada jam istirahat kedua, ia membuka laptop-nya dan mulai mengetik dengan kecepatan yang membuat Tono dan Bono pusing hanya dengan melihatnya.

​"Bos lagi bikin apaan?" bisik Rindi kepada Dion.

​"Bikin mantra kutukan kayaknya. Lo lihat aja matanya, nggak berkedip dari tadi" balas Dion berbisik.

​Bella menekan tombol Print (Cetak) dan mesin printer di sudut perpustakaan mengeluarkan selembar kertas HVS yang penuh dengan teks formal berlogo khusus yang baru saja ia desain secara kilat, logo perisai dengan inisial 'UMK' (Unit Manajemen Krisis). ​Bella kemudian mengambil kertas itu, melipatnya rapi, dan memasukkannya ke dalam amplop cokelat berlogo perusahaan ayahnya (yang sengaja ia manfaatkan untuk menambah efek intimidasi korporat).

​"Dion," Bella menyodorkan amplop tersebut. "Ini adalah misi diplomatik pertamamu sebagai Head of Internal Security. Kamu tahu di mana markas utama Geng Serigala?"

​Dion menerima amplop itu dengan alis berkerut. "Tahu, Bos. Mereka biasanya nongkrong di bekas bengkel tua belakang SMA Kencana. Tapi bos, nyuruh gue ke sana? Sendirian? Ini misi diplomatik atau misi bunuh diri?"

​"Ini adalah pengiriman dokumen legal (Cease and Desist Order/Somasi)," jawab Bella tenang. "Kamu tidak akan bertarung. Kamu hanya datang, menyerahkan amplop ini kepada Leo bukan Toni, pastikan langsung ke tangan Leo dan lalu putar balik untuk pulang. Jika mereka mencoba memprovokasi, tahan dirimu. Ingat KPI Kedisiplinan."

​"Tapi Bos, kalau mereka langsung ngeroyok gue gimana?"

​"Mereka tidak akan melakukannya," Bella tersenyum dingin. "Preman jalanan beroperasi berdasarkan dominasi psikologis. Jika kamu datang sendirian, tanpa senjata, tanpa rasa takut, dan hanya menyerahkan sebuah amplop, otak primitif mereka akan kebingungan dan mengalami kelumpuhan analisis (analysis paralysis). Mereka akan mengira kamu membawa jebakan atau di back-up oleh polisi. Percayalah pada probabilitas psikologis ini."

​Dion menelan ludah, menatap amplop cokelat di tangannya seolah itu adalah bom waktu. Namun, kepatuhannya pada otoritas mutlak Bella mengalahkan rasa takutnya. "S..siap, Bos. Gue laksanakan."

​Satu jam kemudian, di bekas bengkel tua belakang SMA Swasta Kencana. ​Belasan anggota Geng Serigala sedang tertawa-tawa sambil menghisap rokok. Toni sedang menyombongkan diri tentang bagaimana ia menyuruh anak-anak kelas sepuluh menyemprotkan grafiti di SMA Garuda tadi subuh. Di sudut ruangan, duduk di atas tumpukan ban bekas, adalah Leo sang Ketua Geng Serigala. Wajahnya tampan namun keras, dihiasi bekas luka melintang di pipi kirinya.

​Tiba-tiba, suara deru motor tunggal memecah suasana. Dion memarkir motornya tepat di depan bengkel, turun, dan berjalan masuk dengan wajah datar yang ia pinjam dari ekspresi andalan Bella. Suasana bengkel seketika senyap. Belasan anggota Geng Serigala langsung berdiri, mengambil rantai, balok kayu, dan kunci inggris. Toni menyeringai lebar, mengeluarkan pisau lipatnya.

​"Wah, wah... lihat siapa yang datang," ejek Toni, melangkah maju. "Anjing peliharaannya Bella. Nyari mati lo datang sendirian ke sini?"

​Dion merasakan jantungnya berdegup kencang, namun ia teringat instruksi bosnya. Tanpa senjata. Tanpa rasa takut. Fokus pada eksekusi tugas.

​Dion mengabaikan Toni sepenuhnya, seolah Toni hanyalah debu tak kasat mata. Pandangan Dion terkunci lurus ke arah Leo yang masih duduk di atas tumpukan ban. Dion berjalan mantap melewati Toni, membuat Toni kebingungan.

​"Woy! Lo budek?!" bentak Toni, mengangkat pisaunya.

​"Toni, diam," suara bariton Leo bergema rendah, menghentikan pergerakan Toni seketika. Leo menatap Dion dengan pandangan menilai, ia mencium ada yang tidak beres. Tidak ada anggota geng waras yang datang sendirian ke sarang musuh hanya dengan tangan kosong jika tidak memiliki kartu as.

​Dion berhenti tepat dua meter di depan Leo. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengeluarkan amplop cokelat tebal berlogo perusahaan eksklusif itu dari dalam jaketnya, lalu melemparkannya ke pangkuan Leo.

​"Surat cinta dari Bos gue," kata Dion datar. Ia kemudian berbalik, memasukkan tangannya ke saku jaket dan berjalan keluar bengkel tanpa menoleh ke belakang.

​Toni dan anak buahnya terlalu tercengang melihat keberanian (atau kegilaan) itu hingga mereka membiarkan Dion menaiki motornya dan melaju pergi dengan selamat, probabilitas psikologis Bella terbukti 100% akurat.

​Leo membuka amplop tersebut, di dalamnya terdapat surat satu halaman dan beberapa lembar foto (print-out). Foto itu adalah gambar Tono memegang kaleng cat berlogo Toko Material Kencana Makmur serta foto tangkapan layar pasal-pasal KUHP tentang perusakan fasilitas.

​Leo-pun membaca surat tersebut:

​Kepada Sdr. Leo (Ketua Geng Serigala),

​Melalui surat ini, Unit Manajemen Krisis SMA Garuda memberikan Peringatan Keras (Cease and Desist) terkait tindakan vandalisme dan Pelanggaran Merek Dagang yang dilakukan oleh bawahan Anda (Sdr. Toni) di area properti sekolah kami pada hari Jumat pagi.

​Terlampir adalah bukti forensik dan digital yang telah kami kumpulkan. Bukti-bukti ini sudah divalidasi oleh Kepala Sekolah kami dan saat ini tersimpan aman di server Cloud (Cloud Storage) yang terkunci.

​Jika pihak Anda melakukan satu kali lagi tindakan provokasi, sabotase, atau kontak fisik terhadap personel maupun fasilitas kami, saya tidak akan membalas dengan kekerasan jalanan. Saya akan mengirimkan bukti-bukti ini langsung ke meja Kepala Sekolah Anda dan Kepolisian Resor setempat. Organisasi Anda akan dilikuidasi secara hukum, dan anggota Anda akan dikeluarkan dari sekolah tanpa pesangon akademis.

​Jangan mengganggu jam operasional kami, maka kami tidak akan menghancurkan masa depan Anda.

^^^*​**Tertanda**,^^^

^^^Bella Anastasia^^^

^^^Chief Executive Officer***.^^^

​Leo terdiam cukup lama setelah membaca surat itu. Otot rahangnya menegang, namun senyum tipis berupa senyum yang sangat berbahaya perlahan muncul di bibirnya.

​"Leo, apaan tuh? Surat tantangan tawuran?" tanya Toni penasaran.

​"Bukan," jawab Leo, meremas surat itu pelan. "Ini adalah surat ancaman penahanan pidana, dan gadis ini tidak sedang menggertak."

​Leo menatap ke arah luar bengkel. "Tarik semua pasukan dari area perbatasan Garuda. Jangan ada yang berani menyentuh anggota Bone Breakerz sampai ada perintah dariku. Bos baru mereka... bermain di level yang sama sekali berbeda."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!