Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Malam di Kediaman Diyah
"Habis ke mana kamu?" sentak ibu Cakra. Belum sepenuhnya turun dari motor, Cakra sudah ditarik untuk mengikuti langkah ibunya. Wanita itu menduga bahwa Cakra pergi untuk melihat pernikahan Diyah. "Jangan bilang kamu dari balai desa?!"
"Memangnya kenapa sih, Bu? Toh aku memang diundang," jawab Cakra dengan wajah frustasi.
Mendengar itu ibunya langsung merongos.
"Nggak penting! Lagi pula kamu itu sudah ada Rani, ngapain datang ke sana. Memangnya kamu nggak curiga kalo si perawan tua itu pake pelet? Lagian mana ada anak Juragan yang tiba-tiba mau menikahinya kalau nggak pake ilmu hitam!" cerocos ibu Cakra menghina, bahkan memfitnah Diyah. Padahal situasi dalam hubungan—Cakralah yang bersalah karena sudah berselingkuh dengan Rani.
"Apaan sih, Bu, nggak usah ngada-ngada deh," balas Cakra dengan sewot, seraya berjalan pergi untuk meninggalkan ibunya.
"Haduh, Cakra, Cakra, dulu kamu juga kayaknya kena tuh sama jampenya si Diyah, untung aja kamu kerja di kota, makanya jampenya luntur." Wanita paruh baya itu masih berkata yang bukan-bukan sambil mengikuti langkah putranya masuk ke dalam rumah.
"Terserahlah, aku capek, mau tidur!" ketus Cakra, segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan keras, ibunya sampai berjengit dan mendengus kasar.
"Hih, dasar! Kalau dikasih tahu nggak mau denger," teriak wanita itu, tapi tak mendapat jawaban.
Rani yang mendengar perdebatan itu hanya mengintip dari celah pintu. Dia mengepalkan tangan, merasa kesal karena Cakra pergi ke pernikahan Diyah tanpa dirinya.
"Harusnya kan dia bawa aku, pamerkan ke seluruh warga bahwa akulah wanita yang lebih baik dari pada si Diyah-Diyah itu!" gumamnya.
****
Malam telah larut.
Setelah pesta pernikahan yang berlangsung seharian, rumah keluarga Diyah akhirnya mulai tenang.
Para tamu sudah pulang, tetapi lampu-lampu di halaman masih menyala, menerangi janur dan hiasan pernikahan yang belum sempat dibongkar.
Untuk pertama kalinya, Diyah dan Biyakta berada di rumah yang sama sebagai pasangan suami istri. Diyah hendak masuk ke kamar sambil membawa beberapa pakaian milik suaminya.
Awalnya ragu, tapi jika dia terus berdiri di depan pintu yang ada waktu istirahat akan selamanya tertunda.
Ceklek!
"Ini bajumu, Mbok Sum menitipkannya pada Bapak."
Biyakta yang sedang duduk di tepi ranjang menoleh.
"Terima kasih."
Diyah mengangguk. Suasana kembali hening karena keduanya masih sama-sama canggung.
Meskipun sudah beberapa kali bertemu sebelum hari pernikahan, malam itu terasa berbeda. Kini tidak ada lagi orang tua ataupun orang lain.
Hanya mereka berdua.
Diyah kemudian memberanikan diri untuk kembali bicara.
"Saya sedang rebus air, supaya kamu bisa mandi."
Biyakta tak menjawab ataupun mengangguk, dia hanya memperhatikan Diyah dengan seksama, hingga wanita itu salah tingkah.
"Ada apa?" tanya Diyah, karena dia pikir Biyakta merasa tidak nyaman berada di rumahnya.
"Dari tadi yang saya dengar, kamu, kamu dan kamu. Bukankah saya ini sudah jadi suamimu?" ujar Biyakta yang seketika membuat jantung Diyah berdebar kencang.
"Maaf," katanya sambil menunduk, menghindari tatapan suaminya.
"Bukan maaf, tapi ganti!" balas Biyakta, suaranya lembut tetapi terdengar sangat lugas dan tidak bisa dibantah.
Diyah menggigit bibirnya, lalu melirik ke kanan dan ke kiri. Walaupun usianya sudah 30 tahun, entah kenapa di hadapan Biyakta dia malah seperti seorang anak kecil.
"Mas," lirihnya.
"Apa?" Biyakta pura-pura tidak mendengar.
"Mas Biya," ulang Diyah yang membuat pria itu tersenyum puas.
"Iya, Diyah," jawabnya lembut, sampai Diyah merasa merinding. "Biasanya sebelum tidur aku minum susu hangat dicampur sedikit madu." Lanjutnya.
Diyah langsung mengangkat kepalanya.
"Kami tidak punya stok susu ataupun madu di rumah, Mas," jawab Diyah apa adanya. Meski keluarganya tidak terlalu miskin, susu dan madu adalah sesuatu yang dibeli ketika waktu-waktu tertentu saja.
"Ya sudah nggak apa-apa."
"Bagaimana kalau aku buatkan teh?" tawar Diyah.
"Jangan!"
Biyakta mengusap pelipisnya.
"Tiba-tiba kepalaku agak pusing."
Diyah langsung panik.
"Pusing? Apa perlu obat?"
"Mungkin."
Diyah segera beranjak.
"Kalau begitu biar aku belikan obat di warung depan."
Biyakta hendak mencegah, tetapi wanita itu menghilang secepat kilat, hingga Biyakta hanya bisa geleng-geleng kepala.
Diyah lalu keluar rumah, hanya menggunakan daster panjang sebetis. Karena dia pikir hanya ke depan saja.
Di luar udara malam terasa cukup dingin. Diyah berjalan menyusuri jalan desa yang mulai sepi. Warung terdekat ternyata sudah tutup, dia melanjutkan perjalanan menuju warung yang berada di ujung jalan.
"Harusnya aku punya stok obat-obatan di rumah, biar nggak repot begini, ditambah Mas Biya jadi menunggu," gumamnya.
Diyah berjalan semakin jauh. Demi bisa mendapatkan obat untuk suaminya.
Sementara itu, Biyakta menunggu di rumah. Mertuanya yang masih terjaga kemudian menyarankan agar Biyakta membersihkan tubuh terlebih dahulu.
"Airnya sudah Bapak siapkan, Nak," ujar Jaya yang dititipi oleh Diyah.
"Terima kasih, Pak."
Biyakta hendak masuk ke kamar mandi, di sana dia sempat berpapasan dengan Sarmila yang hanya mengenakan tanktop, Sarmila hendak menyapa tapi Biyakta langsung melengos.
"Mila, sana masuk kamar! Nggak pantes pake kaya gitu di depan Kakak ipar," tegur Jaya dengan mata yang tajam.
Mendengar itu, Sarmila hanya berdecak lalu melangkah sambil menghentak-hentakkan lantai.
***
Air hangat yang telah direbus membuat tubuh Biyakta terasa lebih rileks. Namun, selesai mandi, dia tidak menemukan Diyah di kamar.
"Diyah?" panggilnya.
Tidak ada jawaban. Lalu Biyakta keluar lagi.
"Diyah?"
Masih tidak ada.
Biyakta mulai merasa khawatir. Hingga bertanya kepada mertuanya yang berdiri halaman rumah.
"Pak, Diyah ke mana?" tanya Biyakta.
"Katanya mau beli obat. Tapi nggak pulang-pulang," jawab Jaya, dia juga sedang menunggu kepulangan putrinya.
"Jalan kaki?"
"Iya."
Biyakta terdiam. Ini sudah cukup lama Diyah meninggalkan rumah. Tanpa ba bi bu, Biyakta memutuskan untuk menyusul istrinya.
Biyakta kemudian melihat sebuah sepeda ontel tua bersandar di dekat gudang. Sepeda milik Jaya.
"Pak, saya pinjam sepeda ini."
Belum sempat Jaya menjawab, Biyakta sudah melesat. Mengayuh keluar halaman dengan kecepatan maksimal.
Jalan desa sudah sangat sepi. Biyakta menyusuri jalan utama.
Warung pertama, kedua, ketiga. Belum juga dia melihat batang hidung istrinya.
Dia terus mengayuh dengan napas ngos-ngosan.
"Diyah ...."
Hingga beberapa menit kemudian, dari kejauhan Biyakta melihat seorang wanita berjalan menenteng kantong plastik kecil.
Biyakta mempercepat kayuhan.
"Diyah!" teriaknya memanggil.
Wanita itu segera menoleh.
"Mas?"
Biyakta berhenti tepat di hadapannya.
"Kamu habis ke mana? Kenapa lama sekali?" tanya Biyakta yang dihantui rasa cemas.
"Aku kan beli obat, warung terdekat sudah tutup," jawab Diyah dengan polos.
Biyakta menghela napas panjang.
"Aku takut kamu kenapa-kenapa, harusnya kalau tidak ada, langsung saja pulang ke rumah!"
Diyah terdiam. Dia memperhatikan raut wajah suaminya yang terlihat panik. Sesuatu yang membuat hati Diyah sedikit menghangat.
"Kenapa diam? Ayo naik," titah Biyakta, dia melihat sekeliling, suasana malam di desa cukup menyeramkan.
Diyah menatap sepeda ontel itu.
"Naik?"
Biyakta menepuk boncengan beberapa kali.
"Tapi ...."
"Sudah malam, Diyah," tukas Biyakta karena istrinya ngeyel.
Diyah masih ragu.
"Ayo!"
Akhirnya Diyah menyerahkan kantong obat itu dan Biyakta memasukkannya ke keranjang sepeda. Diyah perlahan naik ke boncengan, hingga jarak mereka begitu dekat.
Diyah memegang bagian belakang jok dengan kedua tangan.
"Pegang yang kuat," ujar Biyakta.
"Nggak usah, Mas."
"Nanti jatuh."
Diyah akhirnya memegang ujung kaos Biyakta. Pria itu tersenyum kecil.
"Begitu lebih aman," katanya.
Sepeda ontel itu kemudian melaju perlahan melewati jalan desa. Angin malam menerpa wajah keduanya. Untuk beberapa saat, tidak ada percakapan, hanya ada suara rantai yang berputar dan suara jangkrik dari persawahan.
Namun, anehnya Diyah merasa nyaman. Tidak ada tuntutan dan janji berlebihan. Hanya seorang pria yang mencarinya karena khawatir.
Di tengah perjalanan, Biyakta tiba-tiba buka suara. "Diyah."
"Eum iya, Mas?"
"Besok kalau mau pergi malam-malam, bilang padaku."
"Kenapa?"
"Masih perlu aku ingatkan siapa aku sekarang?" Suara lugas itu kembali terdengar.
Diyah tersenyum sambil mengangguk.
"Iya, Mas."
Biyakta melanjutkan kayuhannya. Sementara di belakangnya, tanpa sadar Diyah mengeratkan pegangannya.
Malam pertaama mereka ternyata tidak dipenuhi kemewahan. Hanya sebuah sepeda ontel tua, jalan desa yang sepi, dan dua orang asing yang perlahan mulai belajar menjadi pasangan.
Dan mungkin justru dari hal-hal sederhana itulah rasa cinta akan tumbuh.
rani hamil anaknya cakra apa bevar anaknya cakra?
makanya sarimi jangan sombong dan ber lagu,,,,kan dapat karma....
Rasakan karma nya kra cakra,,,,
mamvusss Sarah 🤣 bisa2nya kagak punya malu, masih pagi kok yaa bertamu ke rumah orang. gitu katanya wanita berpendidikan, tapi enggak punya attitude. malah mau jadi velakorr....bener2 enggak tahu diri.