Indonesia
NovelToon NovelToon
Ma Chérie, Don'T Run!

Ma Chérie, Don'T Run!

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Penerbangan kepulangan menuju Manhattan terasa jauh lebih sunyi daripada keberangkatan mereka sebelumnya, namun bukan berarti ketegangan mereda. Di dalam kabin pribadi jet keluarga Sterling, suasana diisi oleh keheningan yang sarat akan dominasi mutlak sang kepala keluarga.

​Percy duduk di sofa beludru panjang, menyilangkan kakinya dengan santai meskipun ia tahu betul bahwa tatapan tajam dari suaminya yang duduk di seberang tidak sedetik pun lepas darinya. Di pangkuan Percy, Zeus kecil sudah terlelap pulas setelah aksi menegangkan di Paris, napasnya teratur dengan tangan mungil yang masih menggenggam ujung jaket sang Mommy.

​Hades menyesap scotch dingin dari gelas kristalnya. Manik mata kelabunya menatap lurus ke arah Percy, memantulkan kilau lampu kabin yang temaram.

​"Jadi," suara Hades memecah keheningan, rendah dan begitu intim. "Apakah liburan singkatmu bersama bos kecil kita sudah cukup memuaskan jiwa 'cegil' mu, Ma chérie?"

​Percy mendongak, menyunggingkan senyuman tipis tanpa sedikit pun rasa bersalah. Ia meletakkan majalah mode yang sedari tadi dibawanya ke atas meja kecil.

​"Cukup untuk membuatku menyadari satu hal, Hades," jawab Percy tenang, membalas tatapan suaminya dengan penuh percaya diri. "Bahwa bahkan di tengah benteng pertahananmu yang paling ketat sekalipun, aku dan anakmu tahu persis bagaimana caranya mencari sedikit hiburan."

​Hades mendengus pelan sebuah campuran antara kekesalan mendalam dan rasa kagum yang tak terbatas pada wanita di hadapannya. Ia berdiri dari kursinya, melangkah mendekat, lalu berlutut di hadapan sofa tempat Percy duduk. Tangannya yang besar dan kokoh terulur untuk menyelipkan helaian rambut chesnut brown Percy ke belakang telinganya.

​"Kau boleh bermain-main sesukamu di dunia luar, Percy," bisik Hades tepat di dekat bibir istrinya, suaranya berubah menjadi geraman posesif yang membuat bulu kuduk meremang. "Tapi ingat, di mana pun kau melangkah, rantai emas yang menghubungkan kita tidak akan pernah putus. Dan dunia ini serta nyawa siapa pun yang berani mengusikmu selamanya adalah milikku."

​Percy tersenyum, melingkarkan lengannya ke leher Hades dan menarik pria itu dalam ciuman yang dalam dan penuh kepemilikan.

​Di luar jendela kabin, jet pribadi melesat membelah malam menuju cakrawala barat membawa kembali sang ratu dan pewaris takhta ke dalam pelukan imperium Sterling yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh apa pun lagi.

Malam menyelimuti kota New York ketika roda jet pribadi keluarga Sterling menyentuh landasan pacu pribadi di pinggiran Manhattan. Tidak ada lampu sorot kepolisian atau suara sirene yang menyambut yang ada hanyalah barisan puluhan pengawal berjas hitam yang berdiri tegap dalam keheningan malam, menyambut kembalinya sang penguasa bersama ratu dan pewaris takhta mereka.

​Hades melangkah turun lebih dulu dari tangga kabin, menggendong Zeus yang masih tertidur pulas dalam pelukannya dengan posisi kepala bersandar nyaman di bahu sang Daddy. Di belakangnya, Percy menyusul dengan langkah anggun, mengenakan mantel kasmir putihnya yang melambai tertiup angin malam kota. Tyche Vance, yang ikut dalam penerbangan kepulangan tersebut, melambaikan tangan kecil sebelum berpisah menuju mobil jemputannya sendiri yang telah menunggu di ujung landasan.

​"Selamat datang kembali di kandang singa, Ma chérie," bisik Hades pelan saat mereka duduk berdampingan di dalam mobil limusin lapis baja yang meluncur meninggalkan bandara.

​Percy menoleh ke luar jendela, menatap deretan lampu gedung pencakar langit Manhattan yang berkilauan di bawah kegelapan. Empat tahun lamanya ia hidup dalam rutinitas ketat di balik dinding tinggi mansion, dan liburan singkat ke Paris kemarin meski sempat diwarnai aksi penyanderaan yang berujung kekacauan telah berhasil menyiram kembali bara api dalam jiwanya.

​Ia tahu, Hades tidak akan pernah membiarkannya lepas dari pengawasan lagi. Rantai emas posesif suaminya kini terikat jauh lebih erat dari sebelumnya. Namun, melihat bagaimana Zeus bocah empat tahun berdarah dingin yang mewarisi sifat Daddynya justru menjadi pelindung dan sekutu setianya, Percy menyadari satu hal permainan baru saja dimulai.

​Limusin hitam itu meluncur mulus melewati gerbang besi raksasa mansion Sterling, membawa mereka kembali ke dalam benteng kemegahan dan kekuasaan mutlak. Di bawah atap imperium yang tak tertandingi ini, sang ratu kembali ke singgasananya siap menanti petualangan gila berikutnya yang akan ia ciptakan di masa depan.

Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui celah tirai sutra berat di kamar utama mansion Sterling, memantulkan kilau kemerahan di atas lantai marmer putih. Suasana pagi itu terasa begitu kontras dengan kekacauan yang baru saja mereka lewati di Paris beberapa hari lalu.

​Di atas ranjang berukuran king size, Zeus kecil sudah terbangun lebih dulu. Bocah empat tahun itu duduk bersila di tengah tempat seprai, mengenakan piyama berlogo singa kecil, sementara manik mata kelabunya menatap lekat ke arah kedua orang tuanya yang masih terlelap.

​Percy berada dalam dekap erat lengan kokoh Hades, kepalanya bersandar nyaman di dada bidang sang suami yang bidang dan hangat. Hades, meski tertidur, tetap mempertahankan posisi protektif satu tangannya melingkar sempurna di pinggang Percy seolah memastikan sang istri tidak akan bisa melangkah pergi kemana pun.

​Zeus menguap lebar, lalu merangkak pelan mendekati wajah ayahnya. Dengan jari mungilnya, ia dengan sengaja mencolek hidung mancung Hades.

​Hades mengerjap perlahan. Manik mata kelabunya terbuka seketika, memancarkan ketajaman instan seorang predator sebelum melunak saat mendapati wajah sang putra tepat di depan matanya. Hades mendengus pelan, lalu menangkap tubuh Zeus dan mengangkatnya ke udara, membuat bocah itu terkekeh kecil.

​"Jangan ganggu Mommy mu, jagoan," bisik Hades berat, suaranya masih serak khas bangun tidur.

​Percy ikut mengerjap, manik mata ambernya terbuka menyambut cahaya pagi. Ia tersenyum miring melihat suami dan anaknya sudah bersekutu sejak fajar menyingsing. Percy meregangkan otot-ototnya, lalu melingkarkan lengannya ke leher Hades, mengecup singkat rahang tegas suaminya.

​"Selamat pagi, penguasa imperium," sapa Percy dengan nada menggoda. "Sudah merencanakan hukuman apa untukku hari ini? Menyita semua kartu kreditku atau mengurungku di ruang baca?"

​Hades mengecup kening Percy lama, sebelum balas menyeringai penuh rahasia.

​"Tidak, Ma chérie," jawab Hades rendah, menarik Percy semakin lekat ke dalam pelukannya. "Hari ini, kita tidak pergi ke mana-mana. Karena dunia luar sudah cukup tahu apa akibatnya jika mereka mencoba mengusik ratuku... dan bos kecil kita."

Matahari perlahan meninggi, menghangatkan halaman luas mansion Sterling yang dikelilingi oleh pilar-pilar marmer putih dan taman bunga mawar hitam yang terawat sempurna. Di ruang makan utama yang megah, meja panjang berlapiskan kayu jati tua telah dipenuhi oleh berbagai hidangan sarapan mewah ala kontinental.

​Namun, suasana di meja makan pagi itu tidak seperti biasanya.

​Hades duduk di kursi kepala keluarga dengan mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sebatas siku, memperlihatkan tato samar di pergelangan tangannya. Di sebelah kanannya, Percy duduk dengan balutan silk robe berwarna hitam beraksen emas, menyesap teh chamomile hangat dengan ekspresi santai yang menyebalkan, menunjukkan betapa ia sama sekali tidak merasa bersalah atas pelariannya ke Paris kemarin.

​Sementara di kursi khusus anak di sebelah kiri, Zeus kecil sedang sibuk menusuk sepotong buah stroberi dengan garpu plastiknya, lalu mendongak menatap sang Daddy dengan manik mata kelabu yang menyipit curiga.

​Hades meletakkan garpu dan pisau peraknya secara perlahan. Suara dentingan logam yang beradu dengan piring porselen itu langsung membuat seisi ruangan hening seketika. Para pelayan yang berdiri di sudut ruangan menunduk semakin dalam.

​"Jadi," suara bariton Hades memecah keheningan, tenang namun penuh tekanan mutlak. "Mengingat kejadian di Paris beberapa hari lalu... ada beberapa penyesuaian kecil yang harus kita terapkan pada jadwal harian keluarga ini, Ma chérie."

​Percy mengangkat sebelah alisnya, meletakkan cangkir tehnya ke atas piring kecil. "Penyesuaian macam apa yang kau maksud, Tuan Sterling? Jangan bilang kau ingin memasang alat pelacak GPS di balik kulitku."

​"Ide bagus, akan kupertimbangkan nanti," jawab Hades datar, namun sudut bibirnya berkedut tipis. "Mulai hari ini, setiap kali kau berencana melakukan perjalanan spontan baik itu shopping, travelling, atau sekadar mencari 'hiburan' ada dua syarat mutlak yang harus dipenuhi."

​Percy mendengus pelan, bersandar malas di kursi makannya. "Silakan, Yang Mulia. Sampaikan aturan konyolmu."

​"Pertama," Hades mengangkat jari telunjuknya. "Pengawalan di sekitarmu akan dilipatgandakan menjadi dua kali lipat, dan mereka tidak akan berdiri di luar toko lagi. Mereka akan berjalan di belakangmu, menempel ketat tanpa celah."

​Percy memutar bola matanya malas. "Membosankan sekali. Lalu yang kedua?"

​Hades melirik sekilas ke arah putranya, lalu kembali menatap sang istri dengan seringai tipis yang mematikan. "Kedua... bos kecil kita harus memberikan izin resmi dan ikut serta dalam setiap operasi lapanganmu. Karena, berdasarkan bukti di lapangan, hanya dia satu-satunya orang yang bisa meredam kemarahanku ketika kau mulai berulah."

​Zeus kecil mendengus bangga, menegakkan punggungnya di kursi anak, lalu mengangguk sok penting. "Benar, Mommy. Zeus adalah manajer utamamu sekarang. Kalau Mommy mau belanja lagi, Mommy harus minta tanda tangan Zeus dulu."

​Percy tertegun sejenak sebelum akhirnya tawa renyah lepas dari bibirnya. Ia menggelengkan kepala, merasa kalah telak oleh konspirasi antara suami posesif dan anak kandungnya sendiri.

​"Baiklah, Tuan-tuan yang terhormat," ujar Percy pasrah namun dengan binar mata yang tetap menyimpan kenakalan tersembunyi. "Kurasa aku harus mulai menyusun strategi baru untuk pelarian berikutnya."

1
Hema Simangunsong
sukaaaaa cerita nyaaa, tp bukan mau tamat kan ya cerita thor.
you see me: terima kasih kakak /Whimper/
belum tamat kakak, masih ada lanjutannya.
terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca karya saya kakak hema /Smile/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!