Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.
Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.
Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.
Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.
Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 : PERCERAIAN YANG MEMBEBASKAN
...BAB 1...
...PERCERAIAN YANG MEMBEBASKAN...
“Dengan ini, perceraian antara saudari Wulan dan saudara Handi dinyatakan sah.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Wulan, kalimat tersebut terasa seperti pintu yang selama bertahun-tahun terkunci akhirnya terbuka.
Ia menundukkan kepala. Kedua tangannya yang sejak tadi saling menggenggam perlahan mengendur.
Tidak ada air mata. Tidak ada kesedihan karena kehilangan seorang suami, yang ada hanya rasa lega. Sangat lega.
Wulan mengembuskan napas panjang. Akhirnya, Ia bebas. Bebas dari lelaki yang selama bertahun-tahun membuatnya hidup dalam ketakutan. Bebas dari bentakan, pukulan, penghinaan. Dan bebas dari pengkhianatan yang berkali-kali dilakukan Handi.
Di sampingnya, Handi masih duduk dengan wajah masam. Lelaki itu bahkan tidak menoleh sedikit pun kepada Wulan.
Seolah-olah perempuan di sebelahnya bukanlah seseorang yang pernah menjadi istrinya selama bertahun-tahun.
Wulan tidak peduli. Dulu ia mungkin akan menangis setiap kali melihat sikap Handi.
Dulu ia mungkin akan memohon agar lelaki itu berubah. Tetapi tidak hari ini.
Hatinya sudah terlalu lelah. Wulan sudah berkali-kali memberinya kesempatan. Berkali-kali memaafkan. Berkali-kali meyakinkan dirinya sendiri bahwa Handi akan berubah demi anak-anak.
Tetapi ternyata ia salah. Orang yang tidak ingin berubah akan selalu menemukan alasan untuk mengulangi kesalahannya.
Dan Wulan sudah tidak mau menjadi perempuan yang terus menunggu perubahan seseorang yang bahkan tidak pernah merasa bersalah.
“Wulan.” Suara petugas membuatnya mengangkat wajah.
“Ya Pak?”
“Untuk dokumen perceraian, nanti bisa diurus melalui bagian administrasi.”
Wulan mengangguk. “Baik Pak.” Ia kemudian berdiri. Langkahnya terasa aneh. Ringan, tetapi juga berat.
Ringan karena beban yang selama ini menekan dadanya akhirnya terlepas. Berat karena setelah keluar dari tempat ini, ia harus memikirkan bagaimana caranya menjalani hidup bersama dua anaknya.
Tidak ada rumah besar. Tidak ada suami yang menanggung kebutuhan mereka. Tidak ada orangtua yang bisa menjadi tempatnya meminta bantuan. Kedua orangtua Wulan sudah lama meninggal. Sekarang hanya ada dirinya dan dua anak kecil yang menjadi tanggung jawabnya.
Begitu keluar dari gedung pengadilan, Wulan berdiri beberapa saat di anak tangga.
Matahari siang terasa menyilaukan. Ia memejamkan mata sebentar. Kemudian menarik napas panjang.
“Semuanya sudah selesai.” Suaranya hampir tidak terdengar. “Benar-benar sudah selesai.”
Wulan membuka matanya lebar. Untuk pertama kalinya, ia tidak perlu lagi bertanya-tanya apakah malam nanti Handi akan pulang dalam keadaan mabuk.
Ia tidak perlu takut mendengar suara pintu dibanting. Tidak perlu menyembunyikan bekas luka dari tetangga, dan tidak perlu lagi berpura-pura bahwa rumah tangganya baik-baik saja.
Namun kebebasan itu juga membuatnya sadar akan satu hal. Ia harus bekerja, secepatnya.
Sore hari, Wulan tiba di rumah kontrakan kecil yang kini menjadi tempat tinggal mereka.
Begitu pintu dibuka, suara langkah kaki kecil terdengar dari dalam.
“Mama!” Seorang anak laki-laki langsung berlari menghampirinya.
Delon. Anak kelas satu SD itu memeluk pinggang ibunya.
“Mama dari mana?” tanyanya penasaran karena sejak ia pulang sekolah. Wulan pergi tanpa memberitahunya mau kemana.
Wulan tersenyum. “Mama habis ada urusan sebentar.”
“Urusan sama Papa?” tanyanya polos.
Senyum Wulan perlahan menghilang. Ia berjongkok di hadapan putranya. “Kenapa tanya Papamu?”
“Papa katanya mau datang.”
Wulan diam sejenak. Ia tidak ingin menjelaskan persoalan orang dewasa kepada Delon.
Namun anak itu berhak tahu bahwa hidup mereka akan berubah.
“Papa tidak akan datang lagi ke sini.”
Delon mengerutkan kening. “Kenapa?”
Wulan mengusap rambut putranya. "Karena sekarang Mama, Delon dan Astrid saja yang akan tinggal bersama.”
“Papa nggak tinggal sama kita?”
Wulan menggeleng pelan. “Tidak.”
Delon menundukkan wajah. “Mama sama Papa bertengkar lagi?”
Wulan menarik napas. “Tidak, Sayang.”
“Terus kenapa?”
Wulan tersenyum tipis. “Kadang ada orang dewasa yang memang tidak bisa lagi hidup bersama.”
Delon masih terlihat bingung. Namun ia tidak bertanya lagi. Ia justru memeluk ibunya lebih erat. “Yang penting Mama sama Delon tetap bareng, kan?”
Mata Wulan terasa panas. “Iya sayang...”
“Mama jangan sedih lagi.”
Wulan mengangguk. “Mama tidak sedih.”
Padahal hanya Tuhan yang tahu berapa banyak air mata yang sudah ia habiskan selama bertahun-tahun.
Dari arah kamar, terdengar suara langkah kecil lainnya.
“Mama!” Astrid muncul sambil memeluk boneka kesayangannya.
Anak berusia empat tahun itu langsung berlari menghampiri.
Wulan membuka kedua tangannya. Astrid masuk ke dalam pelukan ibunya.
“Mama sudah pulang.”
“Iya, Sayang.”
“Bawa makanan nggak?”
Delon langsung tertawa. “Astrid kalau ketemu Mama selalu tanya makanan.”
“Aku lapar.”
Wulan ikut tertawa kecil. “Nanti Mama masak.”
Astrid menatap wajah ibunya. “Tapi Mama baru pulang, pasti capek?”
“Sedikit.”
“Kalau begitu Astrid bantu ya...”
Wulan tersenyum haru. “Bantu apa?”
“Temani Mama.”
Wulan memeluk putrinya lebih erat. “Iya. Temani Mama saja sudah cukup.”
Malam pun tiba. Setelah memastikan Delon dan Astrid tidur, Wulan duduk seorang diri di ruang tengah.
Di atas meja terdapat beberapa lembar kertas. Tagihan, uang sekolah, catatan kebutuhan sehari-hari, dan sisa uang yang dimilikinya.
Wulan menghitungnya sekali lagi. Kemudian ia terdiam. Uangnya tidak akan cukup lama.
Apalagi setelah membayar uang kontrakan dan kebutuhan sekolah anak-anak.
Wulan mengusap wajah. “Aku benar-benar harus cari kerja.”
Tidak ada pilihan lain. Besok ia akan mencari pekerjaan. Apa pun pekerjaannya, yang penting halal dan bisa membuat Delon dan Astrid tetap sekolah. Terutama yang penting mereka bisa makan.
Wulan mengambil ponselnya. Ia membuka beberapa grup lowongan pekerjaan.
Ada lowongan kasir, penjaga toko, pegawai laundry dan ada pekerjaan sebagai pelayan.
Namun hampir semuanya memiliki jam kerja yang membuat Wulan ragu. Ia tidak bisa meninggalkan Delon dan Astrid terlalu lama.
Karena kedua anak itu masih kecil. Delon memang sudah kelas satu SD, tetapi tetap membutuhkan pengawasan. Apalagi Astrid bahkan masih butuh asuhan.
Wulan tidak mungkin membiarkan mereka sendirian di rumah jika dia bekerja.
Ia terus menggulir layar ponsel. Sampai akhirnya matanya berhenti pada sebuah pesan.
Dibutuhkan pengasuh anak sekaligus ART. Bisa tinggal di rumah majikan. Gaji bulanan cukup besar.
Wulan membaca pesan itu beberapa kali. Tinggal di rumah majikan?
Ia berpikir. Jika benar-benar tinggal di rumah majikan, mungkin ia bisa menghemat biaya kontrakan.
Namun bagaimana dengan anak-anak? Wulan segera menghubungi nomor yang tercantum.
“Assalamu'alaikum.”
[“Waalaikumsalam. Ini siapa?”]
“Saya Wulan. Saya mendapatkan informasi lowongan pekerjaan sebagai pengasuh anak sekaligus ART.”
[“Oh, iya. Betul. Kebetulan memang sedang mencari orang.”]
Wulan menggenggam ponselnya. “Kalau boleh tahu, anak yang diasuh umur berapa?”
“Masih balita usianya dua tahun Bu.”
Wulan mengangguk pelan. “Kalau saya membawa dua anak saya, apakah diperbolehkan?”
Di ujung telepon terdengar jeda. [“Saya tanyakan dulu kepada majikan.”]
“Baik.”
[“Nanti kalau sudah ada jawaban, saya hubungi lagi.”]
“Terima kasih.”
Setelah sambungan terputus, Wulan menatap layar ponselnya. Ia tidak tahu apakah akan diterima atau tidak. Tetapi setidaknya ada sedikit harapan.
Wulan kemudian masuk ke kamar. Delon tidur menghadap dinding sambil memeluk bantal.
Astrid tidur telentang dengan boneka berada di samping wajahnya.
Wulan duduk di tepi kasur. Tangannya mengusap rambut kedua anaknya bergantian.
“Maafkan Mama, ya Nak.” Suaranya berbisik.
“Mama mungkin belum bisa memberikan kehidupan yang mewah untuk kalian...”
Wulan menelan rasa sesak di tenggorokannya. “Tapi Mama akan berusaha agar kalian bisa hidup berkecukupan dan bahagia bersama Mama...”
Ia mencium kening Delon. Kemudian mencium kening Astrid. “Mama akan bekerja keras.”
Wulan berdiri dan memandangi kedua anaknya. Selama mereka masih bersamanya, ia tidak boleh menyerah.
Pernikahannya memang telah berakhir. Tetapi hidupnya belum.
Justru mungkin, hari ini adalah awal dari kehidupan yang baru.
Kehidupan yang akan ia bangun dengan kedua tangannya sendiri.
Tanpa Handi. Tanpa rasa takut. Tanpa harus menunggu seseorang berubah.
Wulan mematikan lampu kamar. Kemudian menutup pintu perlahan.
Malam itu, ia belum tahu pekerjaan apa yang akan menantinya. Ia juga belum tahu seperti apa kehidupan baru yang akan ia jalani.
Namun satu hal yang pasti. Wulan sudah mengambil keputusan. Ia tidak akan kembali kepada kehidupan lamanya.
Apa pun yang terjadi setelah ini, ia akan berjuang untuk Delon dan Astrid.
Karena bagi Wulan, kedua anaknya adalah alasan untuk tetap berdiri ketika seluruh dunia seakan memintanya menyerah.
Bersambung...