Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.
Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Restoran barbekyu Korea di dekat kantor malam itu dipenuhi aroma daging panggang yang menggugah selera.
Di sudut ruangan, Alesia, Hana, dan Min-ji duduk melingkar menghadapi panggangan yang mendesis. Gelak tawa dan dentingan gelas sesekali terdengar, mengembalikan aura ceria Alesia yang sempat hilang selama berminggu-minggu.
Namun, di tengah-tengah obrolan seru mereka tentang gosip kantor, Min-ji tiba-tiba meletakkan sumpitnya. Ia menatap Alesia dengan pandangan menyelidik yang tajam.
"Al, dipikir-pikir ada yang aneh deh," buka Min-ji, memicingkan matanya.
"Kenapa tiba-tiba Pak Dante melarangmu lembur? Maksudku, dia kan terkenal sebagai bos diktator yang suka memeras tenaga karyawannya sampai tetes terakhir. Tapi kenapa khusus untukmu, dia malah menyuruhmu pulang tepat waktu?"
Hana ikut mencondongkan badannya, mengangguk setuju.
"Benar kata Min-ji. Sikapnya mendadak melunak begitu sejak kamu mengembalikan jasnya. Jangan-jangan... ada sesuatu ya di antara kalian berdua?"
Alesia hampir saja tersedak daging yang baru dikunyahnya. Wajahnya mendadak merona, teringat kembali momen ketika Dante duduk di depannya di toserba semalam. Namun, ia buru-buru menggelengkan kepala dengan heboh.
"Kalian ini mikir apa, sih? Mana ada sesuatu!" seru Alesia, berusaha bersikap senatural mungkin.
"Ya... mungkin dia melarangku lembur karena tidak mau rugi. Perusahaan kan harus membayar uang lemburan terus kalau aku pulang malam. Pak Dante itu kan perfeksionis dan perhitungan, jadi dia pasti mau menghemat anggaran."
Alesia mengembuskan napas pelan setelah mengucapkan kalimat itu. Sejujurnya, dia sendiri juga tidak tahu alasan pasti mengapa Dante melarangnya lembur.
Alasan tentang efisiensi uang lemburan adalah satu-satunya hal masuk akal yang bisa ia pikirkan agar kedua temannya tidak terus-menerus menginterogasinya.
Hana manggut-manggut, tampak menerima alasan itu.
"Ah, benar juga. Bos kaya tipe begitu biasanya memang pelit untuk urusan pengeluaran kecil seperti uang lembur karyawan bawah."
Alesia diam-diam bernapas lega karena berhasil mengalihkan kecurigaan mereka.
...----------------...
Beberapa hari kemudian, hari yang mendebarkan bagi seluruh manajemen akhirnya tiba: rapat pleno bulanan Aetheris Games.
Kali ini, Alesia sebagai staf admin tingkat bawah tidak ikut masuk ke dalam ruang rapat utama. Perwakilan dari divisi mereka didelegasikan sepenuhnya kepada Yuri, sang Kepala Divisi Pemasaran yang keibuan namun tegas.
Selama rapat berlangsung, atmosfer di lantai 35 terasa sedikit tegang. Namun, begitu pintu ruang rapat besar di lantai atas terbuka, Yuri berjalan kembali ke area kubikel dengan senyuman yang merekah lebar di wajahnya. Beliau menepuk tangannya dengan riang untuk mengumpulkan semua staf.
"Semuanya, tolong dengarkan sebentar! Saya membawa berita luar biasa dari jajaran direksi!" seru Yuri bersemangat. Seluruh karyawan divisi pemasaran langsung berdiri dan berkumpul di sekeliling meja Yuri.
"Berkat pencapaian luar biasa dalam menaikkan grafik pendapatan digital kita bulan ini, Pak Dante mengumumkan bahwa seluruh divisi di Aetheris Games akan mendapatkan bonus tambahan!"
Sorakan gembira langsung meledak di lantai 35. Beberapa staf bahkan bertepuk tangan heboh. Namun, kalimat Yuri selanjutnya membuat mereka semua semakin terkejut.
"Tapi... divisi pemasaran kita adalah divisi yang mendapatkan porsi bonus paling besar di antara yang lain!" lanjut Yuri, matanya berbinar menatap timnya.
Yuri kemudian menoleh ke arah Alesia yang berdiri di barisan belakang, lalu terkekeh pelan.
"Fiore... kalau bukan karena kamu teledor dan ceroboh pas jalan di lift waktu itu, tidak mungkin satu divisi kita bisa kecipratan untung dan dapat bonus sebesar ini bulan ini."
Alesia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya bersemu merah karena malu sekaligus haru.
"Ini juga berkat usaha kita semua kan, Bu. Saya... mau mengucapkan terima kasih banyak juga ya untuk kalian semua yang sudah mau direpotkan dan membantu saya selama ini. Kalau tidak ada kalian, saya pasti sudah dipecat."
Hana langsung menyenggol lengan Alesia dengan jahil.
"Ih, kamu ini bicara apa sih, Al? Kayak sama siapa saja, deh!"
"Iya nih, kayak sama orang asing saja," sambung Min-ji sambil merangkul pundak Alesia dengan akrab. "Kita kan satu tim. Susah senang ya ditanggung bersama."
Melihat kekompakan dan ketulusan rekan-rekan kerjanya, kebahagiaan menyeruak di dada Alesia. Setidaknya, kerja kerasnya selama ini terbayar lunas.
Namun, senyuman Yuri mendadak berubah menjadi senyuman penuh arti yang penuh misteri.
"Nah, karena kita sedang merayakan kemenangan besar ini, manajemen memutuskan bahwa nanti malam kita semua akan mengadakan acara makan malam di aula hotel. Acara ini diadakan untuk merayakan kenaikan pendapatan kita, sekaligus... sebagai acara sambutan selamat datang resmi untuk Pak Dante sebagai CEO baru kita."
Hana yang mendengar kata 'hotel' langsung mengangkat tangannya.
"Wah mewah banget! Tapi... itu perwakilan divisi saja yang datang kan, Bu? Atau cuma jajaran petinggi?"
Yuri menggelengkan kepalanya tegas.
"Tidak ada perwakilan. Pak Dante menegaskan bahwa kita semua tanpa terkecuali wajib datang malam ini. Pakaiannya harus formal."
Mendengar penekanan kata 'wajib datang' dari mulut kepala divisinya, senyum di wajah Alesia seketika lenyap. Kalimat Dante di depan toserba semalam tiba-tiba terngiang kembali di otaknya: 'Kamu harus membayar sisa utangmu dengan cara lain. Besok saya pikirkan.'
Alesia menelan ludah dengan susah payah, sementara bulu kuduknya mendadak berdiri.
'Perasaan aku kok mendadak gak enak gini ya tiba-tiba?' batin Alesia meratapi nasibnya, merasa bahwa acara makan malam nanti malam adalah jebakan khusus yang sengaja dirancang oleh sang bos singa untuk menagih sisa utangnya.