Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raungan Dari Balik Penjara
Suasana ballroom langsung berubah menjadi lautan kepanikan. Para tamu undangan berlarian menjauh dari altar, tidak ingin terlibat dalam skandal kriminal terbesar tahun ini.
Nena Apriandini menjerit histeris, terduduk lemas di lantai sambil merobek selendang batiknya karena putus asa. "Tidak... tidak mungkin! Keluarga kami adalah hukum di negeri ini! Kalian tidak bisa menangkap putraku!"
Evan mencoba meronta saat dua orang petugas kepolisian langsung memborgol kedua tangannya dengan kasar. "Lepaskan aku! Kalian tidak tahu siapa ayahku! Lepas!" teriak Evan dengan wajah memerah karena malu dan marah.
Zaskia berdiri terpaku di atas altar. Gaun pengantin mewahnya yang bertabur kristal kini terasa seperti baju besi yang sangat berat dan menyesakkan. Ia menatap Rafa, lalu menatap Sean, dan menyadari bahwa seluruh impiannya untuk menjadi penguasa kekayaan keluarga Wirya Negara telah terbakar habis menjadi abu.
"Tidak... TIDAK!" Zaskia menjerit histeris seperti orang kesurupan. Ia merobek tudung pengantin di kepalanya, melemparkan buket bunganya ke lantai, lalu menunjuk ke arah Rafa dengan jari yang gemetar hebat. "Kamu tidak boleh menang, Rafa! Kamu wanita mandul! Kamu wanita miskin! Kamu tidak berhak menang dariku! AKU RATUNYA! AKU YANG MENANG!"
Zaskia berlari menerjang ke arah Rafa seperti binatang buas yang kehilangan akal sehatnya, berniat mencakar wajah wanita itu. Namun, sebelum tangan Zaskia menyentuhnya, dua orang Polwan dengan sigap mencekal kedua tangan Zaskia dari belakang, membanting tubuh wanita itu ke lantai marmer yang dingin dan langsung memborgol pergelangan tangannya.
"Lepaskan aku! Lepaskan! Rafa, aku akan membunuhmu! AKU AKAN MEMBUNUHMU!" teriak Zaskia histeris, air mata kemarahan dan kehancuran tumpah membasahi riasan wajah mahalnya. Ia meronta-ronta di lantai, terseret oleh petugas kepolisian keluar dari ballroom mewah tempat ia tadinya merayakan kemenangan semunya.
Rafa berdiri tegak, menyaksikan kejatuhan musuh-musuhnya tanpa setetes pun rasa iba, melainkan kelegaan yang teramat sangat. Sean melangkah mendekat, merangkul bahu Rafa dengan lembut.
"Sudah kubilang, Rafa," bisik Sean pelan di telinga wanita itu, tersenyum tulus. "Keadilan selalu tahu bagaimana cara menemukan jalannya pulang."
Rafa menoleh ke arah Sean, lalu tersenyum—senyuman tulus pertama yang ia tunjukkan setelah sekian lama hidup dalam badai penderitaan. Di ambang pintu ballroom, sisa-sisa kejayaan keluarga Wirya Negara diseret keluar dengan hina di bawah sorotan kamera wartawan yang mendadak menyerbu masuk. Istana kebohongan itu kini telah runtuh lebur rata dengan tanah, dan babak baru kehidupan yang bersih dari kelicikan akhirnya resmi dimulai.
****
Gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum malam itu mendadak riuh oleh kilatan blitz kamera wartawan yang berebut mengabadikan kejatuhan keluarga Wirya Negara. Di ruang interogasi yang dingin dan berbau lembap, Evan Wirya Negara, Zaskia Mulandari, dan Nena Apriandini duduk di kursi besi secara terpisah. Meskipun bukti rekaman suara, keterangan saksi, dan dokumen aliran dana gelap telah terpampang nyata di atas meja penyidik, ketiganya kompak menunjukkan tabiat aslinya: menyangkal seluruh tuduhan dengan nada tinggi dan arogansi yang masih melekat.
"Ini semua fitnah! Rekaman itu hasil rekayasa kecerdasan buatan! Kalian tidak punya hak memperlakukan kami seperti ini, panggil pengacara keluarga kami sekarang juga!" bentak Evan dengan urat leher yang menonjol keluar, mencoba menutupi rasa paniknya di balik ancaman status sosial.
Di ruangan sebelah, Nena Apriandini menangis histeris bukan karena menyesali perbuatannya, melainkan karena merasa terhina harus duduk di kursi pesakitan. Ia terus meneriakkan nama-nama pejabat tinggi kenalannya, mencoba menekan pihak kepolisian agar segera membebaskan mereka. "Kalian akan menyesal! Besanku adalah mitra bisnis pemerintah! Lepaskan saya!"
Namun, kemarahan dan penyangkalan paling mengerikan datang dari Zaskia Mulandari. Di dalam ruang tahanan sementara yang sempit, gaun pengantin mewah bertabur kristal Swarovski yang dikenakannya kini tampak kotor, compang-camping, dan berlumuran debu lantai. Rambutnya yang tadinya tersanggul rapi kini tergerai kusut masai menutupi wajahnya yang sembap karena amarah.
****
Zaskia mencengkeram jeruji besi dengan kedua tangan yang diborgol. Matanya melotot tajam, merah membara, memancarkan dendam kesumat yang membakar hingga ke ubun-ubun. Rasa malu, benci, dan frustrasi melebur menjadi satu, menciptakan ledakan emosi yang luar biasa mengerikan.
"Rafa Sasmita... SIALAN KAMU, RAFA!" teriak Zaskia histeris, suaranya melengking tinggi memecah kesunyian malam di lorong penjara, membuat tahanan lain tertegun ketakutan.
Zaskia tertawa kecil di sela-sela isak tangisnya—sebuah tawa penuh kegilaan. "Kamu pikir kamu sudah menang, hah?! Kamu pikir dengan memasukkan aku ke sini, permainan sudah selesai?! Dengar sumpahku, Rafa! Aku akan keluar dari neraka jahanam ini! Aku akan merangkak keluar, dan saat aku bebas, aku akan pastikan aku merobek-robek hidupmu sampai tidak tersisa sedikit pun! Aku akan membuatmu memohon di kakiku!"
Teriakan sumpah serapah itu terus menggema, mencerminkan jiwa seorang wanita yang telah hancur oleh keangkuhannya sendiri, namun tetap memilih untuk tenggelam dalam kebencian yang abadi.
****
Sebuah taksi online berhenti tepat di depan halaman rumah keluarga Sasmita. Dari dalam mobil, seorang wanita paruh baya berambut sedikit berantakan dengan sisa-sisa luka lebam di wajahnya turun perlahan dibantu oleh seorang sopir taksi yang membawakan tas kecilnya.
Itu adalah Bu Armayani. Berkat bantuan logistik dan ongkos perjalanan yang dikumpulkan secara gotong royong oleh warga desa di Sukabumi, Bu Arma akhirnya berhasil menempuh perjalanan darat kembali ke ibu kota.
Begitu kakinya melangkah melewati pintu pagar rumah yang tidak terkunci, suara pintu yang terbuka membuat seorang wanita muda menoleh cepat dari ruang tengah.
Jantung Rafa Sasmita seolah berhenti berdetak seketika. Buku di tangannya terjatuh ke lantai. Matanya membelalak lebar, menatap sosok wanita paruh baya yang berdiri di ambang pintu dengan pakaian sederhana dan tubuh yang tampak kurus.
"Ibu...?" cicit Rafa dengan suara bergetar hebat, air matanya langsung tumpah seketika tanpa bisa dicegah.
"Rafa... anakku..." panggil Bu Arma dengan suara parau yang amat dirindukan.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Rafa melompat menerjang ke depan, menghambur memeluk tubuh ibunya dengan sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di dada sang ibu, menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil yang baru saja menemukan dunianya kembali. Bu Arma memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang, mencium puncak kepala Rafa sambil menahan isak tangisnya sendiri. Ia mengusap punggung Rafa, menyalurkan kehangatan dan kekuatan yang selama ini dikira telah hilang selamanya.
****
Di saat yang bersamaan, Pak Pamuji keluar dari kamar tidur dengan bantuan tongkat kayunya. Mendengar keributan di ruang depan, pria tua itu mendongak. Ketika melihat istrinya berdiri hidup-hidup di hadapannya, tongkat di tangan Pak Pamuji terlepas begitu saja membentur lantai keramik.
"Arma...?" bisik Pak Pamuji dengan air mata tua yang langsung mengalir deras membasahi pipinya yang keriput.
Bu Arma melepaskan pelukannya dari Rafa, lalu menoleh ke arah suaminya. Dengan langkah tertatih, ia menghampiri Pak Pamuji. Suami istri paruh baya itu langsung berpelukan erat di tengah ruang tamu, meluapkan seluruh rasa rindu, ketakutan, dan penderitaan yang mereka pendam selama berminggu-minggu dalam keterpisahan yang kejam.