Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 3
"Kamu mau ke mana rapi-rapi seperti ini?" tanya Kevin dengan suara parau, menghentikan langkahnya beberapa meter dari Dilara.
Dilara menoleh sebentar, merapikan letak hijab di dadanya dan mengambil tas bahunya tanpa menatap langsung mata Kevin.
"Aku ada panggilan kerja pagi ini, Mas. Aku harus berangkat sekarang agar tidak terlambat."
Kevin mengerutkan dahi, melangkah mendekat. "Kerja? Kerja apa, Dilara? Kamu tidak perlu terburu-buru seperti ini. Aku kan sudah bilang, masalah keuanganmu..."
"Aku melamar jadi babysitter di rumah sebuah keluarga di area Jakarta Selatan," potong Dilara tenang.
"Seminggu ini aku sudah menyebar lowongan, dan berkasku masuk."
Kata babysitter bergaung keras di telinga Kevin, menghantam gengsi dan rasa bersalahnya sekaligus. Suaminya adalah seorang pengusaha berpenghasilan tinggi, namun istrinya justru harus bekerja mengasuh anak orang lain demi bertahan hidup setelah diusir secara tidak langsung dari rumahnya sendiri.
"Tidak, Dilara! Kamu sarjana ekonomi!" Kevin memegang kedua bahu Dilara, matanya menatap tak percaya.
"Kamu punya gelar! Kenapa kamu harus bekerja jadi pengasuh anak? Kalau kamu memang butuh uang atau pekerjaan, aku bisa carikan posisi di perusahaan kolegaku, atau..."
"Mas Kevin," panggil Dilara pelan, menghentikan kalimat Kevin. Ia menurunkan tangan Kevin dari bahunya dengan perlahan tapi tegas.
"Gelar sarjanaku sudah tidak tersentuh selama satu tahun karena aku fokus menjadi ibu rumah tangga untukmu. Aku butuh pekerjaan cepat yang menyediakan tempat tinggal atau gaji mingguan agar aku bisa segera mandiri."
"Tapi tidak harus jadi babysitter, Dilara! Kamu sengaja melakukan ini untuk mempermalukan aku?" Kevin memohon, suaranya bergetar menahan malu dan penyesalan yang membakar.
"Orang-orang akan berpikir apa kalau tahu istriku bekerja seperti itu setelah kita berpisah?"
Dilara menatap Kevin lurus-lurus dari balik hijabnya. Tidak ada amarah di matanya, hanya ada rasa lelah yang mendalam.
"Masih sempat-sempatnya kamu memikirkan gengsimu dan apa kata orang?" bisik Dilara dengan nada begitu datar.
"Satu tahun lalu, aku menurunkan seluruh harga diriku untuk melayani pria yang tidak mencintaiku. Sekarang, aku bekerja halal dengan keringatku sendiri. Ini bukan untuk mempermalukanmu, Mas. Ini tentang aku yang sedang berusaha menyambung hidupku sendiri."
Kevin bungkam. Lidahnya mendadak kelu, tak sanggup membalas sepatah kata pun.
Dilara membetulkan posisi tali tasnya, lalu melangkah melewati Kevin menuju pintu depan. Saat tangannya memegang gagang pintu, ia menyempatkan diri untuk menoleh sebentar.
"Semoga urusan berkas perceraian kita cepat selesai, ya. Aku berangkat dulu, Mas. Assalamu'alaikum."
Pintu depan tertutup pelan, meninggalkan Kevin yang berdiri mematung di tengah rumah yang terasa begitu luas, dingin, dan hampa.
Dilara meremas jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan. Ia duduk di sebuah ruang tamu megah bergaya klasik di kawasan perumahan elit Jakarta Selatan. Rumah ini amat luas namun diliputi suasana dingin yang muram. Dari arah lantai atas, samar-samar terdengar suara barang dilempar diiringi tangisan melengking seorang anak kecil.
Langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari tangga utama. Seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun namun tampak amat lelah berjalan mendekati ruang tamu. Di belakangnya, seorang pengasuh berseragam tampak keluar dari pintu depan sambil menangis.
Wanita anggun itu menghela napas berat, lalu mendudukkan diri di sofa depan Dilara.
"Maaf membuatmu menunggu. Saya Melani. Kamu bisa panggil saya Bu Melani."
"Tidak apa-apa, Bu Melani. Terima kasih sudah mau menerima wawancara saya hari ini," jawab Dilara sopan sembari menganggukkan kepala.
Bu Melani membuka map berkas milik Dilara, lalu dahinya berkerut dalam.
"Dilara... kamu lulusan Sarjana Ekonomi dengan IPK tinggi. Tapi kenapa kamu melamar jadi babysitter? Kamu tahu pekerjaan apa yang kamu lamar ini?"
"Saya tahu persis, Bu," jawab Dilara tenang.
"Satu tahun ini saya vakum bekerja karena fokus menjadi ibu rumah tangga. Saat ini saya butuh pekerjaan yang tidak hanya memberikan penghasilan, tapi juga tempat tinggal,"
Penjelasan Dilara membuat tatapan Bu Melani melunak. Namun, raut cemas kembali membayangi wajah wanita tua itu.
"Jujur saja, Dilara. Cucu saya, Elang, usianya lima tahun," bisik Bu Melani dengan suara bergetar menahan sedih.
"Lima bulan lalu, kedua orang tuanya, anak dan menantu saya meninggal seketika dalam kecelakaan maut. Sejak saat itu, Elang berubah total. Dia menjadi sangat sensitif, trauma, dan sering histeris."
Bu Melani menyandarkan punggungnya, menatap Dilara lurus-lurus.
"Sudah belasan babysitter menyerah dalam waktu tak lebih dari dua minggu. Tidak ada yang tahan dengan jeritan dan amukannya. Keluarga kami menawarkan gaji yang sangat tinggi, tiga kali lipat gaji pengasuh biasa lengkap dengan fasilitas kamar pribadi di rumah ini. Tapi syaratnya berat, Dilara. Kamu harus bisa meluluhkan Elang dan tahan membimbingnya."
Sebelum Dilara sempat menjawab, suara benturan keras terdengar dari ambang pintu ruang tamu. Seorang balita laki-laki berambut ikal berdiri di sana dengan mata memerah dan napas berburu. Di tangannya ada sebuah mobil-mobilan kayu yang siap ia lempar.
"Pe-pergi! Ndak bo-boleh ada olang balu di sini!" teriak Elang kecil dengan suara cadel, terbata-bata, dan penuh isak tangis.
BRAK!
Mobil-mobilan kayu itu dilempar menghantam ujung meja di dekat Dilara. Elang menjatuhkan diri ke lantai karpet, menjerit histeris sambil memukul-mukul tangannya ke udara. Tantrumnya pecah seketika, dadanya kembang kempis menahan napas yang tersendat oleh air mata.
"Elang, jangan nak!" seru Bu Melani panik, hendak berdiri memegangi cucunya.
Namun Dilara menahan tangan Bu Melani pelan, memberi tanda agar menyerahkannya padanya. Dilara tidak menghindar atau menunjukkan rasa takut. Ia perlahan turun dari sofa, berlutut dan merangkak mendekat hingga posisinya sejajar dengan balita yang sedang mengamuk itu.
Dilara tidak memaksa memeluk atau memegang Elang yang masih memukul-mukul tangannya. Ia hanya duduk tenang di sampingnya, menjaga jarak yang aman, lalu berbicara dengan nada amat lembut namun tegas.
"Elang... Ndak mau! Ndak mauuu!" raung anak itu, bicaranya masih terputus-putus di antara jeritannya.
"Mbak Dilara di sini, Elang" bisik Dilara pelan.
"Elang boleh nangis, boleh teriak. Tapi jangan lama-lama... Nanti Elang sakit. Atau kalau Elang sedang kesal dan marah bisa lakukan seperti Mbak Dilara..."
Dilara pelan-pelan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, memberi contoh penenangan. Ia membiarkan Elang meluapkan emosinya selama beberapa saat tanpa dihakimi. Perlahan tapi pasti, gerakan tangan Elang yang memukul lantai mulai melambat. Tangisannya yang tadinya melengking berubah menjadi isakan-isakan kecil yang pasrah.
Dengan sisa nafas tersengal dan mata sembap, Elangmengintip dari balik lengannya.
"Mbak... ndak ma-marah?" cicitnya cadel dan terbata-bata.
"Tidak, Sayang. Mbak Dilara ndak marah," jawab Dilara lembut. Ia mengulurkan tangannya perlahan.
"Mbak tahu dadanya elang rasanya sakit dan penuh banget, kan?"
Mata kecil Arlan berkaca-kaca. Tanpa diduga, balita itu merangkak pelan lalu menyenderkan kepalanya ke pangkuan Dilara, masih menyisakan sesenggukan kecil di tubuh ringkihnya. Dilara membelai lembut rambut ikal anak itu, merasakan gelombang emosi yang perlahan menyurut.
Dilara mendongak, menatap Bu Melani yang terpaku terharu di atas sofa.
"Saya bisa, Bu Melani," ucap Dilara mantap, matanya memancarkan keyakinan yang penuh.
"Saya akan rawat Elang dengan baik. Tolong beri saya kesempatan untuk bekerja menjadi pengasuh Elang..." Ucap Dilara tulis, dia merasakan apa yang di rasakan Elang. Mereka sama-sama yatim piatu. Bedanya, Elang memiliki nenek dan kakek yang sayang padanya, sedangkan dia memiliki ibu panti.
Bu Melani mengangguk cepat dengan mata berair, lega luar biasa.
"Terima kasih, Dilara... Selamat datang di rumah ini. Semoga kamu bisa mengatasi Elang.
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛