Indonesia
NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:399
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.

Namun, satu hal tak pernah berubah.

Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.

Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.

Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Keluarga.

Menjelang tengah hari, mobil Junho memasuki kawasan Apgujeong-dong. Jalanannya rapi dengan pepohonan yang tertata di sepanjang sisi jalan, sementara deretan kediaman berdiri anggun tanpa banyak penanda yang mencolok. Rumah keluarga Kim berada sedikit masuk dari jalan utama. Pagar besi hitamnya telah terbuka lebar, seolah kedatangan mereka memang sudah dinantikan.

Begitu mobil berhenti sempurna di depan rumah, pintu utama sudah lebih dahulu terbuka.

“Jun-seok sudah datang?” suara Han Minseo terdengar nyaring dari dalam rumah. Perempuan yang tidak lagi muda itu bahkan nyaris berlari kecil menghampiri mereka, meski tetap berusaha mempertahankan postur elegannya.

Jun-seok turun lebih dahulu dari mobil, nyaris melompat begitu kedua kakinya menyentuh tanah.

“Halmeoni!” serunya riang, tidak lagi peduli pada sepatu yang bahkan belum terpasang dengan sempurna.

Han Minseo segera merunduk dan memeluk cucunya erat-erat. Kedua tangannya mengusap punggung kecil itu berulang kali, seolah ingin memastikan bahwa Jun-seok benar-benar ada di dalam pelukannya.

“Kau tinggi sekali. Kenapa lama tidak datang? Halmeoni rindu, tahu,” ucapnya dengan suara yang melembut di akhir kalimat.

Jun-seok tertawa kecil dalam pelukannya, lalu melingkarkan kedua tangan di leher sang nenek. Senyumnya mengembang lebar, membuat wajahnya tampak semakin cerah. Kerinduan yang selama ini hanya bisa disampaikan lewat panggilan dan pesan singkat seolah terbayar lunas dalam pelukan sederhana itu.

“Halmeoni tahu... Seok sekarang sibuk belajar. Ditambah Daddy dan Mommy juga sibuk bekerja, jadi Seok tidak bisa ke sini,” jawabnya pelan.

Minseo terkekeh mendengar penjelasan polos itu, ada sesuatu dalam cara Jun-seok menyusun alasannya yang membuatnya sulit menahan senyum. Dari dalam rumah, Kim Daejung muncul menyusul posturnya masih tegap di usianya yang semakin menua meskipun wajahnya tetap keras seperti biasa, tetapi langkahnya justru bergerak lebih cepat daripada yang mungkin ia sadari sendiri.

“Jun-seok,” panggilnya.

Suaranya berat dan tegas, tetapi antusiasme yang berusaha ia sembunyikan terdengar jelas di sela-selanya.

Jun-seok segera menoleh dan begitu melihat sang kakek, wajahnya kembali berbinar. Ia berlari menghampiri tanpa ragu, lalu memeluk kaki Daejung erat-erat.

“Harabeoji!”

Daejung menundukkan pandangan pada cucunya. Sudut bibirnya nyaris terangkat sebelum ia kembali memasang ekspresi tenang tangannya yang besar kemudian turun ke kepala Jun-seok, mengusap rambutnya sekali dengan gerakan sederhana.

“Kau sehat,” katanya singkat.

Bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan yang terdengar seperti kepuasan seorang kakek setelah memastikan cucunya baik-baik saja. Nala berdiri sedikit di belakang Junho, mengamati keduanya dengan senyum tipis. Ada kehangatan yang perlahan memenuhi dadanya melihat Jun-seok begitu dekat dengan kedua orang tua Junho. Ia kemudian menundukkan kepala dengan sopan ketika Minseo menoleh ke arahnya.

“Nala-ya, masuklah. Jangan berdiri di luar,” sapa Minseo lembut.

Junho turut mengangguk hormat kepada ayahnya sesaat kemudian, tangannya meraih tangan Nala dan menggenggamnya singkat sebuah isyarat kecil yang mungkin luput dari perhatian siapa pun, tetapi cukup bagi mereka untuk saling memahami.

Mereka pun melangkah masuk bersama.

Begitu pintu tertutup di belakang mereka, suasana ruang tamu terasa jauh lebih hidup. Suara langkah Jun-seok yang berlarian kecil, sapaan Minseo, dan percakapan Daejung yang sesekali terdengar dari belakang segera memenuhi ruangan yang sebelumnya tenang.

Hyunseok sudah duduk di sofa utama bersama Evelyn. Pria itu segera berdiri begitu melihat mereka datang, senyum tipis terbit di wajahnya. Tidak berlebihan, tetapi cukup untuk menunjukkan ketulusan menyambut kedatangan mereka.

“Kalian akhirnya datang,” ucapnya.

Evelyn tersenyum hangat sambil menggendong Ji-ah yang baru berusia tiga tahun. Gadis kecil itu semula bersandar nyaman di bahu ibunya, tetapi kemudian Evelyn sedikit memutar tubuhnya agar Ji-ah dapat melihat ke arah pintu.

“Ji-ah, lihat siapa yang datang,” ucapnya.

Ji-ah menoleh matanya langsung membulat ketika pandangannya jatuh pada Jun-seok yang berdiri tidak jauh dari sana.

“Oppa,” katanya pelan diiringi senyum malu-malu segera menghiasi wajah mungilnya. Jun-seok langsung berjongkok agar sejajar dengan tinggi Ji-ah wajahnya ikut berbinar melihat sepupunya.

“Halo, Ji-ah. Aku bawa mainan nanti, ya,” katanya dengan nada riang.

Namun, sebelum percakapan mereka berkembang lebih jauh, terdengar suara langkah kecil dari arah lorong. Dua sosok berbulu kemudian muncul dan berlari kecil menuju ruang tamu.

“LEON! LUNA!” Jun-seok berseru nyaris berteriak.

Dua ekor kucing British Shorthair itu langsung menjadi pusat perhatiannya. Leon dengan bulu soft-blue melangkah lebih dahulu, sementara Luna yang berbulu blue-cream mengikutinya dengan ekor terangkat tinggi.

Leon melompat ringan ke atas sofa dan kemudian duduk dengan tenang, seolah kedatangan seluruh keluarga sama sekali bukan perkara besar baginya. Sementara itu, Luna berhenti tepat di kaki Jun-seok. Dengkurannya terdengar pelan ketika anak itu berjongkok dan mengelus kepalanya.

“Mommy... mereka semakin besar, kan, sekarang?” tanyanya kagum. Tangannya berpindah mengelus Leon dan Luna bergantian, matanya terus mengikuti setiap gerakan kedua kucing kesayangannya.

Nala tersenyum kecil melihat kegembiraan putranya.

“Mereka dirawat dengan sangat baik di sini,” jawab Nala lembut.

Minseo yang berdiri tidak jauh dari mereka mengangguk dengan senyum bangga.

“Tentu saja. Mereka juga cucuku,” balasnya sembari tertawa kecil.

Junho melirik ibunya, alisnya terangkat tipis.

“Sejak kapan kucing masuk daftar cucu?” tanyanya.

Minseo menepuk lengan Junho pelan, seolah pertanyaan itu tidak perlu diperdebatkan.

“Sejak kalian menitipkannya,” jawabnya santai.

Jawaban itu membuat Daejung menggeleng kecil, sementara tawa pelan segera menyebar di antara mereka suasananya ringan dan hangat, tanpa ada yang merasa perlu memaksakan percakapan. Evelyn kemudian menurunkan Ji-ah yang sedari tadi duduk di pangkuannya, membiarkannya bergabung dengan Jun-seok. Gadis kecil itu segera berjalan mendekat, lalu duduk lesehan di atas karpet tebal bersama Jun-seok dan kedua kucing yang masih sibuk mencari perhatian.

“Sini...” Jun-seok meraih tangan Ji-ah dan menariknya mendekat.

Evelyn hanya tersenyum melihat interaksi kecil yang begitu manis itu. Ji-ah pun menurut tanpa banyak bicara, kemudian duduk di samping Jun-seok sambil memperhatikan Leon dan Luna yang bergantian mendekat kepada mereka.

“Seok-ah... ini...” panggil Evelyn sembari menyodorkan sebuah paper bag berukuran cukup besar yang sejak tadi memang sudah diletakkan di atas meja.

Jun-seok langsung berdiri, matanya tertuju pada paper bag itu dengan rasa ingin tahu yang nyaris tidak dapat disembunyikan.

“Itu cokelat?” tanyanya ragu.

Evelyn mengangguk tenang.

“Eum... sesuai janji Keun-eomeoni. Cokelat Cadbury dan permen-permen fudge kesukaanmu,” katanya lembut.

Begitu mendengar kata Cadbury dan fudge, wajah Jun-seok seketika berubah cerah. Ia menerima paper bag tersebut dengan kedua tangan, lalu segera mengintip ke dalam matanya membesar melihat isinya yang penuh.

“Banyak sekali...” gumamnya takjub. Ia kemudian mengangkat wajah dan tersenyum lebar. “Terima kasih, Keun-abeoji. Keun-eomeoni,” katanya sembari menundukkan kepala kecil sebagai tanda terima kasih.

Sikapnya yang begitu antusias membuat seluruh keluarga tertawa pelan. Jun-seok bahkan tidak ikut tertawa karena perhatiannya sudah sepenuhnya tertuju pada isi paper bag tersebut ia meletakkannya dengan hati-hati di atas meja, lalu menatap orang-orang di sekelilingnya dengan wajah penuh semangat sebelum akhirnya berkata,

“Halmeoni, ayo main di taman... Seok ingin lihat ikan itu,” ajaknya kepada Minseo.

“Gaja,” jawab Minseo sembari menggendong Ji-ah untuk ikut bersama mereka. Ia kemudian menoleh kepada yang lain. “Kami di belakang,” ucapnya sebelum berlalu meninggalkan mereka.

Jun-seok segera mengikuti langkah sang nenek dengan penuh semangat. Sesekali terdengar suaranya yang riang dari kejauhan, hingga punggung Minseo dan kedua cucunya menghilang di balik kaca pembatas. Setelah itu, Daejung kembali membuka percakapan tatapannya beralih kepada Evelyn yang masih duduk di sofa.

“Bagaimana keluargamu di sana, Nak?” tanyanya.

Evelyn menoleh, kemudian tersenyum sopan.

“Mereka baik-baik saja, Appa-nim,” jawabnya lembut.

Daejung mengangguk pelan sikapnya tetap tenang seperti biasa, kedua tangannya bertumpu santai pada sandaran kursi.

“London selalu terdengar jauh. Tapi kalau mereka baik-baik saja, aku senang mendengarnya,” ujarnya pelan.

Nada suaranya terdengar datar, tetapi ketertarikan yang tulus terhadap kabar keluarga Evelyn tetap terasa.

“Puji Tuhan, Appa,” jawab Evelyn lembut. “Ayah masih aktif di firma, meskipun Ibu sudah mulai mengurangi jam kerjanya. Mereka sering menanyakan Ji-ah... dan tentu saja Hyunseok.”

Evelyn melirik suaminya sekilas senyum kecil menghangat di wajahnya ketika menyebut nama itu. Hyunseok hanya menanggapinya dengan anggukan singkat, sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Aku berencana membawa Ji-ah ke sana lagi musim panas nanti. Sekalian mempertemukan kedua keluarga lebih lama... kalau Appa dan Eomma tidak keberatan ikut,” tawarnya.

Daejung mengangguk tanpa banyak pertimbangan.

“Tentu. Kalau ada kesempatan, kami akan ikut.”

Evelyn tersenyum lega. Percakapan sederhana itu perlahan terasa seperti pembicaraan dua keluarga yang semakin menemukan tempatnya masing-masing, meskipun dipisahkan oleh jarak yang begitu jauh.

“Itu keputusan yang baik. Anak memang perlu mengenal akarnya, ke mana pun akarnya tumbuh. Appa ikut saja apa keputusan Ibumu nanti,” sahutnya tenang.

Junho yang sejak tadi duduk bersandar di samping Nala ikut menimpali. Suaranya ringan, tetapi tetap terukur.

“Ji-ah akan menikmati taman di sana, Nonna. Dan makanan penutupnya,” katanya, membuat Evelyn tertawa kecil.

“Dia pasti akan memilih es krim lebih dulu,” balas Evelyn sambil menggeleng gemas.

Percakapan mengalir tanpa paksaan melainkan lebih ringan tentang cuaca London yang berubah-ubah, rutinitas keluarga kecil Hyunseok, hingga rencana-rencana sederhana yang terasa lebih berarti karena dibicarakan bersama. Daejung lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Namun, sesekali ia menyelipkan komentar singkat yang menunjukkan bahwa ia menyimak setiap pembicaraan dengan saksama.

“Bagaimana pekerjaanmu sekarang, Hyunseok?” tanyanya kemudian.

“Stabil. Ada beberapa proyek properti baru di Mapo dan Seongsu. Aku sedang berhati-hati dalam memilih mitra,” jawab Hyunseok tenang.

“Bagus,” kata Daejung. “Ketelitian adalah bentuk tanggung jawab.” Ia berhenti sejenak sebelum mengalihkan pandangan kepada Junho. Tatapannya tetap tajam, tetapi tidak mengandung penghakiman. “Dan kau?”

“Perusahaan berjalan sesuai rencana. Ada restrukturisasi kecil, tetapi tidak mengganggu operasional,” jawab Junho.

Daejung mengangguk perlahan.

“Jangan lupa kalau keberhasilan bukan hanya soal berjalan, tetapi tahu kapan harus berhenti dan kapan harus pulang,” ujarnya.

Junho menangkap maksud di balik kalimat itu namun tidak langsung menjawab, hanya mengangguk pelan. Keheningan sejenak hadir di antara mereka bukan keheningan yang canggung, melainkan jeda singkat yang memberi ruang bagi masing-masing untuk mencerna percakapan.

Tak lama kemudian, Daejung mengalihkan pandangannya kepada Nala.

“Bagaimana pekerjaanmu, Nala-ya?” tanyanya.

Nala yang sejak tadi duduk dengan punggung tegak dan kedua tangan terlipat rapi di pangkuan segera mengangkat pandangan. Tatapan Daejung membuatnya kembali memusatkan perhatian, nada suaranya tetap tenang, tanpa tekanan ataupun basa-basi berlebihan.

“Baik, Tuan. Tim kami sedang menyiapkan beberapa proyek baru. Fokusnya masih pada pengembangan konten dan pembinaan internal,” jawab Nala sopan.

Cara bicaranya selalu terdengar formal ketika berhadapan dengan Daejung; teratur, hati-hati, dan penuh hormat, seolah ia memastikan tidak ada satu kata pun yang keluar tanpa pertimbangan.

“Apakah itu melelahkan?” tanya Daejung tanpa nada menyelidik.

“Cukup, tetapi masih dalam batas yang bisa aku kelola,” jawab Nala jujur.

Daejung mengangguk pelan tatapannya masih tertuju pada Nala, seolah menimbang jawabannya tanpa bermaksud menggali lebih jauh.

“Perempuan yang tahu batasnya biasanya juga tahu kapan harus melindungi dirinya,” ucapnya.

Nala membalas dengan senyum tipis yang sopan tetapi ia memilih untuk tidak menambahkan apa pun. Tidak ada penjelasan panjang, tidak pula usaha untuk membela diri.

“Keluargamu sehat?” tanya Daejung lagi.

Nala mengangguk pelan.

“Mereka baik-baik saja,” jawabnya.

Daejung kembali mengangguk, kemudian mengalihkan pandangan kepada Junho.

“Junho... ajak dia pulang sesekali. Dia pasti merindukan keluarganya, jangan terlalu mengejar pekerjaan,” ucapnya.

Junho segera mengangguk.

“Kami akan mencari waktu yang tepat.” Ia terdiam sebentar, lalu seolah baru teringat sesuatu. “Oh, ya, Appa. Sebenarnya aku dan Nala ada pertemuan dengan teman-temanku. Kalau kami titipkan Seok di sini, tidak masalah?” tanyanya.

Daejung mengangguk setuju tanpa ragu.

“Tentu boleh. Tapi nanti pulang saja ke sini, menginap di sini... kalian juga,” katanya. Tatapannya kemudian beralih kepada Evelyn dan Hyunseok, seolah tawaran itu tidak hanya ditujukan kepada Junho dan Nala. “Kalau kalian tidak ada urusan lain, kalian juga tinggal saja malam ini.”

Evelyn tersenyum kecil, sementara Hyunseok mengangguk sebagai tanda setuju.

Percakapan kemudian berlanjut ke hal-hal kecil: jadwal sekolah Jun-seok, rencana makan malam, hingga taman belakang rumah yang baru saja diperbarui. Sesekali terdengar tawa pendek dari salah satu sudut ruangan. Tidak ada yang benar-benar tertawa lepas, tetapi suara-suara kecil itu cukup untuk membuat ruang tamu terasa hangat seperti tempat yang memang sudah lama menunggu mereka semua berkumpul.

Dari balik kaca, suara Minseo terdengar samar memanggil Jun-seok, disusul tawa anak-anak dan langkah kaki kecil yang berlarian di atas batu-batu taman. Sesekali terdengar suara air dari kolam ikan di halaman belakang, berpadu dengan kicauan burung yang membuat suasana rumah terasa semakin hidup.

Leon dan Luna melintas malas di lorong. Ekor mereka berayun pelan, seolah kedua kucing itu pun ikut menikmati ramainya rumah setelah lama tidak dipenuhi suara anak-anak.

“Kami harus pergi sekarang,” kata Junho sembari berdiri.

Nala pun ikut bangkit dari duduknya. Namun, sebelum benar-benar beranjak, ia menyempatkan diri menoleh ke arah kaca pembatas, mencari sosok kecil yang masih bermain di taman.

“Aku mau pamit dulu kepada Seok,” ucap Nala pelan.

Junho mengangguk. Ia menunggunya tanpa banyak bicara, sementara Nala melangkah menuju pintu yang mengarah ke taman.

1
Namira Mara
Nala kaya perempuan zaman batu aja deh lawan ke Nala lawan
Ramapratama
Junho nyebelin nya awet bahkan setelah 13 tahun berlalu 🤭
Namira Mara
🤣🤣🤣🤣🤣 mimpi bisa barengan gitu 😭
Namira Mara
Junho ternyata gak berubah Thor, tetep dia yang sama nyebelin nya. 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!