Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:24k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

"Dia calon istri saya. Dan calon ibu bagi Arjun. Arjun memilihnya. Saya pun mencintainya."

Deg!

Waktu seakan berhenti. Paper bag di tangan Azel hampir terlepas.nOtaknya terasa kosong.

"Apa? Calon... istri? Mencintai?"

Ia menoleh cepat ke arah Ibra. Mencari tanda-tanda bahwa laki-laki itu sedang bercanda.

Namun, wajah Ibra sama sekali tidak menunjukkan gurauan.

Di sisi lain, Celine tertawa kecil.

"Oh... Jadi ini?"

Tatapannya menyapu Azel dari atas ke bawah. "Kamu?"

Senyumnya berubah menjadi meremehkan. "Mas... Kamu serius? Dia ini masih mahasiswa, kan? Mas bahkan dosennya. Lucu sekali."

Azel yang sejak tadi diam akhirnya menarik pelan tangannya dari genggaman Ibra. Ia masih berusaha mencerna keadaan.

"Pak...Apa yang Bapak—"

Belum selesai ia berbicara, Celine kembali menyela.

"Kamu tahu nggak, Mas Ibra itu mantan suamiku. Dan aku ibu kandung Arjun."

Kalimat itu membuat Azel membeku. Matanya bergantian memandang Celine dan Ibra.

Barulah ia memahami bahwa perempuan di depannya adalah sosok yang selama ini tidak pernah diceritakan secara rinci oleh Ibra.

Ruangan kembali diliputi keheningan. Azel menelan ludah. Jantungnya berdegup sangat keras. Ia benar-benar tidak mengerti, mengapa ia tiba-tiba berada di tengah konflik sebesar ini. Bahkan namanya disebut sebagai calon istri tanpa pernah ada pembicaraan sebelumnya.

"Pak..." Suara Azel terdengar pelan namun bergetar. "Saya... tidak mengerti."

Seketika itu pula, Ibra menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Amarah kepada Celine telah membuatnya menyeret Azel ke dalam persoalan yang seharusnya bukan menjadi bebannya.

Tatapan Ibra berubah. Ada penyesalan yang jelas terlihat di matanya saat menatap gadis yang kini tampak kebingungan di hadapannya.

Celine menatap Azel lama. Tatapannya menyapu gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Hijab syar'i. Gamis sederhana. Wajah tanpa riasan mencolok. Tidak ada perhiasan yang berlebihan.

Dalam hati, Celine tersenyum sinis. Ia sangat mengenal selera Ibra di masa lalu.

Dan menurutnya, Azel sama sekali tidak sesuai dengan gambaran itu.

Sudut bibirnya terangkat tipis. "Kamu cuma lagi manas-manasin aku, kan, Mas?"

Tatapannya kembali beralih kepada Ibra. "Aku kenal kamu. Kamu serius suka sama perempuan yang..." Ia kembali melirik Azel. "...bahkan nggak ada yang menonjol?"

Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi. Azel refleks menundukkan pandangan. Tanpa sadar, ia melihat dirinya sendiri.

Gamis yang dikenakannya. Hijab yang sederhana. Wajah yang bahkan hanya dipoles bedak tipis. Dibandingkan dengan wanita di hadapannya kini, Azel merasa insecure.

Ia mengerti ucapan Celine bukan sekadar membandingkan penampilan. Melainkan merendahkannya. Namun sebelum Azel sempat mengatakan apa pun...

Suara Ibra terdengar tegas. "Saya tidak bohong."

Tatapannya lurus menatap Celine. "Saya memang mencintai gadis ini."

Kalimat itu membuat Azel kembali menoleh dengan napas tertahan.

Ibra melanjutkan. "Bahkan... Dia adalah cinta pertama saya. Saya mengenalnya jauh sebelum saya mengenal kamu. Sejak dia masih kecil. Dan sekarang perasaan itu kembali."

Mata Celine membelalak. "Mustahil."

Ibra menggeleng pelan. "Yang mustahil adalah saya kembali kepada perempuan yang pernah mengkhianati kepercayaan saya. Cukup sekali saya belajar."

Celine mengepalkan tangannya. "Mas..."

Ibra tidak memberinya kesempatan berbicara. "Dan satu hal lagi. Jangan pernah merendahkan dia. Karena menurut saya, dia jauh lebih berharga daripada siapa pun."

Tatapannya semakin tajam. "Dia menjaga kehormatan dirinya. Dia menghormati keluarganya. Dia tau batasan. Dia tidak pernah mengkhianati kepercayaan orang lain. Lalu kamu bertanya kenapa saya memilihnya?"

Ibra menggeleng pelan. "Jawabannya sederhana. Karena dia bukan kamu."

Wajah Celine memerah menahan marah. "Mas! Kamu-"

"Sudah cukup. Saya tidak ingin membahas masa lalu lagi. Silakan pergi."

Beberapa detik, Celine hanya berdiri mematung. Dadanya naik turun menahan emosi. Tatapannya sempat beralih kepada Azel yang masih diam karena terkejut.

Lalu ia menghentakkan kaki. "Baik. Kita lihat saja nanti."

Tanpa berpamitan lagi, ia meraih tasnya lalu berjalan cepat keluar.

Brak!

Pintu ruangan tertutup cukup keras. Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Kini... Hanya tersisa Ibra dan Azel.

Namun tidak ada satu pun dari mereka yang langsung berbicara. Azel masih menggenggam paper bag di tangannya. Jari-jarinya sampai memutih karena terlalu erat mencengkeram pegangan tas itu.

Perlahan...Ia mengangkat wajahnya menatap Ibra. Tatapannya dipenuhi kebingungan.

"Pak..." Suaranya lirih. "Tadi yang Bapak bilang. Itu cuma untuk mengusir beliau kan?"

Ibra terdiam. Pertanyaan itu sederhana. Namun justru menjadi pertanyaan yang paling sulit ia jawab.

Ia mengembuskan napas panjang. Lalu mengusap wajahnya pelan.

"Azel... Saya minta maaf. Karena tanpa izin saya sudah menyeret kamu ke dalam masalah pribadi saya."

Azel menggigit bibir bawahnya. "Jadi... Itu bohong?"

Ibra kembali diam beberapa detik. Lalu ia menggeleng pelan.

"Tidak semuanya."

Jawaban itu membuat Azel semakin bingung. "Maksud Bapak?"

Ibra menatap lurus ke arah Azel. "Yang bohong adalah saat saya mengatakan kamu calon istri saya. Karena memang saya belum pernah meminta persetujuanmu. Dan saya juga belum pernah datang kepada orang tuamu."

Azel hanya berkedip pelan. Jantungnya kembali berdetak tidak beraturan.

"Sedangkan..." Ibra kembali menarik napas. "Perasaan saya bukan kebohongan."

Deg!

Paper bag di tangan Azel hampir kembali terlepas. "Pak..."

"Saya memang menyukai kamu. Bukan karena Arjun. Bukan karena ingin mencari ibu untuk Arjun. Dan bukan karena ingin membalas Celine. Tapi karena hati saya memang mulai memilih kamu."

Azel benar-benar kehilangan kata-kata. Ia hanya menatap Ibra dengan wajah yang memerah.

"Lalu... Kenapa Bapak baru bilang sekarang?"

Ibra tersenyum tipis. "Karena saya sendiri baru berani mengakuinya. Sebelumnya saya terus menyangkal. Saya pikir perasaan itu muncul karena kamu dekat dengan Arjun. Tapi setelah saya renungkan. Bahkan saat tidak ada Arjun sekalipun, saya tetap mencari kamu. Saya tetap memperhatikan kamu. Saya cemburu ketika melihat kamu dekat dengan Fariz. Dan saya terus memikirkan kamu."

Azel spontan menundukkan wajahnya. Pipinya semakin panas.

"Pak, saya masih mahasiswa Bapak."

"Iya. Makanya saya tidak pernah berniat mengatakannya sekarang. Saya ingin menunggu. Menunggu sampai kamu lulus. Menunggu sampai saya bisa datang secara baik-baik kepada Abi, Opa, dan keluargamu."

"Tapi..." Ibra tersenyum pahit. "Rencana itu berantakan karena Celine datang."

Azel terdiam. Ia teringat semua kejadian beberapa hari terakhir.

Bekal. Rumah sakit. Arjun. Percakapan-percakapan mereka. Pesan semalam. Sampai pertanyaan aneh yang terus dilontarkan Ibra. Perlahan semuanya mulai masuk akal.

"Pak... Saya..."

Belum sempat Azel melanjutkan ucapannya. Ibra mengangkat tangan pelan menghentikannya.

"Jangan jawab sekarang. Saya tidak meminta jawaban. Saya juga tidak meminta kamu menerima perasaan saya. Saya hanya ingin kamu mengetahui yang sebenarnya agar suatu hari nanti kalau saya benar-benar datang ke rumahmu. Kamu tidak mengira semua ini muncul secara tiba-tiba."

Azel menatap laki-laki itu beberapa saat. Lalu ia mengulurkan paper bag yang sejak tadi dibawanya.

"Pak... Ini jas Bapak. Saya sudah cuci."

Ibra menerimanya sambil tersenyum kecil. "Terima kasih."

Azel mengangguk pelan. "Kalau begitu saya pamit."

Ia berbalik dan melangkah menuju pintu. Namun tepat sebelum membuka pintu, ia berhenti.

Tanpa menoleh, ia berkata lirih, "Pak, Saya belum bisa menjawab apa pun. Tapi saya juga tidak marah."

Setelah mengucapkan itu, Azel segera membuka pintu dan berjalan keluar. Meninggalkan Ibra yang masih berdiri di tempatnya.

Sudut bibir laki-laki itu perlahan terangkat membentuk senyum tipis. Setidaknya... Hari ini ia tidak ditolak. Dan itu saja, sudah lebih dari cukup baginya untuk saat ini.

Azel berjalan keluar dari gedung fakultas dengan langkah yang jauh lebih pelan dari biasanya. Pikirannya benar-benar penuh. Ucapan Ibra terus berputar di kepalanya.

"Saya memang menyukai kamu."

"Bukan karena Arjun."

"Saya ingin datang kepada orang tuamu."

Azel menggeleng pelan. "Ya Allah... Kenapa jadi begini..."

Tanpa sadar, tangannya menggenggam ujung hijabnya sendiri. Baru beberapa langkah, ponselnya berdering.

Abi.

Azel langsung mengangkat panggilan itu. "Assalamu'alaikum, Bi."

"Wa'alaikumussalam. Udah selesai kuliahnya?"

"Udah, Bi."

"Abi udah di parkiran."

"Iya, Azel ke sana sekarang."

"Baik. Hati-hati jalannya."

"Iya."

Panggilan pun berakhir.

Beberapa menit kemudian, Azel masuk ke dalam mobil.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam." Kiai Abidzar tersenyum melihat putrinya. "Gimana? Udah balikin jasnya?"

"Iya, Bi."

"Alhamdulillah."

Kiai Abidzar menyalakan mesin mobil. Namun belum sempat mobil berjalan, beliau menoleh ke arah Azel.

"Kamu kenapa?"

"Hah?"

"Dari tadi Abi lihat kamu melamun."

"Oh... Nggak kok, Bi. Kecapekan aja."

Kiai Abidzar mengamati wajah putrinya beberapa saat. Beliau mengenal Azel dengan sangat baik. Kalau gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu biasanya jawabannya selalu sama.

"Nggak kok."

Namun beliau memilih tidak mendesak.

"Kalau capek nanti di rumah istirahat."

"Iya, Bi."

Mobil pun melaju meninggalkan kampus.

Sementara itu, di ruang dosen. Ibra masih berdiri memandangi pintu yang baru saja ditutup Azel. Ia mengembuskan napas panjang.

"Lancang sekali kamu, Bra... Belum melamar. Belum bicara dengan keluarganya. Tapi sudah bilang mencintainya."

Ia terduduk di kursinya. Tangannya menutupi wajah. Namun anehnya, ia justru merasa lebih lega. Rahasia yang selama ini dipendam akhirnya terucap.

Meski... Dengan cara yang sama sekali tidak ia rencanakan.

Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Layar menunjukkan nama yang membuat wajahnya langsung berubah lembut.

Arjun My Boy

Ibra segera mengangkat panggilan video itu. "Assalamu'alaikum."

Di layar muncul wajah Arjun yang sedang tersenyum lebar. "Wa'alaikumussalam, Ayah!"

"Lagi ngapain?"

"Lagi gambar."

"Wah. Gambar apa?"

Arjun mengangkat selembar kertas ke arah kamera. Ada gambar tiga orang yang digambar dengan krayon.

Seorang laki-laki. Seorang anak kecil. Dan seorang perempuan berhijab.

Ibra terdiam. "Itu siapa aja?"

Arjun menunjuk satu per satu. "Ini Ayah, ini Arjun. Kalau ini..."

Arjun tersenyum lebar. "Kak Azel."

Jantung Ibra kembali berdegup pelan. "Kenapa Kak Azel digambar?"

"Soalnya malau ada Kak Azel rumah kita jadi rame."

Ibra tersenyum tipis. "Oh ya?"

"Iya. Eh Ayah."

"Hm?"

"Kapan Kak Azel main lagi?"

Ibra menatap gambar itu cukup lama. Lalu menjawab pelan.

"Belum tau, Jun."

***

Di dalam mobil, Azel juga sedang memandangi ponselnya. Jarinya tanpa sadar membuka ruang obrolan dengan Ibra. Ia membaca ulang pesan-pesan mereka. Lalu teringat wajah Ibra saat berkata,

"Saya memang menyukai kamu."

Azel langsung menutup layar ponselnya. Pipinya kembali memerah.

"Ya Allah... Kenapa setiap diinget jantungku malah deg-degan begini?"

Ia menyandarkan kepalanya ke kaca mobil. Tanpa ia sadari senyum kecil perlahan terukir di sudut bibirnya.

Dan dari kursi pengemudi, Kiai Abidzar yang sempat melirik melalui kaca spion hanya tersenyum tipis.

Beliau tidak tau apa yang terjadi di kampus. Namun seorang ayah selalu bisa melihat bahwa hari ini, putrinya pulang dengan membawa sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar paper bag berisi jas.

1
Aidil Kenzie Zie
aih si pak duda ternyata nggak sabar mau unboxing Azel 🤭🤭🤭
tor Ibra jangan manggil saya lagi sama Azel
Fegajon: pelan pelan panggilannya nanti berubah hehe
total 1 replies
Syti Sarah
jun ,kamu jngan jdi satpam dulu daah.ayak kamu udh lpar sama haus bnget tuh,udh trllu lama puasa nya 🤣🤣🤣
Syti Sarah: aduuuh ksian pak duda 🤣🤣🤣
total 2 replies
syora
alhamdulillah ya allah😍😍😍😍😍😍
Fegajon: yuhuuu🥰😋
total 1 replies
cutegirl
pak duda udah lama berpuasa🤣
cutegirl
celamat pak duda😋
syora
alhamdulillah somaga samawa till jannah
Syti Sarah
Alhamdulillah 😍😍😍aku mau siap2 dulu Thor,mau kondangan tempat azel dan Ibra 🤣🤣🤣
Syti Sarah: shuuut 🤫🤫 , 🤣🤣🤣
total 4 replies
Aidil Kenzie Zie
si pak duda udah nggak sabaran 🤭🤭🤭🤭
Syti Sarah
smoga lancar smuanya smpai hari H 😊
Fegajon: tadinya mau buat gitu tapi gak ah nanti aja cobaan mereka pas setelah nikah 🤣
total 3 replies
Syti Sarah
pak duda udh mulai mngluarkn jurus gomblan maut nya 🤣🤣🤣🤣
syora
alhamdulillah ya allah😍😍😍😍😍
Syti Sarah
Alhamdulillah 😊😊
Syti Sarah
jawab aja sesuai kata hati kamu zel 😊
Syti Sarah: itu juga jawaban author yg atur 🤣🤣
total 2 replies
cutegirl
ibra asbun bgt🤣
Fegajon: wkwk🤣
total 1 replies
Syti Sarah
BDAN nya yg bsar mksud nya 🤣🤣🤣Oalah anak nya ken trnyta .tdi aku slah lgi 😆😆
Syti Sarah: hahahaha ngakak brjamaah Thor 🤣🤣🤣psti pkiran udh traveling kmna2 kn 😆😆
total 2 replies
just a grandma
bgus❤️
Anak manis
Aku slalu suka karya kk author ini/Casual/
Anak manis
Kia terjangkit virus Aryan /Curse/
anakkeren
yuhyyy
cutegirl
Cerita soal Ibra dan Azel ini,buat saya lebih lucu dan bagus yg ini ketimbang yg pernah kakak hapus. Sebab, yg sebelumnya tdk mencerminkan prilaku dosen dan seorang ning aja.
yg sebelumnya lebih ke mes*m aja sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!