Indonesia
NovelToon NovelToon
Serving The Ruthless Boss

Serving The Ruthless Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Fantasi
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.

Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.

Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

Alesia melangkah keluar dari ruangan eksekutif dengan bahu merosot. Beban di pundaknya kini terasa berkali-kali lipat lebih berat.

Angka 1% terus berputar-putar di otaknya seperti mantra kutukan.

Begitu ia tiba di area kubikel divisi pemasaran, Hana dan Min-ji yang sudah menunggu dengan cemas langsung melompat dari kursi mereka dan menghambur ke arah Alesia.

"Gimana, Al? Kamu... gak dipecat, kan?" tanya Hana dengan mata melebar panik.

Alesia membuang napas pendek, lalu mengempaskan tubuhnya ke kursi kerja dengan lesu.

"Aku disuruh menaikkan pendapatan digital perusahaan sampai 1% dalam waktu satu bulan. Kalau gagal... aku tetap bakal dipecat."

"Hah?! Serius?!" Min-ji memekik kaget sampai harus menutup mulutnya sendiri agar tidak memancing perhatian divisi lain.

"1% dari total pendapatan Aetheris itu nilainya miliaran won, Al! Itu gila namanya!"

"Nggak tahu deh... Mungkin ini memang sudah waktunya aku pulang ke Indonesia," gumam Alesia putus asa.

Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas meja kerja, menyembunyikan wajahnya yang mendadak mendung.

Melihat sahabat mereka yang biasanya ceria kini tampak begitu rapuh, Hana dan Min-ji saling berpandangan sedih. Mereka bergantian mengelus rambut Alesia lembut, mencoba menyalurkan kekuatan yang mereka miliki.

...----------------...

Malam harinya, Alesia pulang ke apartemen kecilnya dengan tubuh yang terasa remuk. Namun, baru saja satu langkah kakinya melewati pintu depan, ponsel di dalam tasnya berdering nyaring.

Layar ponsel menampilkan nama ibunya. Alesia menghela napas panjang, menekan tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, Bu," ucap Alesia berusaha menahan lelah dari suaranya.

"Halo, Al. Ibu mau minta uang tiga juta dong. Buat adikmu, katanya mau ada acara piknik sekolah minggu depan," sahut suara sang ibu di seberang sana, langsung tanpa basa-basi menanyakan kabar.

Alesia memijat pangkal hidungnya yang mendadak berdenyut.

"Bu... baru seminggu yang lalu aku kirim lima juta ke rumah."

"Ya uang yang itu kan buat kebutuhan dapur dan bayar listrik rumah, Al! Kalau yang ini kan khusus buat adikmu. Masa adekmu gak ikut piknik sendirian?" cecar ibunya mulai terdengar menuntut.

"Aku... aku sudah gak ada uang lagi bulan ini, Bu," ucap Alesia jujur.

Sisa gajinya hanya cukup untuk makan seadanya dan membayar sewa apartemen sampai akhir bulan.

Suara di seberang sana langsung berubah ketus.

"Bohong banget kamu, Al! Tabungan kamu di Korea kan pasti banyak, masa tiga juta saja tidak ada? Jangan pelit-pelit sama keluarga sendiri, nanti rezeki kamu seret, lho."

Kata-kata itu bagai duri yang menusuk dada Alesia. Ia membuang napas pendek, menelan rasa sesak yang menyumbat tenggorokannya.

"Ya sudah... habis ini aku transfer, Bu."

"Nah, gitu dong! Baru namanya anak berbakti. Makasih ya, Al!"

"Iya, Bu."

Tut. Panggilan berakhir secara sepihak.

Alesia berjalan gulai menuju sofa panjang di depan televisi. Begitu mendudukkan diri, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah begitu saja.

Dadanya sesak. Menanyakan kabarnya saja tidak pernah. Ibu dan keluarganya menelepon hanya jika mereka membutuhkan uang.

Di saat dunianya sedang runtuh dan ia harus berperang sendirian menghadapi tugas mustahil dari sang bos diktator, tempat yang ia harapkan menjadi rumah justru menjadi beban terberatnya.

Malam itu, Alesia menangis sendirian di atas sofa hingga matanya membengkak dan ia tertidur karena kelelahan.

...----------------...

Keesokan paginya, Alesia terbangun dengan posisi tubuh yang kaku di atas sofa. Menyadari dirinya ketiduran sejak semalam, ia segera melompat dan berlari ke kamar mandi untuk bersiap secepat mungkin ke kantor.

Sesampainya di lobi gedung Aetheris Games, Alesia menempelkan kartu aksesnya pada mesin autrogate yang berbunyi 'pip'.

Saat ia sedang berdiri lesu menunggu lift karyawan, tiba-tiba suasana lobi mendadak formal. Dante Luca Alessio dan Rey melangkah tegap melewati barisan karyawan, berjalan lurus menuju lift khusus jajaran eksekutif di sudut koridor.

Begitu pintu lift khusus itu tertutup dan membawa kedua pria itu ke atas, Alesia menatapnya dengan pandangan nanar.

'Kenapa kemarin-kemarin dia gak naik lift itu saja sih? Malah naik lift karyawan,' batin Alesia kesal dalam hati, mengingat kembali insiden kopi tumpah yang kini sukses membuat otaknya harus berputar keras memikirkan strategi pemasaran baru.

Begitu kakinya melangkah keluar di lantai 35, Alesia agak terkejut melihat semua rekan kerjanya ternyata sudah datang lebih awal.

Belum sempat ia menaruh tas, kepala divisi pemasaran seorang wanita paruh baya yang biasanya tegas namun keibuan langsung menepuk tangannya.

"Semuanya, rapat internal dimulai lima menit lagi. Tolong segera ke ruang rapat."

Lima menit kemudian, ruangan rapat kecil sudah dipenuhi oleh seluruh anggota tim pemasaran. Tanpa membuang waktu, kepala divisi langsung membuka presentasi di layar proyektor.

"Hari ini kita akan membahas total mengenai ide iklan digital dan strategi kampanye baru untuk game utama kita."

Semua rekan kerja Alesia langsung bergantian memberikan pendapat mereka dengan sangat antusias.

Alesia yang duduk di sudut meja mengerutkan kening bingung. Ia akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat tangan.

"Maaf, Timjang-nim (Ibu Kepala Divisi)... kenapa kita tiba-tiba membahas ide iklan baru sekarang?

Bukankah jadwal pembahasan kampanye digital ini baru bulan depan?" tanya Alesia bingung.

Kepala divisi menghentikan penjelasannya, lalu menatap Alesia dengan senyum hangat.

"Kenapa kamu tidak bilang dari kemarin soal tugas khusus yang diberikan oleh Pak Dante, Fiore?"

Alesia tertegun. Matanya langsung melebar. "I-ibu tahu dari mana?"

Kepala divisi melirik ke arah sudut meja. Di sana, Min-ji dan Hana melambaikan tangan mereka dengan cengiran lebar yang terlihat bersalah namun tulus.

Ternyata semalam, Min-ji dan Hana. Mereka berdua menghubungi kepala divisi dan mengumpulkan seluruh anggota divisi pemasaran tadi malam melalui grup obrolan untuk menceritakan masalah besar yang sedang menimpa Alesia.

Mereka semua sepakat untuk bersatu membantu Alesia mempertahankan pekerjaannya.

"Min-ji dan Hana sudah menceritakan semuanya kepada saya," lanjut kepala divisi dengan suara yang melembut.

Seketika itu juga, pertahanan Alesia runtuh. Air mata yang sejak semalam ia bendung kini kembali meleleh, namun kali ini bukan karena rasa sedih, melainkan karena rasa terharu yang luar biasa.

Di saat ia merasa seluruh dunianya hancur dan keluarganya sendiri tidak peduli, ternyata ada orang-orang di tempat kerja ini yang begitu menyayanginya dan peduli padanya.

"Gomapseumnida..." (Terima kasih...) ucap Alesia dalam bahasa Korea formal sambil terisak, membungkukkan kepalanya berkali-kali di depan meja rapat.

Teman-teman perempuannya, termasuk Hana dan Min-ji, langsung berdiri dari kursi mereka dan memeluk tubuh kecil Alesia dengan erat.

"Kita ini satu divisi, Ale. Jadi kalau salah satu dari kita punya masalah, itu juga jadi masalah kita semua. Kita tidak akan membiarkan Pak Dante memecat admin terbaik kita hanya karena masalah spasi atau kemeja luntur," ucap sang kepala divisi penuh wibawa, ikut menepuk bahu Alesia hangat.

Tangis Alesia semakin pecah mendengar kalimat tulus itu.

Namun, di tengah-tengah momen pelukan yang mengharukan itu, tiba-tiba seorang rekan pria dari ujung meja ikut melangkah mendekat dengan wajah jahil yang dibuat-buat prihatin.

Pria itu mengulurkan tangannya dan mengusap puncak kepala Alesia dengan gerakan sok keren.

"Tenang saja, Alesia. Kalau ada apa-apa atau butuh sandaran hidup, bilang saja sama Oppa," ucap laki-laki itu sambil mengedipkan sebelah matanya, mencoba modus di tengah suasana haru.

Plak!

Min-ji dengan sigap langsung memukul lengan pria itu dengan buku catatannya.

"Eeeh! Tangan tolong dikondisikan ya! Jangan modus kamu, Ji-hoon!"

"Aduh! Galak banget sih, Min-ji!" keluh Ji-hoon sambil mengusap lengannya yang memerah, membuat seluruh orang di dalam ruang rapat seketika pecah dalam tawa yang renyah.

Suasana mencekam yang menghantui Alesia sejak pagi pun mendadak sirna, berganti dengan kobaran semangat baru untuk menaklukkan target mustahil dari sang CEO singa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!