Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10
****
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah ranting pohon willow tua di Halaman Belakang Istana Zhen. Udara musim gugur yang mulai mendingin tidak sedikit pun menyurutkan kegembiraan Pangeran Zhen Yu. Pria bertubuh tinggi tegap yang seharusnya sudah memancarkan wibawa seorang pangeran dewasa itu justru tengah berlarian di atas rumput dengan jubah sutra biru mudanya yang melambai-lambai riang.
Di kedua tangannya, Zhen Yu memegang sekepal biji gandum. Mulutnya sibuk menirukan suara ciutan burung dengan raut wajah sangat serius dan polos.
"Cuit... cuit! Burung kecil, ayo sini! Yu-er punya makanan enak!" serunya kegirangan sambil berjongkok, mencoba memancing sekawanan burung gereja yang bertengger di tepi kolam.
Setiap kali burung-burung itu mendekat, Zhen Yu akan tertawa lebar hingga deretan giginya terlihat, persis seperti anak usia lima tahun yang mendapatkan mainan baru.
Di teras paviliun tak jauh dari sana, Xiu Ying duduk beralaskan bantal bersulam sutra. Ia mengenakan gaun kain ungu pudar yang nyaman, rambut panjangnya hanya diikat sederhana menggunakan jepit kayu tanpa ornamen berlebihan. Pandangannya sesekali terangkat, memperhatikan sang suami yang sedang asyik bermain, memastikan pria itu tidak kembali tergelincir masuk ke dalam kolam.
Namun, fokus utama Xiu Ying pagi ini bukanlah burung gereja atau cuaca cerah, melainkan setumpuk buku tebal berbahan perkamen kusam yang tergelar di atas meja kayu di hadapannya.
Trak! Trak!
Jari-jemari lentik Xiu Ying bergerak lincah menggeser butiran kayu pada sempoa kuno yang baru saja ia perintahkan Susu untuk pinjam dari dapur. Matanya yang tajam bak elang menyapu deretan angka dan catatan yang ditulis sembarangan di dalam buku kas pengeluaran Istana Zhen.
Sebagai Chen Zuyi seorang pengusaha yang terbiasa membedah laporan keuangan ratusan miliar di dunia modern—membaca pembukuan era kuno ini baginya seperti membaca buku dongeng anak-anak, namun dengan plot twist kemunafikan yang luar biasa menjijikkan.
"Luar biasa," gumam Xiu Ying dingin, menyandarkan punggungnya ke tiang paviliun. Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman sinis yang membuat Susu, yang berdiri menyeduhkan teh di sampingnya, langsung merinding.
"A-Ada apa, Nonya?" tanya Susu pelan, meletakkan cangkir teh porselen yang sudah retak pinggirnya di atas meja.
Xiu Ying menunjuk tumpukan buku kas tersebut dengan tatapan meremehkan. "Lihat ini, Susu. Menurut catatan dari Kasim Istana Utama yang kuterima kemarin sore, Istana Zhen berhak menerima tunjangan bulanan sebesar lima ratus tael perak, lima puluh gulung kain sutra kualitas menengah, dan pasokan makanan mewah yang cukup untuk memberi makan seratus pelayan setiap bulannya."
Xiu Ying mengetukkan kukunya di atas meja kayu. "Namun, jika melihat pembukuan yang dicatat oleh pengurus rumah tangga tercinta kita, Bibi Guan... pengeluaran untuk 'perbaikan atap' tercatat menelan biaya dua ratus tael. Padahal, semalam aku melihat atap di Halaman Barat masih bocor dan kayunya mulai membusuk."
Susu terbelalak. "Dua ratus tael?! Tapi Nona... bahkan perhiasan yang biasa dibeli Nona Ketiga dulu tidak semahal itu! Bagaimana mungkin memperbaiki atap memakan biaya sebesar itu tanpa hasil yang terlihat?"
"Tepat sekali," sahut Xiu Ying tenang. "Lalu lihat ini. Pasokan daging ayam dan babi hutan dicatat habis dimakan oleh Yang Mulia Pangeran. Padahal, sejak aku tiba dua hari lalu, hidangan yang disajikan untuk Pangeran hanyalah bubur encer, tumis sayur layu, dan daging sisa yang dimasak ulang. Dan yang paling menarik... ke mana perginya jatah kain sutra bulanan itu? Pakaian suamiku yang paling bagus hanyalah jubah biru yang ia pakai saat ini, itupun ujung lengannya sudah mulai berbulu karena terlalu sering dicuci."
"Bibi Guan dan para pelayan senior itu... mereka menggelapkan harta Pangeran secara terang-terangan!" jerit Susu tertahan, wajahnya memucat bercampur amarah. "Nonya, ini adalah pencurian besar di kediaman kerajaan! Bagaimana bisa mereka berani melakukan ini pada pangeran?!"
Xiu Ying menyesap tehnya yang agak hambar dengan tenang. "Kenapa tidak berani? Suamiku adalah Pangeran Ke-7 yang memiliki akal seperti anak kecil. Dia tidak tahu cara berhitung, tidak tahu nilai uang, dan tidak akan pernah melaporkan kemiskinannya pada Kaisar. Di mata para pelayan licik seperti Bibi Guan, melayani Pangeran idiot di istana terpencil ini adalah ladang emas yang bisa mereka jarah sesuka hati tanpa takut ketahuan."
Prang! Xiu Ying meletakkan cangkir tehnya dengan sentakan keras, matanya berkilat mematikan. "Selama ini, pangeranku hidup kelaparan dan kedinginan di istananya sendiri, sementara pelayan-pelayannya menggemukkan kantong mereka dengan harta kekaisaran."
Susu menelan ludah. "L-Lalu apa yang akan Nona lakukan?"
"Apa yang kulakukan?" Xiu Ying tersenyum manis namun sarat akan racun. "Di kehidupanku yang dulu, siapa pun pegawai yang berani mencuri satu sen pun dariku, aku pastikan mereka berakhir di penjara dengan aset yang disita habis. Di sini? Aku akan membuat Bibi Guan memuntahkan kembali setiap keping perak yang telah dia telan selama bertahun-tahun."
"Kakak Cantik!"
Sebuah suara riang tiba-tiba memecah keheningan menegangkan di paviliun.
Pangeran Zhen Yu berlari kencang menghampiri Xiu Ying. Jubahnya kotor oleh sisa-sisa rumput, dan di tangannya ia menggenggam seekor burung gereja kecil yang tampak kebingungan tapi tidak berontak. Wajah tampannya dipenuhi peluh, namun senyum lebarnya memancarkan kehangatan yang tiada tara.
Zhen Yu langsung berlutut di samping meja kayu Xiu Ying, menopang dagunya di tepi meja sambil menatap istrinya dengan mata hitam pekat yang berbinar-binar.
"Lihat! Lihat! Yu-er berhasil tangkap burung kecil! Burungnya tidak takut sama Yu-er!" celoteh Zhen Yu bangga, memamerkan burung tersebut tepat di depan wajah Xiu Ying.
Xiu Ying refleks memundurkan wajahnya sedikit, ekspresi seriusnya seketika luntur berganti dengan senyum lembut yang alami. Kebiasaan Zhen Yu yang selalu menempel padanya sejak insiden di kolam tempo hari entah mengapa membuat hati wanita modern yang keras itu perlahan melunak. Pangeran ini, di balik statusnya, benar-benar sepolos kertas putih.
"Pangeran hebat sekali," puji Xiu Ying lembut, mengulurkan tangannya untuk mengusap peluh di dahi Zhen Yu menggunakan lengan bajunya. "Tapi kasihan burungnya, Pangeran. Dia pasti rindu pada ibunya di pohon. Mau pangeran lepaskan lagi?"
Zhen Yu memiringkan kepalanya bingung, menatap burung di tangannya lalu menatap Xiu Ying. "Rindu ibu? Sama seperti Yu-er? Yu-er juga sering rindu ibu..."
Ucapannya yang polos dan sarat akan kesedihan yang terpendam itu membuat dada Xiu Ying berdesir nyeri. Ia tahu dari ingatan masa lalunya bahwa ibu kandung Pangeran Ke-7 adalah kesayangan kaisar telah lama meninggal karena sakit, yang menjadi awal mula trauma dan 'kebodohan' sang pangeran.
"Jangan sedih," bujuk Xiu Ying pelan, menepuk lembut punggung tangan Zhen Yu. "Pangeran sekarang punya aku. Aku tidak akan membiarkan Pangeran sendirian lagi."
Binar mata Zhen Yu kembali terang benderang. "Benar? Kakak Cantik tidak akan pergi? Kakak Cantik mau menemani Yu-er selamanya?"
"Aku janji," jawab Xiu Ying mantap. "Sekarang, lepaskan burungnya, ya? Nanti kita minta dapur membuatkan manisan teratai untuk Pangeran."
"Hore! Manisan teratai!" Zhen Yu bersorak gembira. Ia segera membuka telapak tangannya, membiarkan burung gereja itu terbang bebas ke angkasa, lalu menatap burung itu hingga menghilang dengan tepuk tangan riang.
Sambil menatap tawa lepas suaminya, Xiu Ying bergumam di dalam hatinya, Pria ini... adalah tanggung jawabku sekarang. Siapapun yang berani menipunya, menyakitinya, atau merendahkannya, akan berhadapan denganku.
"Susu," panggil Xiu Ying dengan nada suara yang kembali tegas dan berwibawa.
"Ya, Nona?"
"Kumpulkan seluruh pelayan dan penjaga di pelataran Halaman Utama. Panggil Bibi Guan dan kedua pelayan seniornya. Beritahu mereka, Nyonya Utama Istana Zhen ingin mengadakan pemeriksaan pembukuan bulanan... sekarang juga."
( Bersambung)