"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dahlia gagal
"Sial, Prama tidak termakan jebakanku, kalau seperti ini jadinya bagaimana aku bisa melenyapkan orang tua itu yang sekarang dalam keadaan lemah, aku tidak mungkin menghabisinya karena dia seorang pemimpin kelompok siluman monyet" kesal Dahlia saat melihat Prama justru sedang membantu para warga yang sedang menjemur hasil panen kopi di depan rumah mereka.
Bahkan Prama juga terlihat ada bersama tetua lain yang berniat menjodohkan putrinya dengan Prama. Dia sengaja menyebarkan fitnah itu agar Prama emosi dan mendatangi Sudarso yang saat ini dalam keadaan lemah karena pertarungannya dengan Liam dan kawan kawan, dan membuat Prama membunuh Sudarso tanpa Dahlia perlu bersusah payah membunuhnya.
Dengan begitu Prama akan di salahkan semua sekutu Dahlia dan akan di usir dari kampung Mahoni, dan otomatis Panca akan sendirian tanpa ada dukungan Prama di sisinya.
"Karman juga bodoh, dia sudah mulai lemah sekarang setelah anak kota itu jadi menantunya, tapi aku tidak akan membiarkan itu, Karman adalah abdiku dan dia tidak boleh berbelok pada Sagara" batinnya Lalu segera pergi dari sana
"Nak Prama, apa kamu sudah memikirkan tentang lamaran bapak?" tanya Teguh
"Saya sudah membicarakan ini dengan kak Panca Mbah, beliau bilang sebaiknya di terima dan saya akan terima Widia untuk jadi istri saya, tapi saya mau Widia juga bersedia Mbah" jawab Prama
"Syukurlah, Widia justru yang bilang kalau dia ingin kamu yang jadi suaminya, makanya bapak menawarkan lamaran pada kamu lebih dulu, bapak akan lebih tenang kalau Widia di jaga oleh kamu" ungkap Teguh
"Saya akan jaga Widia pak" jawab Prama
"Sekarang kamu mau ke mana?" tanya Teguh
"Saya akan ke sekolah Mbah, kata kak Panca kemarin anak anak di sekolah ada yang di beri racun oleh orang tak di kenal, saya diminta ke sana dan kak Panca akan ke pasar cadas untuk membeli beberapa penawar racun untuk persediaan, takutnya warga di sini juga di incar oleh orang itu" jawab Prama
"Bapak juga sudah dengar masalah itu, bapak ikut prihatin dan bapak tidak yakin kalau itu seperti yang warga katakan adalah kemarahan leluhur kampung ini, karena leluhur kampung ini hanya akan keluar begitu ada masalah dan juga kejahatan di kampung ini"
"Mbah benar, sekolah itu justru membawa kebaikan untuk warga kampung, tidak mungkin leluhur kampung melarangnya apalagi marah" jawab Prama
"Panggil bapak, sebentar lagi kamu akan jadi anak saya juga" ungkap Teguh
"Baik pak" jawabnya sopan lalu pamit ke sekolah setelah mencium tangan Teguh.
"Aku lebih sudi anakku ada bersama kamu dan Panca Prama, daripada dengan Karman yang bejat itu, aku tidak mau anakku jadi menantunya tapi juga dia gauli seperti istrinya sendiri" batin Teguh
Teguh lah orang yang sudah melihat aksi bejat Karman pada Midah saat dia tak sengaja lewat di samping rumah Karman setelah dia meminta daun sirih untuk obat istrinya, tapi suara lenguhan dan desahan Karman juga Midah membuatnya penasaran dan mengintip di balik jendela kamar yang terbuka sedikit.
Hingga dia begitu terkejut saat melihat Midah sedang di tunggangi Karman dari belakang dan membuat rasa hormatnya pada Karman hilang saat itu juga.
"Aku akan mendukung Panca mulai sekarang, dia yang lebih layak menjadi tetua kampung ini sejak awal" gumam Teguh
#######
Di sekolah
"Kak Prama bawa apa?" tanya Hamka ketika Prama sudah datang dan membawa beberapa kantung di tangannya.
"Ada kue kue untuk anak anak di sini, katanya mereka sakit kemarin" jawab Prama
"Iya, kemarin mereka sakit, tapi sekarang mereka sudah bisa bersekolah lagi, bahkan sudah sehat" jawab Lintang
"Mana yang lain?" tanya Prama
"Sedang memeriksa buku anak anak, Lintang mengajarkan mereka menulis pagar gaib" jawab Lintan
"Pagar gaib mana bisa ditulis" ledek Prama terkekeh
"Paman Plama, lihat pagal Fatih bagus, kalau punya kak Kenanga pagalnya tidak lapi, mungkin pakunya habis" ucap Fatih semangat
"Benarkah, wah iya pagar kamu rapi, teruskan ya, dan Kenanga jangan terus melotot pada Fatih, belajar rajin juga darinya" ucap Prama karena Kenanga sedang melotot sambil berkacak pinggang ke arah Fatih yang hanya cuek saja.
"Hari ini Fatih berangkat dengan siapa? Ko tidak ada pak Dirman?" tanya Prama
"Bapak katanya harus ke hutan dengan warga lain, jadi Fatih nanti kami yang antar pulang saat jam pulang sekolah" jawab Lintang
"Aann!"
"Apa? Kamu sudah selesai menulisnya?" tanya Lintang
"Ii.. An"
"Bang Liam sedang mengecek buku buku yang akan di berikan untuk kalian belajar menulis di rumah, di berikan dari dasarnya dulu" jawab Lintang
"Buku bukunya sudah datang?" tanya Prama
"Sudah kak tadi pagi, ada banyak, tapi mau di pilih dulu yang cocok untuk mereka, sama ada buku panduan membaca juga, nanti setiap anak akan di bagi tiga" jawab Lintang
"Apa semalam kamu merasakan sesuatu yang aneh?" bisik Prama
"Aneh bagaimana kak" tanya Lintang mengernyitkan alisnya
"Ada angin dingin setiap pukul dua belas malam, sudah tiga hari ini di rasakan kak Panca, dan dia sering terbangun di jam itu" jawab Prama
"Angin dingin, Lintang tidak melihat penglihatan apapun selain dari Dahlia yang terus mengawasi warga kampung" jawab Lintang
"Apa itu hanya cuaca yang kebetulan dingin saja ya, soalnya warga lain sama sekali tidak merasakan itu katanya" gumam Prama
"Nanti kalau Lintang merasakan atau mendapat penglihatan yang aneh, Lintang akan beritahu kalian" ucap Lintang
"Loh ada kak Prama, sudah lama kak?" tanya Liam mencium tangan Prama.
"Tidak, baru beberapa menit saja" jawab Prama
"Kakak pikir ada Laily juga" ucap Prama lagi
"Laily di rumah kak, katanya dia ingin nonton televisi, dan ada asisten rumah tangga kami juga di sana menemani Laily" jawab Lintang
"Oh.. " jawab Prama mengerti siapa asisten rumah tangga yang di maksud Lintang.
"Ada orang di balik pohon albasiah di belakang Lo Liam" bisik Hamka
"Lo bisa lihat dia siapa?" tanya Liam berpura pura mengawasi para muridnya.
"Wajahnya tidak jelas tapi dia terus melihat ke arah kak Prama" jawab Hamka
"Aku?" tanya Prama
"Jangan di lihat, nanti dia kabur" bisik Hamka saat Prama hampir berbalik untuk melihat orang itu.
"Laki laki atau perempuan?" tanya Prama
"Perempuan" jawab Hamka dan Prama langsung berbalik untuk melihatnya, membuat Liam, Hamka dan Lintang langsung menatap sinis Prama karena menganggap Prama genit.
"Widia, kenapa bersembunyi di sana? Ayo ke sini dan lihat kegiatan anak anak di sini" panggil Prama karena yang mengintip ternyata adalah Widia.
Awalnya Widia ragu mendekat, tapi karena Prama menghampirinya dan menuntun tangannya, dia mau tidak mau ikut masuk meskipun merasa malu.
"Kakak kenal dia?" tanya Liam
"Ini anaknya Mbah Teguh, dia calon istriku" jawab Prama membuat ketiganya terkejut.
"Calon istri!" pekik ketiganya tak percaya