"Bunga Aster segar, kotak sarapan tanpa nama, dan pesan singkat dari nomor tak dikenal."
Selama berbulan-bulan, Nayshi dibuat bertanya-tanya oleh sosok secret admirer yang selalu memanjakannya diam-diam di tempat kerja. Di saat ia terbiasa dengan perhatian misterius itu, sebuah kejutan besar datang: sosok di balik topeng pengagum rahasia tersebut ternyata adalah Keenan Zaydan—CEO kaku dan dingin yang menjadi mitra proyek perusahaannya.
Pria yang di dunia bisnis terkenal kaku bak "kulkas dua pintu" itu ternyata bisa berubah sangat romantis, manis, dan pantang menyerah demi meluluhkan hati Nayshi. Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai saat Keenan tak lagi bersembunyi di balik layar, melainkan nekat melangkah langsung ke rumah Nayshi untuk berhadapan dengan orang tuanya.
Akankah Nayshi siap menyambut cinta sang CEO yang dulunya sembunyi-sembunyi, kini terang-terangan menunjukkan effort tanpa batas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Traay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
persiapan hadiah
Bagitu telpon itu terputus, Nayshi tidak menyiakan waktu sedikitpun. Senyumnya terukir lebar, rasa berdebar yang hangat memenuhi dadanya. Kalo tadi Ia sempat buntu barang apa yang akan di berikan, kini saran spontan dari Nadia sahabat cegilnya itu seakan membukakan jalan terang.
"Jam tangan." gumam Nayshi sambil mengangguk-angguk setuju.
"Ga salah nanya si cegil. Jam tangan itu melekat di tangan Prince Daisy, jadi kalo Dia lihat jam tangan itu Ia inget Gue," lanjut Nayshi sambil salting sendiri membayangkannya.
Nayshi tidak menyiakan satu detik pun, Ia langsung membuka salah satu aplikasi e-commerce. Jari jemarinya menari di atas ponsel, Ia mengetik di kolom pencarian dengan kata kunci jam tangan pria analog strap navy premium.
Layar ponselnya seketika dipenuhi ratusan pilihan dari berbagai merek ternama. Matanya dengan teliti menandai satu persatu produk yang tampil. Nayshi adalah sosok yang teliti tidak asal membeli barang, Ia sangat memperhatikan detailnya. Apalagi Keenan adalah pria yang berwibawa dan sering mendatangi pertemuan penting.
"Kalo strap-nya stainless steel warna silver, udah biasa banget, pasti Dia udah punya banyak." bisik Nayshi sambil tangannya terus scrolling.
Tangan dan mata Nayshi berhenti di salah satu merek ternama buatan dari swiss, tampilannya sangat memukau. Case berwarna marun yang elegant, dial dalam berwarna navy gelap bernuansa sunray finish yang memantulkan cahaya dengan halus, serta tali kulit asli yang berwarna navy yang terlihat kokoh namun lembut.
Melihat harganya yang lumayan merogoh kantong, Nayshi tidak ragu membeli. Selama ini Keenan dan keluarganya sudah sangat memberi perlindungan, kasih sayang, dan rasa aman yang tak ternilai harganya. So, jam tangan ini hanya bentuk apresiasi kecil dari Nayshi untuk Prince Daisy.
Nayshi mengeklik tombol beli sekarang dan menambahkan permintaan di kolom catatan untuk menyertakan kartu ucapan berwarna marun, lalu Ia memilih pengiriman instan agar paket datang dengan hitungan jam.
"Prince Daisy, semoga Kamu suka yaa." gumam Nayshi seraya membaringkan tubuhnya dengan senyum bahagia hingga pipinya merah merona.
Sambil menunggu paket Nayshi membangkitkan tubuhnya kembali untuk membersihkan kamar yang belum Ia sentuh dari pagi. Nayshi dengan senyum bahagianya dengan suara musik yang memenuhi kamar Ia berjoget sedikit sambil meraihkan kamarnya.
Beberapa jam kemudian, paket yang Ia tunggu akhirnya datang.
"Nayshi sayang! itu ada paket!" teriak Papah yang lagi menonton TV di bawah.
Nayshi langsung berlari turun dengan senyum ceria. "Iya, Pah! Aku turun!"
Nayshi langsung membuka pintu. "Kak Nayshi, ini paketnya," ucap kurir paket seraya memberikan kotak paket yang terbungkus rapih.
"Baik, terimakasih." sahut Nayshi menerima. Setelah Ia menandatangani, Ia langsung masuk dengan wajah ceria yang tidak luntur.
"Paket dari siapa tuh?" tanya Mamah dengan nada menggoda.
"Yaa pasti dari Keenan," sahut Papah yang ikut menggoda putri semata wayangnya.
"Apa sih, bukan. Ini paket Aku," jawab Nayshi dengan pipi merona di wajahnya.
"Iya, dah iya." ledek Mamah.
"Udah ah, Aku mau ke kamar lagi." ucap Nayshi yang sudah ga sabar melihat dan menulis pesan untuk Prince Daisy-nya.
Nayshi pun naik ke atas dengan buru-buru. "Eh, hati-hati!" teriak Papah yang khawatir anaknya tiba-tiba kesandung.
"Hehehe! aman Pah! " sahut Nayshi yang sudah sampai di lantai atas.
Mamah dan Papah hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Anak semata wayangnya yang lagi jatuh cinta.
Di dalam kamar yang tenang di siang hari itu, Nayshi membuka boks beludru marun tersebut dengan sangat hati-hati, jam tangan navy pilihannya berkilau sangat cantik di bawah pantulan sinar matahari.
Dengan perasaan membuncah, Nayshi mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu untuk Prince Daisy-nya. Lalu Ia sisipkan kartu itu di bawah boks, serta Ia balut dengan pita navy dan Ia simpan di atas meja.
Waktu pun terus berjalan hingga beranjak sore. Sinar yang terik perlahan berganti menjadi cahaya hingga keemasan yang hangat dan teduh.
Setelah Ia membantu Mamah dan Papah membersihkan rumah, Ia baru beranjak membersihkan diri. Bagi kedua orang tua Nayshi kedatangan Keenan dan keluarganya kali ini harus mengesankan, karena kedatangan mereka semalam justru disambut oleh ketegangan.
Dari pagi Nayshi malas sekali menyentuh air karena saking semangatnya memilih baju dari siang untuk bertemu Prince Daisy beserta ke dua orang tuanya.
Setelah membersihkan diri, Nayshi mengenakan dress santai namun tetap kelihatan elegant berwarna marun. Baju yang hampir dua jam Ia pilih dengan bahan jatuh, dan memberikan kesan anggun tanpa kelihatan berlebihan.
Setelah Ia mengambil wudhu untuk nanti shalat maghrib sekitar satu jam lagi, Ia mulai memoles wajahnya dengan riasan tipis dan Ia mengenakan lip cream berwarna peach yang membuat wajahnya terlihat segar.
"Nayshi! ini bukan pertama kalinya. Lu udah lebih dari satu kali ketemu Keenan dan ini pertemuan ke tiga ketemu Orang tuanya, " Ucap Nayshi dengan menatap dirinya di cermin, Ia berusaha menenangkan dirinya.
Tok! Tok!
"Masuk aja, Mah! Ga Nayshi kunci, kok!" ucap Nayshi setengah berteriak.
Ceklek!
Mamah dan Papah masuk bersamaan dan melangkahkan kaki mendekati putrinya yang masih duduk di meja rias.
"Masyaallah, udah siap aja anak Mamah," ucap Mamah sambil membelai rambut putrinya.
"Tau, nih. Maghrib aja masih lama, Sayang!" timpal Papah gemas.
"Hehehe! biar nanti ga kedubrukan," sahut Nayshi dengan tersenyum malu.
"Lagian Pak Malik tadi sempat telepon Papah," ujar Papah sambil tersenyum hangat, menatap putri semata wayangnya lewat pantulan cermin. "Katanya mereka baru jalan sehabis maghrib, biar jalanan tak terlalu ramai."
"Tuh, kan masih lama! luntur duluan make-up Kamu, " ledek Mamah terkekeh.
Nayshi hanya bisa menyengir kuda, memutar tubuhnya menghadap ke dua orang tuanya. "Ya enggak apa-apa dong, mending siap duluan dari pada nanti pas mereka sampai Aku belum siapa. Nayshi kan mau menyambut Prince... eh, maksudnya Keenan dan keluarganya dengan baik!"
Papah dan Mamah terkekeh putrinya sudah mulai berani mengucapkan julukan khusus di hadapan mereka. "Prince apa? kok dipotong, sih," ledek Mamah membuat pipi Nayshi yang sudah tertimpa blush-on semakin merah padam.
Papah tiba-tiba terharu melihat putrinya kini sudah sangat siap untuk memikirkan pernikahan. "Anak Papah, sudah dewasa ya. Sudah sangat siap untuk ke jenjang pernikahan." ucap Papah dengan mengusap lembut rambut putrinya.
"Papah ih! Jangan bikin Nayshi terharu sekarang! Nanti makeup-nya luntur, lho!" rengek Nayshi gemas yang seketika memecah tawa hangat di kamar itu.
Setelah Papah dan Mamah turun untuk menyusun camilan dan teh hangat di ruang tamu, Nayshi kembali sendirian. Tak lama kemudian, suara azan berkumandang dari masjid dekat rumahnya. Nayshi bergegas menggelar sajadah untuk menunaikan ibadah.
Beberapa saat kemudian suara deru mesin mobil terdengar berhenti di depan pagar rumahnya.
Brummm...
Jantung Nayshi berdesir hebat, dan kita lanjutkan besok heheheh 😁