Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Auditorium utama kota terlihat luar biasa megah pagi ini.

Ribuan kursi penonton telah terisi penuh oleh sorak-sorai masyarakat dan para pencari bakat dari berbagai agensi.

Di atas panggung raksasa, lampu sorot berputar menyilaukan mata, menyinari sebuah meja panjang tempat lima orang juri profesional duduk menilai.

Pak Barata duduk di posisi paling tengah dengan wajah angkuh, sangat menikmati statusnya sebagai ketua juri.

"Peserta selanjutnya! Pasangan emas dari Mega Bintang Sejahtera, Dion dan Natasha!" seru pembawa acara melalui pengeras suara.

Tepuk tangan yang sangat meriah dan gemuruh langsung mengguncang seluruh isi auditorium.

Dion dan Natasha melangkah keluar dari belakang panggung dengan senyuman kemenangan yang sangat lebar.

Mereka mengenakan pakaian desainer ternama yang harganya mencapai ratusan juta rupiah.

Begitu musik pengiring dimainkan, mereka mulai menyanyikan lagu pop romantis yang sangat pasaran namun mudah dicerna telinga.

Dion memang memiliki suara yang bagus, namun terdengar sangat datar dan tidak memiliki emosi.

Sementara itu, Natasha lebih banyak mengandalkan tarian sensual dan pakaian ketatnya daripada teknik vokal.

Namun, di bawah pengaruh uang label, Pak Barata terus menganggukkan kepalanya dengan senyuman palsu yang menjijikkan.

"Luar biasa! Harmoni yang sangat sempurna dan penampilan yang sangat mahal," puji Pak Barata saat lagu itu selesai.

Ia langsung menekan tombol hijau besar di mejanya, diikuti oleh keempat juri lainnya yang tidak berani membantah.

"Dion dan Natasha resmi lolos ke babak selanjutnya dengan nilai sempurna!" seru pembawa acara yang dibayar untuk heboh.

Pasangan itu membungkuk sopan kepada penonton dan turun dari panggung dengan gaya pongah layaknya pemenang.

Di ruang tunggu peserta yang sedikit gelap, Stevan berdiri menyandarkan punggungnya ke dinding dengan tangan terlipat.

Ia menatap layar televisi kecil yang menampilkan penampilan Dion tadi dengan raut wajah sangat datar.

"Suara yang memuakkan," batin Stevan tersenyum sinis di balik maskernya.

Di sebelahnya, Clara sedang duduk meremas ujung roknya karena telapak tangannya berkeringat dingin.

Gadis itu mengenakan sebuah topeng porselen putih setengah wajah yang menutupi bagian mata dan hidungnya.

"Kak, penontonnya sangat banyak, aku takut rencananya akan gagal," bisik Clara dengan suara yang mulai bergetar.

Stevan mendekati gadis itu, lalu meletakkan tangannya di atas bahu Clara dan menepuknya dengan lembut.

Ia menunjuk ke arah laptop kecil yang sudah terhubung dengan sistem nirkabel di dalam tas selempangnya.

"Semuanya sudah berada di bawah kendaliku. Ingat tugasmu, jangan pernah berhenti bernyanyi," ketik Stevan di ponselnya.

Clara membaca pesan itu, menarik napas panjang ke dalam diafragmanya, dan mengangguk mantap.

"Peserta berikutnya! Sebuah grup indie misterius yang sangat viral minggu ini, The Zeros!" teriak pembawa acara.

Sorak-sorai penonton seketika menjadi jauh lebih gila dan bergemuruh dari sebelumnya.

Lagu Bayangan Bisu milik mereka memang sedang merajai seluruh stasiun radio nasional saat ini.

Semua orang sangat penasaran dengan wajah asli dari musisi berjuluk Zero tersebut.

Krieeet...

Clara melangkah keluar menuju tengah panggung dengan langkah yang sedikit kaku namun perlahan menjadi stabil.

Kehadirannya yang mengenakan topeng porselen dan pakaian serba hitam langsung membuat penonton terdiam dalam tanda tanya.

Stevan berjalan santai di belakangnya sambil menyandang gitar elektrik merah tuanya yang penuh goresan.

Mereka tidak membawa pemain band pendukung sama sekali, hanya mereka berdua di tengah panggung raksasa tersebut.

Pak Barata yang duduk di kursi juri tengah menyunggingkan senyum licik yang sangat menyebalkan.

Ia melirik ke arah teknisi audio di ruang kendali lantai atas dan memberikan kode anggukan pelan.

Teknisi yang sudah menerima suap itu langsung mematikan saklar daya untuk frekuensi mikrofon utama yang dipegang Clara.

"Kalian akan menangis tanpa suara sekarang," batin Pak Barata dengan sangat angkuh.

Stevan menancapkan kabel gitarnya ke amplifier, lalu menoleh ke arah Clara dan mengangguk.

Ting... jreng!

Distorsi gitar elektrik yang sangat gahar dan penuh amarah meledak membelah keheningan auditorium.

Alunan musik pengiring yang sudah disiapkan Stevan mulai diputar, membawa nuansa rock-orkestra yang sangat megah.

Para penonton terbelalak kaget karena genrenya sangat berbeda dengan lagu patah hati mereka yang viral.

Clara memejamkan mata di balik topengnya, menelan semua rasa takut, dan membuka mulutnya.

"Kalian berpesta di atas lukaku!"

Clara berteriak melantunkan lirik pertama dengan kekuatan penuh dari vokal S-Rank miliknya.

Namun, seperti yang sudah direncanakan oleh para juri korup, tidak ada suara yang keluar dari pengeras suara auditorium.

Mikrofon itu benar-benar mati total.

Suara teriakan Clara hanya terdengar sayup-sayup dari atas panggung dan langsung tertelan oleh kerasnya distorsi gitar.

Penonton mulai saling berpandangan dengan kening berkerut dan kebingungan.

"Hei, miknya mati ya?"

"Kenapa dia komat-kamit tapi tidak ada suaranya?"

Pak Barata menahan tawanya dengan sangat susah payah hingga bahunya sedikit bergetar.

Tangannya sudah melayang di atas tombol bel merah besar, bersiap untuk memberikan penghinaan terakhir dengan mendiskualifikasi mereka.

Namun, di atas panggung, Clara sama sekali tidak menghentikan nyanyiannya.

Gadis itu mengingat pesan Stevan, ia terus bernyanyi dan mengeluarkan seluruh emosinya meski ia tahu suaranya tidak terdengar.

Di saat yang sama, jari tangan kiri Stevan terus menari di atas leher gitar dengan sangat lincah.

Namun, tangan kanannya tiba-tiba melepaskan pick gitar dan menekan sebuah tombol khusus di laptop kecil di dekat kakinya.

[TING!]

[Protokol pembobolan jaringan audio aktif.]

[Menimpa frekuensi utama sistem kendali pusat auditorium secara paksa dalam 3... 2... 1...]

Klik.

Tiba-tiba, suara dengungan frekuensi tinggi yang sangat bising menyapu seluruh auditorium selama satu detik.

Zzzzt... Ngiiing!

Lampu panggung berkedip sekali seolah mengalami korsleting daya.

Dan tepat ketika Clara mencapai nada tinggi pada lirik chorusnya...

"SEKARANG BERSIAPLAH! KARENA MAHKOTA KEPALSUAN KALIAN AKAN SEGERA RUNTUH!"

BAM!

Suara vokal Clara tiba-tiba meledak dari seluruh speaker raksasa auditorium dengan volume maksimal yang sangat menggelegar.

Frekuensi miknya tidak hanya menyala kembali, namun suaranya berhasil diretas untuk masuk ke semua jalur audio darurat yang ada di gedung itu.

Suara S-Rank miliknya yang melengking dan penuh amarah langsung menghantam telinga ribuan penonton seperti gelombang tsunami.

Kaca-kaca di ruang kendali atas sampai bergetar hebat menerima resonansi suara yang luar biasa kuat itu.

Pak Barata yang tadinya tersenyum licik kini terbelalak lebar dengan rahang bawah yang hampir lepas.

"A-apa yang terjadi?! Kenapa miknya menyala sendiri dengan volume sebesar itu?!" batin Pak Barata dengan sangat panik.

Ia menoleh ke arah ruang kendali di atas dengan marah, namun teknisi di sana terlihat sedang memukul-mukul mesinnya sendiri dengan frustrasi.

Sistem mereka telah dikunci secara digital oleh virus peretasan milik Stevan.

Di atas panggung, penampilan The Zeros justru semakin menggila.

Stevan melangkah maju ke bibir panggung, memainkan solo gitar distorsi yang sangat rumit dengan kecepatan tangan yang nyaris tidak terlihat oleh mata telanjang.

Penonton yang awalnya kebingungan kini mulai berdiri dari kursi mereka.

Rambut mereka terangkat dan bulu kuduk mereka merinding hebat merasakan magis dari perpaduan vokal dan gitar yang sangat gahar itu.

"Gila! Gila! Lagu apa ini?! Ini mahakarya!" teriak seorang juri dari agensi lain dengan antusias.

"Emosinya luar biasa! Ini adalah rock simfoni terbaik yang pernah kudengar dekade ini!" tambah juri lainnya sambil ikut berdiri.

Clara menyelesaikan nada terakhirnya dengan tarikan napas panjang dan melepaskan mikrofonnya perlahan.

Hening.

Auditorium raksasa itu benar-benar sunyi senyap selama lima detik penuh.

Prok! Prok! Prok!

Lalu meledaklah tepuk tangan yang jauh lebih meriah, brutal, dan bergemuruh dibandingkan saat penampilan Dion tadi.

Ribuan penonton menyoraki nama The Zeros tanpa henti hingga gedung itu terasa bergetar.

Pak Barata duduk membeku di kursinya dengan wajah sepucat mayat dan keringat dingin yang mengucur deras.

Ia melirik ke arah empat juri lainnya yang kini sudah menekan tombol hijau tanpa ragu sedikit pun.

Jika ia berani menekan bel merah sekarang, ia pasti akan diamuk oleh ribuan penonton dan juri lainnya karena lagu ini terlalu sempurna untuk ditolak.

Dengan tangan bergetar menahan amarah dan ketakutan yang luar biasa, Pak Barata akhirnya terpaksa menekan tombol hijau miliknya.

Ding!

Kelima lampu hijau menyala terang menyinari panggung tersebut.

"Luar biasa! The Zeros berhasil lolos ke babak semifinal dengan nilai mutlak!" seru pembawa acara dengan suara yang ikut bergetar karena takjub.

Clara menatap lampu hijau itu dengan napas terengah-engah dan air mata kebahagiaan yang menggenang di balik topeng porselennya.

Ia menoleh ke arah Stevan yang masih berdiri tenang dengan gitarnya.

Stevan tidak tersenyum sedikit pun.

Ia hanya menatap dingin ke arah Pak Barata yang duduk di kursi juri, lalu menggunakan jari telunjuk kanannya untuk membuat gerakan memotong leher perlahan.

Sebuah isyarat perang terbuka yang membuat Pak Barata menelan ludah dengan susah payah.

Di sudut ruang tunggu peserta yang redup, Dion menonton semua adegan itu dari layar televisi dengan rahang terkatup sangat rapat.

Gelas kertas di tangannya hancur remuk karena cengkeramannya yang terlalu kuat.

"Sialan... siapa sebenarnya musisi bertopeng bajingan itu?!" desis Dion dengan urat leher yang menonjol keluar.

Ketenaran yang ia mimpikan kini mulai tertutup oleh bayangan hitam dari masa lalu yang segera datang menuntut balas.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!