Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.
Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.
Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.
Sialan emang.
Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.
Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Luka Lama yang Tak Pernah Diceritakan
Suasana meja kafe mendadak kaku mirip adonan semen yang kekeringan. Bima menggaruk tengkuknya yang gak gatal, sementara Naya dan Abel pura-pura sibuk mengaduk minuman mereka yang esnya udah mencair total.
Kian menghela napas panjang. Dia menarik tangannya dari bahu gue, melipat jemarinya di atas meja, lalu menatap gue lurus.
"Farra itu mantan gue, Ra," jawab Kian pelan, suaranya terdengar sangat berat. "Satu-satunya mantan gue yang... pisahnya gak baik-baik."
Gue terdiam. Satu-satunya mantan yang pisahnya gak baik-baik.
Selama bertahun-tahun bersahabat, gue selalu tahu tiap kali Kian putus sama cewek-ceweknya. Biasanya Kian bakal cerita sambil tertawa enteng, bilang kalau mereka gak cocok atau ceweknya terlalu protektif. Tapi nama Farra sama sekali gak pernah keluar dari mulutnya.
"Gue anterin lu pulang sekarang," kata Kian tiba-tiba sambil berdiri dan mengambil kunci mobilnya. "Bim, Nay, Bel, gue duluan ya."
Di dalam mobil, keheningan menyelimuti kami berdua sepanjang jalan. Suara mesin mobil yang melaju pelan terasa monoton, beradu sama gemuruh pikiran gue sendiri.
Kian tidak menyalakan musik seperti biasanya. Tangannya menggenggam setir dengan erat.
"Lu gak mau cerita sama gue?" tanya gue akhirnya, memecah keheningan pas mobil berhenti di perempatan jalan.
Kian menoleh sekilas, menyugar rambutnya ke belakang dengan raut wajah serba salah. "Ra... Farra itu cerita masa lalu yang gak penting buat lu tahu."
"Gak penting gimana, Ki?" potong gue, emosi gue yang sempat tertahan mendadak naik satu tingkat. "Cara dia natap gue tadi tuh seolah-olah dia tahu segalanya tentang lu! Dan cara lu merespons dia... lu kelihatan beda banget. Lu defensif."
"Gue defensif karena gue gak mau dia mengganggu lu!" suara Kian meninggi sedikit, tapi dia buru-pura menahannya dan menghela napas kasar. "Sori. Gue gak bermaksud bentak lu."
Gue memalingkan wajah ke kaca jendela. Rasa sesak merayap di dada gue. "Kalau lu emang udah serius sama gue, dan kalau lu beneran mau memperjuangkan gue kayak omongan lu di Puncak... kenapa harus ada hal yang lu tutup-tutupin dari gue?"
Mobil kembali melaju. Kian memukulkan telapak tangannya pelan ke setir, menunjukkan rasa frustrasinya sendiri.
"Dua tahun lalu, Ra," kata Kian akhirnya, suaranya lirih. "Waktu lu lagi sibuk-sibuknya pertukaran pelajar ke Jogja selama satu semester."
Gue menoleh kembali menatapnya.
"Farra itu cewek yang pernah bikin gue mikir kalau gue bisa move on dari lu," aku Kian jujur. Suaranya bergetar tipis. "Gue pacaran sama dia hampir setahun. Tapi makin lama gue sama dia, gue makin sadar kalau gue cuma menjadikan dia pelarian. Dan pas dia tahu alasan sebenarnya gue gak pernah bisa cinta sama dia karena hati gue udah penuh sama lu, dia marah besar. Kita putus dengan cara yang sangat berantakan."
DEG.
Dada gue berdesir hebat. Pengakuan Kian rasanya seperti pukulan telak yang membuat kepala gue berputar.
"Dia patah hati gara-gara gue, Ra," sambung Kian dengan raut bersalah yang mendalam. "Gue yang bersalah di masa lalu. Tapi yang bikin gue takut sekarang... Farra itu tipe orang yang nekat kalau urusannya udah soal rasa sakit hatinya."
Kian menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah gue. Dia berbalik menghadap gue sepenuhnya, meraih kedua tangan gue dan menggenggamnya erat-erat.
"Gue gak mau luka masa lalu gue imbasnya kena ke lu, Elora," bisik Kian, matanya memancarkan rasa takut yang sangat nyata. "Gue cuma mau ngelindungin lu."
Gue menatap mata Kian. Marah, cemburu, dan rasa haru bercampur aduk jadi satu di dalam dada gue. Tapi di atas segalanya, gue baru sadar satu hal, Farra bukan sekadar mantan biasa. Farra adalah bukti nyata dari rasa bersalah Kian... sekaligus ancaman terbesar buat masa depan hubungan kami.