Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 #Benteng penolakan

Isakan penyesalan Gibran yang menderu di ceruk lehernya terasa begitu membakar kulit Bening. Kehangatan dekapan sang mantan suami yang begitu sarat akan kerinduan dan rasa bersalah sempat membuat pertahanan jiwa Bening goyah. Namun, bayangan raut wajah kejam Wira Aditama serta ancaman melenyapkan Kaivandra seketika menyengat kesadarannya bagai setruman listrik.

Bening memejamkan mata erat-erat, menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, kedua tangan Bening terangkat, menempel di dada bidang Gibran dan mendorongnya perlahan namun dengan ketegasan yang tak bisa dibantah.

"Mas... lepas," bisik Bening, suaranya serak ditahan air mata yang terus menetes. "Mas... tolong kendurkan pelukanmu..."

Gibran tertegun. Mengikuti dorongan tangan Bening, dengan berat hati pria itu melangkah mundur satu pijakan. Kedua tangannya merosot dari tubuh Bening, namun iris matanya yang memerah dan basah oleh air mata tetap menatap Bening dengan pandangan memohon yang teramat sangat.

"Bening..." cicit Gibran parau, napasnya masih berburu hebat.

Bening mengusap air mata di pipinya secara kasar. Ia memalingkan wajah, enggan bertatapan langsung dengan sorot mata Gibran yang berpotensi meluluhkan keteguhannya.

"Mas... itu... semua itu sudah lewat sangat lama," ujar Bening, memaksakan suaranya terdengar dingin dan datar meski dadanya bergemuruh hebat. "Apapun kebenaran yang kamu ketahui sekarang... tidak akan pernah mengubah apa yang sudah terjadi pada kita. Kenyataannya, kita sudah berpisah selama tujuh tahun."

"Bening, tidak! Kita bisa memperbaiki semuanya!" pangkas Gibran cepat, mengulurkan tangannya hendak meraih jemari Bening, namun wanita itu buru-buru menarik tangannya ke belakang.

"Memperbaiki apa, Mas?!" potong Bening dengan nada suara yang meninggi. Wajahnya mengeras, membentengi diri rapat-rapat demi menghindari konflik yang lebih besar. "Hari itu... saat aku memohon padamu sambil bersujud, kamu sama sekali tidak percaya padaku! Kamu membuangku dan menuduhku sebagai wanita murahan!"

Deg.

Hati Gibran bagai dihantam godam berat. Rasa bersalahnya makin mencengkeram erat hingga jemarinya gemetar. "Aku tahu aku salah, Bening... Aku kalap oleh cemburu dan amarah. Makanya, beri aku kesempatan..."

"Tidak, Mas. Apapun yang kamu ketahui hari ini... aku tidak bisa kembali bersamamu," pangkas Bening tajam, menggelengkan kepalanya rapat-rapt.

Di dalam benaknya, Bening meratap pedih. Ia sangat mencintai Gibran, sama besarnya seperti tujuh tahun lalu. Namun, masuk kembali ke dalam lingkaran keluarga Aditama sama saja dengan menyodorkan leher Kaivandra ke depan pisau jagal Wira Aditama. Ia tidak akan pernah membiarkan putra kecilnya yang tak berdosa menjadi sasaran empuk kekejaman mantan mertuanya.

Gibran menelan ludah, berusaha menguasai gejolak emosinya. Pria itu mengikis jarak selangkah lagi, menatap Bening dengan pendar menuntut kejujuran.

"Kalau begitu... tolong jelaskan padaku, Bening," mohon Gibran dengan nada suara yang bergetar namun dalam. "Tolong ceritakan padaku kronologi hari itu. Apa yang terjadi padamu sebelum kamu terbangun di kamar hotel bersama pria asing itu? Siapa yang membawamu ke sana?"

Jantung Bening mendadak berhenti berdetak sejenak. Kepanikan yang luar biasa menjalar hingga ke ujung jemarinya.

Ingatan masa lalu mendadak berputar liar di kepalanya:, Siang itu, Bening dipanggil ke rumah utama Aditama oleh Wira Aditama. Di sana, ia disuguhi secangkir teh hangat oleh pelayan pribadi Wira. Beberapa menit setelah menyesap teh itu, kesadarannya menguap, pandangannya memgelap... hingga saat ia terbangun, ia sudah berada di atas ranjang hotel dengan keadaan acak-acakan di samping Heru.

Jika Bening jujur menceritakan soal cangkir teh di rumah utama Aditama, Gibran yang cerdas pasti akan langsung menyadari bahwa dalang utama dari jebakan keji ini berada di dalam rumahnya sendiri, bahwa ayahnya sendirilah pelakunya. Dan itu akan memicu perang terbuka yang amat membahayakan nyawa Kai.

Bening memiringkan tubuhnya, mengepalkan tangan di balik lipatan mukenanya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia mengambil keputusan pahit: ia harus berbohong.

"Aku tidak tahu, Mas..." bisik Bening dengan wajah berpaling, memaksakan nada suaranya terdengar meyakinkan. "Aku benar-benar tidak tahu apa-apa dan tidak ingat siapa yang membawaku."

Gibran menatap lurus ke dalam iris mata Bening. Ada kebohongan dan ketakutan yang tersirat di sana, namun Gibran menahan dirinya untuk tidak menekan Bening lebih jauh. Rasa bersalah yang teramat dalam kembali menampar kesadarannya, Bening benar, tujuh tahun lalu dialah yang bodoh karena menutup telinga dan tidak memberikan wanita itu kesempatan sedikit pun untuk menjelaskan.

Pria itu mengambil satu langkah mundur, mengontrol nada suaranya agar tetap terkendali meski dadanya bergemuruh hebat.

"Baik... Jika kamu memang tidak ingat, Bening..." bisik Gibran dengan suara rendah yang kaku. "...aku sendiri yang akan mengejar dan memaksa pria itu untuk membuka mulutnya."

Tanpa mengumbar kata-kata lagi, Gibran berbalik dan melangkah lebar keluar dari kamar rawat inap, meninggalkan Bening dalam keheningan yang mencekam.

Begitu pintu kayu itu tertutup rapat, pertahanan tubuh Bening seketika hancur. Kedua lututnya melemas, membuatnya terduduk terkulai di atas tepi ranjang. Air mata Bening kembali menetes deras membasahi mukena putihnya. Tangannya meremas kain selimut dengan jemari yang gemetar hebat.

"Ya Allah... tolong hamba..." bisik Bening dalam isakan yang tercekik.

Bening tahu betul karakter Gibran. Mantan suaminya itu adalah pria berkuasa yang pantang menyerah sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya. Bening memang memilih membisu demi melindungi rahasia kelam keluarga Aditama, tapi di bawah tekanan dan kekuasaan Gibran, pria bernama Heru itu pasti akan dipaksa membocorkan segalanya seiring waktu.

Bening memejamkan matanya rapat-rapt, mengepalkan tangan di atas pangkuannya. 'Apapun yang terjadi kedepannya... aku akan tetap menjadi tameng terkuat untuk Kaivandra. Cukup aku yang merasakan penderitaan dan kekejaman ini... Putraku tidak akan aku biarkan tersentuh!'

.

.

Di luar, Gibran melajukan mobil sedan mewahnya menembus jalanan Jakarta yang masih lengang di ambang fajar. Pria itu menginjak pedal gas dalam-dalam, melaju dengan kecepatan tinggi menuju sebuah rumah aman berpenjagaan ketat di pinggiran kota.

Setibanya di lokasi, para pengawal pribadi bertubuh tegap menyambut kedatangan sang CEO dengan usapan hormat yang dalam. Toni yang sudah bersiaga sejak tadi langsung melangkah menuntun boss-nya masuk menelusuri lorong remang menuju sebuah ruangan tertutup.

Cklek.

Pintu besi itu terbuka. Di dalam ruangan bernuansa dingin tersebut, Heru terduduk kaku di atas kursi kayu dengan raut wajah ketakutan.

Melihat kembali wajah pria yang tujuh tahun lalu berteriak angkuh di kamar hotel, pria yang dengan percaya diri mengklaim bahwa Bening adalah kekasih gelapnya, membuat sisa-sisa kesabaran Gibran terbakar habis. Kobaran amarah dan rasa dikhianati yang terendam selama tujuh tahun mendadak meledak tak terkendali.

Brak!

Tanpa basa-basi sedikit pun, Gibran menerjang maju dan melayangkan satu pukulan panas yang teramat keras tepat di pipi Heru.

BUGH!

"AAAGH!" Heru menjerit kesakitan, tubuhnya beserta kursi kayu itu langsung terhuyung jatuh menghantam lantai semen yang dingin. Sudut bibirnya seketika robek dan mengucurkan darah segar.

"Ampun, Pak! Ampun! Saya minta maaf!" meratap Heru ketakutan, menyembah-nyembah dari atas lantai.

Gibran berjongkok kasar, mencengkeram kerah baju Heru dan menariknya ke atas hingga Heru merasa lehernya mencekik hebat, sulit bernapas. Matanya yang memerah menatap Heru bagai predator yang siap mencabik mangsanya.

"Katakan padaku sekarang juga!" gertak Gibran dengan suara menggelegar yang membekukan darah. "Siapa yang menyuruhmu menjebak istriku tujuh tahun lalu?! Siapa yang membayarmu?!"

"Sa-saya... Saya tidak tahu, Pak!" jerit Heru dengan napas terengah-engah, mengingat kembali ancaman kematian yang dilontarkan Wira Aditama padanya. "Saya bersumpah saya tidak tahu identitasnya! Saya hanya menerima transferan uang dari perantara tanpa pernah bertemu orangnya langsung!"

"MASIH BERANI BOHONG?!"

BUGH! BUGH!

Gibran kembali mendaratkan pukulan mentah ke wajah Heru tanpa ampun. Darah kental mengucur deras dari hidung dan pelipis Heru, membasahi lantai semen. Gibran benar-benar hampir kehilangan kendali atas egonya. Ia menarik kerah Heru lebih tinggi, mengepalkan tinjunya di udara.

"Kalau kamu tetap tidak mau mengatakannya... tidak ada gunanya kamu tetap hidup di dunia ini!" ancam Gibran dengan tatapan membunuh yang teramat dingin.

Saat pukulan mematikan itu hampir mendarat kembali, Heru menggunakan sisa-sisa tenaganya yang terakhir untuk memohon dalam tangisan histeris.

"Pak... saya mohon biarkan saya hidup, Pak! Tolong kasihanilah saya!" jerit Heru memelas, wajahnya hancur oleh darah dan air mata. "Saya... saya punya istri yang sedang hamil tua! Kasihanilah anak saya yang sebentar lagi mau lahir, Pak!"

Deg.

Mendengar kata 'istri yang sedang hamil tua', kepalan tangan Gibran mendadak membeku di udara.

Bayangan Bening tujuh tahun lalu seketika berputar hebat di dalam kepalanya, momen di mana Bening berjuang sendirian melewati masa-masa kehamilan yang berat, menderita sengsara, hingga bertaruh nyawa melahirkan Kaivandra tanpa kehadiran seorang suami di sisinya.

Gibran bernapas memburu. Hatinya bergejolak hebat oleh konflik moral. 'Jika aku membunuh pria ini sekarang... aku tidak ada bedanya dengan monster. Aku hanya akan menjadi pria jahat yang merenggut seorang ayah dari bayi yang belum lahir... sama seperti apa yang dulu aku lakukan pada Kaivandra.'

Cengkeraman tangan Gibran di kerah Heru perlahan mengendur. Pria itu berdiri tegak, menyapu keringat di dahinya seraya mengatur napasnya yang tidak beraturan.

Ia memalingkan pandangannya ke arah Toni yang berdiri sigap di dekat pintu.

"Toni..." panggil Gibran dengan suara parau yang menahan frustrasi luar biasa. "...urus pria ini secara hukum. Serahkan dia ke kepolisian dan jebloskan dia atas kejahatan persekongkolan dan pencemaran nama baik."

Meskipun dadanya dihantam frustrasi yang hampir membuatnya gila, Gibran akhirnya memilih jalur hukum. Pria itu mengepalkan tangannya rapat-rapt, menatap langit-langit ruangan dengan rahang mengeras kaku.

'Siapa sebenarnya musuh dalam selimut yang sedang bermain-main denganku selama tujuh tahun ini?!'

1
Ariany Sudjana
kan sudah ada kaivandra, berarti bukan malam pertama dong 🤣🤣
sunaryati jarum
Sudah ada jagoan tidak perlu malam pertama,masih banyak malam/Drool//Drool//Drool/
sunaryati jarum
Selamat sudah sah
sunaryati jarum
Kalian bakal terseret Rama dan Astari
Lisa
Happy wedding Gibran & Bening..bahagia selalu ya..
Ariany Sudjana
congrats yah Gibran dan bening, tetap waspada yah
sunaryati jarum
Emak kira Kai dan ibunya diberi pengawalan yang ketat, ternyata tidak.untung Kai cerdas dan pemberani,serta ingat nasehat ibunya
sunaryati jarum
Astaga kirain ulah Astari, ternyata ulah dokter.Dokter Arfan seharusnya kamu senang Bening bahagia dan Kai memiliki orang tua utuh yang saling mencintai
sunaryati jarum
Semoga segera Kai segera diketemukan
sunaryati jarum
Memangnya berhasil, Gibran tidak bodoh dia memiliki pengawal berlapis untuk istri dan putranya.Jika kau lakukan rencana busukmu bukan Gibran yang hancur tapi kalian sendiri
Ariany Sudjana
skak mat, kamu keceplosan ngomong rencana jahat kamu sendiri Arfan? Gibran masih ada yang harus ditangkap tuh, Astari dan suaminya, suruh Toni bertindak, supaya Astari dan Rama masuk penjara sekalian
Ariany Sudjana
katanya Gibran CEO, punya anak buah, masa ga bisa menemukan keberadaan pelaku penculikan kaivandra?
bening juga bodoh, percaya sekali sama Arfan, padahal hatinya iri dan dengki
Lisa
Ternyata dokter Arfan ini jahat juga mau merebut Bening..Gibran kamu harus selidiki siapa dalang di balik kasus itu.
Lisa
Cpt Gibran tolong Kai..bisa kambuh tuh alerginya..
Ariany Sudjana
Gibran ini bodoh, sudah tahu situasi belum aman,kok percaya sekali sama orang lain, katanya punya anak buah yang bisa di andalkan, kok kecolongan sih
sunaryati jarum
Apa bukan orang tua kandungnya Gibran? Atau dulu ada trauma dengan orang tidak punya?
Ariany Sudjana
dasar Rama bodoh, percaya sekali dengan omongan pelacur murahan yang ga tahu diri dan serakah .... semoga rencana jahat mereka bisa dipatahkan Gibran
Lisa
Moga aj Gibran mengetahui rencana jahatnya Rama..
Ariany Sudjana
betul sekali, kamu harus tegas bening, menurut kamu berteman, tapi beda dengan Arfan, ybs berharap jadi suami kamu
Ariany Sudjana
harusnya bening tegas, bicara sama Gibran, posisi Arfan itu teman atau apa, supaya Gibran tidak salah paham
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!