hiduplah seorang penyihir cantik yang bernama Elizabeth bertemu dengan raj vampir .dan dia diam" mngandung ada vampir . sampai dia Terusir oleh ayahnya sendiri .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Latief_ayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 22
Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya tumpah membasahi pipi Elizabeth, mengalir deras tak terbendung lagi. Ia menggenggam erat tangan mungil Leon yang kini terasa hangat kembali, menatap wajah putranya yang perlahan tampak segar kembali dengan pandangan penuh kasih sayang yang bercampur kelegaan luar biasa.
Suaranya terdengar bergetar lembut, namun penuh dengan rasa cemas yang baru saja ia rasakan:
"Anak nakal... Membuat Ibu hampir setengah mati ketakutan... Jangan buat Ibu takut seperti itu lagi, ya..." bisiknya pelan sambil mencium kening putranya berkali-kali, tak ingin melepaskan genggaman tangan itu walau sedetik pun.
Tak jauh dari sana, dua orang pelayan setia yang berdiri menjaga di ambang pintu saling berbisik pelan, tak berani menambah kegaduhan di ruangan itu.
"Racun yang menggerogoti tubuh Tuan Muda sudah sepenuhnya dibersihkan..." ucap pelayan pertama perlahan. "Namun... tampaknya energi roh Tuanku Raja Draven terkuras habis demi menyelamatkannya..."
Pelayan kedua mengangguk pelan, matanya melirik sekilas ke arah Rajanya yang tampak pucat dan lemas namun tetap menatap putranya dengan senyum penuh kasih sayang. "Benar... Kekuatan yang dikurasikan begitu besarnya... demi menyelamatkan nyawa satu nyawa putranya..."
Di tengah keheningan yang penuh haru itu, Draven perlahan berdiri. Ia mengangkat tubuh mungil Leon dengan penuh kelembutan ke dalam pelukannya yang hangat dan kokoh.
Menatap wajah Elizabeth yang masih tampak cemas, Draven berujar dengan suara rendah namun penuh keyakinan dan ketegasan:
"Janganlah kau khawatir. Meski racunnya telah hilang, namun kekuatan tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Aku akan membawanya... ke Mata Air Kehidupan yang suci.
Di sana, selama tujuh hari tujuh malam, ia akan menyerap seluruh esensi dan kekuatan murni dari mata air itu... sehingga tubuhnya akan pulih seutuhnya, bahkan menjadi lebih kuat dari sebelumnya."
Draven menatap lekat-lekat wajah putranya yang tersenyum lemah di pelukannya, lalu kembali menatap Elizabeth dengan pandangan yang menenangkan hati wanita itu seketika.
"Tunggulah di sini... Aku akan membawanya pulih kembali. Tak akan ada bahaya yang menyentuhnya... selama ia berada di dekatku."
Tanpa menunggu lama lagi, dengan hati yang mantap dan penuh tekad, Raja Draven berbalik perlahan. Ia melangkah keluar dari ruangan itu, membawa Leon yang masih bersandar lemas namun tenang di pelukannya, menuju tempat yang suci dan penuh kekuatan penyembuhan demi kesembuhan putra mahkota yang baru saja ia temukan kembali itu.
Leon mendongak perlahan, menatap bergantian ke wajah ibunya yang masih basah berair dan ke wajah ayahnya yang tampak lelah namun tetap tersenyum penuh kasih sayang. Dengan suara lembut namun jernih dan penuh kepastian, ia berujar pelan:
"Ayah... Ibu... aku akan menunggu... datanglah menjemputku..."
Elizabeth menunduk, mencium kening putranya sekali lagi dengan penuh kelembutan, lalu mengusap pipi mungil itu sambil tersenyum di sela sisa air matanya.
Suaranya terdengar lembut namun menenangkan:
"Pergilah bersama Ayah... beristirahatlah dengan tenang, Nak... semoga kau pulih sepenuhnya dan kembali segar seperti sediakala."
Raja Draven menatap putranya dalam-dalam, seakan ingin menyimpan senyum itu di dalam hatinya selamanya. Ia merapatkan pelukannya sedikit lebih erat, lalu berjanji dengan suara yang teguh dan penuh janji yang tak akan pernah diingkari:
"Percayalah... saat kau kembali nanti, Ayah akan mengajarimu terbang... melesat tinggi menembus awan... bersama-sama."
Leon tersenyum lebar mendengar janji itu, matanya berbinar bahagia. Ia menyandarkan kepalanya kembali di dada bidang ayahnya, merasa tenang dan nyaman sepenuhnya. Draven melirik sekilas ke arah Elizabeth, mengangguk pelan penuh keyakinan, lalu berbalik perlahan melangkah pergi membawa Leon menuju tempat kesucian itu, meninggalkan Elizabeth yang berdiri terpaku memandangi punggung mereka berdua hingga perlahan menghilang dari pandangan, menyisakan harapan dan keyakinan yang perlahan tumbuh kembali di hatinya.