Indonesia
NovelToon NovelToon
Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Status: tamat
Genre:Ketos / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.

Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.

Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.

Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siluet Ciuman Pertama Di Laut Lepas 35.

Mona menatap lurus ke arah dapur yang bersih namun dingin.

Tidak ada kepulan asap. Tidak ada aroma bawang goreng atau nasi goreng yang biasa ia siapkan. Wastafel dibiarkannya penuh dengan beberapa piring kotor bekas kemarin sore.

Debu tipis mulai kentara di atas bufet TV. Mona sengaja. Gadis itu sedang melakukan aksi protes bisu. Hatinya teriris bukan karena Affan yang sedang marah, melainkan karena cowok itu memilih untuk memercayai prasangkanya sendiri ketimbang mendengarkan penjelasannya.

Bagi Mona, ketidakpercayaan adalah racun paling mematikan dalam hubungan mereka yang baru seumur jagung di bangku SMA ini.

Hatinya mendadak kesal kalau mengingat wajah Affan yang sedang marah tanpa sebab.

Jarum jam merambat ke angka tiga sore ketika deru mesin motor yang sangat ia kenal berhenti di depan pagar.

Mona tidak bergerak. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat saat mendengar langkah kaki tergesa-gesa mendekati pintu.

Pintu terbuka. muncullah sesosok Affan berdiri di sana. Rambutnya yang biasanya rapi tampak sedikit berantakan, sepertinya Affan baru pulang membeli makanan.

Affan melangkah masuk, matanya langsung tertuju pada Mona yang enggan menatapnya. Pandangan Affan kemudian turun ke arah kotak beludru di atas meja. Ia mendekat, perlahan berlutut di depan sofa, sejajar dengan tempat duduk Mona.

"Sayang..." suara Affan serak, sarat dengan penyesalan yang teramat dalam.

Mona memalingkan wajahnya ke arah jendela, menggigit bibir bawahnya agar isakannya tidak lolos.

"Udah dong jangan ngambek terus, kamu makan ya ini saya belikan kamu nasi ayam pop sama sate kambing, dari pagi kamu belum makan sama sekali loh, ayo dimakan dulu sayang!"

"Gak mau, kamu tuh idiot, kamu bodoh!" Kata Mona dengan luapan emosinya.

"Iya saya bodoh, Mon. Saya egois karena langsung kebawa emosi pas liat dia ngasih kotak itu ke kamu. Saya nggak mikir dulu kalau itu kalung kakek kamu. Saya minta maaf..."

Mona menarik napas panjang, menahan getaran di suaranya. "Kamu nggak percayaan sama saya, Mas. Itu yang bikin kecewa. Kamu lebih milih percaya sama asumsi kamu sendiri daripada saya yang mau ngasih penjelasan, cinta harus saling percaya."

Affan menggenggam kedua tangan Mona, membawanya ke dahinya. "Saya salah. Demi Tuhan, saya minta maaf. Saya cuma... Saya terlalu takut kehilangan kamu, Mon. Tolong jangan ngambek terus. Rumah ini sepi kalau kamu terus diem begini."

Mona menatap mata Affan. Di sana, ia melihat kejujuran dan ketakutan yang sama besar dengan yang ia rasakan.

Perlahan, dinding pertahanan yang dibangun Mona sejak pagi mulai runtuh. Rasa sayangnya pada cowok di hadapannya ini masih jauh lebih besar daripada rasa marahnya.

"Ganti baju kamu," ucap Mona akhirnya, suaranya masih agak serak.

Affan mendongak, matanya berbinar penuh harapan. "Kita mau ke mana?"

"Terserah kamu. Saya mau keluar dari rumah ini dulu, pengap seharian" jawab Mona.

Affan tersenyum tipis, sebuah senyuman lega yang tulus. "Ikut Saya. Kita manfaatin jeda semester ini. Saya bakal tebus semuanya sore ini."

Affan beralih ke kamar, sementara itu Mona menyusul dari belakang punggungnya.

Affan berganti pakaian di kamar mandi, sementara Mona berganti pakaian di dalam kamar itu.

Satu jam kemudian, mereka sudah membelah jalanan menuju Jakarta Utara. Tujuan Affan adalah Dunia Fantasi. Pilihan yang tidak terduga, namun tepat. Affan tahu Mona butuh sesuatu untuk mengalihkan seluruh emosi negatifnya.

Saat mereka tiba, matahari sore sudah mulai merunduk, memancarkan warna oranye keemasan yang hangat di langit Ancol.

Dufan tidak terlalu ramai sore itu. Affan menggandeng tangan Mona dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedetik saja, gadis itu akan menghilang.

Yang lambat laun mereka menaiki Istana Boneka untuk menenangkan ketegangan, di menit sepuluh berikutnya disusul dengan histeria tawa saat menaiki Ontang-anting. Di atas wahana yang berputar tinggi itu, angin sore menerpa wajah mereka. Mona memejamkan mata, merasakan beban di pundaknya perlahan menguap bersama angin. Ketika ia membuka mata, ia mendapati Affan sedang menatapnya dari kursi sebelah dengan tatapan yang begitu memuja.

Puncaknya adalah saat mereka mengantre di Bianglala di lima belas menit berikutnya, tepat ketika lampu-lampu wahana mulai dinyalakan, mengubah Dufan menjadi tempat yang sangat magis dan romantis.

Di dalam gondola Bianglala yang bergerak lambat naik ke atas, hanya ada mereka berdua.

Dunia di bawah sana perlahan mengecil. Affan bergeser duduk di samping Mona, merangkul pundak gadis itu dan menariknya lembut ke dalam pelukannya.

Mona tidak menolak; ia justru menyandarkan kepalanya di dada bidang Affan, mendengarkan detak jantung cowok itu yang berirama tenang.

"Bagus banget ya, Mas," bisik Mona melihat pemandangan lampu kota Jakarta dari ketinggian.

Affan mengecup puncak kepala Mona dengan lembut. "Nggak seindah kamu yang sudah mau senyum lagi malam ini."

Mona mendongak, menatap pahatan wajah Affan dari samping. "Janji ya, jangan kayak kemarin lagi?"

Affan menoleh, menatap tepat ke dalam manik mata Mona. Ia meraih tangan Mona, mengecup punggung tangannya lama. "Saya janji, Mon. Mulai sekarang, telinga saya cuma buat denger penjelasan kamu, dan mata saya cuma buat liat kamu. Nggak ada orang lain."

Kata-kata itu terasa begitu nyata dan mengikat di antara mereka, menghapus sisa-sisa luka yang sempat singgah dari kemarin.

Malam semakin larut, saat mereka memutuskan untuk bergeser ke area Pantai Ancol, mencari suasana yang lebih tenang setelah keriuhan wahana permainan.

Angin laut malam berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Mona. Pantai malam itu relatif sepi, hanya ada suara deburan ombak yang konstan memecah keheningan. Affan melepas jaket denimnya lalu menyampirkannya ke bahu Mona, sebuah gestur otomatis yang selalu berhasil membuat jantung Mona berdisko hebat.

Mereka berjalan bertelanjang kaki di atas pasir yang basah, menyusuri bibir pantai menjauhi lampu-lampu dermaga.

Tangan mereka bertautan, jemari yang saling mengisi di sela-selanya.

Di satu titik, Affan menghentikan langkahnya. Dia berbalik menghadap Mona, menangkup kedua pipi gadis itu dengan kedua tangannya yang hangat. Di bawah naungan langit malam Jakarta yang pekat dan pantulan lampu-lampu gedung di kejauhan yang memantul di permukaan air laut, semesta seolah-olah menjadi milik mereka berdua.

Affan mendekatkan wajahnya, menatap lekat-lekat manik mata Mona, menyampaikan pesan tanpa kata bahwa dia sepenuhnya milik gadis itu.

Mona membalas tatapan itu dengan binar asmara yang sama kuatnya.

Affan perlahan merunduk, menyatukan kening mereka, membiarkan napas mereka saling berkejaran di antara deru angin malam.

Dari kejauhan, di ujung cakrawala pantai Ancol yang diterangi sisa-sisa cahaya kota, kedua remaja itu tampak begitu indah. Tubuh mereka yang saling mendekat, dekapan hangat yang enggan dilepaskan, membentuk sebuah siluet romantis yang sempurna di antara bibir yang sedang baku kecupan hangat —sebuah akhir dari kesalahpahaman panjang, dan awal baru yang jauh lebih kuat bagi kisah mereka di masa jeda sekolah ini.

"Yang terakhir sampai ke ujung dermaga harus masakin nasi goreng buat besok pagi!" seru Affan tiba-tiba.

"Eh! Curang! Kamu start duluan!" pekik Mona kaget saat Affan mulai berlari kecil meninggalkannya.

......................

...****************...

,

1
Shabrina Darsih
keahuan juga sm sahabat mona
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan
Shabrina Darsih
mona. mennding jujir aja sm sahabat nya andini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!