Indonesia
NovelToon NovelToon
Putri Mawar Yang Dirindukan

Putri Mawar Yang Dirindukan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:861
Nilai: 5
Nama Author: Only'Rra

Gadis kecil Ella yang hidup di sebuah panti asuhan pinggiran kota yang berada di ujung kekaisaran Reis yang megah, hanya bermimpi untuk lepas dari segala kesakitan dan perundungan yang ia alami di panti.

Kehidupan yang dihantui ketakutan, kelaparan, membuatnya terus bermimpi akan sebuah kangatan keluarga yang sangat terasa nyata.
Mimpi kecil itu yang membuatnya membulatkan tekad untuk lepas dari bangunan yang seolah terus memeluknya jauh ke dasar. Dengan kaki kecilnya yang penuh akan luka, ia melangkah menjauh dari panti menuju gelapnya malam yang terasa lebih aman dibanding bangunan tempat ia tinggal.

Akankah keluar dari kegelapan lama menuju kegelapan baru di depannya akan lebih baik? Atau justru, kegelapan di binar yang menyimpan keinginan untuk hidup di mata Ella, justru jauh lebih pekat dibanding yang ia tinggalkan?


♡♡♡♡♡

Jadwal Up:
Senin s/d Sabtu - Jam 20.00
Minggu - Double Up; 08.00 & 20.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Only'Rra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

'Reis'

Setelah kejadian yang benar-benar tidak terduga bagi Ella, dan penjelasan singkat dari penyelama- tidak! Maksudnya paman.

Bahwa dirinya adalah putri bungsu serta satu-satunya tuan putri kekaisaran Reis yang diculik lebih dari 5 tahun silam!

Paginya, Ella kini tengah berada dalam perjalanan menuju ibu kota Reis, tepatnya menuju kastil kekaisaran bersama dengan Aghasa.

'Apa ini artinya aku punya keluarga? Dan sekarang aku sedang, pulang?'

Iris mata dan rambut menjelaskan segalanya. Helaian senada pekatnya mawar merah khas keluarga ksatria Reis, Luelle. Serta pupil keemasan lambang keturunan murni kaisar, sang Archmage klan Matahari. 

Ella menatap pantulan wajahnya di kaca jendela dalam kereta kuda. 'Emasnya, keruh.'  Ia menyentuh pelan pantulan matanya disana. 

Orang-orang panti tempat ia tinggal dulu sering mengatakan akan kemewahan emas yang dipancarkan dari mata keluarga kekaisaran, benar-benar melambangkan matahari, namun yang ia miliki?

'Apa benar aku bisa memiliki keluarga? Tapi ... jika bukan, berarti aku belum bisa pulang ya.' Ella menunduk lesu. Ia memainkan jari jemarinya khawatir. 

Ella meremas gaun bewarna biru pastel dengan desain yang cantik dan menggemaskan, tidak ada tambalan serta benang yang keluar di pakaian yang sedang ia kenakan ini. 

Pagi buta tadi, kedua kakak pelayan kemarin melontarkan beribu bujukan agar dirinya mau mengenakkan pakaian yang mereka siapkan, karena melihat kerja keras mereka yang membujuknya susah payah.

Akhirnya Ella memutuskan mengiyakan meskipun dirinya khawatir gaun cantik itu akan rusak.

Ella melirik pelan ke arah Aghasa yang duduk di seberang depannya. Pria itu sontak tersenyum kala mata mereka beradu.

“Ada apa Ella? Apa kamu merasa ada yang tidak nyaman? Perjalanan kita masih sekitar lima jam sebelum sampai di ibu kota Reis. Apa mau istirahat sebentar?”

Ella dengan sigap menggeleng cepat. Mereka sudah berhenti dengan dalih dirinya yang kelelahan sebanyak tiga kali tadi! “Itu ... Tu- ah! Tidak-tidak, Paman!” 

“Ya?” Aghasa tersenyum geli kala melihat raut wajah Ella masih merasa malu saat memanggilnya ‘Paman’.

“Eung ... Te,terima kasih, gaunnya. La-lalu, sarapan sa,ngat enak! Te-rima kasih. Dan, kasur, kotor, untuk, gaunnya. Juga untuk sarapan, ah! Terima ka,sih juga, karena tid-ak marah, soal ka-sur yang ko-kotor. Karena, sa-ya. Dan-

“Cukup-cukup. Kamu tidak perlu terus menerus berterima kasih kepada sesama keluarga atas hal kecil seperti itu,” potong Aghasa.

Karena sedari pagi, sebelum mereka berangkat, Aghasa sudah beberapa kali mendengar kalimat 'Terima Kasih' keluar dari mulut Ella

“Justru aku yang tidak cukup mengucapkan permintaan maaf kepadamu karena datang terlambat.”

Pasti gadis kecil yang harusnya mendapatkan kasih sayang yang luar biasa sejak lahir harus merasakan penderitaan hingga seolah dapat melihat kematian sepanjang hidupnya.

Ella menunduk kecil. Entah kenapa perasaannya menghangat mendengar kata ‘Keluarga’.

Bahkan sampai saat ini ia masih tidak percaya bahwa dirinya ternyata tidak sebatang kara di dunia.

“Ka-kalau begitu ... Terima, kasih telah datang. Menyelamat,kan Angel, Paman,” ujarnya tersenyum lebar hingga kedua matanya terlihat tertutup, ke arah Aghasa.

Pria itu merasakan perasaan bersalah yang teramat besar sekali lagi menghantam dirinya kala melihat senyuman Arcangella.

'Ka, aku membawa kembali cahaya Reis.'

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Kastil Utama, Kekaisaran Reis.

Bau amis darah menyengat indra penciuman semua orang.

Mereka yang berada di ruang rapat kaisar itu tidak dapat mengajukan komplain karena mayat yang tergeletak dengan leher yang terpisah dari tubuhnya, merupakan jasad seorang menteri kekaisaran yang berani berkomentar kepada sang kaisar beberapa detik yang lalu.

Netra keemasan pekat sang kaisar memandang manusia yang tengah bersujud ketakutan meminta maaf di depan kakinya dengan malas.

"Berisik sekali."

Pola emas muncul di udara dan langsung melesat ke arah sang menteri yang tengah memohon akan kehidupannya itu.

Suasana di ruang rapat seketika kembali hening kala suara memohon yang parau kini tidak lagi terdengar.

Para menteri yang masih terduduk di kursi mereka mendadak semakin merasa panas dingin, keringat mulai bercucuran di tubuh mereka melihat apa yang baru saja sang kaisar perbuat.

Kaisar tidak membunuhnya dengan pedang sihir itu seperti yang ia lakukan pada korban sebelumnya.

Tapi sekarang kaisar menghancurkan pita suara menteri itu dengan sihir!

"Baginda, Permaisuri memanggil anda," ujar Abel menatap sang Ayah yang terlihat mulai kehilangan kendali akan suasana hatinya lagi.

Abellona von Reis - sang putra mahkota kekaisaran, tahu betul satu-satunya yang dapat setidaknya membuat sang kaisar tidak membunuh manusia, yaitu ibunya, permaisuri.

Calliope mengalihkan tatapannya pada putra sulungnya. Tatapan mata Abel yang seolah berkata 'Aku tidak berani berbohong' membuat kaisar dengan rambut pirang panjang itu beranjak bangun dari kursinya.

Serentak, semua menteri di dalam ruang rapat ikut berdiri dari duduk mereka untuk mengantar sang kaisar, bahkan menteri yang baru saja kehilangan suaranya.

Calliope tidak memperdulikan situasi dan langsung berbalik arah untuk keluar dari ruang rapat yang membosankan baginya.  Dua pengawal yang berdiri di depan pintu ruang rapat dengan sigap membukakan pintu.

Semua orang membungkukkan badan, bahkan ketiga pangeran Reis.

"Semoga keberkahan selalu menyertai Matahari Kekaisaran Reis."

BRAK!

Pintu ruang rapat kembali tertutup keras. Sebuag segel menjalar memenuhi pintu yang tinggi nan besar itu.

Semua orang yang tadinya merasa semua sudah selesai pun kembali menghembuskan napas pasrah.

Segel itu berarti jika putra mahkota tidak mengirimkan hasil rapat kepada dirinya, maka pintu itu sampai kapan pun tidak akan bisa terbuka, dan tidak akan ada pula yang bisa membukanya selain sang kaisar sendiri.

Kabut keemasan muncul dan melingkupi tubuh pangeran ketiga.

"Sebaiknya hentikan mantra teleportasi rendah milikmu itu sebelum kaisar meledakkannya bersama dirimu di dalamnya, Atala."

Abel kembali duduk di kursinya. Ia memberikan nasihat yang lebih mirip seperti perintah dan menatap tegas ke arah adik ketiganya, Atala von Reis.

Atala berdecak kesal mendengar teguran dari kakak pertamanya, ia kemudian melirik kakak keduanya yang duduk di seberang untuk meminta bantuan.

Asterion von Reis, pangeran yang digadang-gadang saat besar nanti kemampuan sihirnya akan melampaui sang ayah itu hanya diam dengan terus memeriksa laporan yang menjadi bagiannya. Seolah mengisyaratkan 'Jika ingin mati, jangan libatkan aku.'

'Ck! Apa yang kuharapkan dari si bodo amat itu sih? dasar Atala bodoh!' Atala menghembuskan napas kasar dan menjatuhkan dirinya duduk dengan malas ke tempatnya semula.

"Cepat selesaikan Kak, aku ingin kembali ke menara," rengeknya berdalih kepada Abel.

"Aku tahu kau ingin pergi keluar istana dan membuat kekacauan di hutan dengan eksperimen sihirmu itu. Diam dan selesaikan tugasmu atau aku akan melaporkan semua tingkahmu akhir-akhir ini pada kaisar."

Atala lagi-lagi hanya bisa berdecak kesal. 'Cih, kenapa semua orang di istana sangat suram sekali sih?'

[Ga sadar diri]

Atala jadi merindukan tawa kecil yang menghias istana dulu, sebelum akhirnya ia lebih sering memutuskan pergi diam-diam keluar kastil dan mendengar teriakan para monster di hutan yang ia bunuh.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Wah ... "

Ella menatap takjub ke luar jendela kereta kuda. Disana terlihat hutan yang tidak gelap sama sekali. Banyak kunang-kunang kecil berterbangan dari dalam hutan di sepanjang jalan rombongan grand duke Luelle.

Derix yang menaiki kuda berjalan berjaga di depan kereta kuda yang ditumpangi sang grand duke juga putri bungsu, menatap bingung kesekeliling. 'Tumben sekali hutan Cana menyambut manusia.'

Hutan ini bukan hanya omong belaka dengan aura mistis nya, tapi seolah menunjukkan ke semua manusia yang masuk bahkan sekadar lewat di pinggiran hutan bahwa 'mereka'  ada.

Aghasa yang duduk di seberang Ella, terus memperhatikan gadis kecil yang menatap ke arah luar jendela dengan binar di matanya.

'Tatapan takjubnya saat melihat sesuatu yang cantik, masih sama seperti dulu,' batin Aghasa.

Ella perlahan merasakan kantuk yang mulai menyerang, matanya berkedip pelan. Sebelum kening gadis itu membentur jendela, telapak tangan Aghasa lebih dahulu menyanggahnya.

'Dan kebiasaannya yang langsung tertidur dimanapun saat mengantuk, tetap sama.'

Aghasa tersenyum geli melihat gadis kecil yang sudah terlelap tanpa memikirkan dirinya tertidur dimana dan dalam posisi apa sekarang ini.

Barisan rombongan grand duke Luella terus membelah malam di sepanjang arus hutan tanpa berhenti karena tidak ingin bermalam terbuka dekat dengan hutan mistis di sebelah kanan mereka.

Meski kini hutan itu nampak indah karena banyak sekali kunang-kunang yang menghiasai, mereka lebih memilih untuk meneruskan perjalanan dan menjauh dari hutan itu.

"Bagaimana ini Nona? Anak itu kabur!"

Sebuah pandangan dari balik topeng bewarna hitam menatap sinis ke arah kereta kuda yang terus melaju dan semakin hilang dari pandangan mereka, dengan tetap menyembunyikan diri mereka di tengah kabut malam.

"Kalian kembali ke Greys, dan bunuh semua tetua yang mengetahui tentang praktik 'Darah Reis' itu," titahnya dengan berusaha tetap tenang.

1
Jer
Apa apaan sistemnya serakah gini
Alia Chans
keren
mary dice
😱😱😱 serem
mary dice
kembali ke tempat tidurmu Ella , Ksatria itu pasti tidak mau kamu jatuh sakit hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!