Indonesia
NovelToon NovelToon
MENIKAH DENGAN MAFIA

MENIKAH DENGAN MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.

Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu. Bagaimana Char dicintai secara ugal-ugalan oleh suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 30

Alexander ingin mengadakan pesta kejutan untuk Char istrinya. Dua hari lagi, sang istri berulang tahun yang ke dua puluh tiga tahun. Tetapi, karena ia tak pernah merayakan apapun. Hal ini membuatnya uring-uringan di ruang kantornya.

"Raph!" teriaknya marah melihat laporan-laporan yang ada di tangannya.

"Saya di sini Tuan Muda," sahut Raph di sisi Alexander.

"Siapa yang kasih aku sampah ini. Apa mereka anak TK!" teriaknya melempar berkas-berkas ke lantai sampai berserakan.

Raph menatap dua sekretaris yang memakai baju kurang bahan dengan tatapan tajam. Keduanya berhimpitan dengan kepala tertunduk.

"Semua angka, margin profit, balance bahkan hitungan paling sepele semuanya salah!"

"Apa perlu rapat besar untuk merevisi semua hitungan Tuan Muda?" tawar Raph tenang.

"Rapat! Rapat! Apa semua harus dirapatkan? Memangnya setiap kuartal kita harus rapat!" omel Alexander.

Raph sedikit mendesau, ia tak mungkin mengingatkan jika perusahaan tetap harus diperiksa setiap kuartal untuk melihat kinerja perusahaan.

"Aku dengar helaanmu, Raph!" sengit Alexander.

"Pungut itu dan siapkan rapat evaluasi!" perintahnya pada dua sekretaris yang masih berdiri ketakutan.

Alexander menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran sambil menutup mata. Matanya masih mengintip dua perempuan yang memakai riasan aneh tetap berdiri tegak.

"Bodoh! Apa kalian harus kupecat!" teriaknya sambil menggebrak meja.

Dua sekretaris terkejut dan buru-buru merapikan berkas-berkas yang ada di lantai. Lalu setelah semua kertas ada di tangan mereka, keduanya berebutan keluar dari ruangan sampai menabrak pintu.

Alexander mengepal tangannya kuat-kuat, ia hanya menggerakkan jarinya seperti menggunting. Raph mengerti dan membungkuk hormat.

"Saya mengerti Tuan. Mereka berdua tak akan lagi ada di perusahaan ini sedetikpun!" ujarnya lalu pergi ke bagian HRD.

Sepeninggalan Raph, Alexander menghela napas lelah.

"Hampir sepanjang kuartal, seluruh bagian staf melakukan kesalahan!" dumalnya bergumam.

"Apa perlu aku lakukan revolusi staff dan mengganti mereka semua?" lanjutnya lagi memikirkan apa kemungkinan jika ia melakukan pemecatan massal.

Tak sampai lima menit, Raphael kembali ke ruang kerja dengan langkah tenang yang presisi. Tanpa perlu ditanya, laporan pemecatan dua sekretaris tadi sudah tuntas di tangannya.

"Staf HRD sudah memproses pesangon dan mengawal mereka keluar gedung, Tuan Muda," ujar Raph datar, berdiri tegap di sisi meja kerja.

Alexander masih memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Ganti seluruh staf operasional lantai ini, Raph. Aku tidak mau melihat orang-orang tidak kompeten berkeliaran di sekitarku."

Raph mengangguk pelan, namun bukannya langsung mengeksekusi perintah tersebut, ia justru tetap bergeming di tempatnya. Matanya yang tajam menatap bosnya yang tampak sangat frustrasi. Sebagai orang yang paling lama berada di sisi Alexander, Raph tahu betul bahwa amukan sang penguasa hari ini sama sekali bukan karena laporan keuangan yang melenceng beberapa persen.

"Tuan Muda," panggil Raph rendah.

"Apa lagi?" sahut Alexander tanpa membuka matanya.

"Masalah laporan kuartal ini sebenarnya bisa diselesaikan dalam tiga puluh menit oleh tim audit. Jika boleh saya jujur... kemarahan Anda hari ini bukan karena margin profit yang salah."

Mata kelabu Alexander seketika terbuka lebar, menatap sang ajudan dengan kilatan tajam mematikan. "Kau mulai berani menganalisis diriku, Raphael?"

Raph tidak gentar sedikit pun. Ia menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung. "Dua hari lagi adalah ulang tahun Nyonya Charoen yang ke-23. Dan Anda bingung setengah mati bagaimana cara membuat pesta kejutan untuk beliau, karena sepanjang hidup Anda... Anda hanya tahu cara menghancurkan musuh, bukan merayakan ulang tahun."

Suasana ruangan mendadak hening seketika.

Alexander membeku. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Sindiran Raph tepat sasaran, menembus jantung egonya yang tinggi. Pria yang ditakuti seluruh konglomerat Seradam itu mendadak tampak kehilangan kata-kata.

"Kau..." Alexander menunjuk Raph dengan pena di tangannya, matanya memicing gusar. "...terlalu banyak bicara hari ini."

"Saya hanya menyampaikan fakta, Tuan," sahut Raph tanpa dosa, wajahnya tetap kaku bagai kayu. "Anda tidak perlu memecat setengah staf perusahaan hanya karena Anda stres memikirkan warna dekorasi bunga atau konsep kue ulang tahun."

Alexander mendengkus kasar, melempar penanya ke atas meja lalu menyandarkan tubuhnya dengan helaan napas berat. "Aku tidak pernah merayakan ulang tahun siapa pun, Raph. Bahkan ulang tahunku sendiri tidak pernah kupikirkan. Bagaimana kalau... bagaimana kalau dia tidak suka? Bagaimana kalau acaranya membosankan?"

Melihat bosnya yang begitu berkuasa mendadak panik seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta, Raph menyunggingkan senyum tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat.

"Nyonya Charoen tidak butuh pesta termewah di dunia, Tuan Muda," ujar Raph tenang. "Beliau hanya butuh Anda."

"Aku tahu itu Raph. Tetapi aku ingin lebih. Aku ingin jadi orang yang pertama merayakan hari lahirnya segara spesial. Hingga ia hanya menatapku seorang ...," desau Alexander galau.

Raph membeku, seumur ia menjadi tangan kanan bahkan mesin pembunuh Alexander. Ia tak pernah melihat sang mafia frustrasi gara-gara perasaan.

"Tuan, anda sangat mencintai Nyonya?" tanyanya berani.

Alexander menatap Raph, ia diam tapi ia tahu apa jawabannya.

"Sejauh apa yang aku lakukan untuk Char. Apa yang kau pikirkan Raph?" tanyanya.

"Anda menjadikan Nyonya di atas segalanya, Tuan!" jawab Raph tepat.

"Lalu?"

"Saya tidak pernah melihat anda menyanjung seseorang setinggi itu," imbuh Raph lagi.

Alexander terkekeh sinis, menyandarkan siku di atas meja sambil menopang dagunya.

"Maka dari itu, Raph. Pesta ini harus sempurna. Tak boleh ada kesalahan sekecil apa pun. Kalau ada balon yang meletus atau kue yang kemanisan, aku pastikan penyelenggaranya hilang dari peta Kota Seradam."

Tatapan kelabunya beralih ke jendela besar di belakang meja kerja.

Di luar sana, Kota Seradam tampak sibuk dengan aktivitas sore.

Namun pikiran Alexander justru hanya tertuju pada satu orang.Char.

Dua hari lagi perempuan itu genap berusia dua puluh tiga tahun, untuk pertama kalinya.

Alexander ingin membuat hari lahir seseorang menjadi istimewa.

"Aku ingin membuat saat ia membuka mata. Ia adalah orang yang paling dinantikan semua orang," ucapnya pelan.

Raph tetap berdiri mendengarkan tuannya yang mendadak melankolis.

"Char tak suka bunga," lanjut Alexander.

"Nyonya terkadang suka curi pandang pada buket bunga mawar merah, Tuan," sahut Raph.

'Apa kau yakin?" tanya Alexander.

"Ketika menikah, Nyonya beberapa kali menciumi buket bunga pengantin," jawab Raph yang selalu memperhatikan orang-orang yang dekat dengan atasannya.

Mata Alexander yang galau mendadak cerah. Wajahnya tak lagi lesu. Lalu otaknya yang pintar dan jenius bekerja.

"Raph!" panggilnya dengan tubuh tegap.

"Saya Tuan!" Raph membungkuk hormat.

"Kita bereskan semua masalah laporan tadi dan mulai merebak seluruh jajaran staff!"

"Hah?" Raph menatap bingung atasannya.

"Bukan menyusun ulang tahun?" tanyanya bodoh.

"Itu aku urus sendiri! Kau siapkan saja meeting Hari ini. Lalu lusa kau siapkan awak media! Kita umumkan Nyonya Romanov sebagai pemegang saham sepuluh persen saham Romanov Industri dan istri dariku!" ujar Alexander penuh ketegasan.

"Baik, Tuan!" seru Raph yang senang jika atasannya mode pintar begini.

Keduanya pun pergi ke ruang rapat. Alexander melirik bawahannya yang berjalan di sisinya.

"Suatu saat, ketika kau dipanah asmara. Kau pasti lebih cerewet dariku, Raph. Aku sumpahi kau menangis mengejar wanita yang menambat hatimu itu!" gumamnya menyumpahi ajudannya dalan hati.

Sementara Raph mendadak merinding.

"Astaga ... siapa yang main dukun?" gumamnya dalam hati cemas.

Bersambung

hahaha.... Gimana ya kalau kita pertemuan Raph pada sosok yang membuatnya sesak napas.

Manekin bernyawa jatuh cinta.

Next?

1
S.R ciplux
gak punya malu.
Deyuni12
idikh
pengen nabok rasanya biar otak si Grace sedikit berfungsi
Anita Barus
Grace terlalu kepo ya cenderung tak tau diri .dasar si sirik dengki .turunan nya Mak lampir ini
vania larasati
lanjut kak
Lou AK
grace itu mulutnya perlu dibungkam Elexander shg diam dan bahkan tdk bisa apa-apa. mulutnya kok busuk n otaknya
vania larasati
lanjut kak
Deyuni12
hahahaha
char lucu
Anita Barus
😍😍😍char lupa kalau dia sedang nge Gembol 5 bayi dlm perut nya 🤣🤣🤣payah .
Anita Barus
torrer memang bodoh mengabaikan putri nya sendiri malah LBH condong PD keponakan busuk nya si grace.tolol dan tamak itu
Deyuni12
lanjuuuut
makin seru n penasaran
vania larasati
lanjut kak
Deyuni12
Alex cemburuuuu
vania larasati
lanjut kak
Anita Barus
demi sang jabang bayi alexander.sang penguasa terpaksa mengalah 😄😄😄
Deyuni12
huaaaaa
Anita Barus
akhirnya char mengarakan bahwa ia hamil PD ke dua org tua nya .
vania larasati
lanjut kak
Anita Barus
Grace sepupuyg iri dengki dan tak tau diri di ciduk Alexander baru di buang ke laut baru tau rasa Lo
S.R ciplux
bawa sekalian ke RSJ aja
S.R ciplux
suka gak bosan. bikin penasaran dengan kelanjutan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!