Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 - Lakukan Dengan Cinta
Di sebuah rumah sederhana yang penuh kehangatan di sudut pinggiran kota, gelak tawa memecah kesunyian malam. Ibu Nayla yang kini sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, duduk bersandar di sofa ruang tamu dengan wajah yang jauh lebih segar dan merona. Di sekelilingnya, kedua adik Nayla yang masih sekolah sibuk menata sajian makanan sederhana yang mereka beli untuk merayakan kesembuhan sang ibu.
Nayla tersenyum lega menatap pemandangan di hadapannya. Rasa lelah yang menumpuk di pundaknya selama berhari-hari seolah menguap begitu saja melihat senyum sang ibu kembali terkembang.
Namun, di tengah suasana hangat itu, sang ibu perlahan memegang jemari Nayla. Tatapan matanya yang lembut mendadak berubah penuh selidik. "Nayla... Ibu sebenarnya masih terbayang-bayang. Biaya operasi dan perawatan Ibu kemarin sangat besar. Dari mana kamu bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat, Nak?"
Kedua adik Nayla ikut terdiam, menatap kakak tertua mereka dengan penuh rasa ingin tahu.
Nayla menelan ludahnya pelan, berusaha menjaga raut wajahnya agar tetap tenang dan alami. Ia membalas genggaman tangan ibunya dengan sentuhan hangat, lalu menyunggingkan senyum paling menenangkan. "Ibu tidak usah memikirkan hal itu lagi, ya. Yang penting Ibu sekarang sudah sembuh dan bisa berkumpul lagi bersama kami. Soal biaya, kantor tempat Nayla bekerja memberikan pinjaman fasilitas kesehatan untuk karyawan. Sistem pemotongannya lewat gaji bulanan Nayla, jadi sangat aman dan tidak memberatkan."
"Kamu tidak melakukan hal yang membahayakan diri kamu sendiri, kan, Nay?" tanya ibunya lagi, memastikan dengan nada cemas.
"Sama sekali tidak, Bu," jawab Nayla mantap, meski di dalam hatinya ada denyut kebohongan yang menghimpit dada. "Ibu fokus saja untuk pemulihan, ya. Jangan dipikirkan lagi."
Di saat yang sama, di dalam ruang kerja megah rumah mewahnya yang sepi, Tristan duduk termangu di balik meja. Keheningan rumah besar itu makin memperjelas gejolak pikiran di kepalanya. Pria itu memutar-mutar gelas kristal berisi wiski di tangannya, menatap lekat pantulan cairan keemasan tersebut.
Kalimat yang dilontarkan Nayla tadi pagi terus berputar bagaikan kaset rusak di otaknya. Penawaran langsung dari wanita itu, bahwa dia bersedia menyerahkan batas dirinya asalkan ada imbalan tertentu, membuat Tristan frustrasi setengah mati. Logikanya berteriak bahwa ini adalah jebakan berbahaya yang bisa menghancurkan reputasi dan kehidupan rumah tangganya. Namun, di sisi lain, gairah dan rasa penasarannya pada Nayla bertumbuh bagaikan api yang disiram bensin. Pria itu menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, memejamkan mata rapat-rapat, merutuki dirinya sendiri yang kian tidak berdaya di hadapan sekretarisnya.
Keesokan harinya, tugas profesional kembali memaksa mereka untuk berdekatan. Tristan dan Nayla dijadwalkan terbang menuju Jawa Barat untuk menemui langsung kelompok petani dan pengusaha lokal yang mengembangkan material kulit kaktus. Perjalanan bisnis ini hanya melibatkan mereka berdua.
Di dalam kabin kelas bisnis penerbangan pagi itu, suasana terasa begitu canggung, setidaknya bagi Tristan.
Nayla tampil sangat profesional dan tenang. Wanita itu duduk di samping jendela, sibuk membaca dokumen profil kemitraan di tabletnya, sesekali menyesap teh hangat yang disajikan pramugari dengan keanggunan yang alami.
Sebaliknya, Tristan duduk di kursi sebelah koridor dengan tubuh kaku bagaikan papan. Pria berkemeja biru gelap itu serba salah. Setiap kali lengan baju mereka tidak sengaja bersentuhan saat pesawat mengalami guncangan kecil, darah Tristan mendesir hebat. Ia berusaha keras mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke depan, pura-pura membaca koran bisnis, atau berpura-pura tidur. Namun, aroma parfum lembut vanila dan melati yang membuai dari tubuh Nayla terus merusak pertahanannya. Tristan benar-benar salah tingkah dan memilih menghindari kontak mata dengan Nayla sepanjang penerbangan.
Nayla yang menyadari kegelisahan atasannya hanya menyunggingkan senyum tipis yang amat samar tanpa berniat mengganggunya.
Setibanya di kota tujuan, setelah menyelesaikan agenda pertemuan singkat gelombang pertama dengan pihak pengelola lahan, mereka langsung mendaftar masuk di sebuah hotel bintang lima tempat mereka menginap. Kamar mereka terletak berhadapan di lantai yang sama.
Begitu melangkah masuk ke dalam kamar pintunya sendiri, Tristan melepas jasnya dan melemparkannya sembarangan ke atas tempat tidur. Pria itu berjalan bolak-balik di atas karpet kamar hotelnya yang luas, memijat tengkuknya yang tegang. Niatnya untuk bersikap profesional runtuh total. Bayangan Nayla, senyum misteriusnya, dan bau harum tubuhnya yang terus berada di sekitarnya sepanjang hari telah membakar habis sisa kehati-hatiannya.
Tanpa memikirkan risiko atau gengsi lagi, Tristan berbalik, melangkah lebar keluar dari kamarnya, dan menyeberangi lorong hotel.
TOK! TOK! TOK!
Tristan mengetuk pintu kamar Nayla dengan tidak sabar. Hanya butuh beberapa detik sampai engsel pintu berbunyi. Pintu terbuka, memperlihatkan Nayla yang sudah melepas blazer kerjanya, kini hanya mengenakan kemeja putih bersiluet longgar dengan kancing atas yang terbuka santai.
"Pak Tristan? Ada yang perlu—"
Belum sempat Nayla menyelesaikan kalimatnya, Tristan langsung menerobos masuk ke dalam kamar, lalu memutar tubuh dan menutup pintu di belakangnya hingga terkunci dengan bunyi klak yang tegas.
Nayla tersentak pelan, mundur satu langkah, namun matanya tetap menatap Tristan dengan ketenangan yang menantang.
Tristan menatap tajam wanita di hadapannya. Napasnya naik turun beraturan. "Aku tidak bisa berpura-pura lagi, Nayla. Bicaralah yang jujur," ucap Tristan dengan suara berat dan parau. "Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku? Kalau kamu mau menjalin hubungan rahasia ini denganku... sebutkan harganya. Uang? Fasilitas? Jabatan? Apa yang kamu mau untuk memberikan dirimu?"
Nayla menatap Tristan sejenak. Bukannya takut atau tersinggung, bibir peach basah milik wanita itu justru mengembang, membentuk senyuman manis yang begitu menggoda.
"Saya tidak butuh uang Anda, Pak Tristan," jawab Nayla pelan, melangkah mendekat satu tapak. "Saya cuma ingin... cinta Anda."
Mendengar jawaban itu, sebuah tawa geli terkekeh pecah dari bibir Tristan. Pria itu menggelengkan kepala, merasa lucu sekaligus lega. "Cinta? Jangan naif, Nayla. Aku kira kamu minta uang atau harta. Cinta itu hal yang paling murah dalam situasi seperti kita."
Nayla menatap lurus ke dalam manik mata Tristan, lalu menyahut dengan nada tenang yang sangat dingin namun memikat. "Anda salah, Pak. Justru kalau saya mendapatkan cinta Anda... saya otomatis akan mendapatkan segalanya. Termasuk uang Anda, perhatian Anda, dan seluruh diri Anda."
Tristan terpaku. Jawaban berani itu bagaikan pasokan oksigen murni yang membakar habis sisa rasa ragunya. Pria itu mengangguk kaku, matanya berkilat memancarkan gairah yang sudah mencapai puncaknya.
"Baik. Kalau itu yang kamu mau," bisik Tristan sarat akan kehendak.
Tanpa memberi jeda semenit pun, Tristan merengkuh pinggang Nayla dengan kedua tangannya, menarik tubuh wanita itu merapat tanpa celah, dan langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Nayla.
Ciuman itu meledak seketika, jauh lebih liar, panas, dan mendominasi dibanding ciuman mereka di ruangan CEO tadi pagi. Tristan melumat bibir Nayla dengan rasa lapar yang teramat sangat, menumpahkan segala frustrasi, cemburu, dan gairah yang menumpuk di dadanya. Tangan kekarnya bergerak membelai punggung Nayla, menarik kemeja putih wanita itu agar lebih menempel pada dadanya. Nayla merintih pelan di dalam ciuman tersebut, jemarinya meremas bahu Tristan, membalas tautan bibir itu dengan desakan yang tak kalah membakar.
Gairah di dalam kamar hotel berpendingin udara itu memuncak drastis. Tristan mulai menggeser ciumannya turun ke rahang dan leher mulus Nayla, napas mewahnya yang hangat membakar kulit sensitif wanita itu. Tangannya mulai bergerak hendak membuka kancing kemeja Nayla lebih bawah.
Namun tepat saat Tristan hendak membawa hubungan mereka ke level selanjutnya...
Brak!
Nayla meletakkan kedua telapak tangannya di dada Tristan, lalu mendorong tubuh pria itu dengan hentakan yang cukup kuat.
Tristan terdorong mundur dua langkah. Ia terengah-engah, matanya sayu dan dipenuhi kebingungan sekaligus rasa frustrasi yang memuncak. "Nayla? Ada apa lagi?!" serunya menahan napas.
Nayla merapikan kerah kemejanya yang agak berantakan dengan jari-jarinya yang gemetar pelan, namun tatapan matanya kembali jernih dan berjarak.
"Cukup untuk hari ini, Pak Tristan," ucap Nayla dengan suara berbisik namun sangat tegas.
"Kenapa? Kamu sendiri yang bilang—"
"Saya bilang saya mau cinta Anda, bukan sekadar pelampiasan gairah sesaat," potong Nayla telak, menatap Tristan lurus-lurus. "Saya tidak akan menyerahkan diri saya lebih jauh... sebelum saya benar-benar yakin kalau Anda sudah sepenuhnya jatuh cinta pada saya, bukan cuma memanfaatkan tubuh saya karena Anda kesepian."
Tristan mematung di tempatnya berdiri, ditinggalkan dalam keadaan dada yang bergemuruh hebat dan napas yang masih memburu di tengah kamar yang mendadak terasa amat dingin.