Menikah muda dan Kirana menyerahkan seluruh masa depannya untuk menjadi penopang di balik kesuksesan Gibran. Lima belas tahun ia setia mengabdi sebagai ibu rumah tangga, merawat anak-anak dan memastikan nama suaminya bersinar sebagai pria sempurna yang dipuja publik.
Namun, ketika harta dan tahta telah tergenggam, Gibran justru menganggap Kirana bab lama yang harus dibuang demi wanita lain.
Surat gugatan cerai dilayangkan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali.
Gibran mengira Kirana akan menangis mengemis cinta. Betapa naifnya. Bagi Kirana, ketenangannya bukanlah kepasrahan, melainkan strategi catur dingin.
Saat Gibran sibuk bertarung di ruang sidang, Kirana melangkah anggun menikmati masa mudanya yang tertunda. Kirana sengaja menjaga nama baik suaminya tetap bersih memastikan aset yang dibangun bersama berada di puncak nilai tertinggi.
Ketika Gibran mulai kehabisan napas, Kirana melayangkan pukulan balik. Ia mengincar delapan puluh lima persen harta gono-gini dan secara takt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan
Pagi itu, dunia maya dan berbagai panggung berita hiburan tanah air mendadak gempar. Sebuah klip rekaman wawancara dan kutipan resmi dari tim PR Gibran Raditya beredar luas, disusul dengan bocornya foto lembaran surat gugatan perceraian yang dilayangkan ke pengadilan agama. Berita tersebut langsung menyambar panggung utama media sosial, memicu jutaan tayangan hanya dalam hitungan jam.
Tidak tanggung-tanggung, narasi yang dibangun pihak Gibran begitu rapi dan tersistematis. Media menyoroti fakta bahwa sang CEO NexTech Group telah dua kali melayangkan gugatan cerai kepada istrinya. Dalam pernyatannya yang dikemas amat dramatis di hadapan puluhan awak media, Gibran dengan memasang raut wajah kusam serta sorot mata penuh kedudukan secara gamblang membuka 'aib' perubahanku dalam dua bulan terakhir.
Ia menggambarkan aku sebagai sosok istri yang mendadak dingin, abai pada urusan rumah tangga, dan secara tega enggan merawat ibu mertuanya yang sedang terbaring sakit di atas kursi roda. Ia seolah menghapus seluruh jejak pengabdianku selama belasan tahun yang setia menemaninya merintis karier dari nol. Gibran menyudutkanku sebagai wanita yang berubah drastis, menjadi sosok yang angkuh dan kacang lupa pada kulitnya setelah menikmati kenyamanan hidup bergelimang harta.
Di dalam kamar utama kediaman kami, aku duduk tenang di sofa empuk berbahan beludru dengan gaun homewear berbahan sutra ungu tua yang menjuntai anggun. Riasan tipis di wajahku dan hijab kasmir yang terpasang rapi memancarkan keanggunan tiada tanding. Di tanganku, sebuah tablet menampilkan puluhan kolom komentar, ruang diskusi online, dan artikel berita nasional yang terus diperbarui setiap detiknya.
Strategi main cantik yang kusiapkan sejak awal bukanlah dengan panik membuat pernyataan balasan secara terburu-buru. Justru, aku sengaja membiarkan narasi yang dibangun Gibran membumbung tinggi terlebih dahulu hingga mencapai puncaknya. Aku ingin melihat sejauh mana pria itu sanggup melangkah dan bagaimana publik merespons panggung sandiwara yang dirancangnya dengan teramat rapi tersebut.
Seperti yang sudah kuduga, gelombang tanggapan publik seketika terbelah menjadi dua kubu yang saling beradu argumen dengan sangat sengit di berbagai platform media sosial.
Di satu sisi, banyak netizen dan pendukung setia sosok CEO sukses yang berdiri di pihak Gibran. Mereka menelan mentah-mentah narasi yang dilemparkan oleh tim PR NexTech Group. Kolom komentar berita dipenuhi oleh pembelaan untuk suamiku serta nada penghinaan yang dialamatkan padaku:
"Lagipula Pak Gibran kan CEO busy banget, wajar dong butuh istri yang ngurus rumah dan mertua. Kirana kan cuma ibu rumah tangga biasa, tugas utamanya ya ngurus suami sama mertuanya yang lagi sakit! Bikin malu aja ditahan-tahan padahal udah dicerai sampai dua kali!"
"Nurutin gengsi doang kali makanya ga mau nolak ditandatangan tuh surat cerai. Kasihan Pak Gibran udah kerja keras nyari uang di luar, pulang ke rumah malah dicutekin sama istri yang ga tahu diri."
"Tipikal cewek yang kaget kaya. Begitu suaminya sukses dan kaya raya, malah bertingkah dan lupa sama kewajiban sebagai istri dan menantu. Wajar Pak Gibran milih tegas!"
Namun, panggung manipulasi Gibran tidak sepenuhnya berjalan mulus. Di sisi lain, banyak netizen yang memiliki pemikiran kritis, jeli, dan tidak mudah dibodohi oleh air mata buaya seorang pria berkuasa. Mereka yang paham betul dinamika konflik rumah tangga kalangan atas mulai mencium bau kejanggalan yang sangat menyengat di balik drama yang diangkat oleh Gibran:
"Halah, pola lama pengusaha kaya! Biasanya kalau suami mendadak blow up kejelekan istri ke media dan ngebet banget mau cerai sampai dua kali gitu, pasti ada udang di balik batu. Palingan dia sendiri yang selingkuh sama cewek lain, terus istrinya dijadikan pelampiasan dan tameng buat nutupin kebusukannya."
"Gua malah dukung Mbak Kirana penuh! Keliatan banget kok dari gestur mukanya Pak Gibran yang terlalu defensif dan dibuat-buat pas wawancara. Lagian Kirana kan yang nemenin dia dari zaman melarat dan tinggal di kontrakan sempit, mana mungkin berubah gitu aja kalau ga ada pemicu gede kaya WIL?"
"Netizen yang belain Gibran pada polos banget ya? Coba cek track record suami yang mendadak serang istri sah lewat wartawan, 90 persen pasti lagi mengamankan aset atau mau meresmikan selingkuhan! Tetap bertahan Mbak Kirana, kuras hartanya!"
Aku menyunggingkan senyuman tipis seraya membaca riak perdebatan masyarakat yang kian memanas di media sosial. Pancingan awal yang dilemparkan Gibran memang berhasil menarik perhatian jutaan pasang mata, namun di saat yang sama, pria itu juga tanpa sadar telah menggali lubang persepsi yang sangat dalam lubang yang siap membalikkan keadaan dan meruntuhkan reputasinya dalam sekejap begitu bukti autentik di tanganku kulepaskan ke publik.
Dentingan lembut ponsel di atas meja kaca memecah keheningan kamar. Nama ketua tim kuasa hukumku menari-nari di layar. Aku menyambar ponsel tersebut, menggeser tombol hijau, dan mengangkat panggilan dengan nada suara yang sangat tenang dan mengayun santai.
"Selamat pagi, Bu Kirana," sapa pengacaraku dari seberang telepon dengan nada bicaranya yang tergesa-gesa. "Pernyataan Pak Gibran dan bocornya surat gugatan di media saat ini sudah menjadi trending topic nomor satu. Beberapa wartawan senior dari media cetak dan televisi nasional bahkan sudah berkerumun di depan gerbang komplek perumahan untuk meminta konfirmasi langsung dari Ibu. Apakah kita harus merilis pernyataan pers resmi sekarang untuk membantah tuduhan keji itu?"
"Jangan dulu, Pak," jawabku tenang seraya meraih cangkir teh melati hangatku dan menyesapnya perlahan. "Biarkan Mas Gibran menikmati panggung kemenangannya hari ini. Biarkan opini publik makin bergejolak, liar, dan makin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Semakin tinggi dia terbang memamerkan peran sebagai 'korban yang teraniaya', semakin keras pula benturan kehancuran yang akan dia rasakan saat kita jatuhkan nanti."
"Baik, Bu Kirana. Saya mengerti strategi Ibu," tutur pengacaraku. "Namun pihak kuasa hukum Pak Gibran tampaknya mulai memanfaatkan narasi bahwa Ibu hanyalah seorang 'Ibu Rumah Tangga' yang tidak memiliki kontribusi finansial di perusahaan. Mereka mencoba menggiring opini publik untuk menekan hak pembagian harta gono-gini Ibu kelak."
Tawaku menyembur pelan sebuah tawa anggun yang amat dingin dan sarat akan penghinaan bagi siapapun yang meremehkanku.
"Biarkan saja mereka bermimpi, Pak," balasku mantap. "Mereka lupa bahwa berkas dan dokumen pendirian awal NexTech Group masih menyimpan nama, tanda tangan, serta jejak finansialku yang sangat jelas. Pihak mereka hanya sedang mencoba menghibur diri. Nanti, pada saat yang paling tepat di muka persidangan, kita tidak hanya akan membersihkan namaku secara total, tapi juga memperlihatkan pada seluruh Indonesia siapa sebenarnya penjahat yang bersembunyi di balik jas mewahnya."
"Siap, Bu Kirana. Seluruh bukti transfer dana ke rekening Mbak Melani, foto kencan mereka, serta rekaman percakapan sudah tim kami amankan dengan sangat rapi dan siap diluncurkan kapan saja," tegas pengacaraku sebelum mengakhiri panggilan.
Setelah mengakhiri sambungan telepon, aku meletakkan ponselku kembali, merapikan gaun sutra ungu yang kukenakan, lalu melangkah anggun menuju jendela kaca besar yang menghadap langsung ke halaman depan rumah. Di luar gerbang kediaman mewah kami, tampak beberapa mobil liputan dari stasiun berita televisi bersiaga dengan kamera tebal yang terpasang, menunggu sosokku muncul dari balik pintu.
Gibran mengira bahwa dengan memanfaatkan celah status ibu rumah tangga dan menggiring opini bahwa aku abai pada keluarga, ia sudah berhasil mengetuk palu kemenangan di mata masyarakat luas. Pria itu terlalu naif dan picik untuk menyadari bahwa masyarakat modern saat ini tidak lagi mudah dibodohi oleh air mata buaya seorang suami kaya yang haus akan validasi.
Langkah main cantik ku baru saja dimulai. Aku sengaja membiarkan Gibran dan tim PR-nya menari-nari dengan riang di atas panggung pers. Aku akan menyimpan seluruh bukti perselingkuhannya dengan Melani, mutasi rekening rahasia perusahaan, serta bukti kepemilikan aset tersembunyi sebagai kartu as yang siap kuluncurkan tepat saat sidang perdana digelar di pengadilan agama.
Ponselku kembali berbunyi, menandakan sebuah pesan singkat masuk. Nama Gibran tertera di sana dengan pesan yang dihiasi nada congkak:
"Lihat media hari ini, Kirana. Seluruh publik sekarang sudah tahu betapa buruk dan tidak bergunanya kamu sebagai seorang istri. Kamu masih mau bertahan dengan harga dirimu yang sudah hancur berkeping-keping itu? Menyerahlah dan tanda tangani surat cerai itu sekarang sebelum aku buat kamu makin malu."
Aku memandangi layar ponsel itu dengan pendar mata yang penuh dengan penghinaan paling halus. Tanpa berniat sedikit pun membalas pesan kekanak-kanakan tersebut, aku mengunci layar ponselku dan menyunggingkan senyuman puas yang teramat anggun.
"Nikmatilah masa-masa indahmu hari ini, Mas..." gumamku lirih dengan suara dingin yang menyatu dengan hembusan angin kamar. "...karena saat tirai drama ini aku buka sepenuhnya, publik bukan cuma akan menghujat dan meludahi wajahmu, tapi juga meruntuhkan seluruh kekaisaran bisnis yang kamu banggakan itu sampai tak berbekas."
mreka jd ank yg pntr dn soleh krna ddikn ibunya,beda sm bpknya yg jhat dn hnya bsa mnykti mreka....
jd skrng,trima aja smua hkuman....
mga bnrn tobat biar bs hdp lbh baik...
Dlu aja bngga slingkuh....skrng mlah sling cakar,smp s pelakor bbak belur....🙄🙄🙄...
beda sm sng mntan yg lg ibadah,bkin hti adem plus nmbah pahala....mga kirana jg ktmu jdoh trbaiknya....