Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:326
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lari Ke Kegelapan

Di kamar yang remang, Bima berjalan mondar-mandir. Langkah kakinya berat, pikirannya berkecamuk tak menentu. Malam itu terasa lebih gelap dari biasanya, seakan menelan segala harapan yang tersisa.

"Harus bagaimana? Jika kebenaran terungkap, semuanya akan hancur. Tapi anak itu… darah dagingku sendiri. Tak mungkin kubiarkan pergi begitu saja."

Bima berhenti di tepi jendela, menatap kegelapan di luar. Berjam-jam ia berpikir, menimbang setiap kemungkinan, mencari celah yang bisa menyelamatkan segalanya, nama baik, pernikahan, masa depan, sekaligus anak yang sedang tumbuh di dalam rahim Mawar. Hingga akhirnya satu gagasan muncul, perlahan menguat, dan mengukuhkan dirinya seolah itulah satu-satunya jalan keluar yang paling tepat.

"Ya… begitulah. Tidak ada yang perlu hancur. Semua akan mendapat apa yang diinginkannya. Jingga akan memiliki anak yang ia dambakan, keluargaku mendapat pewaris, dan Mawar… ia bisa hidup tenang tanpa siapa pun tahu kebenarannya."

Tanpa membuang waktu, Bima bergerak perlahan, memastikan tak ada siapa pun yang melihat. Ia menyelinap menuju ruangan belakang tempat Mawar menyendiri, menutup pintu rapat-rapat setelah masuk, lalu mendekat ke arah gadis yang masih berlutut di lantai, tubuhnya gemetar menahan tangis yang tertahan.

Senyum tipis yang mengerikan kembali terukir di bibir Bima, bukan senyum kebahagiaan, melainkan senyum seseorang yang merasa telah memecahkan teka-teki paling sulit. Ia menarik napas panjang, lalu berbicara dengan nada yang dibuat-buat lembut dan penuh pertimbangan, seolah segala yang ia ucapkan demi kebaikan semua pihak.

"Mawar. Dengarkan aku baik-baik. Aku sudah memikirkannya matang-matang. Tidak ada yang perlu hancur, semua akan baik-baik saja." Bima berjongkok lebih dekat, manik matanya menatap tajam ke arah mata Mawar yang bengkak dan merah karena menangis.

"Nanti saat bayi ini lahir… kita akan membesarkannya bersama. Jingga belum juga memiliki anak, kau tahu itu. Jadi kita akan meyakinkan semua orang bahwa anak ini adalah anakku dan Jingga. Kau… kau akan menandatangani surat persetujuan penyerahan anak. Setelah itu kau bebas menjalani hidup yang kau mau, tidak ada yang perlu tahu siapa ibu kandungnya."

Mawar mengangkat wajahnya perlahan, matanya membelalak tak percaya. Air mata masih mengalir deras di pipinya yang pucat, membasahi kulit yang kini terasa dingin dan lembap.

"Apa… kau bilang menyerahkan anakku? Kau ingin aku melahirkan, lalu kau ambil dariku dan membesarkannya sebagai anak kalian? Kau gila!"

"Ini jalan keluar terbaik, Mawar! Pikirkanlah! Kakakmu akan mendapatkan anak yang selama ini ia dambakan, keluargaku akan mendapat pewaris yang sah, dan kau tidak perlu menanggung malu karena hamil di luar nikah. Semua orang akan hidup bahagia!" Bima berusaha meyakinkan, suaranya semakin tegas seolah ia sedang berbuat amal yang mulia.

"Kau mau memisahkan aku dari darah dagingku sendiri? Itu tidak akan pernah terjadi! Lebih baik aku mati daripada menyerahkan anak ini kepadamu!" Mawar berteriak sekuat tenaga, tubuhnya gemetar karena emosi yang memuncak, dada sesak menahan kemarahan sekaligus ketakutan yang mendalam.

Namun kata-kata itu tak hanya terdengar oleh Bima. Di balik pintu yang sedikit terbuka, Jingga berdiri mematung. Setiap kalimat yang terucap seolah belati tajam yang menusuk jantungnya berkali-kali, merobek sisa-sisa harapan yang masih tersisa. Ia mendengar semuanya.

Perlahan, tangan Jingga melepaskan pegangan pada kusen pintu. Langkah kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan dengan tatapan kosong namun membara. Wajahnya yang biasanya lembut dan bersinar kini berubah pucat, terlihat mengerikan di bawah cahaya remang lampu. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap-luap hingga tak bisa lagi dibendung.

"Jadi… selama ini kalian berdua diam-diam…" suaranya bergetar, nyaris tak terdengar namun sarat akan kepedihan yang tak terlukiskan. Matanya berpindah dari wajah sang suami yang kaku menahan keterkejutan, lalu jatuh pada sosok sang adik yang masih berlutut di lantai.

"Kau mengandung anak dari Mas Bima… dan kalian berencana menyembunyikannya dariku? Menjadikan anak itu anakku seolah tak terjadi apa-apa?" Jingga tertawa pahit, namun sorot matanya basah dan penuh kepedihan yang menyayat hati.

"Kak… bukan begitu…» Mawar mencoba bangkit berdiri, berusaha menjelaskan meski tahu kata-katanya mungkin sudah tak lagi berarti.

"Diam! Jangan panggil aku Kakak!" Jingga melangkah mendekat, tangannya terkepal begitu kuat hingga kukunya menancap ke telapak tangan sendiri.

"Kalian berdua sama saja! Berkhianat di belakangku! Kau adalah adik kandungku sendiri, berani merusak kehormatanmu bersama suamiku! Dan kau…" Jingga menatap Bima dengan pandangan penuh kebencian yang tajam,

"Kau yang kupercaya seumur hidupku, ternyata mengkhianatiku dengan adikku sendiri!"

"Jingga, tenanglah, aku datang ke sini hanya untuk mencari solusi…" Bima mencoba mendekat, namun Jingga menepis tangannya dengan kasar hingga pria itu mundur selangkah.

"Jangan sentuh aku! Semua ini salahmu, Mawar! Kalau saja kau tidak menggoda suamiku, kalau saja kau tahu diri dan menjaga kehormatanmu, semua ini tidak akan terjadi!" Amarah Jingga sepenuhnya beralih pada sosok yang terlihat lebih lemah. Ia tak sanggup melampiaskan seluruh sakit hatinya pada sang suami, sehingga seluruh beban itu jatuh begitu saja ke pundak sang adik.

"Kak, aku tidak… aku dipaksa…" Mawar mencoba membela diri, namun kalimatnya terputus saat Jingga tiba-tiba melayangkan tangannya.

Prak!

Tamparan keras mendarat di pipi Mawar, membuat kepala gadis itu terpelanting ke samping. Mawar terhuyung mundur, keseimbangannya goyah, tubuhnya kembali jatuh berlutut di lantai yang dingin.

"Pembohong! Kau selalu saja mencari alasan! Pasti kau yang mendekati suamiku duluan, bukan? Kau yang iri melihatku bahagia! Kau selalu ingin memiliki apa yang menjadi milikku!" Jingga terus berteriak, logika dan pertimbangan sudah hilang sepenuhnya tertelan rasa sakit hati yang luar biasa.

Tanpa menunggu jawaban, Jingga kembali melayangkan tangannya, kali ini bukan lagi tamparan, melainkan pukulan keras yang mendarat di bahu Mawar. Mawar jatuh terduduk, mencoba melindungi dirinya dengan kedua tangan, namun tubuhnya yang lemah tak mampu menahan amarah sang kakak.

Dendam, rasa malu, dan pengkhianatan yang dirasakan Jingga bercampur menjadi satu, meledak dalam bentuk kekerasan yang tak pernah terbayangkan siapa pun.

"Kau mau merebut segalanya dariku? Baiklah! Kalau begitu ambillah ini!" Jingga mengangkat kakinya, dan dengan sekuat tenaga menendang perut Mawar yang masih rata namun kini menyimpan nyawa baru di dalam sana.

"Kak! Jangan! Tolong jangan sakiti anakku…" Mawar merintih kesakitan, tubuhnya meringkuk di lantai, wajahnya seketika berubah pucat pasi. Rasa nyeri yang tajam seketika menyerang perutnya, membuat napasnya tersengal-sengal.

Namun Jingga tak berhenti. Buta oleh amarah, ia kembali menendang, kali ini lebih keras dan lebih tepat sasaran. "Ini balasan untuk semua kebohonganmu! Untuk semua air mataku yang tumpah karena ulahmu!"

"Jingga! Cukup! Kau akan membunuhnya!" Bima berusaha menahan sang istri, namun Jingga mendorongnya dengan kuat.

"Jangan ikut campur! Kau juga bersalah, Mas! Nanti aku akan membuat perhitungan denganmu!" Jingga kembali melayangkan kakinya, berulang kali menendang perut, pinggang, dan punggung Mawar yang tak berdaya.

Mawar merasakan sakit yang luar biasa, seolah isi perutnya diremas dan dipelintir secara bersamaan. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya, rambutnya yang lekat di kening basah oleh keringat dan air mata. Perlahan, ia merasakan sesuatu yang hangat dan basah merembes keluar di antara kakinya. Wajahnya semakin pucat, matanya membelalak ketakutan saat melihat cairan merah yang mulai mewarnai lantai di bawah tubuhnya.

"Darah… Aku mengeluarkan darah…" suara Mawar terdengar lemah dan parau, hampir tak terdengar. Rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi, seperti disayat sembilu berkali-kali lipat, membuat tubuhnya gemetar tak terkendali.

Melihat darah yang merembes keluar, kesadaran Jingga seketika kembali. Langkahnya terhenti. Napasnya memburu, matanya menatap noda merah yang membasahi lantai dengan pandangan kosong dan ngeri. Tangannya gemetar hebat, seolah baru saja menyadari apa yang telah ia lakukan.

'Aku… aku tidak bermaksud…" Jingga mundur perlahan, kakinya terasa lemas tak bertulang.

Bima segera berlutut di samping Mawar yang kini sudah tak mampu lagi bergerak, wajahnya berkerut menahan sakit yang tak tertahankan. "Mawar! Mawar, dengar aku! Tetap sadar! Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang!" Bima mengguncang lembut bahu gadis itu, suaranya terdengar cemas yang tak bisa disembunyikan.

"Tidak… aku tidak mau…" Mawar menggeleng lemah, matanya mencari jalan keluar. Rasa takut meliputi hatinya, takut pada Jingga, takut pada Bima, dan takut pada apa yang mungkin terjadi pada anak dalam kandungannya. Dengan sisa tenaga yang masih tersisa, ia berusaha merangkak menjauh.

"Kau mau pergi ke mana? Kau butuh pertolongan!" Bima berusaha menahannya, namun Mawar menepis tangannya dengan lemah namun tegas.

"Jangan sentuh aku… kalian semua sama saja… aku benci kalian…" Mawar berhasil bangkit berdiri dengan susah payah, meski kakinya gemetar hebat dan perutnya terasa nyeri luar biasa. Tanpa menoleh lagi, ia berlari sekencang-kencangnya keluar dari ruangan itu, menembus pintu belakang, dan terus berlari menuju arah hutan lebat di pinggir desa, tempat yang selama ini dikatakan warga angker dan tak seorang pun berani masuk terlalu dalam.

Angin malam yang dingin menyambut tubuhnya yang lemah dan terluka. Daun-daun kering berderit di bawah kakinya, namun ia tak peduli. Ia terus berlari, menjauh dari rumah itu, menjauh dari dua orang yang seharusnya melindunginya namun justru melukainya.

"Mawar! Kembalilah!" Bima berteriak hendak mengejar, namun langkahnya terhenti saat melihat Jingga yang masih berdiri mematung di tempat, tubuhnya gemetar ketakutan menatap noda darah yang masih menggenang di lantai.

"Biarkan dia pergi… biarkan dia pergi…" bisik Jingga, meski di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu kesalahan fatal yang baru saja ia perbuat tak bisa dihapus begitu saja. Namun egonya masih menahan langkahnya, mencegahnya memohon maaf atau mengejar sang adik.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!