Indonesia
NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Hari Kiamat / Zombie
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?

Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.

Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Nico bergerak bagaikan bayangan merah yang mematikan. Setiap langkahnya meninggalkan retakan pada lantai kayu villa yang terbakar. Prajurit *Sovereign Initiative* yang tersisa mencoba membuka tembakan gelombang mikro untuk melumpuhkan sistem sarafnya, namun gelombang tersebut sama sekali tidak berpengaruh pada Nico. Amarah murni atas kematian Karl telah mengesampingkan rasa sakit fisiknya, mengubah racun *Genesis-X* di dalam darahnya menjadi bahan bakar energi yang tak terbatas.

*CRAAASH!*

Satu pukulan dilapisi tekanan biologis tinggi dari Nico menghancurkan pelindung dada prajurit terdepan hingga terlempar menembus dinding luar villa. Dua prajurit lainnya yang panik mencoba merayap mundur menuju kendaraan lapis baja di halaman, tetapi Nico melompat melintasi asap, mendarat tepat di atas kap mesin kendaraan tempur tersebut. Dengan jemarinya yang diselimuti pendaran pembuluh darah keemasan, Nico mencengkeram engsel pintu baja kendaraan itu dan memutarnya hingga terlepas dengan kekuatan murni mutan laten.

"Nico! Hentikan!" raung Hayden dari dalam reruntuhan ruang tengah.

Hayden berlari menerobos kobaran api, aba-aba taktisnya tenggelam oleh suara raungan Nico yang memecah malam. Hayden tahu benar batas bahaya dari mutasi tersebut. Jika Nico biarkan terus tenggelam dalam amarah tanpa kendali, racun *Genesis-X* akan membakar sel otaknya secara permanen, mengubah remaja tiga belas tahun itu menjadi monster tempur tanpa akal—sebuah takdir kelam yang selama sepuluh tahun ini selalu coba mereka cegah.

Di dalam halaman yang berasap, Nico mengangkat seorang komandan musuh dengan satu tangan di lehernya. Manik mata kristal merah Nico berkilat membara, pembuluh darah di wajahnya kian membiru kehitaman saat dorongan pembunuhan mengambil alih kesadarannya.

"Nico... cukup!" Mery melangkah keluar dari pintu bungker yang hancur. Langkah kakinya gemetar, pakaiannya tertutup abu ledakan. Air mata Mery mengalir deras melintasi pipinya saat ia berjalan mendekati putra tunggalnya tanpa rasa takut sedikit pun terhadap aura membunuh yang dipancarkan Nico.

Nico membeku sejenak, melirik perlahan ke arah ibunya. Suara napasnya memburu dan terengah-engah, bagaikan binatang buas yang tertangkap perangkap.

"Nico... lihat Ibu," bisik Mery dengan suara parau yang sarat akan duka mendalam. Ia berlutut di samping tubuh Karl yang terbaring kaku, mengusap wajah suaminya dengan jemari bergetar, lalu mendongak menatap Nico. "Ayahmu mengorbankan nyawanya bukan agar kamu menjadi monster yang mereka inginkan... Dia bertaruh nyawa agar kamu tetap menjadi manusia, Nico. Pulanglah pada Ibu..."

Kata-kata Mery bagaikan air dingin yang menyiram kobaran api di dalam dada Nico. Di dalam kesadarannya yang menggelap, bayangan Karl yang tersenyum seraya mengajarinya memegang senjata dan mengendalikan gelang biologis kembali berkelebat.

Hayra melangkah keluar di samping Fiora, memegang pergelangan tangannya sendiri. Pendaran keemasan lembut dari tubuh Hayra memancar pelan, memancarkan gelombang penenang alami yang berinteraksi dengan ikatan darah hibrida mereka. Hayra berjalan mendekati Nico, mengulurkan tangannya yang mungil dan menggenggam jemari Nico yang gemetar.

"Nico... ayo pulang," bisik Hayra lembut.

Genggaman jemari kecil Hayra dan Isakan tangis Mery akhirnya menembus dinding amarah Nico. Cengkeraman Nico pada leher komandan musuh terlepas, membiarkan prajurit *Sovereign* yang ketakutan itu jatuh pingsan ke tanah. Warna merah pekat di iris mata Nico perlahan meredup, kembali menjadi warna kristal merah yang tenang. Pembuluh darah berpenampakan keemasan di wajah dan lehernya menyusut perlahan, menghilang di balik kulitnya yang pucat.

Nico merosot berlutut di atas tanah yang basah oleh embun dan darah. Rasa lelah yang luar biasa menghantam tubuhnya seketika. Ia merangkak mendekati tubuh Karl, menempelkan dahinya pada dada ayahnya yang dingin, lalu meledakkan tangisannya di dalam pelukan Mery yang merengkuhnya rapat-rapat.

---

Fajar menyingsing di atas perbukitan Sektor Utara, menembus asap tipis yang menyelimuti reruntuhan Villa Suaka. Pasukan *Sovereign Initiative* di luar telah sepenuhnya dilumpuhkan oleh serangan balasan gabungan dari Dion dan Leo. Tak ada musuh yang tersisa di lembah tersebut.

Di balik bukit belakang villa, di bawah naungan pohon cemara tertua yang tumbuh tinggi menjulang, sebuah pemakaman sederhana telah disiapkan.

Karl dibaringkan di dalam peristirahatan terakhirnya, berbalut kain pelindung taktis dan mantel kesayangannya. Hayden berdiri di tepi liang lahat bersama Dion dan Leo. Tangan kanan Hayden yang terbalut perban menepuk pelan nisan kayu berukir nama Karl.

"Terima kasih untuk segalanya, Karl," bisik Hayden dengan suara berat penuh penghormatan. "Tugasmu sudah selesai. Biar kami yang melanjutkan sisanya."

Mery berlutut di depan nisan bersama Nico yang kepalanya terikat perban medis. Nico menatap nisan ayahnya dengan mata kristal merahnya yang kini memancarkan kedewasaan baru—sebuah janji tersirat bahwa pengorbanan ayahnya tidak akan pernah sia-sia.

Fiora merangkul bahu Mery dari samping, sementara Hayra memegang erat jemari Nico, memberikan kekuatan seraya menatap langit pagi yang mulai memerah.

Dr. Helena melangkah mendekati Hayden, menyerahkan sebuah drive data terenkripsi yang berhasil diselamatkannya dari laboratorium bawah tanah sebelum EMP memadamkan villa.

"Pesan darurat dari *Sovereign Initiative* yang sempat Karl periksa menunjukkan sesuatu yang jauh lebih besar," ujar Dr. Helena pelan, wajahnya tampak amat letih. "Penyerangan ke villa ini hanyalah bagian awal dari rencana mereka. *Sovereign* telah membangun markas penelitian rahasia di atas reruntuhan Kota Pusat, tempat mereka mengisolasi ratusan sampel virus lama untuk menciptakan pemicu biologis global."

Hayden menerima drive data itu, menatap reruntuhan villa tua yang kini telah hancur terbakar. Rumah awal perjuangan mereka telah rata dengan tanah, namun keluarga yang berdiri di sekelilingnya tetap utuh dan lebih kuat dari sebelumnya.

Dion mengokang senapan serbunya, menyunggingkan senyum dingin yang familiar. "Villa ini mungkin sudah hancur, Hayden. Tapi kita tidak punya alasan lagi untuk terus bersembunyi di dalam hutan ini."

Leo melangkah berdiri sejajar di samping Hayden, membetulkan posisi rompi taktisnya. "Kami siap, Pa."

Hayden menoleh menatap Fiora. Istrinya mengangguk mantap dengan pandangan mata yang tak lagi menyimpan ketakutan sedikit pun. Fiora tahu bahwa untuk memberikan masa depan yang benar-benar aman bagi Hayra, Nico, dan anak-anak mereka, mereka tidak bisa lagi berlari dari bayang-bayang masa lalu.

Hayden membalikkan badan menghadapi seluruh anggota keluarganya—Fiora, Mery, Hayra, Nico, Leo, Maya, Dion, dan Dr. Helena.

"Kita sudah selesai bersembunyi," tegas Hayden, suaranya menggelegar tenang dan mantap di antara deru angin cemara pagi. "Kita yang akan mendatangi mereka."

Di atas puing-puing duka atas gugurnya Karl, babak baru perjuangan mereka untuk menghancurkan *Sovereign Initiative* dan merebut masa depan yang sejati bagi anak-anak mereka resmi dimulai.

1
Yurmanitya Fadilah
👍👍👍
Coco
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!