Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Baru

Hari-hari berikutnya berjalan dengan irama yang berbeda bagi Rania. Setiap kali ada waktu luang, ia menyibukkan diri menyusun berkas-berkas yang dibutuhkan, memeriksa kembali setiap lembarnya, memastikan tak ada satu pun yang terlewat. Di sela-sela kesibukan itu, bayangan Dimas sesekali kembali menyelinap namun kini tak lagi mendatangkan kesedihan yang mendalam, melainkan semacam dorongan halus, ia ingin menjadi lebih baik, bukan demi siapa pun, melainkan demi dirinya sendiri.

Pagi itu, tepat sebelum batas pengiriman berkas ditutup, Rania berdiri di depan kotak pos kampus. Tangan kanannya memegang amplop cokelat yang tertutup rapat, berisi segala harapan yang selama ini ia simpan dalam hati. Ia menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan, lalu menatap amplop itu sejenak.

"Semoga..." bisiknya pelan pada angin pagi yang berhembus lembut. "Aku tidak meminta keajaiban, hanya kesempatan. Biarkan aku membuktikan bahwa aku bisa."

Dengan tangan yang sedikit gemetar namun teguh, ia memasukkan amplop itu ke dalam kotak pos. Terdengar suara halus saat berkas itu turun ke bawah dan bersamaan dengan itu, beban berat yang sejak lama menghimpit dadanya seakan ikut luruh. Ia telah melakukannya. Langkah itu sudah diambil, dan tak ada lagi keraguan yang bisa menariknya kembali.

Sementara itu, di ruangan yang tenang dan elegan, Rina duduk di meja kerjanya. Di layar ponselnya, terbuka pesan singkat dari Yuna "Sudah, Kak...semua hampir selesai."

Sebuah senyum tipis namun tulus mengembang di bibir Rina. Matanya menerawang ke luar jendela, menatap langit yang cerah. Ia tidak menyebutkan namanya, tidak menampakkan dirinya, tidak mengharapkan ucapan terima kasih cukup melihat Rania mulai melangkah ke arah yang benar, itu sudah lebih dari cukup.

"Berjuanglah, Adikku..." ucapnya pelan, hampir tak terdengar. "Kau pantas mendapatkan semua yang terbaik."

Sore harinya, saat Rania pulang ke rumah, jihan sudah menunggu.

"Kamu pulang terlambat hari ini" ucap jihan, tanpa menoleh dari kursi ruang tengah.

Rania meletakkan tasnya pelan, berusaha menjaga nada bicaranya tetap tenang. "Maaf, mah. Tadi ada urusan penting yang harus aku selesaikan."

Jihan berbalik menatapnya, alisnya berkerut. "Urusan apa yang sampai membuat kau lupa waktu? Apa kau menemui seseorang? "

Hati Rania mencelos. Ia tahu ibunya merujuk pada Dimas meski tak pernah ada apa-apa di antara mereka, namun semenjak rania berterus terang pada mamanya bahwa ia menyukai dmas, mamanya itu selalu saja curiga.

"Bukan begitu, mah" jawab Rania lembut namun tegas. "Aku hanya mengurus sesuatu yang menyangkut masa depanku. Sesuatu yang bisa mengubah keadaan kita."

Jihan tertawa pendek, nada suaranya penuh keraguan. "Masa depan? Apa maksudmu? Jangan bermimpi yang terlalu tinggi, Ran. Kita ini orang biasa. Pekerjaan yang tetap, penghasilan yang jujur, itu sudah cukup. Kuliah... itu bukan untuk kita."

Kata-kata itu menohok hati Rania, namun kali ini ia tidak menunduk seperti biasanya. Ia berdiri tegak, menatap mamanya dengan keberanian yang baru tumbuh.

"Mah... bagaimana jika ada kesempatan yang datang sendiri?" tanyanya pelan namun mantap. "Beasiswa penuh. Semua biaya ditanggung. Aku bisa kuliah... Aku bisa belajar hal-hal yang aku sukai, dan kelak aku bisa bekerja lebih baik, membantu, membahagiakan mama."

Jihan terdiam sejenak, lalu wajahnya mengeras. "Siapa yang menjanjikan itu? Dimas? Katakan padaku, Ran... apa dia yang membujukmu melakukan ini?"

"Bukan dia, mah!" Rania segera menjelaskan, tak ingin Dimas disebut-sebut dalam hal ini.

"Ini murni kebetulan. Pengumuman yang dilihat sendiri oleh yuna. Aku hanya ingin mencoba"

Karena emosi yang tak tertahankan, jihan berdiri kasar. "Karena aku tahu dunia ini kejam, Ran! Kau muda, kau polos, kau tidak tahu maksud orang-orang di luar sana. Apa kau pikir kebaikan itu datang begitu saja tanpa pamrih? Tidak ada yang gratis di dunia ini!"

Suasana menjadi hening seketika. Rania menatap ibunya, matanya berkaca-kaca namun air mata itu tak jatuh. Ia menelan ludah, menahan rasa perih yang menjalar di dadanya.

"Aku paham mama khawatir..." ucapnya akhirnya, suaranya bergetar namun tak menyerah. "Tapi kali ini... biarkan aku mencoba. Kalau memang tidak berhasil, aku akan kembali seperti biasa. Aku tidak akan kecewa, dan aku tidak akan menyalahkan siapa pun. Tapi tolong... jangan larang aku sebelum aku tahu hasilnya."

Jihan membuang muka, napasnya masih memburu. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Di matanya terpancar sesuatu yang tak bisa disebut sekadar kemarahan ada ketakutan yang mendalam, ketakutan jika rania melakukan apa yang didengarnya waktu itu saat lewat kamar rania. Rania akan merebut dima dari siapapun.

"Mama tidak melarangmu..." ucap Rosita akhirnya, suaranya rendah dan berat. "Tapi jangan datang kepadaku dengan wajah kecewa nanti. Aku sudah memperingatkanmu."

Dengan itu, ia berjalan pergi meninggalkan Rania sendirian di ruangan itu. Rania menarik napas panjang, menyeka sudut matanya yang lembap, lalu menguatkan hatinya. Setidaknya, pintu itu belum tertutup sepenuhnya.

Hari-hari berikutnya terasa panjang. Setiap pagi Rania membuka ponselnya dengan harapan ada kabar, dan setiap sore ia menutupnya dengan sedikit kecewa namun tak pernah menyerah. Ia tetap bekerja seperti biasa, menyapa pengunjung, tersenyum, mengerjakan tugasnya dengan teliti. Di sela-sela itu, Yuna sesekali datang, duduk bersamanya, menguatkan, mengingatkan bahwa waktu pengumuman memang butuh kesabaran.

Suatu siang, saat restoran sedang sepi, Dimas datang. Rania melihatnya dari kejauhan sendirian, berjalan tenang menuju pintu masuk. Jantungnya berdebar kencang, bukan hanya karena cinta, melainkan karena perasaan yang campur aduk rasa hormat, rasa rindu pada sosok yang selama ini ia kagumi, sekaligus kesadaran bahwa ia harus mulai melangkah di jalannya sendiri.

Ia menyambutnya seperti biasa, tersenyum sopan. "Selamat siang, Kak Dimas."

Dimas tersenyum balik, senyum yang hangat dan ramah persis seperti yang selalu ia berikan. "Selamat siang, Ran. Bagaimana kabarmu?"

"Baik, Kak. Terima kasih. Kakak sendiri?"

"Baik juga." Dimas melirik sekeliling ruangan, lalu kembali menatapnya. "Kau terlihat berbeda akhir-akhir ini.."

Rania tersenyum tulus. "Ada hal yang sedang aku perjuangkan, Kak. Itu membuatku merasa... lebih berarti."

Dimas mengangguk, seakan mengerti tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. "Itu kabar baik. Tetaplah begitu, Ran. Jangan pernah ragu pada dirimu sendiri."

Percakapan itu singkat, namun meninggalkan rasa hangat di hati Rania. Saat Dimas pergi, ia tidak lagi merasa tertinggal. Ia justru merasa didorong untuk melangkah lebih jauh.

Dan akhirnya, pagi yang dinanti itu tiba. Saat Rania membuka ponselnya, satu pesan masuk dari orang yang ia kenal baik. Tangan gemetar, ia menekan layar perlahan, membaca baris demi baris.

"Kepada Saudari Rania... dengan ini kami mengumumkan bahwa permohonan beasiswa Anda telah diterima..."

Ia membacanya sekali, dua kali, tiga kali, hingga matanya kabur oleh air mata yang akhirnya jatuh bukan karena kesedihan, melainkan karena kebahagiaan yang tak sanggup ditahan. Ia melipat tubuhnya sedikit, menutup wajah dengan kedua tangan, menangis lepas segala beban yang selama ini ia pikul sendirian.

Ia diterima.

Rania berlari keluar, mencari Yuna, dan saat sahabatnya itu muncul, Rania langsung memeluknya erat tanpa mengucap sepatah kata pun. Yuna memeluknya balik, mengusap punggungnya, tersenyum bahagia bukan terkejut, seakan ia sudah tahu sejak awal.

Namun di balik kebahagiaan itu, satu hal masih tersisa memberi tahu mamanya. Rania tahu itu tidak akan mudah, tapi ia sudah siap. Ia sudah membuktikan bahwa mimpi itu tidak sekadar khayalan.

Sore itu, langkah kakinya pulang terasa ringan namun mantap. Di tangannya, surat penerimaan itu terlipat rapi bukti nyata, bukan sekadar janji kosong. Pintu rumah terbuka, dan jihan berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan tatapan yang masih sama cemas, curiga, namun kali ini ada sesuatu yang sedikit berbeda kerinduan yang tersembunyi.

Rania mengangkat surat itu perlahan, menatap mamanya dengan senyum yang tak lagi goyah.

" Mah..." panggilnya lembut namun tegas. "Aku diterima."

Malam mulai merayap tenang di atas kota, membawa serta kehangatan lampu-lampu jalan yang berjej er rapi seperti bintang-bintang yang turun menyentuh bumi. Angin sore yang sejuk berhembus pelan, menyapu debu jalanan dan menyisakan kesegaran yang menenangkan, seakan dunia sedang beristirahat dari hiruk-pikuk harian yang melelahkan. Di sebuah restoran kecil yang letaknya tersembunyi di antara deretan bangunan tua namun terawat, tempat yang selalu menjadi saksi bisu perjalanan persahabatan mereka yang kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam, Rina dan Dimas duduk berhadapan di meja sudut yang paling tenang. Cahaya lilin yang menyala lembut di tengah meja menari-nari di wajah mereka, menciptakan bayangan halus yang seakan ikut mendengarkan setiap kata yang terucap. Aroma masakan yang lezat bercampur dengan wangi bunga segar di vas kecil di samping mereka, menciptakan suasana yang begitu damai, begitu hangat, namun di antara kehangatan itu ada sesuatu yang membuat napas mereka sesekali tertahan — kesadaran bahwa apa yang mereka miliki begitu berharga, namun juga begitu rapuh jika tidak dijaga dengan sepenuh hati.

Dimas menatap wanita di hadapannya itu lekat-lekat, seakan ingin mengingat setiap lekuk wajahnya, setiap senyum yang terukir di bibirnya, setiap kilat cahaya di matanya yang selalu berhasil menenangkan kegelisahan di dadanya. Selama bertahun-tahun mereka saling mengenal, ia selalu ada di sampingnya, mendengarkan, menguatkan, menjadi tempat pulang yang paling aman — dan kini ketika akhirnya mereka berani melangkah lebih jauh, ketika kata-kata yang selama ini tersimpan rapi di hati akhirnya terucap, ia merasa seakan seluruh dunianya telah berubah menjadi jauh lebih indah dari yang pernah ia bayangkan. Namun di samping kebahagiaan itu, ada juga kesadaran yang tak bisa diabaikan: bahwa perjalanan mereka tidak hanya tentang berdua, bahwa ada orang-orang di sekitar mereka yang juga menjadi bagian dari cerita ini, orang-orang yang harus diperlakukan dengan kehati-hatian dan ketulusan, terutama Rania.

"Kau tampak sibuk akhir-akhir ini," ucap Dimas pelan, suaranya lembut namun penuh perhatian, memecah keheningan yang sempat menyelimuti meja mereka. Ia menyodorkan segelas minuman hangat ke arah Rina, gerakannya penuh kelembutan yang tak pernah berubah sejak dulu. "Bahkan saat kita duduk seperti ini, matamu sesekali melayang ke kejauhan, seakan pikiranmu masih tertinggal di tempat lain."

Rina tersenyum tipis, menyentuh pinggiran gelas itu dengan jemarinya yang lentik, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia mengangkat wajah, menatap mata Dimas yang begitu tulus, begitu memahami, dan hatinya dipenuhi rasa syukur yang tak terlukiskan — bahwa di tengah segala kerumitan yang mengelilingi hidupnya, ia masih memiliki seseorang yang mampu membaca apa yang tersembunyi di balik senyumnya.

"Aku memang sedang memikirkan banyak hal," akunya pelan, suaranya jujur namun tak terbebani, seakan mengakuinya saja sudah membuatnya merasa lebih ringan. "Bukan hanya urusan restoran atau persiapan keberangkatanku, tapi juga... tentang Rania. Tentang segala hal yang sedang berusaha aku atur untuknya."

Dimas mengangguk perlahan, seakan jawaban itu memang sudah ia duga. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap jendela kaca besar di samping mereka yang memantulkan cahaya kota yang berkelap-kelip, lalu kembali menatap Rina dengan tatapan yang tenang dan penuh pengertian.

"Kebetulan sekali kau menyebutnya," ucapnya pelan, nada bicaranya teratur dan jujur. "Kemarin aku berpapasan dengannya di restoran. Aku datang untuk menemuimu, kau tahu itu — hanya ingin melihatmu sebentar sebelum melanjutkan pekerjaan. Tapi Rania yang menyambutku di pintu. Ia tersenyum, ramah seperti biasa, matanya berbinar cerah saat melihatku datang."

Dimas berhenti sejenak, menarik napas pelan, menyusun kata-katanya agar tidak menyinggung, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang tak diinginkan.

"Ia berkata kau tidak ada di sana," lanjutnya pelan, jujur namun lembut. "Bahwa sejak ia bekerja di sana, kau jarang sekali datang, apalagi kemarin. Aku hanya tersenyum dan berpamitan, tak ingin menanyainya lebih jauh, tak ingin ia merasa ada yang disembunyikan. Tapi aku tahu kau ada di sana, bukan? Kau hanya tidak ingin ia tahu bahwa kau pemilik restoran itu."

Rina menunduk sejenak, memutar ujung serbet di pangkuannya dengan gerakan pelan, lalu mengangkat wajahnya kembali. Di matanya tak ada rasa bersalah, hanya keteguhan yang tenang, kesadaran bahwa apa yang ia lakukan ini bukan untuk dirinya sendiri.

"Benar," jawabnya singkat namun tegas. "Aku memang tidak ingin ia tahu. Bukan karena aku takut, atau malu, atau apa pun yang buruk. Tapi Rania... ia gadis yang bangga, Dimas. Ia tidak akan menerima bantuan apa pun jika ia tahu itu dariku, jika ia tahu itu dari keluargaku. Ia ingin berdiri di atas kakinya sendiri, membuktikan bahwa ia mampu tanpa bantuan siapa pun. Dan aku ingin menghormati itu."

Dimas menatapnya, kagum sekaligus lembut. "Kau selalu memikirkan perasaannya lebih dari apa pun," ucapnya pelan, penuh kekaguman. "Itulah yang membuatmu begitu istimewa, Rin. Tapi... apakah kau tidak takut suatu saat nanti ia akan kecewa saat mengetahui kebenarannya? Bahwa semua kesempatan yang ia perjuangkan ternyata ada kaitannya denganmu?"

Rina tersenyum, senyum yang penuh keyakinan sekaligus kelembutan. "Itulah sebabnya aku meminta Yuna yang menyampaikannya. Biarkan ia merasa ini adalah kesempatan yang ia temukan sendiri, yang ia perjuangkan dengan tangannya sendiri. Biarkan ia merasakan kebanggaan itu sepenuhnya — sebelum ia akhirnya tahu, bahwa di balik semua ini ada doa dan kasih sayang yang tak pernah berhenti mengiringinya. Saat waktunya tiba, ia akan mengerti. Aku yakin itu."

Ia berhenti sejenak, menyesap minumannya pelan, lalu melanjutkan dengan mata yang berbinar penuh harapan.

"Dan kabar baiknya... Rania sudah mengirimkan berkasnya, Dimas. Ia sudah berani melangkah. Yuna memberitahuku kemarin sore — ia mengisinya sendiri, menuliskan cita-citanya dengan jujur, tanpa dibuat-buat, tanpa dilebih-lebihkan. Itulah yang paling berharga bagiku: bukan bahwa ia akan kuliah, tapi bahwa ia mulai percaya pada dirinya sendiri."

Dimas tersenyum lebar, bahagia tulus terpancar dari wajahnya, seakan kabar itu adalah hal terbaik yang ia dengar sepanjang hari. "Benarkah? Itu luar biasa, Rin! Aku selalu tahu ia gadis yang cerdas dan tekun. Ia pantas mendapatkannya."

Namun sejenak kemudian, senyumnya memudar sedikit, digantikan oleh keraguan halus yang menyelinap di matanya.

"Tapi..." ia memulai pelan, berhati-hati memilih kata, "bagaimana dengan perasaannya padamu? Padaku? Kau tahu bagaimana ia memandangku, bukan? Bagaimana tatapannya berubah setiap kali kita berpapasan?"

Rina terdiam sejenak, menyadari betul hal itu — betul bahwa ia telah melihatnya, betul bahwa ia tahu perasaan adiknya itu, dan hal itu menyakitinya sama seperti menyakiti Rania sendiri.

"Aku tahu," jawabnya lirih, suaranya penuh kesedihan yang halus namun nyata. "Aku melihatnya. Dan setiap kali aku melihatnya, hatiku terasa perih. Ia menyukaimu, Dimas. Bukan sekadar kagum, bukan sekadar menyayangi kakak temannya — ia benar-benar jatuh cinta padamu. Dan hal yang paling berat adalah... ia tidak tahu bahwa kitalah yang saling mencintai."

Keheningan kembali menyelimuti meja mereka, kali ini terasa lebih berat, lebih penuh dengan perasaan yang rumit. Dimas menunduk, tangannya mencengkeram gelas dengan erat, seakan berusaha menahan sesuatu yang ingin meloncat keluar.

"Aku tidak pernah bermaksud menyakitinya," ucapnya pelan, penuh penyesalan yang tulus. "Bagiku, ia selalu adik yang baik, gadis yang ceria dan penuh harapan. Tak pernah ada perasaan lain di hatiku selain itu. Tapi aku takut... jika ia tahu, ia akan merasa dikhianati. Ia akan merasa kita menyembunyikan sesuatu darinya, bahwa kita mengambil apa yang seharusnya miliknya."

Rina mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan Dimas yang tergeletak di meja, sentuhannya lembut dan menenangkan. Dimas mendongak, menatapnya, dan di mata Rina ia menemukan kekuatan yang selama ini ia cari.

"Kita tidak mengambil apa pun, Dimas," ucapnya tegas namun lembut. "Hati tidak bisa dipaksa, tidak bisa diberikan begitu saja seperti benda. Apa yang ada di antara kita sudah tumbuh sejak lama, sebelum Rania menyadarinya. Dan aku yakin... suatu hari nanti, ia akan mengerti. Ia akan menemukan cintanya sendiri — yang tulus, yang utuh, yang ditujukan hanya padanya. Seseorang yang melihatnya sebagaimana ia pantas dilihat."

Dimas membalas genggaman tangan itu, meremas pelan, mencari kekuatan di sana. "Kau selalu tahu cara menenangkanku," ucapnya dengan senyum tipis yang mulai kembali mengembang di bibirnya. "Tapi bagaimana dengan rencanamu pergi ke Amerika? Bagaimana dengan kita? Apakah semua ini tidak akan berubah saat kau jauh?"

Rina menarik napas panjang, menatapnya lekat-lekat, membiarkan keheningan berbicara sejenak sebelum kata-kata itu keluar.

"Aku berangkat dua bulan lagi," ucapnya pelan, jujur tanpa menutupi apa pun. "Dan jujur... aku takut. Bukan hanya takut akan perpisahan, tapi takut akan jarak, takut akan waktu, takut bahwa hal-hal bisa berubah tanpa kita sadari. Tapi aku juga tahu satu hal: jika hubungan ini tidak kuat bertahan hanya karena jarak, maka ia tidak akan kuat menghadapi apa pun yang lebih besar nanti."

Ia menatapnya dalam, matanya jernih dan penuh keteguhan.

"Pergiku bukan untuk menjauh darimu, Dimas. Melainkan untuk membuktikan — padamu, pada diriku sendiri, pada semua orang — bahwa kita bisa. Bahwa apa yang kita miliki cukup kuat, cukup nyata, untuk menembus jarak dan waktu."

Dimas menatapnya, kagum sekaligus bangga. Ia menggenggam tangan Rina lebih erat, membawanya perlahan ke dekat bibirnya, menyentuh punggung tangan itu dengan kecupan lembut yang penuh janji.

"Maka aku akan menunggumu," ucapnya tegas, tanpa ragu sedikit pun. "Selama yang dibutuhkan. Aku tidak akan ke mana-mana. Dan saat kau kembali, aku akan berdiri di tempat yang sama, menantimu dengan cinta yang sama, mungkin bahkan lebih besar dari hari ini."

Mata Rina berkaca-kaca, namun ia tersenyum, air mata itu bukan tanda kesedihan, melainkan kebahagiaan yang tak sanggup ditahan. Di luar, lampu-lampu kota terus berkelap-kelip, angin malam bertiup lembut, namun di dalam restoran itu, dunia terasa begitu kecil, begitu hangat, hanya milik mereka berdua.

"Mengenai Rania..." Rina kembali membuka suara pelan, mengembalikan percakapan pada hal yang tak boleh dilupakan, "setelah ia diterima, aku berencana membiarkannya memulai semuanya sendiri — mendaftar, mengikuti orientasi, merasakan bangga menjadi dirinya sendiri — sebelum akhirnya aku berbicara dengannya secara langsung. Aku ingin ia tahu bahwa keberhasilannya adalah miliknya sepenuhnya, bukan pemberian siapa pun."

Dimas mengangguk setuju. "Itu hal yang paling bijaksana. Biarkan ia tumbuh, biarkan ia menemukan sayapnya sendiri. Saat ia siap, ia akan mengerti maksud hatimu."

Makan malam mereka berlanjut dengan percakapan yang lebih ringan, lebih tenang — bercerita tentang hal-hal kecil, tentang masa lalu, tentang mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan. Tidak ada lagi keraguan yang berat, tidak ada lagi ketakutan yang menyelimuti. Hanya kesadaran bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan menghadapinya bersama.

Saat mereka berjalan keluar restoran, udara malam terasa sejuk menyentuh wajah. Dimas mengantar Rina ke mobilnya, berdiri sejenak di samping pintu yang belum tertutup, menatapnya dengan tatapan yang penuh kasih sayang.

"Pulanglah dengan selamat," ucapnya pelan. "Dan ingat — apa pun yang terjadi, kau tidak sendirian."

Rina tersenyum, mengangguk lembut. "Kau juga. Jaga dirimu, Dimas."

Pintu tertutup pelan, dan mobil itu melaju perlahan membelah jalanan kota yang tenang. Dimas berdiri diam hingga cahaya lampu belakang mobil itu tak lagi terlihat, lalu berbalik melangkah pulang — hatinya tenang, pikirannya jernih, dan satu hal yang ia yakini sepenuhnya: bahwa jalan di depan mungkin tidak mudah, namun mereka akan melaluinya, selangkah demi selangkah, bersama-sama.

Dan jauh di tempat lain, di bawah langit malam yang sama, Rania duduk di tepi tempat tidurnya, menatap surat yang tergeletak rapi di atas meja kecilnya — bukti bahwa ia sudah berani melangkah, bahwa mimpi itu bukan lagi sekadar khayalan. Ia belum tahu siapa yang mendukungnya dari balik tirai, belum tahu seberapa besar kasih sayang yang mengiringi setiap langkahnya. Namun ia tahu satu hal: ia tidak akan menyerah. Ia akan berjuang, bukan hanya untuk mimpinya, melainkan untuk menjadi seseorang yang pantas mendapatkan semua kebaikan yang datang kepadanya.

 

Bersambung… ✨

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!