Indonesia
NovelToon NovelToon
Sweet & Psycho

Sweet & Psycho

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta setelah menikah / Psikopat itu cintaku / Perjodohan
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Pena kira

Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.

Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.

Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memburu Sora Kyne

Bab 15

# Memburu Sora Kyne #

"Sebenarnya ada apa dengan gadis itu? Kemarin-kemarin masih menempel seperti perangko ke mana pun aku pergi, sekarang mendadak hilang ditelan bumi dan susah sekali dicari. Padahal teman-temannya bilang hari ini Sora masuk kuliah. Cih, menyebalkan!"

Hari itu Axcel sengaja membolos dari kelasnya sendiri demi berburu keberadaan Sora. Ia mendatangi koridor gedung seni sejak jam sembilan pagi, padahal jadwal kuliah anak-anak jurusan seni baru dimulai jam sebelas nanti.

Axcel yang bersandar santai di pembatas koridor depan kelas seni mendadak menjadi pusat perhatian. Pemandangan seorang Axcelino Pierce yang sedang melamun dengan kemeja tergulung seperempat lengan sukses membuat para mahasiswi menahan napas. Aura ketampanannya menyeruak bagai mahakarya seni yang bernapas dan terasa begitu nyata. Namun, tak ada satu pun mahasiswi yang berani mendekat. Rumor panas minggu lalu mengenai cinta segitiga yang melibatkan Sora, Axcel, dan Easton Cole sukses membuat mereka bergidik ngeri. Mereka tidak mau bernasib tragis seperti Audry yang berakhir menjadi bahan amukan Sora sang penguasa kampus.

"Hey! Mau ngapain kau di sini? Mau cari masalah lagi?" suara berat khas Easton mendadak memecah ketenangan. Easton melangkah mendekat dengan wajah menyebalkan. "Sora hari ini sedang ada di ruang VIP ku. Jangan harap kau bisa menemui dia lagi. Jauh-jauh dari wanitaku. Paham?!"

Axcel hanya berdecih pelan. Ia sama sekali tidak paham dengan jalan pikiran saudara sepupunya ini. Untuk apa Easton berlagak sok berkuasa di depannya? Apakah Easton berakting sok tangguh karena takut rahasia hubungan kekeluargaan mereka terbongkar di kampus?

Axcel berdiri tegak, sedikit mendongak menatap Easton, lalu perlahan mengarahkan pandangannya turun ke bawah tepat ke area krusial di antara kedua paha Easton.

Sadar arah pandang Axcel tertuju ke mana, Easton refleks melompat mundur sembari memegangi area selangkangannya dengan kedua tangan.

"Kau... kau lihat apa?! Mau apa lagi kau?! Mau ku hajar?!" gertak Easton dengan nada suara yang meninggi, namun matanya memancarkan ketakutan luar biasa.

Padahal Axcel hanya berniat menanyakan nasib "aset masa depan" Easton yang seminggu lalu menjadi korban tendangan brutal dari Ino. Nyonya Evelyn sempat bercerita bahwa Easton sampai harus dilarikan ke IGD karena insiden tersebut. Axcel setengah mati menahan tawa membayangkan betapa ngenesnya nasib sepupunya itu.

Ia sebenarnya ingin menepuk pundak Easton dan berpura-pura minta maaf, tetapi Easton terlanjur kabur melesat masuk ke dalam kelas seni, meninggalkan para pengikutnya yang melongo kebingungan.

Axcel lantas menoleh ke arah sekumpulan mahasiswi di dekatnya. "Kalian... ada yang tahu Sora di mana sekarang?"

Secara kompak, gadis-gadis itu menggelengkan kepala cepat - cepat, melipat bibir mereka ke dalam seolah sedang memegang rahasia negara yang diancam hukuman mati jika dibocorkan.

Hampir satu jam Axcel berdiri di sana sampai kakinya pegal, tetapi tidak ada satu pun manusia yang mau angkat bicara. Sebenarnya apa yang dikatakan Sora kepada mereka sampai semua orang mendadak bungkam?

"Cih, dasar. Lihat saja kalau ketemu," gumam Axcel menahan jengkel. "Ruang VIP ya... Ngapain Sora ada di ruang istirahat Easton? Apa mereka benar-benar sedekat itu?"

Axcel melangkah menyusuri koridor, mencoba mencari lokasi ruangan VIP yang dimaksud. Sambil berjalan, ia terus memasang mata.

Sret!

Sekelebat siluet gadis berambut panjang melintas tak jauh di depan pandangannya. Sora! Axcel bergegas mengejarnya sembari memanggil namanya keras-keras. Namun anehnya, gadis itu sama sekali tidak menoleh dan makin mempercepat langkah.

Brakkk!

Karena terlalu fokus mengejar siluet tersebut, Axcel tak sengaja menabrak seorang mahasiswi dari arah berlawanan hingga menciptakan kekacauan kecil di lantai marmer.

"Yaaah! Ini peralatan praktikum milik Profesor Nadin jadi kotor dan berantakan semua! Duh, bagaimana ini?" keluh mahasiswi itu.

Audry. Wanita itu mengerang panik memunguti alat-alat praktikum yang berserakan. Sebenarnya ini bukan sepenuhnya kesalahan Axcel. Dari jauh ia sudah melihat Audry berjalan dari arah berlawanan, tetapi mendadak saja tubuh Audry mendadak oleng tepat di depan jalur lari Axcel. Mau tidak mau, Axcel harus berhenti dan membantunya membereskan kekacauan itu, membuat jejak Sora lenyap kembali.

Hari kedua... Axcel tidak menemukan Sora.

Hari ketiga... Ia kewalahan dengan tumpukan tugas kelasnya dan tidak sempat mencari.

Hari keempat... Sora tidak ada jadwal kuliah, jadi pastinya tidak datang ke kampus.

Hari kelima... keenam... ketujuh... hingga hari kedelapan.

"Ah... sudahlah. Kayaknya aku memang harus lebih sabar," desah Axcel kelelahan saat duduk sendirian di kantin gedung B pada hari kedelapan.

Tak jauh dari mejanya, sayup-sayup terdengar bisikan dari dua orang mahasiswi yang sedang menikmati jus alpukat.

"Hahaha, kayaknya si Sora itu beneran mencampakkan Axcel deh. Mungkin dia sudah jadian sama Senior Easton. Ya biarpun Axcel lebih ganteng, tetap saja Kak Easton menang pamor. Dia kan tidak kalah keren dari Axcel. Liat posturnya yang wow, pasti hangat banget kalau dipeluk senior. Ya kaaaan?"

"Kalau begitu, bisa dong kita dekati Axcel? Toh sudah nggak ada cewek mungil yang memagari dia kan? Siapa tahu bisa nyantol. Duhhh, dari jarak segini saja jantungku rasanya mau melompat, apalagi kalau bisa jadi kesayangannya... Aaaaa!"

Biarpun mereka duduk agak jauh, pendengaran tajam Axcel masih sanggup menangkap setiap patah kata percakapan itu. Entah mengapa, dadanya terasa berdenyut jengkel. Bukan karena centilnya para mahasiswi itu. Karena kalau soal dikerubungi cewek, Axcel sudah terbiasa sejak SMP.

Axcel justru jauh lebih tertarik pada rumor yang menyebutkan Sora kembali ke pelukan Easton. Ia menyeringai dingin, mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas permukaan meja kayu. Sepertinya memang benar Sora sengaja kabur dan bersembunyi karena tidak mau bertanggung jawab atas kekacauan yang diperbuat Ino.

Bukannya menyerah, Axcel malah makin bersemangat. Terlebih lagi, ia tidak berniat mengalah sedikit pun pada Easton. Kenangan masa lalu kembali berputar di kepalanya. Dulu, almarhumah kakak perempuannya dan dirinya selalu menjadi bahan perundungan oleh keluarga Easton. Bahkan kakak kandung Easton pernah bertindak melampaui batas pada almarhumah kakaknya. Axcel bersumpah akan membalaskan semua rasa sakit itu. Dan jika Easton sangat menginginkan Sora, maka merebut Sora dari genggaman Easton akan menjadi pembalasan dendam yang sangat manis.

Menurut rumor yang beredar, selama ini Sora lah yang mengejar-ngejar Easton dan hanya dijadikan bahan mainan semata. Easton yang memiliki ribuan penggemar tidak mau kehilangan reputasinya jika harus terikat status dengan Sora. Namun anehnya, setelah Sora mendadak menempel pada Axcel, Easton justru berbalik mengejar Sora seperti pria kesepian.

"Bukankah ini akan jadi permainan yang sangat seru?" bisik Axcel pada dirinya sendiri. Senyum tipis nan misterius terukir di bibirnya.

"Kak... kenapa senyum-senyum sendiri?"

Suara lembut mendadak memecah lamunan Axcel. Audry sudah duduk manis di sampingnya sembari berkicau ramah.

"Apa karena sekarang sudah tidak ada pengganggu lagi? Kak Axcel senang ya, akhirnya kita bisa bebas ngobrol tanpa diganggu Kak Sora. Oh ya, ini aku sudah buatkan catatan lengkap kuliah tadi pagi. Kak Axcel bisa bawa bukunya untuk disalin."

Saking asyiknya melamunkan rencana pembalasan dendam, Axcel sampai tidak menyadari keberadaan Audry yang sudah duduk di dekatnya sejak sepuluh menit lalu. Ia bahkan sama sekali tidak menyimak materi Miss Rossa di kelas tadi. Audry yang merasa diabaikan hanya bisa terkekeh geli dan tersenyum kecut, melirik ke kanan dan ke kiri karena takut jadi bahan tertawaan mahasiswa lain. Ia mendengus kesal di dalam hati; padahal effort nya sudah setinggi langit hingga rela dimarahi dosen demi mencari perhatian sang calon pewaris Pierce Group.

Hari kesembilan.

"Sora! Akhirnya ketemu juga!"

Huft... huft... huft...

Napas Axcel memburu parah. Setelah berlari maraton dari lapangan futsal luar hingga menerobos lantai dua perpustakaan Gedung B, matanya akhirnya menemukan target utama. Dengan gerakan kilat, Axcel mencengkeram kuat lengan kanan Sora lalu membalikkan tubuh gadis itu secara paksa.

Sora tersentak kaget setengah mati. Napasnya tercekat, dan seketika seluruh tumpukan buku tebal di dekapan tangannya jatuh terhempas ke lantai. Tubuh mungil Sora terdorong hingga menempel rapat di rak buku. Beruntung tidak ada buku dari atas rak yang runtuh menimpa kepala mereka.

Axcel yang masih mencengkeram lengan Sora membungkukkan badan, mencoba menata napasnya yang tersengal-sengal di depan wajah gadis itu.

"I... Ino...?" cicit Sora dengan bibir gemetar.

Mendengar nama "Ino" terucap dari bibir Sora, Axcel seketika menegakkan tubuhnya. Tatapan matanya berubah tajam, menusuk langsung ke iris mata Sora.

"He... he... hehehe... Hai! Apa kabar? Lama ya nggak ketemu? Sudah semingguan ya kalau nggak salah?" Sora tertawa canggung, berusaha keras mencairkan atmosfer dingin yang membekukan ruangan.

Sebenarnya Sora sama sekali belum siap berhadapan dengan sosok di depannya ini. Ia tahu betul pria ini akan menuntut penjelasan, meskipun Sora sendiri menyimpan ribuan pertanyaan di kepalanya. Beruntung pagi itu area perpustakaan sedang sepi penjelajah dan petugas perpustakaan sedang tidak ada di mejanya, memberi mereka sedikit ruang pribadi.

"Apa kau lebih senang ketemu Ino daripada aku, hmmm?" bisik Axcel dengan nada nada intimidatif yang rendah. "Menurutmu, apa Ino akan suka dengan badan yang bercucuran keringat seperti ini? Kau harus memberi penjelasan sekarang juga. Jangan banyak alasan. SEM...BI...LAN... HARI. Aku butuh waktu sembilan hari hanya untuk menemukanmu!"

Sora kembali memasang senyum tidak jelas. Wajahnya berganti menjadi welas asih saat Axcel menarik tangannya menuju sudut area membaca yang lebih tersembunyi. Axcel enggan memicu rumor baru di kampus; terlalu malas jika harus masuk ke dalam portal berita kampus lagi. Bagi pria setampan dirinya, hidup damai memang barang mahal.

Mereka duduk berdampingan di kursi kayu. Tak jauh dari sana, ada sekelompok mahasiswa yang tampak sibuk menggarap tugas kelompok.

Axcel sengaja bungkam, menatap Sora tanpa mengedipkan mata hingga membuat Sora salah tingkah setengah mati. Sora memperhatikan kaos futsal Axcel yang basah oleh keringat. Wajah pria itu dipenuhi bulir-bulir peluh, tetapi anehnya, aroma parfum manly yang sangat elegan justru makin menyeruak kuat dari tubuh Axcel, membuai penciuman Sora. Entah parfum merek apa yang dipakai Axcel, aromanya jauh berbeda dari parfum manis milik Ino yang masih menumpuk di meja rias kamarnya. Dan Sora harus mengakui... ia sangat menyukai aroma ini.

Sora merogoh saku roknya dan mengeluarkan selembar sapu tangan. Namun sebelum tangannya terulur, Axcel sudah menepis udara di depan mereka.

"Kenapa? Kau tidak suka melihatku berkeringat seperti ini?" cetus Axcel dingin. "Tidak perlu dilap, simpan saja sapu tanganmu itu. Ino memang tidak suka olahraga karena benci berkeringat. Dia dan aku itu beda. Apa kau sudah paham, Sora?"

Sora menarik kembali tangannya. Sepertinya ia lupa kalau pria gagah di sampingnya ini adalah Axcel sang pemilik raga asli, bukan Ino si gadis penyuka keharuman bunga.

"Haihh... tapi kali ini aku bisa bebas melakukan dan mengatakan apa saja, karena yang duduk di sebelahku sekarang adalah Axcel. Axcel yang punya kaki jenjang, mulus tanpa bulu," celetuk Sora pura-pura santai.

Sora mendadak tertawa cekikikan melihat reaksi Axcel. Pria tampan itu mendadak panik dan secara refleks menunduk memandangi kedua kakinya sendiri. Dan benar saja... bulu kaki lebat yang selama ini menjadi kebanggaan maskulinitas Axcel telah lenyap tanpa sisa, berganti menjadi kulit mulus yang sangat halus!

"Sora! Apa ini semua ulahmu?!" bisik Axcel dengan nada suara yang tertahan namun dipenuhi kemurkaan mendalam. "Seberapa banyak yang sudah kau lihat selain kaki dan perutku?! Apa kau juga menyentuhnya, Sora?! Aku nggak nyangka kau ternyata bisa secabul ini!"

Sora spontan melompat dan membungkam mulut Axcel menggunakan kedua tangannya! Suara lantang Axcel yang menyebut kata "cabul" sukses membuat sekelompok mahasiswa di ujung meja menoleh serentak sembari berbisik-bisik. Sora melotot tajam, menempelkan wajahnya tepat di samping telinga Axcel, lalu berbisik mengancam.

"Jika kau terus bicara hal-hal gila itu di sini, aku akan ceritakan semua aib yang kau lakukan denganku malam itu sampai telingamu muntah! Kau mau dengar?!"

Axcel bergidik ngeri. Ia menyenggol tubuh mungil Sora agar menjauh darinya. Pria itu mengecilkan volume suaranya, bertanya serius mengapa Sora bersembunyi darinya dan hal buruk apa saja yang sebenarnya dilakukan Ino bersamanya selama tiga hari itu.

Sora sejujurnya cukup kesal dengan nada menginterogasi Axcel yang seperti polisi menanyai buronan. Namun lidahnya mendadak gatal untuk mengerjai pria dingin ini. Sora melambaikan jarinya, memberi isyarat agar Axcel mendekatkan telinganya lagi.

"Aku sudah lihat semuanya lhooo..." bisik Sora dengan nada jahat. "Mommy mu bahkan menyuruhku menjagamu baik-baik. Kita kan tidur seranjang... Masa sih kau lupa semuanya? Aku kan jadi malu kalau harus menceritakan detailnya..."

Mata Axcel membulat sempurna. Bibirnya terbuka lebar, melongo tak percaya! Dengan refleks secepat kilat, ia memajukan jari telunjuknya dan mendorong kening Sora kuat-kuat hingga gadis itu terdorong ke belakang.

HAHAHAHAHA!

Sora tertawa puas melihat raut wajah Axcel yang memerah padam akibat kepanikan tingkat tinggi. Namun, tawa Sora mendadak terhenti saat Axcel tiba-tiba mencengkeram kedua pergelangan tangannya dan menarik tubuh Sora hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.

"Kau pikir ini lucu, Sora?" bisik Axcel dengan tatapan tajam yang mendadak berubah sangat pekat dan berbahaya. "Kalau kau memang sudah melihat semuanya... artinya kau tahu rahasia terbesar keluarga Pierce. Dan menurut hukum keluargaku, orang asing yang tahu terlalu banyak hanya punya dua pilihan: menjadi bagian dari kami, atau dihilangkan selamanya."

Napas Sora seketika tercekat saat Axcel menyeringai dingin, mendekatkan bibirnya ke telinga Sora.

"Jadi... kau mau pilih yang mana, Sora Kyne

⭐⭐⭐⭐⭐

WADUH Kiravers! Mampus kau Sora! 😱 Tadinya niat ngerjain Axcel pakai cerita bohong soal 'tidur seranjang', eh malah disudutkan balik sama skenario berbahaya khas keluarga kaya raya!

Kira-kira apa yang bakal dilakukan Sora buat meloloskan diri dari cengkramannya Axcel? Terus gokilnya lagi... kalau Axcel beneran mau memanfaatkan Sora buat bales dendam ke Easton, gimana reaksi Easton saat tahu Sora makin nempel sama Axcel?! Dan yang paling ditunggu-tunggu... apakah ancaman Axcel ini bakal memicu kemunculan Ino kembali karena merasa Sora terancam?!

Yuk, tumpahkan teori gokil dan spekulasi kalian di kolom komentar sekarang! 💬👇

Jangan lupa ya Kiravers:

TEKAN TOMBOL LIKE & LOVE (❤️) buat dukung keselamatan Sora dari terkaman Axcel!

SIMPAN CERITA INI KE LIBRARY kalian biar tidak ketinggalan Notifikasi Bab 16!

FOLLOW PROFILKU untuk dapat update cerita paling cepat!

Terima kasih banyak sudah setia membaca dan sampai jumpa di bab selanjutnya! Happy reading, Kiravers! 🚀🔥

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!