Bagaimana jadinya jika jiwa seorang remaja cewek tomboi modern yang hobi tawuran, bermulut tajam, dan ceplas-ceplos terlempar ke masa lalu? Sialnya lagi, dia bangun di dalam tubuh permaisuri Xia Ruo, wanita paling rapuh dan tertindas di Kekaisaran Han yang baru saja mencoba bunuh diri karena tidak tahan diabaikan oleh kaisar yang penguasa berdarah dingin yang terkenal kejam.
Kini, tidak ada lagi Permaisuri Xia Ruo yang hobi menangis terisak. Yang ada hanyalah permaisuri baru yang berani duduk bersila di atas ranjang sutra sambil memanggil sang Kaisar kejam dengan sebutan "Mas Bro". Didampingi oleh Yuan er, pelayan setianya yang selalu menangis histeris dan berusaha keras mendidik sang permaisuri agar bisa berbicara lembut, Xia Ruo harus memutar otak untuk bertahan hidup. Mulai dari melabrak dapur istana demi makanan enak, melatih fisiknya yang selemah triplek basah, hingga menghadapi Kaisar kejam yang anehnya... justru mulai terobsesi dengan perubahan barbar dirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10 : kursus tata Krama singkat ala preman
Matahari sudah naik sepenggal, menghalau sisa-sisa hawa dingin dari Paviliun Anggrek. Setelah mandi dan dipaksa Yuan-er mengenakan gaun sutra yang sedikit lebih layak, meski Ara tetap menolak memakai korset ketat yang bikin sesak napas, kini giliran Yuan-er yang mencoba mengambil alih kendali.
Gadis kecil itu berdiri di tengah ruangan dengan raut wajah super serius, tangannya memegang sebuah buku panduan etiket istana yang tebalnya mirip bantal batako.
"Permaisuri, latihan fisik Anda tadi pagi sudah cukup membuat hamba jantungan," ujar Yuan-er sambil menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Sekarang, saatnya kita mengembalikan ingatan Anda tentang tata krama. Tiga hari lagi akan ada perjamuan teh istana bersama Ibu Suri dan para selir agung. Jika Anda tetap berbicara ceplas-ceplos dan berjalan seperti... ehem, ketua geng kapak, kita berdua bisa berakhir di penjara bawah tanah!"
Ara yang sedang asyik selonjoran di atas kursi kayu cendana sambil mengupil pelan langsung mendengus. "Alah, ribet amat hidup di sini. Mau makan diatur, mau ngomong diatur. Emang jalan gua kenapa? Normal-normal aja, kan?"
"Tidak, Permaisuri! Jalan Anda tadi pagi itu... mengangkang! Seperti pria yang habis disunat atau penunggang kuda yang kelelahan!" seru Yuan-er frustrasi, melupakan sejenak batasan kasta karena saking gemasnya.
Yuan-er kemudian meletakkan sebuah mangkuk keramik berisi air penuh di atas meja. "Mari kita mulai dari dasar. Berjalan anggun. Permaisuri harus berjalan dengan langkah kecil, tumit menyentuh lantai lebih dulu, pinggul sedikit bergoyang lembut, dan pandangan lurus ke depan tanpa menatap mata orang lain secara lancang. Sekarang, coba Anda praktikkan."
Ara memutar bola matanya malas. Dia bangkit berdiri, lalu mencoba mengikuti instruksi Yuan-er. Dia merapatkan kedua kakinya, lalu melangkah maju dengan gerakan yang dia usahakan selembut mungkin.
Namun, alih-alih terlihat anggun seperti angsa di atas air, gerakan Ara justru kelihatan super kaku mirip robot kehabisan oli. Karena tidak terbiasa melangkah mini dengan gaun yang menjuntai, kaki Ara justru tersangkut ujung kainnya sendiri di langkah ketiga.
"Eh, eh, buset....!"
Brakk!
Tubuh Ara limbung ke depan. Refleks premannya langsung aktif. Bukannya jatuh tersungkur dengan estetis, Ara malah melakukan gerakan roll depan di atas lantai marmer, lalu bangkit berdiri dengan posisi kuda-kuda bertarung yang kokoh, kedua tangannya mengepal di depan dada siap menonjok musuh ghaib.
Yuan-er mematung di tempat. Mulutnya menganga lebar sampai sebutir lalat rasanya bisa masuk tanpa permisi. "Per-Permaisuri... Anda... Anda justru melakukan gerakan berguling ala prajurit perang..."
Ara menurunkan kuda-kudanya, lalu membersihkan debu imajiner di gaunnya dengan kesal. "Ah, kagak bisa gua jalan model begitu! Bikin pegel betis! Lagian kalau ada musuh nyerang tiba-tiba, jalan lemes kayak uler kekenyangan gitu mana sempat buat menghindar? Yang ada langsung mampus ditombak!"
"Tapi ini aturan istana, Permaisuri!" Yuan-er nyaris menangis lagi, meratapi nasibnya yang harus mendidik singa betina berkedok permaisuri. "Coba sekali lagi, tolong. Anggap saja Anda sedang berjalan di atas jembatan bambu yang tipis."
Ara menghela napas pasrah melihat wajah memelas pelayan setianya. "Yaudah, yaudah. Sekali lagi nih. Tapi kalau gua kesrimpet lagi, gua bakal jalan pake gaya gua sendiri."
Ara kembali mencoba. Kali ini dia tidak mau ambil pusing dengan teori melangkah mini. Dia berjalan dengan langkah tegap, dadanya dibusungkan, kepalanya mendongak angkuh, dan kedua tangannya diletakkan di belakang pinggang dengan santai. Jalannya lurus, mantap, dan memancarkan aura dominasi yang sangat kuat, bukan gaya berjalan permaisuri yang lemah lembut, melainkan gaya berjalan seorang jenderal besar yang baru saja memenangkan perang dan siap mengeksekusi tawanan.
Yuan-er yang melihat perubahan gaya berjalan itu tidak tahu harus merespons apa. Di satu sisi, itu sama sekali tidak anggun. Tapi di sisi lain... penampilan Ara barusan terlihat sangat berwibawa dan menakutkan, hingga membuat siapa pun yang melihat secara otomatis ingin berlutut tunduk.
"Gimana? Udah mendingan, kan?" tanya Ara sambil nyengir lebar, merusak aura jenderal yang baru saja dia bangun.
"Itu... hamba rasa itu jauh lebih baik daripada Anda berguling di lantai lagi, Permaisuri," cicit Yuan-er pasrah, mulai menerima kenyataan bahwa Permaisurinya yang sekarang tidak akan pernah bisa diubah menjadi wanita melankolis lagi.
Ara tertawa renyah sambil menepuk pundak Yuan-er sampai gadis kecil itu agak terhuyung. "Nah, gitu dong! Lu tenang aja, vitamin. Nanti pas perjamuan teh, kalau ada nenek sihir atau uler kadut yang berani nyenggol kita, biar gua yang maju paling depan. Jalan tegak begini malah enak, pas banget buat ancang-ancang nendang komuk orang!"
Paksu Kaisar berharap banget pada ibu negara 🤣🤣🤣
ketawa mulu mah gue
kok nggak ada yg komen ya?
apakah para pembaca pada terhipnotis krn novel ini enakn dibaca ya?
Kayaknya Kaisar Yan akan mendapatkan lawan seimbang
Gue suka mulut Permaisuri yg badas... yg bikin para pejabat pada setrok berjemaah ketika Permaisuri memberikan kuliah subuh 🤣🤣🤣🤣